Pertanian kini memasuki era baru. Jika selama ini bertani sering identik dengan kerja fisik berat, penggunaan cangkul, serta ketergantungan pada cuaca, kini hadir teknologi yang mampu mengubah cara manusia mengelola pangan. Konsep ini dikenal sebagai smart farming atau pertanian cerdas, yaitu pemanfaatan alat digital seperti sensor, aplikasi pemantau cuaca, kecerdasan buatan, hingga drone untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani. Teknologi ini menawarkan berbagai keuntungan mulai dari peningkatan hasil panen, pemanfaatan air dan pupuk yang lebih efisien, pengendalian hama yang lebih tepat, hingga kemampuan mencegah gagal panen akibat cuaca ekstrem. Dengan meningkatnya kebutuhan pangan global dan semakin terbatasnya lahan produktif, smart farming dianggap sebagai strategi penting untuk menjaga ketahanan pangan di masa depan.
Namun, penerapan smart farming tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak semua petani siap menerima teknologi baru tersebut. Dalam kenyataan di lapangan, banyak petani yang masih ragu atau bahkan menolak untuk beralih ke metode pertanian berbasis teknologi. Pertanyaannya, mengapa hal ini terjadi dan faktor apa saja yang mempengaruhi kesiapan petani dalam mengadopsi inovasi pertanian? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kumar Anubhav dan rekan-rekannya pada tahun 2025 memberikan gambaran menarik mengenai hal ini.
Baca juga artikel tentang: Masa Depan Ilmu Material: Cavity Elektro-Optik dan Pengaruhnya terhadap Teknologi Kuantum
Penelitian tersebut melibatkan 597 petani penuh waktu di India. Para peneliti ingin memahami faktor yang mendorong atau menghambat niat petani dalam menggunakan smart farming. Mereka menganalisis berbagai aspek seperti sikap petani terhadap teknologi, manfaat ekonomi yang dipersepsikan, dukungan pemerintah, serta kemudahan fasilitas yang tersedia untuk mengakses teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor utama yang sangat mempengaruhi keinginan petani untuk menggunakan smart farming yaitu sikap petani, dukungan pemerintah, dan kondisi fasilitas pendukung di lapangan.
Faktor pertama adalah sikap petani itu sendiri. Persepsi positif atau negatif terhadap teknologi akan sangat menentukan apakah petani siap menggunakannya. Jika petani percaya bahwa teknologi dapat memberikan keuntungan bagi hasil pertanian mereka, maka keinginan untuk mencoba akan lebih besar. Sebaliknya, jika mereka merasa teknologi tersebut terlalu rumit, tidak yakin membawa manfaat nyata, atau takut gagal, maka mereka cenderung menolak. Sikap ini biasanya terbentuk melalui pengalaman pribadi, rekomendasi dari petani lain, serta bukti nyata keberhasilan penggunaan teknologi di wilayah mereka. Oleh karena itu, pendekatan komunikasi yang benar sangat dibutuhkan dalam memperkenalkan teknologi baru kepada petani.
Faktor kedua adalah dukungan pemerintah. Peran pemerintah terbukti sangat penting dalam memperkuat kepercayaan petani terhadap teknologi baru. Dukungan ini bukan hanya berbentuk bantuan finansial, tetapi juga mencakup penyediaan pelatihan, pendampingan teknis, serta penyuluhan yang berkelanjutan. Ketika petani merasa bahwa mereka memiliki akses terhadap informasi yang jelas dan bantuan saat menghadapi kesulitan, mereka akan merasa lebih siap untuk mengambil langkah inovatif. Dukungan pemerintah juga dapat mengurangi risiko yang dirasakan petani ketika berinvestasi pada alat dan teknologi baru. Dengan demikian, pemerintah perlu menempatkan kebijakan smart farming dalam posisi prioritas jika ingin mempercepat transformasi sektor pertanian.
