Betelgeuse, salah satu bintang paling terang di langit malam, baru-baru ini kembali menjadi pusat perhatian dunia astronomi. Berada di konstelasi Orion sekitar 650 tahun cahaya dari Bumi, Betelgeuse adalah bintang raksasa merah yang ukurannya begitu besar sehingga lebih dari 400 juta matahari bisa muat di dalamnya. Namun, bukan hanya ukurannya yang mengesankan, tetapi juga fenomena misterius yang terjadi di sekitarnya. Penemuan baru-baru ini tentang keberadaan bintang pendamping Betelgeuse, yang dinamai Siwarha, telah memberikan wawasan baru tentang dinamika bintang masif ini.
Jejak Gas yang Mengungkap Keberadaan Siwarha
Para astronom dari Center for Astrophysics | Harvard & Smithsonian (CfA) berhasil mendeteksi pengaruh Siwarha terhadap atmosfer luar Betelgeuse. Dengan menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble milik NASA serta teleskop berbasis darat di Fred Lawrence Whipple Observatory dan Roque de Los Muchachos Observatory, para peneliti menemukan jejak gas padat yang mengalir melalui atmosfer luar Betelgeuse. Jejak ini terbentuk akibat interaksi Siwarha dengan atmosfer raksasa merah tersebut.
Andrea Dupree, seorang astronom di CfA dan penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa jejak gas tersebut mirip dengan efek riak yang ditimbulkan oleh perahu yang meluncur di air. Siwarha, yang mengorbit Betelgeuse setiap enam tahun sekali, menciptakan jejak padat di atmosfer luar Betelgeuse. Penemuan ini memberikan bukti langsung pertama bahwa Betelgeuse memiliki bintang pendamping tersembunyi yang memengaruhi penampilan dan perilakunya.
Mengapa Penemuan Ini Penting?
Penemuan ini tidak hanya menjawab salah satu misteri terbesar tentang Betelgeuse tetapi juga memberikan wawasan penting tentang bagaimana bintang masif berevolusi, kehilangan massa, dan akhirnya meledak sebagai supernova. Sebagai salah satu dari sedikit bintang yang permukaan dan atmosfernya dapat diamati langsung oleh para astronom, Betelgeuse telah lama menjadi laboratorium alami untuk mempelajari tahap akhir kehidupan bintang raksasa.
Sebelumnya, para ilmuwan telah lama menduga keberadaan bintang pendamping di sekitar Betelgeuse. Namun, tanpa bukti langsung, teori ini tetap menjadi spekulasi. Dengan ditemukannya jejak gas yang ditinggalkan oleh Siwarha, hipotesis ini kini telah terbukti. Hal ini memungkinkan para astronom untuk lebih memahami proses rumit yang terjadi pada bintang sebesar Betelgeuse.
Misteri Perilaku Aneh Betelgeuse
Selama beberapa dekade, para astronom telah memantau perubahan kecerahan dan fitur permukaan Betelgeuse. Salah satu fenomena yang paling mencuri perhatian adalah ketika pada tahun 2020, bintang ini tiba-tiba meredup secara signifikan – sebuah peristiwa yang dijuluki sebagai “Betelgeuse sneeze” atau “bersin Betelgeuse”. Perubahan mendadak ini memicu spekulasi luas tentang kemungkinan penyebabnya, termasuk konveksi besar-besaran, awan debu, aktivitas magnetik, hingga keberadaan bintang pendamping.
Selain itu, Betelgeuse juga menunjukkan dua periode variasi yang membingungkan para ilmuwan: siklus pendek selama 400 hari yang disebabkan oleh denyut internal bintang itu sendiri dan siklus panjang selama 2.100 hari. Kini, dengan bukti langsung dari Siwarha, siklus panjang tersebut dapat dijelaskan oleh interaksi antara Betelgeuse dan pendampingnya.
