Buah kiwi menjadi salah satu buah yang semakin digemari karena memiliki rasa segar, tekstur yang khas, dan kandungan gizi yang melimpah. Buah ini kaya akan vitamin C, serat, kalium, serta berbagai senyawa antioksidan yang membantu menjaga kesehatan tubuh. Namun, di balik berbagai keunggulannya, kiwi memiliki kelemahan yang cukup besar. Setelah dipanen, buah ini tetap mengalami proses pematangan sehingga kualitasnya terus menurun selama penyimpanan. Buah mulai kehilangan air, teksturnya melunak, kandungan nutrisinya berkurang, dan mikroorganisme penyebab pembusukan semakin mudah berkembang. Kondisi tersebut menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi petani, pedagang, maupun konsumen. Untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan mengembangkan sebuah lapisan pelindung alami yang berasal dari gel lidah buaya dan minyak atsiri daun mint. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kedua bahan tersebut mampu menjaga kesegaran buah kiwi jauh lebih lama tanpa memerlukan bahan pengawet sintetis.
Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal Scientific Reports mengevaluasi efektivitas lapisan yang dibuat dari gel lidah buaya dan minyak atsiri peppermint terhadap kualitas buah kiwi varietas Hayward selama penyimpanan dingin. Para peneliti ingin mengetahui apakah kombinasi dua bahan alami tersebut mampu mempertahankan mutu buah, mengurangi pembusukan, serta menjaga kandungan gizi selama penyimpanan hingga tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik mampu mengurangi kehilangan berat buah sekitar 41 persen dan menurunkan tingkat pembusukan hingga sekitar 65 persen dibandingkan buah yang tidak diberi lapisan pelindung.
Buah kiwi termasuk kelompok buah klimakterik. Kelompok ini memiliki karakteristik unik karena tetap mengalami proses pematangan meskipun sudah dipetik dari pohonnya. Setelah panen, buah menghasilkan gas etilen yang berfungsi sebagai hormon alami untuk mempercepat pematangan. Pada saat yang sama, aktivitas respirasi buah juga meningkat sehingga cadangan energi di dalam jaringan buah terus digunakan. Proses tersebut memang membuat buah menjadi matang dan siap dikonsumsi, tetapi juga menyebabkan kualitasnya semakin cepat menurun apabila penyimpanan berlangsung terlalu lama.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Selama penyimpanan, buah kehilangan air melalui permukaan kulitnya. Kehilangan air membuat buah menjadi lebih ringan, kulitnya mulai mengerut, dan teksturnya menjadi kurang segar. Selain itu, jaringan buah yang semakin lunak juga lebih mudah diserang oleh jamur maupun bakteri. Akibatnya, banyak buah yang sebenarnya masih layak dikonsumsi akhirnya terbuang karena mengalami pembusukan sebelum sampai ke tangan konsumen.
Selama bertahun tahun, industri buah segar mengandalkan penyimpanan dalam ruang pendingin untuk memperlambat proses tersebut. Suhu rendah memang mampu mengurangi laju respirasi sehingga buah menjadi lebih awet. Akan tetapi, pendinginan saja belum cukup untuk mencegah kehilangan air maupun pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu, para peneliti mulai mengembangkan berbagai jenis lapisan pelindung yang dapat dimakan atau dikenal sebagai edible coating.
Lapisan pelindung bekerja seperti kulit tambahan yang sangat tipis pada permukaan buah. Lapisan ini mampu mengurangi penguapan air sekaligus memperlambat pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara buah dan lingkungan. Akibatnya, proses respirasi berlangsung lebih lambat sehingga pematangan buah juga tertunda. Karena lapisan tersebut dapat dimakan, konsumen tidak perlu mengupas atau membersihkannya sebelum menikmati buah.
Gel lidah buaya menjadi salah satu bahan yang paling menarik untuk membuat lapisan pelindung alami. Gel bening yang terdapat di bagian tengah daun mengandung polisakarida yang mampu membentuk lapisan transparan pada permukaan buah. Selain berfungsi sebagai penghalang terhadap kehilangan air, gel lidah buaya juga mengandung berbagai senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antimikroba dan antioksidan. Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa gel lidah buaya mampu membantu mempertahankan kualitas buah, sayuran, bahkan beberapa produk pangan lainnya.
