Biofuel Dari Tanaman Menawarkan Solusi Untuk Masalah Krisis Energi Di Masa Depan Indonesia

Ditulis Oleh Pandu Wiratma Kebutuhan akan bahan bakar alternatif merupakan kebutuhan yang mutlak, hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk […]

blank

Ditulis Oleh Pandu Wiratma

Kebutuhan akan bahan bakar alternatif merupakan kebutuhan yang mutlak, hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk di Indonesia yang semakin bertambah setiap tahunnya dan semakin pesatnya perkembangan teknologi. Kondisi sumber bahan bakar minyak dari ladang-ladang minyak yang sudah tua atau sudah berkurangnya produksi membuat sebagian orang berfikir untuk membuat sumber bahan bakar minyak alternatif. Lemahnya kemampuan sumber daya manusia merupakan salah satu kendala untuk berkembangnya kemampuan sumber energi alternatif ini. [1] Jika kita hanya dapat menikmati tanpa melakukan usaha mandiri yang dapat mengembangkan bahan bakar alternatif dengan memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, maka akan terjadi kelangkaan bahan bakar minyak yang akan berdampak pada kelangsungan hidup manusia.

Di masa depan, biofuel akan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi krisis energi di bumi. Di Indonesia, menurut data kementerian energi dan sumber daya mineral yang didapat dari cnbc Indonesia, cadangan minyak RI hanya sebesar 3,15 miliar barel. Cadangan ini setara untuk bertahan selama 10 hingga 12 tahun. [2] Indonesia merupakan negara tropis yang sangat berpotensi untuk pengembangan bioetanol, khususnya biofuel dari tanaman maupun buah-buahan. Banyak tanaman dan buah-buahan yang tumbuh subur di Indonesia seperti jagung, ubi-ubian, salak, kelapa dan sebagainya. Hanya saja di Indonesia tanaman dan buah-buahan tersebut selain untuk dikonsumsi masih belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber energi. Padahal hal tersebut bisa juga dipergunakan untuk sumber energi terbaharukan, dan menjadi solusi untuk energi masa depan di Indonesia. Ditambah lagi semakin banyak kendaraan bermotor maka semakin banyak emisi gas berbahaya yang dihasilkan oleh CO2 hasil pembakaran yang sudah semakin menumpuk di atmosfer. Oleh karena itu biofuel menawarkan solusi untuk energi masa depan, selain murah dan mudah didapat juga ramah lingkungan. Tidak seperti bahan lainnya yang tidak dapat diperbaharui, biofuel dapat diproduksi terus-menerus selama kita masih menanam tanaman yang jadi bahan baku utama biofuel tersebut.

Biofuel dapat dihasilkan secara langsung dari tanaman, buah-buahan ataupun secara tidak langsung dari limbah pabrik, rumah tangga dan lainnya. Ada beberapa cara untuk menghasilkan biofuel yaitu: pembakaran sampah organik kering (sampah rumah tangga, limbah industri), fermentasi limbah basah (kotoran hewan khususnya yang memiliki nilai metana yang tinggi) tanpa oksigen untuk menghasilkan biogas, atau bisa juga dari fermentasi tebu atau jagung atau tanaman yang memiliki nilai glukosa yang tinggi.

Bioetanol yang bersumber dari bahan hayati pada awalnya dibuat dari gula dan pati yang diperoleh dari tebu, jagung, singkong dan lainnya. Etanol yang dihasilkan dengan cara fermentasi gula menggunakan khamir dengan gugusan senyawa alkohol dengan gugus hidroksil (OH), 2 atom karbon (C), dengan rumus kimia C2H5OH. Sejak berkembangnya ilmu pengetahuan, ternyata biofuel juga bisa diperoleh dari salak, air kelapa, atau dari buah dan tanaman yang memiliki kadar glukosa yang tinggi. Umumnya proses pembuatan biofuel terdiri dari persiapan bahan baku, hidrolisis, fermentasi, dan destilasi. [3]

blank

Gambar 1: Skema Sederhana Pembuatan Biofuel

Biomassa merupakan bahan yang berasal dari organisme hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan maupun hasil olahannya seperti sampah kebun, hasil panen, dan sebagainya. Persiapan bahan baku/biomassa adalah langkah awal yang penting untuk merencanakan pembuatan biofuel.

blank

Gambar 2: Alat Penelitian

Berdasarkan penelitian yang pernah saya lakukan di bawah bimbingan dosen Teknik Mesin Unhar Muhammad Idris, ST, MT. Saya menggunakan biomassa jenis buah-buahan yaitu daging salak dan air kelapa. Sebelum melakukan hidrolisis (penguraian senyawa kimia yang disebabkan oleh reaksi dengan air) sebaiknya daging salak dilumatkan terlebih dahulu. Saya menggunakan blender buah untuk menghaluskan daging salak tersebut, proses ini yang disebut dengan praperlakuan. Setelah daging salak benar-benar halus maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan hidrolisis dengan cara merebus dengan tekanan tinggi agar senyawa kimia tersebut terurai. Jika kita sudah mendapatkan cairan dari daging salak tersebut maka kita akan melakukan proses fermentasi (suatu perubahan kimia yang disebabkan oleh organisme atau enzim) dengan cara mencampur cairan daging salak, air kelapa, dan menambahkan gula putih 10%, NPK 5%, urea 5%, ragi 5% masing-masing persenan diambil dari hasil campuran cairan daging salak dengan air kelapa. Fermentasi dilakukan selama 144 jam (6 hari).Hasil fermentasi larutan tersebut didistilasi (metode pemisah bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan menguap) menggunakan distilator kurang lebih selama 6 jam atau bisa juga sampai larutan habis akan tetapi akan memakan waktu lebih lama. Hasil distilasi tersebut yang dinamakan bioethanol jenis biofuel. [4]

Dari proses yang saya paparkan untuk pembuatan bioetanol tidaklah sulit apalagi dengan sumber daya alam yang melimpah. Hanya saja dibutuhkan peran pemerintah, masyarakat dan teman-teman mahasiswa untuk mendukung penelitian ini. Dengan adanya biofuel ini, setidaknya kita bisa mengurangi efek rumah kaca dan membersihkan udara yang terpapar polusi sehingga udara kita menjadi bersih dan memberikan kontribusi sumber daya manusia dengan mengurangi dampak buruk polusi pada kesehatan. Mudah-mudahan dengan adanya artikel ini kita dapat lebih menghargai keseimbangan alam, sehingga bisa terwujud alam yang bersih dan menyehatkan.

Daftar Pustaka

[1] P. Wiratma, Rancang bangun turbin angin sumbu horizontal sebagai pembangkit tenaga listrik, Medan, Sumatera Utara: Politeknik Negeri Medan, 2007.
[2] A. Arvirianty, 16 Januari 2019. [Online]. Available: https://www.cnbcindonesia.com. [Diakses 21 Juli 2019].
[3] M. Bioetanol generasi kedua, 2nd Editoin ed., Yogyakarta, Jawa Tengah: Graha Ilmu, 2015.
[4] P. Wiratma, Analisis Perpindahan Panas Tabung Kondensator Pada Proses Distilasi Bioethanol, Medan: Universitas Harapan, 2018.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *