Lidah buaya terus menarik perhatian para ilmuwan karena manfaatnya ternyata jauh lebih luas daripada sekadar bahan perawatan kulit atau tanaman obat tradisional. Berbagai penelitian selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung senyawa bioaktif yang mampu memberikan efek antioksidan, antiperadangan, antibakteri, hingga membantu proses penyembuhan luka. Kini, penelitian terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2026 mengungkap potensi lain yang tidak kalah menarik. Ekstrak gel lidah buaya diduga mampu membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh paparan sinar X. Temuan ini memberikan harapan baru dalam pengembangan radioprotektor alami, yaitu senyawa yang dapat mengurangi dampak buruk radiasi terhadap tubuh. Walaupun penelitian tersebut masih dilakukan pada hewan percobaan, hasilnya memberikan gambaran mengenai bagaimana senyawa alami dari lidah buaya dapat membantu mempertahankan kesehatan sel ketika menghadapi paparan radiasi.
Sinar X merupakan salah satu bentuk radiasi pengion yang memiliki energi sangat tinggi. Dalam dunia kedokteran, sinar X memberikan manfaat yang sangat besar untuk membantu dokter melihat kondisi organ di dalam tubuh tanpa harus melakukan pembedahan. Pemeriksaan tulang, paru paru, gigi, hingga berbagai organ lain memanfaatkan teknologi ini setiap hari. Selain itu, radiasi juga digunakan dalam terapi kanker untuk menghancurkan sel kanker yang sulit diatasi dengan cara lain. Di bidang industri, sinar X dimanfaatkan untuk memeriksa kualitas logam, pipa, maupun komponen pesawat tanpa merusak material tersebut. Walaupun manfaatnya sangat besar, paparan radiasi dalam jumlah tertentu tetap dapat memberikan dampak negatif terhadap sel tubuh. Oleh karena itu, penggunaan radiasi selalu diatur dengan sangat ketat agar manfaat yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan risikonya.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Radiasi dapat merusak tubuh karena membawa energi yang cukup tinggi untuk mengubah struktur molekul di dalam sel. Ketika sinar X menembus jaringan tubuh, energi tersebut memicu pembentukan radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul yang sangat reaktif sehingga mudah menyerang berbagai komponen penting di dalam sel. Protein dapat kehilangan fungsinya, lemak penyusun membran sel mengalami kerusakan, dan yang paling penting adalah DNA dapat mengalami patahan. DNA menyimpan seluruh informasi genetik yang mengatur aktivitas sel. Jika kerusakan DNA terlalu banyak dan tidak berhasil diperbaiki oleh mekanisme alami tubuh, sel dapat kehilangan fungsi normalnya atau mengalami kematian. Dalam jangka panjang, kerusakan DNA yang tidak diperbaiki juga dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan.
Tubuh sebenarnya memiliki sistem perlindungan alami untuk memperbaiki kerusakan DNA dan menetralkan sebagian radikal bebas. Namun ketika paparan radiasi cukup besar, kemampuan tersebut dapat menjadi tidak memadai. Karena alasan itulah para ilmuwan terus mencari radioprotektor, yaitu senyawa yang mampu membantu melindungi sel dari efek radiasi. Beberapa radioprotektor sintetis telah digunakan dalam kondisi tertentu, tetapi penggunaannya sering terbatas karena efek samping maupun harga yang relatif mahal. Kondisi tersebut mendorong para peneliti untuk mencari alternatif dari bahan alami yang lebih aman dan mudah diperoleh.
Lidah buaya menjadi salah satu tanaman yang paling menarik untuk diteliti karena mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti polisakarida, flavonoid, vitamin, mineral, dan antioksidan. Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa tanaman ini mampu mengurangi peradangan, mempercepat penyembuhan luka, serta membantu melindungi jaringan dari kerusakan akibat stres oksidatif. Berdasarkan berbagai temuan tersebut, para peneliti ingin mengetahui apakah gel lidah buaya juga mampu memberikan perlindungan terhadap jaringan tubuh yang terkena paparan sinar X.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan tikus jantan sebagai model percobaan. Hewan tersebut dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama berfungsi sebagai kelompok normal yang tidak memperoleh perlakuan apa pun. Kelompok kedua menerima ekstrak gel lidah buaya secara oral selama tiga puluh hari. Kelompok ketiga hanya menerima paparan sinar X dengan dosis total dua Gray. Kelompok terakhir memperoleh ekstrak lidah buaya terlebih dahulu sebelum menerima paparan radiasi. Rancangan penelitian seperti ini memungkinkan para peneliti membandingkan secara langsung apakah pemberian lidah buaya mampu mengurangi dampak buruk radiasi pada berbagai organ tubuh.
Para peneliti kemudian memeriksa beberapa organ penting, yaitu hati, ginjal, limpa, dan testis. Organ organ tersebut dipilih karena memiliki fungsi yang sangat penting bagi metabolisme, sistem kekebalan tubuh, reproduksi, dan penyaringan zat berbahaya. Untuk melihat perubahan pada tingkat molekul, para ilmuwan menggunakan spektroskopi inframerah transformasi Fourier atau FTIR. Teknik ini mampu mendeteksi perubahan struktur protein, lemak, dan asam nukleat di dalam jaringan. Selain itu, mereka juga menggunakan uji komet untuk mengukur tingkat kerusakan DNA pada setiap sel. Pada metode ini, sel yang mengalami banyak kerusakan DNA akan membentuk pola menyerupai komet ketika diamati menggunakan mikroskop. Semakin panjang ekor komet yang terlihat, semakin besar pula tingkat kerusakan DNA yang terjadi.