Andrea Dupree menambahkan bahwa penemuan ini memberikan “kursi barisan depan” untuk menyaksikan bagaimana bintang raksasa seperti Betelgeuse berubah seiring waktu. Dengan memahami peran Siwarha dalam membentuk atmosfer luar Betelgeuse, para astronom dapat memperluas pemahaman mereka tentang evolusi bintang masif lainnya.
Siwarha: Bintang Kecil dengan Pengaruh Besar
Meskipun ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan Betelgeuse, Siwarha memiliki peran besar dalam membentuk perilaku raksasa merah ini. Dalam ilustrasi artistik yang dirilis oleh NASA, Siwarha digambarkan sebagai titik kecil biru yang mengorbit dekat dengan permukaan luar Betelgeuse yang luas. Kedekatan ini menyebabkan Siwarha melewati atmosfer luar Betelgeuse, menciptakan riak dan jejak padat yang dapat dideteksi melalui perubahan spektrum cahaya dan kecepatan gas di atmosfer tersebut.
Jejak gas ini muncul setelah Siwarha melintas di depan Betelgeuse setiap enam tahun sekali. Pola ini sesuai dengan model teoretis yang telah lama diajukan oleh para ilmuwan. Dengan pengamatan lebih lanjut, para astronom berharap dapat mempelajari lebih dalam tentang dinamika antara Betelgeuse dan pendampingnya.

Masa Depan Penelitian Betelgeuse
Dengan berakhirnya siklus orbit terakhir Siwarha pada tahun 2026, para astronom kini merencanakan pengamatan baru untuk kemunculannya berikutnya pada tahun 2027. Penelitian lanjutan ini tidak hanya akan memperdalam pemahaman tentang hubungan antara Betelgeuse dan Siwarha tetapi juga membantu menjelaskan misteri serupa pada bintang raksasa lainnya di alam semesta.
Penemuan ini juga memiliki implikasi yang lebih luas dalam memahami bagaimana bintang masif kehilangan massa mereka sebelum meledak sebagai supernova. Dengan mempelajari interaksi antara Betelgeuse dan Siwarha secara mendalam, para ilmuwan dapat memperoleh wawasan baru tentang bagaimana bahan-bahan kimia penting bagi kehidupan tersebar ke seluruh galaksi setelah ledakan supernova terjadi.
Kesimpulan
Betelgeuse dan Siwarha adalah contoh nyata betapa kompleksnya dinamika alam semesta kita. Penemuan jejak gas yang ditinggalkan oleh Siwarha tidak hanya mengungkap misteri lama tentang bintang raksasa merah ini tetapi juga membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut tentang evolusi bintang masif.
Dengan teknologi canggih seperti Teleskop Luar Angkasa Hubble dan teleskop berbasis darat lainnya, para astronom terus mendorong batas pengetahuan kita tentang alam semesta. Dan dengan setiap penemuan baru seperti ini, kita semakin dekat untuk memahami rahasia terdalam dari bintang-bintang besar yang menerangi langit malam kita.
Siapakah yang tahu? Mungkin suatu hari nanti, pengetahuan ini akan membantu kita memahami asal-usul kehidupan itu sendiri – semua dimulai dari kilauan merah terang Betelgeuse di langit malam Orion.
REFERENSI
NASA. NASA’s Hubble Space Telescope Tracks Influence of Betelgeuse’s Companion Star. Diakses 13 Januari 2026.
NASA. NASA Scientist Finds Predicted Companion Star to Betelgeuse. Diakses 13 Januari 2026.
Sci.News. Astronomers Detect Celestial ‘Wake’ from Betelgeuse’s Companion Star. Diakses 13 Januari 2026.
AURA / Alopeke detection (direct imaging preprint). Betelgeuse’s hidden companion star identified via speckle imaging. Diakses 13 Januari 2026.
ScienceDaily. Betelgeuse has a hidden companion and Hubble just caught its wake. Diakses 10 Januari 2026.