Para peneliti kemudian memadukan gel lidah buaya dengan minyak atsiri peppermint. Banyak orang mengenal peppermint karena aromanya yang segar, tetapi tanaman ini juga menghasilkan minyak atsiri yang kaya akan senyawa seperti mentol dan menton. Kedua senyawa tersebut memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan berbagai jenis bakteri dan jamur. Dengan menggabungkan gel lidah buaya dan minyak atsiri peppermint, para ilmuwan berharap memperoleh perlindungan ganda, yaitu mengurangi kehilangan air sekaligus menghambat perkembangan mikroorganisme penyebab pembusukan.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan membuat beberapa kombinasi perlakuan menggunakan konsentrasi gel lidah buaya sebesar 25 persen dan 50 persen yang dipadukan dengan minyak atsiri peppermint sebanyak 0, 500, dan 1000 bagian per sejuta. Selanjutnya buah kiwi disimpan dalam ruang pendingin selama tiga bulan. Setiap bulan para peneliti mengevaluasi berbagai parameter yang mencerminkan kualitas buah, mulai dari kehilangan berat, tingkat pembusukan, kandungan vitamin C, tingkat keasaman, jumlah padatan terlarut, aktivitas antioksidan, hingga jumlah mikroorganisme pada permukaan buah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi gel lidah buaya 50 persen dengan minyak atsiri peppermint 1000 bagian per sejuta memberikan hasil terbaik. Buah yang diberi perlakuan tersebut kehilangan air jauh lebih sedikit dibandingkan kelompok kontrol. Penurunan kehilangan air membuat tekstur buah tetap lebih padat dan segar meskipun telah disimpan selama beberapa bulan. Kondisi ini juga membantu menjaga penampilan buah sehingga tetap menarik ketika dipasarkan.
Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah penurunan tingkat pembusukan. Buah yang memperoleh lapisan pelindung alami mengalami pembusukan sekitar 65 persen lebih rendah dibandingkan buah tanpa perlakuan. Selain itu, jumlah mikroorganisme pada permukaan buah juga jauh lebih sedikit. Hasil tersebut menunjukkan bahwa minyak atsiri peppermint benar benar membantu menghambat pertumbuhan mikroba, sedangkan lapisan gel lidah buaya memberikan perlindungan tambahan terhadap lingkungan luar.
Penelitian ini juga menemukan bahwa lapisan alami mampu mempertahankan kandungan vitamin C lebih baik selama penyimpanan. Vitamin C merupakan salah satu vitamin yang sangat mudah rusak akibat paparan oksigen dan proses oksidasi. Dengan berkurangnya kontak langsung antara permukaan buah dan udara, laju kerusakan vitamin C menjadi lebih lambat. Akibatnya, buah tetap memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan buah tanpa perlakuan.
Tidak hanya vitamin C, berbagai senyawa antioksidan lain juga menunjukkan hasil yang lebih baik. Kandungan senyawa fenolik dan flavonoid tetap lebih tinggi selama penyimpanan. Kedua kelompok senyawa tersebut memiliki peran penting dalam melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Para peneliti juga mengamati peningkatan aktivitas enzim katalase, yaitu enzim yang membantu menetralisir senyawa oksigen reaktif di dalam jaringan buah.
Pada saat yang sama, kadar malondialdehida dan spesies oksigen reaktif mengalami penurunan. Kedua parameter tersebut sering digunakan sebagai indikator stres oksidatif pada jaringan tanaman. Penurunan kedua indikator tersebut menunjukkan bahwa sel sel buah mengalami kerusakan yang lebih kecil selama penyimpanan. Dengan kata lain, lapisan alami tidak hanya menjaga penampilan buah, tetapi juga membantu mempertahankan kondisi fisiologisnya.
Keunggulan lain dari teknologi ini terletak pada sifatnya yang ramah lingkungan. Seluruh bahan penyusun lapisan berasal dari sumber alami sehingga lebih mudah terurai dibandingkan bahan sintetis. Penggunaan lapisan yang dapat dimakan juga mengurangi kebutuhan terhadap bahan pengawet kimia maupun kemasan tambahan. Hal ini sejalan dengan meningkatnya permintaan konsumen terhadap produk pangan yang lebih alami dan berkelanjutan.
Walaupun penelitian ini dilakukan pada buah kiwi, prinsip yang sama berpotensi diterapkan pada berbagai buah klimakterik lain seperti mangga, alpukat, pepaya, dan pisang. Tentu saja setiap jenis buah memerlukan penelitian lanjutan karena masing masing memiliki karakteristik kulit, laju respirasi, dan tingkat sensitivitas yang berbeda. Penyesuaian formulasi kemungkinan diperlukan agar hasil perlindungannya tetap optimal.
Penelitian ini menunjukkan bahwa solusi sederhana dari alam dapat memberikan manfaat besar bagi industri pangan. Gel lidah buaya membentuk lapisan pelindung yang menjaga kelembapan dan memperlambat respirasi, sedangkan minyak atsiri peppermint membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan. Kombinasi keduanya berhasil mempertahankan kualitas buah kiwi selama penyimpanan dingin, menjaga kandungan vitamin C dan antioksidan, serta mengurangi kerugian akibat pembusukan. Jika penelitian lanjutan dan uji skala industri memberikan hasil yang sama baiknya, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu cara alami untuk menjaga kesegaran buah sekaligus mengurangi limbah pangan di masa depan.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Seyedi, Azam dkk. 2026. The effect of the composite of Aloe vera gel and peppermint essential oil as natural coatings on the postharvest characteristics of kiwifruits. Scientific Reports.