Paparan sinar X menyebabkan perubahan struktur molekul pada seluruh organ yang diamati. Komposisi protein, lemak, dan asam nukleat mengalami perubahan yang menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan. Selain itu, uji komet memperlihatkan peningkatan patahan DNA pada hati, ginjal, limpa, dan testis. Temuan tersebut menunjukkan bahwa radiasi memberikan tekanan biologis yang cukup besar terhadap berbagai organ tubuh. Kerusakan tersebut juga memicu aktivasi berbagai mekanisme pertahanan tubuh yang berhubungan dengan kematian sel.
Menariknya, kelompok tikus yang memperoleh ekstrak gel lidah buaya sebelum menerima radiasi menunjukkan hasil yang jauh lebih baik. Tingkat kerusakan DNA pada seluruh organ menurun dibandingkan kelompok yang hanya menerima paparan sinar X. Perubahan struktur molekul yang sebelumnya tampak jelas setelah radiasi juga menjadi lebih ringan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lidah buaya mampu memberikan perlindungan terhadap jaringan sehingga dampak radiasi tidak sebesar yang terjadi tanpa pemberian ekstrak. Walaupun perlindungan tersebut tidak menghilangkan seluruh efek radiasi, penurunannya terlihat cukup konsisten pada seluruh organ yang diperiksa.
Penelitian ini juga mempelajari beberapa protein yang berperan dalam proses apoptosis atau kematian sel terprogram. Ketika DNA mengalami kerusakan yang sangat berat, tubuh biasanya mengaktifkan mekanisme ini untuk mencegah sel yang rusak terus berkembang. Protein seperti Bax, Caspase 3, Caspase 9, dan Bcl 2 memiliki peran penting dalam mengatur proses tersebut. Paparan sinar X meningkatkan aktivitas beberapa protein yang memicu kematian sel. Sebaliknya, pemberian ekstrak gel lidah buaya mampu menurunkan ekspresi protein tersebut sehingga jumlah sel yang mengalami kematian juga berkurang. Hasil ini menunjukkan bahwa lidah buaya kemungkinan membantu menjaga keseimbangan antara proses perbaikan DNA dan mekanisme kematian sel sehingga jaringan memiliki kesempatan lebih besar untuk pulih.
Para peneliti menduga bahwa kemampuan tersebut berkaitan dengan kandungan antioksidan di dalam gel lidah buaya. Antioksidan bekerja dengan menetralkan radikal bebas sebelum molekul tersebut sempat merusak DNA maupun komponen penting lainnya. Selain itu, beberapa senyawa bioaktif di dalam lidah buaya juga diketahui memiliki sifat antiperadangan sehingga mampu mengurangi tekanan biologis yang muncul setelah paparan radiasi. Kombinasi kedua mekanisme tersebut kemungkinan menghasilkan perlindungan yang lebih baik terhadap jaringan tubuh. Namun penelitian ini belum dapat memastikan senyawa mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap efek tersebut sehingga penelitian lanjutan masih sangat diperlukan.
Walaupun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, masyarakat perlu memahami bahwa seluruh percobaan masih dilakukan pada tikus sehingga manfaatnya belum dapat langsung diterapkan pada manusia. Dosis ekstrak yang digunakan juga telah melalui proses pengukuran dan standarisasi sehingga tidak dapat disamakan dengan mengonsumsi gel lidah buaya segar secara langsung. Sebelum dapat digunakan sebagai terapi pendamping pada pasien yang menjalani pemeriksaan radiologi atau radioterapi, para ilmuwan masih harus melakukan uji klinis untuk memastikan keamanan, efektivitas, dosis yang tepat, serta kemungkinan interaksi dengan obat lain.
Penelitian ini menunjukkan bahwa lidah buaya masih menyimpan banyak potensi yang belum sepenuhnya terungkap. Tanaman yang selama ini identik dengan perawatan kulit ternyata juga berpotensi membantu melindungi sel dari kerusakan akibat paparan radiasi melalui mekanisme yang melibatkan perlindungan DNA dan pengurangan kematian sel. Jika hasil penelitian lanjutan pada manusia berhasil membuktikan manfaat tersebut, lidah buaya dapat menjadi sumber senyawa alami yang mendukung perlindungan tubuh terhadap radiasi pada berbagai bidang, mulai dari kesehatan hingga lingkungan kerja. Temuan ini sekaligus mengingatkan bahwa banyak tanaman yang tampak sederhana sebenarnya masih menyimpan peluang besar untuk menjadi sumber inovasi di dunia medis modern.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Bala, Shashi dkk. 2026. Prophylactic effects of Aloe vera against X-ray irradiation–induced structural alterations and DNA damage in mice. Toxicology and Industrial Health 42 (1-2), 11-28.

