Mumifikasi adalah sebuah teknik pengawetan mayat yang menjadi ciri khas Mesir Kuno dan dipraktikkan selama ribuan tahun. Namun, tujuan mereka bukan sekadar menghentikan proses pembusukan tubuh setelah kematian. Bagi masyarakat Mesir, tubuh yang utuh dianggap sangat penting karena diyakini roh seseorang yang mereka sebut dengan konsep “ka” (energi kehidupan) dan “ba” (jiwa yang bisa bepergian) masih membutuhkan tubuh fisik sebagai tempat bersemayam agar bisa hidup kembali di alam baka.
Secara ilmiah, cara yang mereka gunakan cukup cerdas untuk ukuran zaman itu. Mereka memanfaatkan natron, yaitu campuran alami dari garam mineral (terdiri dari natrium karbonat dan natrium bikarbonat), yang berfungsi menyerap air dari jaringan tubuh. Dengan mengeringkan tubuh melalui natron, proses pembusukan yang biasanya disebabkan oleh bakteri bisa dihentikan.
Selain itu, organ-organ dalam tubuh seperti perut, hati, paru-paru, dan usus biasanya dikeluarkan terlebih dahulu karena bagian ini cepat membusuk. Organ tersebut kemudian diawetkan secara terpisah, sedangkan bagian tubuh yang tersisa dirawat dengan berbagai bahan seperti resin (semacam getah pohon yang lengket dan tahan lama), minyak harum untuk mengurangi bau, serta kain linen yang digunakan untuk membungkus jasad lapis demi lapis. Semua ini dilakukan bukan hanya untuk alasan praktis, tapi juga sebagai bagian dari ritual religius yang sarat makna spiritual.
Permasalahan Biologis pada Mata
Secara anatomi, mata manusia tersusun dari jaringan lunak yang sangat rapuh. Berbeda dengan tulang atau gigi yang keras dan bisa bertahan ribuan tahun, bagian-bagian mata seperti lensa, kornea, dan retina sangat cepat mengalami kerusakan. Begitu seseorang meninggal, tubuh memasuki proses alami yang disebut dekomposisi, yakni penguraian jaringan oleh bakteri dan reaksi kimia. Dalam tahap ini, mata menjadi salah satu organ pertama yang membusuk.
Karena sifatnya yang lembut dan mudah hancur, bola mata asli jarang sekali bertahan pada jenazah yang diawetkan, termasuk pada mumi. Itulah mengapa ketika para arkeolog meneliti mumi Mesir Kuno, mereka hampir selalu menemukan rongga mata yang kosong.
Kekosongan ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi para pembalsem kuno. Mereka berusaha menjaga agar wajah mumi tetap terlihat utuh dan menyerupai sosok manusia semasa hidupnya, bukan tampak kosong atau rusak. Bagi masyarakat Mesir Kuno, menjaga keutuhan wajah bukan sekadar soal estetika, tetapi juga terkait dengan keyakinan spiritual bahwa tubuh harus dikenali oleh roh di alam baka.
Baca juga artikel tentang: Keajaiban Arkeologi: Lidah dan Kuku Emas di Mumi Mesir Kuno
Solusi Praktis Para Embalmer
Analisis arkeologis dan CT-scan modern menunjukkan bahwa rongga mata sering kali diisi dengan berbagai bahan:
- Resin → berfungsi sebagai perekat dan pengisi.
- Linen yang dibentuk bola kecil → menyerupai bola mata.
- Mata palsu buatan → ditemukan pada beberapa mumi bangsawan, dibuat dengan detail artistik.
Hal ini memperlihatkan pemahaman praktis orang Mesir kuno tentang anatomi sekaligus estetika.
Mengapa Bawang Dipakai?
Penemuan unik pada beberapa mumi adalah penggunaan bawang di area mata. Dari sisi sains dan arkeologi, ada beberapa penjelasan:
- Fungsi Biologis – bawang mengandung senyawa antibakteri alami (seperti allicin) yang berpotensi menghambat pembusukan.
