Benar atau Salah? Perubahan Iklim Tidak Selalu Mendorong Inovasi di Sektor Pertanian

Perubahan iklim kini menjadi tantangan nyata bagi siapa pun yang bergantung pada alam sebagai sumber hidup, terutama para petani. Di […]

Perubahan iklim kini menjadi tantangan nyata bagi siapa pun yang bergantung pada alam sebagai sumber hidup, terutama para petani. Di Kamboja, sebuah negara dengan perekonomian yang masih sangat bergantung pada pertanian, perubahan pola musim, cuaca ekstrem, hingga kekeringan dan banjir membuat kegiatan bercocok tanam semakin sulit diprediksi.

Teknologi sebenarnya mampu membantu petani mengurangi risiko gagal panen, mulai dari benih tahan kekeringan, sistem irigasi cerdas, hingga alat pertanian modern. Namun kenyataannya, sebagian besar petani di Kamboja masih kesulitan atau bahkan enggan mengadopsi teknologi tersebut. Mengapa demikian?

Sebuah riset terbaru yang dilakukan oleh Rachel Brown dan diterbitkan dalam Journal of Rural Studies (2025) mencoba mencari jawabannya. Penelitian ini melibatkan 109 petani yang menanam berbagai jenis komoditas, seperti padi, kacang mete, dan tanaman pangan lainnya. Tujuannya adalah memahami perilaku dan keputusan petani dalam menggunakan teknologi baru di tengah tekanan perubahan iklim.

Hasilnya: tidak sesederhana menyediakan alat atau teknologi, lalu petani pasti menggunakannya.

Baca juga artikel tentang: Masa Depan Ilmu Material: Cavity Elektro-Optik dan Pengaruhnya terhadap Teknologi Kuantum

Perubahan Iklim: Pendorong dan Penghalang Sekaligus

Mayoritas petani yang disurvei sepakat bahwa perubahan iklim kini sangat memengaruhi hasil panen dan pendapatan mereka. Gagal panen semakin sering terjadi akibat cuaca yang tidak menentu. Secara logika, kondisi ini harusnya mendorong mereka untuk lebih terbuka terhadap teknologi yang dapat membantu.

Dan memang, penelitian menemukan bahwa petani yang pernah mengalami kerugian panen atau memiliki pandangan negatif tentang dampak perubahan iklim cenderung lebih bersedia mencoba teknologi baru.

Namun ada sisi lain yang cukup mengejutkan, ketika situasi semakin berisiko, petani justru semakin berhati-hati dan enggan mengambil keputusan besar, termasuk membeli alat atau teknologi yang dianggap mahal atau masih asing. Faktor risk aversion atau ketakutan terhadap risiko ekonomi menjadi salah satu penghalang terbesar.

Dengan kata lain:

“Petani ingin berubah karena perubahan iklim, tetapi pada saat yang sama mereka takut perubahan.”

Sebuah dilema nyata yang membutuhkan pendekatan kebijakan yang tepat.

Jenis Tanaman Mempengaruhi Keputusan

Riset ini juga menemukan bahwa jenis tanaman yang dibudidayakan berpengaruh besar pada keinginan adopsi teknologi:

  • Petani padi dan kacang mete lebih mungkin mengadopsi teknologi
  • Petani yang fokus pada ternak lebih enggan berubah

Mengapa berbeda?

Karena usaha tani tanaman pangan dianggap lebih rentan terhadap cuaca, sehingga manfaat teknologi terasa lebih jelas. Sementara peternakan sering dipandang lebih stabil, sehingga kebutuhan untuk inovasi terasa lebih rendah.

Walau begitu, pemilik ternak juga biasanya lebih tua dan sudah terbiasa dengan metode tradisional. Faktor usia juga ternyata ikut berperan.

