Big Multiple Bang: Teori Baru tentang Asal-Usul Jaring Raksasa Alam Semesta

Selama puluhan tahun, kita mengenal Big Bang sebagai cerita besar kelahiran alam semesta. Sekitar 13,8 miliar tahun lalu, semua materi, […]

Selama puluhan tahun, kita mengenal Big Bang sebagai cerita besar kelahiran alam semesta. Sekitar 13,8 miliar tahun lalu, semua materi, energi, ruang, dan waktu diyakini meledak dari sebuah titik sangat padat lalu mengembang menjadi kosmos luas seperti sekarang. Namun, sebuah ide baru yang diajukan Chavis Srichan (2025) mencoba menantang “narasi tunggal” itu.

Dalam makalah terbarunya, ia memperkenalkan sebuah model kosmologi baru yang disebut Big Multiple Bang (BMB). Berbeda dengan Big Bang klasik yang berpusat pada satu ledakan awal, model ini membayangkan banyak letupan lokal yang terjadi di berbagai titik ruang. Letupan-letupan kecil ini, yang dipandu oleh sesuatu yang disebut relaxon field, bersama-sama membentuk pola besar alam semesta yang kita kenal sekarang sebagai cosmic web atau jaring kosmik.

Jika kita bisa melihat galaksi dari jarak sangat jauh, bukan hanya satu atau dua, melainkan miliaran, pola besar akan muncul. Galaksi tidak tersebar merata seperti debu, melainkan membentuk struktur jaringan raksasa.

  • Ada benang-benang panjang berisi kumpulan galaksi, mirip filamen.
  • Ada simpul atau “node” di mana banyak filamen bertemu, rumah bagi kluster galaksi supermasif.
  • Ada ruang kosong besar (voids) di antaranya, hampir tanpa galaksi sama sekali.

Struktur inilah yang disebut cosmic web, dan ia merupakan salah satu misteri terbesar kosmologi modern: bagaimana jaring ini terbentuk dari awal semesta?

Baca juga artikel tentang: Menembus Batas Berbicara: Penemuan Baru dalam Memahami Pengaruh Kerusakan Otak pada Kemampuan Berbicara dan Harapan untuk Terapi Baru

Dari Big Bang ke Big Multiple Bang

Model standar Big Bang menyatakan bahwa setelah ledakan awal, semesta mengembang, lalu fluktuasi kuantum kecil dalam distribusi energi menjadi bibit pembentukan struktur. Seiring waktu, gravitasi menarik materi membentuk bintang, galaksi, lalu jaring kosmik.

Namun, ada keterbatasan dari skenario ini. Misalnya:

  • Mengapa pola jaring terlihat begitu kompleks?
  • Mengapa ada kemungkinan struktur besar seperti ring kosmik atau pola berulang?
  • Apakah satu ledakan besar cukup menjelaskan variasi semesta?

Di sinilah Chavis Srichan memperkenalkan ide Big Multiple Bang (BMB). Menurut model ini, bukan hanya ada satu Big Bang, melainkan banyak “mini Big Bang” lokal, semacam letupan-letupan kecil di berbagai wilayah ruang, yang dipicu oleh dinamika sebuah medan baru: relaxon field.

Relaxon Field: Pemain Baru dalam Kosmologi

Apa itu relaxon? Dalam makalah ini, relaxon adalah medan energi hipotetis yang mampu memicu fluktuasi ruang lokal. Setiap fluktuasi bisa berkembang menjadi ekspansi kecil, mirip Big Bang mini.

Bayangkan semesta awal bukanlah satu balon yang mengembang serentak, melainkan kain luas dengan banyak titik yang menggelembung di waktu bersamaan. Gelembung-gelembung ini berinteraksi, bertabrakan, dan akhirnya membentuk pola besar: jaring kosmik.

Relaxon berfungsi sebagai semacam “dirigen kosmik” yang mengatur kapan dan di mana ekspansi lokal terjadi. Dari interaksi ini, terbentuklah variasi besar yang kita lihat saat ini, mulai dari filamen kosmik hingga kemungkinan struktur cincin raksasa.