- Fungsi Estetis – bentuk bulat bawang menyerupai bola mata sehingga cocok sebagai pengganti.
- Fungsi Simbolis – bawang dipandang suci dalam budaya Mesir; aromanya dianggap melindungi dari roh jahat, dan lapisan berlapisnya melambangkan kehidupan abadi.
Dengan demikian, penggunaan bawang bukan kebetulan, melainkan bagian dari sains praktis yang bercampur dengan simbolisme religius.
Arti Penting bagi Ilmu Modern
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan modern, para peneliti kini bisa mempelajari mumi tanpa harus merusaknya. Teknik medis canggih seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan CT-scan (Computed Tomography scan) memungkinkan ilmuwan melihat bagian dalam tubuh mumi secara detail, lapisan demi lapisan, seolah-olah sedang melakukan “bedah virtual”.
Dari hasil pemindaian ini, terungkap bahwa praktik mumifikasi di Mesir Kuno ternyata tidak seragam, melainkan penuh variasi. Ada mumi yang rongga matanya diisi dengan resin keras, ada yang menggunakan mata palsu buatan, bahkan ada yang diberi lapisan bawang untuk menggantikan bola mata yang hilang.
Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat Mesir Kuno tidak hanya sekadar melakukan ritual secara mekanis, tetapi juga menggabungkan pengetahuan biologis dengan keyakinan religius dan kosmologis. Dari sisi biologis, mereka mencoba cara-cara praktis untuk menjaga bentuk tubuh tetap utuh dan wajah tampak “hidup”. Dari sisi kepercayaan, tindakan ini erat kaitannya dengan pandangan mereka tentang alam baka, di mana tubuh harus dikenali oleh roh agar bisa melanjutkan perjalanan setelah kematian.
Dengan kata lain, praktik mumifikasi adalah perpaduan unik antara sains tradisional (berdasarkan pengamatan terhadap tubuh manusia) dan spiritualitas (berdasarkan keyakinan akan kehidupan setelah mati).
Bagi ilmu pengetahuan saat ini, temuan tersebut membantu kita memahami dua hal:
- Sejarah biomedis → bagaimana peradaban awal bereksperimen dengan teknik pengawetan jaringan.
- Sejarah budaya → bagaimana simbol keagamaan membentuk praktik yang terlihat “aneh” bagi kita, tapi masuk akal dalam kerangka berpikir masyarakat kuno.
Simbolisme Mata: Dari Mesir Kuno hingga Modern
Simbol mata tetap bertahan melintasi waktu. Eye of Horus masih dikenal sebagai simbol perlindungan. Bahkan dalam kedokteran modern, mata tetap dianggap “jendela tubuh” dokter dapat mendiagnosis penyakit sistemik seperti diabetes atau hipertensi hanya dengan memeriksa mata.
Hal ini menunjukkan kesinambungan makna: dari dunia spiritual Mesir Kuno hingga dunia medis abad ke-21, mata tetap dipandang sebagai bagian tubuh yang istimewa.
Bawang di mata mumi bukanlah sekadar keanehan arkeologis. Ia adalah bukti betapa eratnya hubungan antara sains praktis, kepercayaan spiritual, dan seni pengawetan dalam peradaban Mesir kuno. Melalui detail kecil ini, kita bisa memahami cara mereka melihat tubuh manusia: bukan hanya jasad, melainkan medium untuk keabadian.
Baca juga artikel tentang: Mengenal Aroma Mumi Mesir Kuno: Penemuan Menarik tentang Proses Pembalseman dan Pelestariannya
REFERENSI:
Funnell, Rachael. 2025. What Happened To Eyes During The Mummification Process? And Why Sometimes It Involved Onions. IFLScience: https://www.iflscience.com/what-happened-to-eyes-during-the-mummification-process-and-why-sometimes-it-involved-onions-80475 diakses pada tanggal 1 September 2025.
Harari, Maurizio & Malgora, Sabina. 2025. Mummies: Interdisciplinary Dialogues. EGEA spa.

