Bahasa Inggris dan Ketidakadilan Ilmiah di Dunia Konservasi

Bayangkan sebuah dunia di mana pengetahuan penting tentang cara menyelamatkan spesies yang terancam punah tidak digunakan karena pengetahuan itu tidak […]

Bayangkan sebuah dunia di mana pengetahuan penting tentang cara menyelamatkan spesies yang terancam punah tidak digunakan karena pengetahuan itu tidak ditulis dalam bahasa yang dipahami banyak orang. Kedengarannya seperti paradoks—ilmu yang bisa menyelamatkan satwa dan ekosistem justru tidak dimanfaatkan karena hambatan bahasa. Namun penelitian terbaru dari The University of Queensland menunjukkan bahwa hal ini benar-benar terjadi dalam dunia konservasi keanekaragaman hayati. Penelitian tersebut menemukan bahwa banyak karya ilmiah penting yang tidak ditulis dalam bahasa Inggris nyaris tidak dilihat atau digunakan oleh komunitas ilmiah internasional, bahkan ketika informasi itu berisi pemahaman penting tentang perlindungan satwa liar.

Bahasa Inggris selama beberapa dekade telah menjadi bahasa umum ilmu pengetahuan global. Para ilmuwan dari berbagai negara sering menulis dan menerbitkan hasil riset mereka dalam bahasa Inggris agar bisa dibaca secara internasional. Ini memang meningkatkan akses dalam satu bahasa, tetapi pada saat yang sama juga membuat banyak penelitian berbahasa lain menjadi “tidak terlihat” bagi dunia di luar komunitas yang menggunakan bahasa tersebut. Akibatnya, informasi penting soal bagaimana menjaga spesies langka, ekosistem unik, ataupun praktik konservasi tradisional dari banyak negara yang paling kaya keanekaragaman hayatinya bisa terlewatkan saat ilmuwan internasional mencari referensi untuk riset atau kebijakan perlindungan.

Studi yang Menyingkap Masalah Bahasa dalam Ilmu Konservasi

Penelitian ini dilakukan oleh seorang kandidat PhD bernama Kelsey Hannah yang memeriksa sekelompok artikel ilmiah tentang perlindungan dan pengelolaan burung, mamalia, dan amfibi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah peer-review (tinjauan sejawat). Ini berarti setiap artikel telah melalui penilaian ketat oleh para ahli sebelum diterbitkan, jadi kualitas ilmiahnya tidak diragukan. Namun meskipun ada dalam jurnal yang tersedia secara internasional, artikel berbahasa selain Inggris memiliki jumlah kutipan (citations) yang jauh lebih sedikit dibandingkan artikel berbahasa Inggris.

Dalam penelitian tersebut, ditemukan 500 artikel, dan hasilnya menunjukkan perbedaan besar antara karya berbahasa Inggris dan non-Inggris. Artikel berbahasa Inggris memiliki median 37 kutipan dalam publikasi selanjutnya, sedangkan artikel dalam bahasa lain menunjukkan median nol kutipan. Artinya, kebanyakan artikel non-Inggris tidak dikutip sama sekali oleh penelitian lain sepanjang waktu. Kutipan sering digunakan oleh para ilmuwan sebagai indikator seberapa sering sebuah karya digunakan atau dianggap penting dalam penelitian lanjutan. Ketika sebuah artikel tidak dikutip, itu biasanya berarti artikel tersebut tidak dibaca atau dirujuk secara luas.

Skema yang menggambarkan sistem di mana bukti ilmiah yang dipublikasikan dalam bahasa non-Inggris (a) banyak dikutip dalam studi berbahasa Inggris dan selanjutnya digunakan dalam tinjauan berskala global, serta (b) jarang dikutip dalam studi berbahasa Inggris sehingga informasi tersebut hampir tidak tercakup dalam basis bukti yang mendasari tinjauan global.

Menariknya, perbedaan jumlah kutipan ini terjadi tanpa memperhatikan seberapa kuat metode penelitian yang digunakan atau seberapa penting status konservasi spesies yang dibahas—baik itu makhluk langka atau tidak. Ini menunjukkan bahwa alasan artikel berbahasa non-Inggris sering diabaikan bukan karena kualitas ilmiahnya buruk, tetapi terutama karena masalah visibilitas dan pencarian literatur yang dibatasi bahasa.

Apa Itu Citation dalam Ilmu Pengetahuan?

Dalam konteks akademik, citation adalah cara peneliti merujuk karya orang lain dalam tulisan mereka. Ketika sebuah artikel lain menggunakan data, teori, atau hasil temuan sebelumnya, penulis biasanya mencantumkan kutipan terhadap artikel itu untuk memberi kredit dan menunjukkan dasar ilmiah bagi argumen mereka.

Jumlah kutipan yang tinggi sering dipandang sebagai tanda bahwa publikasi itu penting dan berpengaruh di bidangnya. Sebaliknya, artikel yang jarang dikutip bisa jadi sangat bermanfaat, tetapi tidak mendapat perhatian yang layak karena hambatan tertentu—seperti bahasa.

Contoh Nyata yang Membuka Mata

Salah satu contoh yang disinggung dalam penelitian ini adalah studi tentang burung stork Oriental, burung besar yang terancam punah di berbagai negara Asia Timur. Sebuah penelitian berbahasa Jepang yang diterbitkan pada 2011 tentang spesies ini hanya dikutip dalam bahasa Jepang, bahkan meskipun burung ini juga hidup di negara seperti China, Korea, dan Rusia—tempat para ilmuwan lokal bisa mendapat manfaat dari hasil penelitian tersebut. Karena studi itu tidak ditulis dalam bahasa yang bisa diakses oleh ilmuwan di luar komunitas berbahasa Jepang, pengetahuan tersebut tidak menyebar ke lingkungan ilmiah internasional yang lebih luas.