Faktor ketiga adalah fasilitas pendukung yang memadai. Smart farming hanya dapat berjalan jika tersedia jaringan internet yang stabil, perangkat yang terjangkau, serta tenaga ahli yang mampu memberikan perbaikan apabila terjadi kerusakan. Teknologi yang mudah digunakan juga menjadi pertimbangan penting. Jika teknologi terasa terlalu rumit atau tidak sesuai dengan kondisi lapangan, maka petani tidak akan tertarik. Oleh karena itu, inovator teknologi pertanian harus mempertimbangkan kebutuhan petani di lapangan sejak desain awal sehingga teknologi dapat digunakan oleh seluruh lapisan petani, termasuk petani kecil di daerah terpencil.
Satu hal menarik dari penelitian ini adalah temuan bahwa manfaat ekonomi ternyata tidak menjadi penentu utama dalam keputusan petani untuk beralih ke smart farming. Ini cukup mengejutkan karena secara logika, peningkatan pendapatan sering dianggap sebagai motivasi terbesar dalam kegiatan ekonomi. Namun dalam praktiknya, banyak petani tidak langsung merasakan manfaat ekonomi ketika menggunakan teknologi baru karena hasil peningkatan biasanya bersifat jangka panjang. Mereka membutuhkan bukti yang lebih konkret sebelum yakin mengubah kebiasaan lama mereka. Kurangnya contoh nyata keberhasilan di lingkungan sekitar menjadi penyebab utama mengapa manfaat ekonomi tidak dianggap penting sebagai dasar pengambilan keputusan. Dengan kata lain, karena hasil ekonominya belum terasa langsung, mereka tidak menjadikannya faktor utama dalam menentukan penggunaan teknologi.
Temuan ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Banyak negara sedang menghadapi masalah yang serupa, seperti usia petani yang semakin menua, generasi muda yang enggan bertani, serta meningkatnya ancaman perubahan iklim. Smart farming menawarkan peluang solusi, namun tanpa kepercayaan petani, seluruh potensi tersebut tidak akan tercapai. Oleh karena itu diperlukan strategi yang lebih menyentuh aspek psikologis dan sosial petani. Pemerintah, sektor swasta, serta akademisi harus bekerja sama menciptakan ekosistem pendukung yang mampu memfasilitasi transisi menuju pertanian modern secara bertahap namun efektif.
Agar smart farming dapat diterima dengan baik, upaya yang bisa dilakukan meliputi peningkatan kualitas pelatihan dan pendidikan teknologi untuk petani, menghadirkan contoh nyata keberhasilan melalui proyek percontohan, memperkuat infrastruktur daerah terutama jaringan internet, serta memperluas akses terhadap teknologi dengan harga yang dapat dijangkau oleh petani kecil. Di samping itu, petani harus dilibatkan dalam proses inovasi sehingga pengembangan teknologi dapat sesuai dengan kebutuhan nyata mereka. Dengan langkah tersebut, petani akan merasa menjadi bagian dari perubahan, bukan hanya sebagai objek pengguna.
Teknologi tidak akan berjalan tanpa dukungan manusia yang menggunakannya. Smart farming memang menawarkan masa depan yang lebih cerah bagi dunia pertanian, namun kesiapan mental dan rasa percaya petani menjadi fondasi dari keberhasilan perubahan tersebut. Pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa transformasi pertanian ini berjalan inklusif dan memberi manfaat bagi seluruh petani, khususnya mereka yang selama ini berjuang dalam keterbatasan.
Smart farming bukan hanya tentang alat yang canggih, melainkan tentang bagaimana manusia mau dan mampu beradaptasi dengan teknologi tersebut. Dengan membangun sikap positif, memberikan pendampingan yang tepat, serta memastikan akses teknologi yang terjangkau dan mudah digunakan, masa depan pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan dapat terwujud. Pertanian cerdas dapat menjadi tonggak penting dalam menjaga ketahanan pangan dunia selama kita mampu memastikan bahwa petani tidak ditinggalkan dalam perjalanan menuju kemajuan.
Baca juga artikel tentang: Kabut Pintar dan Kelembapan Terkontrol: Teknologi Baru Menjaga Buah dan Sayur Segar dari Ladang ke Meja Makan
REFERENSI:
Anubhav, Kumar dkk. 2025. Smart farming for future: a structural relation analysis of attitude, facilitating condition, economic benefit and government support. Technology analysis & strategic management 37 (2), 187-201.

