Botol plastik jenis PET hadir hampir di setiap sudut kehidupan modern. Kita meminumnya saat haus, membawanya ke kantor, menggunakannya kembali di rumah, bahkan menyimpannya berhari hari di dalam mobil. Banyak orang menganggap botol ini aman selama terlihat bersih dan tidak bocor. Namun riset ilmiah terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan sehari hari tersebut menyimpan risiko tersembunyi yang jarang disadari.
Sebuah penelitian yang terbit pada tahun 2025 di jurnal Science of The Total Environment meneliti hubungan antara paparan sinar matahari, suhu penyimpanan, dan penggunaan ulang botol PET terhadap perpindahan zat kimia berbahaya ke dalam minuman. Penelitian ini menyoroti ftalat, sekelompok senyawa kimia yang sering digunakan dalam industri plastik dan dikenal dapat mengganggu sistem hormon manusia.
Baca juga artikel tentang: Jangan-jangan Gorengan yang Anda Beli Mengandung Plastik
Ftalat bukan zat asing bagi dunia industri. Produsen plastik memakainya untuk meningkatkan fleksibilitas dan daya tahan material. Masalah muncul karena ftalat tidak terikat kuat pada struktur plastik. Dalam kondisi tertentu, zat ini dapat berpindah dari dinding botol ke cairan yang disimpan di dalamnya. Paparan ftalat dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan gangguan reproduksi, perubahan hormon, serta masalah perkembangan pada anak.
Para peneliti dalam studi ini memfokuskan perhatian pada tiga jenis ftalat yang paling sering ditemukan, yaitu DEHP, DBP, dan BBP. Ketiganya memiliki potensi risiko kesehatan yang cukup tinggi dan sering terdeteksi dalam produk berbahan plastik.
Penelitian dilakukan melalui dua pendekatan utama. Pada tahap pertama, peneliti menggunakan botol PET baru yang diisi air suling. Botol botol ini kemudian disimpan selama tiga puluh hari dalam dua kondisi berbeda. Kelompok pertama berada di tempat teduh, sedangkan kelompok kedua terpapar sinar matahari langsung. Tujuan tahap ini sederhana tetapi penting, yaitu melihat seberapa besar pengaruh sinar matahari terhadap pelepasan ftalat.
Tahap kedua meniru kebiasaan masyarakat dalam menggunakan ulang botol plastik. Peneliti mengisi botol PET dengan berbagai jenis cairan yang umum ditemukan di rumah, seperti cuka, air lemon, ekstrak mint, air rendaman daun asin, dan cairan acar. Botol botol tersebut disimpan pada suhu dingin sekitar empat derajat Celsius dan suhu panas sekitar empat puluh derajat Celsius selama sepuluh hingga sembilan puluh hari.

Hasil penelitian menunjukkan pola yang konsisten dan mengkhawatirkan. Botol PET yang terpapar sinar matahari langsung melepaskan ftalat dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan botol yang disimpan di tempat teduh. Perbedaan ini terlihat jelas bahkan ketika botol masih tergolong baru.
Suhu penyimpanan memberikan dampak yang lebih besar lagi. Pada suhu empat puluh derajat Celsius, kadar ftalat yang berpindah ke dalam cairan meningkat secara signifikan. Semakin lama cairan disimpan dalam kondisi panas, semakin tinggi pula konsentrasi ftalat yang terdeteksi. Sebaliknya, penyimpanan pada suhu dingin hampir tidak menunjukkan peningkatan kadar ftalat meskipun waktu penyimpanan diperpanjang.
Peneliti juga menemukan bahwa cairan bersifat asam, seperti cuka dan air lemon, mempercepat proses migrasi ftalat. Keasaman cairan membantu melonggarkan ikatan kimia dalam plastik, sehingga zat berbahaya lebih mudah berpindah ke dalam minuman.
Fenomena ini dapat dijelaskan secara sederhana. Panas dan sinar ultraviolet merusak struktur mikro plastik. Kerusakan ini mungkin tidak terlihat oleh mata, tetapi cukup untuk membuat zat kimia di dalam plastik menjadi lebih aktif dan mudah larut. Ketika kondisi ini terjadi berulang kali, terutama pada botol yang digunakan berkali kali, risiko paparan meningkat secara perlahan.
Temuan ini membawa implikasi besar bagi kebiasaan sehari hari. Banyak orang meninggalkan botol air di dalam mobil tanpa menyadari bahwa suhu di dalam kendaraan yang terparkir dapat melonjak jauh di atas empat puluh derajat Celsius. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan ideal bagi pelepasan ftalat. Kebiasaan mengisi ulang botol air sekali pakai juga menjadi praktik yang perlu dipertimbangkan ulang.
Penelitian ini tidak bermaksud menimbulkan kepanikan. Minum air dari botol PET sesekali tidak serta merta membahayakan kesehatan. Risiko muncul dari paparan kecil yang terjadi berulang kali dan berlangsung dalam jangka panjang. Masalah utama terletak pada akumulasi, bukan pada satu kali penggunaan.
Dengan memahami hasil penelitian ini, masyarakat dapat mengambil langkah sederhana untuk mengurangi risiko. Menyimpan botol plastik di tempat sejuk dan terlindung dari sinar matahari menjadi langkah pertama yang sangat penting. Menghindari penggunaan ulang botol PET sekali pakai juga dapat mengurangi paparan zat kimia yang tidak diinginkan. Untuk penggunaan jangka panjang, botol berbahan kaca atau baja tahan karat menawarkan alternatif yang lebih stabil.
Penelitian ini juga mengingatkan kita bahwa keamanan pangan dan minuman tidak hanya bergantung pada kualitas isi, tetapi juga pada wadahnya. Botol plastik yang terlihat praktis dan ringan menyimpan dinamika kimia yang kompleks. Sains membantu membuka lapisan yang tidak terlihat ini dan memberi kita kesempatan untuk membuat pilihan yang lebih sehat.
Pada akhirnya, kesadaran menjadi kunci. Dengan memahami bagaimana panas, cahaya, dan waktu memengaruhi botol plastik, kita dapat menyesuaikan kebiasaan tanpa harus mengorbankan kenyamanan. Perubahan kecil dalam cara kita menyimpan dan menggunakan botol plastik dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan dalam jangka panjang.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Massahi, Tooraj dkk. 2025. Assessing the effect of sunlight exposure and reuse of polyethylene terephthalate bottles on phthalate migration. Science of The Total Environment 962, 178480.