Baca juga: Menguasai Bahasa dengan Cepat: Strategi Berdasarkan Hasil Riset

Kasus semacam ini menggambarkan bagaimana barrier bahasa bisa membuat informasi ilmiah yang sangat relevan dan tepat waktu tidak digunakan oleh mereka yang sebenarnya membutuhkannya untuk memahami dan mengatasi tantangan pelestarian spesies.

Mengapa Hambatan Bahasa Ini Penting untuk Konservasi?

Dalam ilmu konservasi, keputusan yang diambil sering kali didasarkan pada bukti ilmiah terbaik yang tersedia. Istilah evidence-based conservation (konservasi berbasis bukti) mengacu pada pendekatan di mana tindakan perlindungan dan kebijakan dibuat berdasarkan hasil riset dan data nyata, bukan hanya asumsi atau pengalaman semata. Dalam kondisi terbaik, ini memadukan penelitian dari seluruh dunia untuk memahami apa yang berhasil dan apa yang tidak dalam menyelamatkan spesies dan ekosistem.

Namun, ketika ada begitu banyak penelitian yang hanya tersedia dalam bahasa tertentu dan tidak ditemukan atau digunakan oleh komunitas ilmiah global, dasar bukti yang digunakan untuk membuat kebijakan atau praktik bisa sangat tidak lengkap. Dunia memiliki banyak wilayah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi — termasuk Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara — di mana banyak penelitian dibuat dalam bahasa lokal daripada bahasa Inggris. Ketika penelitian ini tidak terintegrasi ke dalam basis pengetahuan global, konservasionis berisiko kehilangan informasi penting yang bisa menjadi kunci solusi bagi spesies yang terancam punah.

Misalnya, seorang manajer kawasan lindung di negara berbahasa Spanyol dapat menemukan penelitian penting tentang pengelolaan habitat setempat, namun jika penelitian itu tidak tersedia atau diakui di luar komunitas berbahasa Spanyol, para pembuat kebijakan internasional tidak akan tahu bagaimana menerapkan wawasan tersebut lebih luas. Ini tidak hanya membuang potensi ilmu pengetahuan, tetapi berpotensi memperlambat atau bahkan menghambat upaya pelestarian.

Solusi yang Mungkin dan Langkah ke Depan

Para peneliti yang terlibat dalam studi ini, termasuk Associate Professor Tatsuya Amano dari School of the Environment di The University of Queensland, menekankan pentingnya agar bahasa tidak menjadi halangan dalam menangani krisis keanekaragaman hayati global. Tim mendorong para ilmuwan untuk berpikir lebih luas tentang aksesibilitas karya ilmiah mereka, termasuk menyediakanabstract—ringkasan singkat artikel—dalam bahasa Inggris meskipun isi artikel utama ditulis dalam bahasa lain. Penelitian menemukan bahwa artikel non-Inggris dengan abstract berbahasa Inggris memiliki jumlah kutipan 1,5 kali lebih banyak daripada yang tidak memilikinya, menunjukkan bahwa langkah kecil semacam ini bisa memperluas jangkauan penelitian secara signifikan.

Selain itu, mahasiswa dan peneliti berbahasa Inggris didorong untuk mencari dan mengutip studi dalam bahasa lain ketika melakukan tinjauan literatur, agar bukti ilmiah yang lebih luas bisa muncul dalam corpus pengetahuan global. Pendekatan ini bukan hanya soal “mengatakan halo” kepada bahasa lain, tetapi tentang mendapatkan gambaran lengkap dari dunia penelitian yang memungkinkan keputusan conservarsi lebih tepat sasaran.

Kesimpulan

Penelitian dari The University of Queensland membuka mata kita terhadap satu masalah yang sering tersembunyi: bahasa bisa menjadi hambatan nyata dalam ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang yang begitu penting seperti konservasi keanekaragaman hayati. Studi ini memperlihatkan bahwa banyak karya ilmiah yang memiliki nilai besar bagi perlindungan spesies justru terabaikan karena tidak ditulis dalam bahasa Inggris—meskipun karya itu sangat berkualitas dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang diakui.

Masalah ini bukan sekadar soal linguistik; implikasinya sangat besar bagi bagaimana ilmu pengetahuan dipakai untuk menyelamatkan spesies dan ekosistem di seluruh planet. Untuk menghadapi krisis keanekaragaman hayati global secara efektif, tidak cukup hanya bekerja dalam satu bahasa saja. Dunia konservasi perlu menjadi lebih inklusif secara linguistik, memastikan akses terhadap pengetahuan ilmiah dari berbagai bahasa dan budaya sehingga tindakan nyata yang efektif bisa dibuat untuk masa depan yang lebih lestari.

Referensi

[1] https://news.uq.edu.au/2025-05-16-language-barrier-biodiversity-work, diakses pada 25 Januari 2026

[2] Tatsuya Amano, Violeta Berdejo-Espinola. Language Barriers in Conservation: Consequences and Solutions. Trends in Ecology & Evolution 40, no. 3 (March 2025): 273–285; DOI: 10.1016/j.tree.2024.11.003

[3] Kelsey Hannah, Richard A. Fuller, Rebecca K. Smith, William J. Sutherland, Tatsuya Amano. Language barriers in conservation science citation networksConservation Biology, 2025; DOI: 10.1111/cobi.70051

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top