Dari Fluktuasi ke Struktur Besar

Menurut Srichan, variasi awal dalam relaxon field secara alami menabur bibit untuk struktur besar alam semesta. Proses ini menghasilkan:

  1. Filamen kosmik – Benang galaksi yang menjembatani simpul besar.
  2. Ruang kosong (voids) – Area yang minim galaksi, terbentuk di antara letupan lokal.
  3. Cincin kosmik potensial – Struktur melingkar raksasa yang belum sepenuhnya bisa dijelaskan model Big Bang klasik.

Secara matematis, tim peneliti membangun kerangka yang menunjukkan bagaimana fluktuasi relaxon berevolusi dari waktu ke waktu. Hasilnya: model ini bisa mereproduksi pola yang mirip dengan struktur kosmik yang kita amati dengan teleskop besar seperti JWST atau survei galaksi.

Apa Bedanya dengan Model Lama?

Model Big Multiple Bang dengan relaxon berbeda dari Big Bang klasik dalam beberapa hal penting:

  • Sumber ekspansi: Bukan satu titik asal tunggal, tetapi banyak letupan lokal.
  • Pola kosmik: Memberi penjelasan lebih alami untuk variasi besar dan struktur unik.
  • Fleksibilitas teori: Lebih mudah mengakomodasi penemuan baru yang mungkin sulit dijelaskan model lama.

Namun, ini bukan berarti teori Big Bang ditinggalkan. Big Bang tetap kerangka utama kosmologi modern. Ide BMB lebih tepat dianggap sebagai alternatif spekulatif yang mencoba memperluas perspektif kita.

Mengapa Penting?

Kosmologi bukan sekadar ilmu langit, melainkan cermin dari asal-usul kita. Mengetahui bagaimana jaring kosmik terbentuk berarti memahami akar galaksi, bintang, bahkan kehidupan.

Selain itu, model baru seperti BMB dengan relaxon field bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan besar yang selama ini menggantung:

  • Apakah ada pola tersembunyi di balik distribusi galaksi?
  • Apakah alam semesta punya struktur berulang pada skala super besar?
  • Apakah semesta kita hanyalah satu dari banyak kemungkinan ekspansi?

Tantangan dan Kritik

Meski terdengar menarik, teori ini masih berada di tahap preprint dan spekulatif. Ada banyak tantangan yang harus dijawab:

  • Apakah relaxon benar-benar ada? Hingga kini, belum ada bukti observasi.
  • Bagaimana cara menguji model ini dengan data nyata, misalnya dari survei galaksi masa depan?
  • Apakah model ini bisa cocok dengan pengukuran kosmologi yang sangat akurat, seperti latar gelombang mikro kosmik (CMB)?

Seperti banyak teori baru dalam fisika, ide ini membuka pintu imajinasi, tetapi memerlukan bukti kuat untuk diterima luas.

Model Big Multiple Bang dengan relaxon field menawarkan pandangan segar tentang asal-usul jaring kosmik. Alih-alih satu ledakan besar, ia membayangkan banyak letupan lokal yang bersama-sama membentuk struktur kosmos.

Apakah teori ini akan menggantikan Big Bang? Masih terlalu dini untuk memastikan. Namun, yang jelas, sains bergerak maju bukan hanya dengan kepastian, melainkan juga dengan pertanyaan berani. Ide-ide seperti ini mengingatkan kita bahwa alam semesta jauh lebih kaya daripada yang kita bayangkan, dan perjalanan memahami kosmos masih sangat panjang.

Baca juga artikel tentang: Kamera 3,2 Gigapiksel di Teleskop Rubin: Tonggak Baru dalam Observasi Alam Semesta

REFERENSI:

Srichan, Chavis. 2025. Formation of the Cosmic Web via Relaxon-Mediated Big Multiple Bang Cosmology. Preprint.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top