Usia Mempengaruhi Pilihan

Dalam penelitian ini, petani yang berusia lebih tua terbukti lebih sulit menerima perubahan. Ada berbagai alasan:

  • Sudah nyaman dengan teknik bertani lama
  • Kurang percaya pada mesin dan teknologi digital
  • Takut salah mengambil keputusan di usia mendekati pensiun
  • Kesulitan mengakses informasi baru

Ini artinya, program modernisasi pertanian harus memberi perhatian lebih pada generasi petani senior, bukan hanya fokus pada anak muda.

Akses Teknologi dan Utang: Dua Tantangan Berat

Teknologi pertanian sering dianggap mahal dan pandangan itu tidak selalu salah.

Banyak petani di Kamboja memiliki tingkat pendapatan rendah serta terjebak utang usaha. Akibatnya:

  • Mereka tidak punya modal tambahan untuk membeli alat modern
  • Mereka takut mencoba hal baru karena bisa memperburuk kondisi finansial
  • Mereka lebih memilih langkah aman: bertahan dengan cara lama

Padahal, jika teknologi dapat membantu meningkatkan hasil panen, justru menjadi peluang melunasi utang dengan lebih cepat. Namun rasa takut membuat perubahan tetap tertahan.

Layanan Penyuluhan: Kunci Keberhasilan

Penelitian ini menemukan satu faktor penting yang selalu berdampak positif: penyuluhan pertanian.

Petani yang rutin mendapatkan pelatihan, pendampingan, atau informasi dari tenaga penyuluh:

  • lebih percaya diri mencoba teknologi
  • memahami manfaat teknologi secara langsung
  • memiliki dukungan ketika mengalami kendala

Artinya…

“Teknologi hanya berguna ketika ada orang yang membantu petani memahaminya.”

Bantuan teknis dan sosial sama pentingnya dengan inovasi alat atau metode.

Bagaimana Agar Petani Mau Berubah?

Berdasarkan temuan ini, strategi untuk mendorong transformasi pertanian di Kamboja atau negara berkembang lainnya harus mempertimbangkan hal-hal berikut:

  1. Teknologi harus terjangkau
    Subsidi harga atau skema kredit khusus bisa membantu.
  2. Penyuluhan pertanian harus diperkuat
    Edukasi langsung lebih efektif daripada kampanye informasi biasa.
  3. Kebijakan harus sensitif terhadap jenis usaha dan usia petani
    Tidak ada pendekatan “satu untuk semua”.
  4. Mitigasi risiko harus terlihat jelas
    Misalnya garansi, uji coba gratis, atau pelatihan bergulir.
  5. Libatkan komunitas lokal
    Ketika satu orang sukses, yang lain ikut terdorong mengikuti.

Agar Petani Kecil Tidak Tertinggal

Penelitian Rachel Brown menutup dengan pesan penting: teknologi pertanian harus dikembangkan dan disebarkan secara adil, tanpa memandang skala usaha atau jenis produksi. Jika tidak, kesenjangan hasil panen dan pendapatan akan semakin melebar.

Perubahan iklim tidak pilih-pilih korban. Maka solusi pun harus tersedia untuk semua.

Teknologi pertanian memang menjanjikan masa depan yang lebih aman dan produktif bagi petani. Namun teknologi tidak akan berarti jika para pengguna utamanya tidak siap atau tidak mampu mengadopsinya.

Mendorong petani Kamboja untuk memanfaatkan teknologi modern bukan hanya soal menyediakan alat canggih, tetapi memahami kondisi psikologis, ekonomi, dan sosial mereka.

Teknologi harus mendekat kepada petani, bukan petani yang mengejar teknologi.

Dengan pendekatan yang lebih manusiawi, pertanian dapat benar-benar menjadi benteng melawan krisis iklim dan memastikan keberlanjutan pangan generasi mendatang.

Baca juga artikel tentang: Kabut Pintar dan Kelembapan Terkontrol: Teknologi Baru Menjaga Buah dan Sayur Segar dari Ladang ke Meja Makan

REFERENSI:

Brown, Rachel. 2025. Farmer technology adoption in Cambodia: The impact of climate change, risk aversion, and crop type. Journal of Rural Studies 114, 103551.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top