Bahan Bakar Bio-Limbah Batang Tebu: Alternatif Solusi Untuk Mengatasi Menipisnya Bahan Bakar Minyak

Bagikan Artikel ini di:

Gambar 1. Limbah Batang Tebu dari Penjual Es Tebu

Menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan meningkatnya populasi manusia sangat kontras dengan kebutuhan energi bagi kelangsungan manusia beserta aktivitas ekonomi dan sosial. Sejak lima tahun terakhir, Indonesia mengalami penurunan produksi minyak nasional akibat menurunnya cadangan minyak pada sumur- sumur produksi secara alamiah, padahal dengan pertambahan jumlah penduduk, meningkat kebutuhan akan sarana transportasi dan aktivitas industri. Dengan permasalahan tersebut maka diperlukan solusi akan krisis bahan bakar dengan inovasi pengganti bahan bakar dengan penggunaan biofuel dari pemanfaatan batang tebu. Batang tebu merupakan limbah padat yang dihasilkan pasca panen. Sejauh ini pemanfaatannya sangat minim dan umumnya hanya digunakan untuk bahan minuman.

Gambar 2. Contoh Nira

Tanaman tebu merupakan famili Gramineae (keluarga rumput) dengan nama latin Saccharum officinarum yang sudah dibudidayakan sejak lama di daerah asalnya di Asia [1].

Kandungan sukrosa di dalam tanaman tebu sebesar 8-15% dari bobot batang tebu. Batang tebu mengandung serat dan kulit batang sebesar 12,5% dan nira sebesar 82,5%, yang terdiri dari gula, mineral, dan bahan-bahan non gula lainya, (Gountara & Wijandi, 1985). Menurut Soerjadi (1979), komposisi batang tebu terdiri dari monosakarida 0,5%-1,5%, sukrosa 11%-19%, zat organik abu 0,5%-1,5%, sabut (selulosa, pentosan) 11%-19%, asam organik 0,15%, bahan lain lilin, zat warna, ikatan N, air 65%-75%. Salah satu kandungan tebu adalah nira. Kandungan nira tebu terbanyak terdapat pada batang tebu sebesar 82,5%. Kandungan utama dari nira tebu adalah sukrosa, terdapat dalam nira tebu sebanyak 8 – 21 % dari jumlah nira tebu. Sukrosa atau gula merupakan disakarida dengan rumus kimia C12H22O11. Sukrosa ditemukan dalam bentuk bebas (tidak berikatan dengan senyawa lain) di dalam tanaman, umumnya terdapat pada tanaman tebu (Saccharum officinarum) dan bit (Beta vulgaris)[2].

Nira yang didapatkan dari batang tebu melalui proses ekstrasi (penggilingan) mempunyai ciri khas warna tertentu dan mengandung kadar glukosa yang tinggi. Menurut Puri (2005) menyatakan bahwa nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis, berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5,5-6,0. Santoso (1993) menyatakan bahwa nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam, berbuih putih, dan berlendir. Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan, rasanya asam serta baunya menyengat. Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan[3]. Umumnya nira terdiri atas 73-76% air, 11-16% serat, dan 11-16% padatan-padatan terlarut dan tersuspensi[4].

Gambar 3. Pengolahan Biofuel

Biofuel secara umum adalah bahan bakar dari biomassa (materi yang berasal dari tumbuhan dan hewan). Setiap produk biofuel diproduksi secara berbeda. Misalnya ethanol diproduksi dengan cara fermentasi jagung atau tebu, sedangkan biodiesel diproduksi dengan cara menghancurkan lemak hewani atau tumbuhan dengan adanya methanol. Minyak sawit mentah (Crude Palm Oil) melalui proses transesterifikasi, dimana secara kimia bereaksi dengan alkohol seperti methanol atau ethanol untuk memproduksi biodiesel.

Biofuel menawarkan kemungkinan memproduksi energi tanpa meningkatkan kadar karbon di atmosfer karena berbagai tanaman yang digunakan untuk memproduksi biofuel mengurangi kadar karbondioksida di atmosfer, tidak seperti bahan bakar fosil yang mengembalikan karbon yang tersimpan di bawah permukaan tanah selama jutaan tahun ke udara. Dengan begitu biofuel lebih bersifat carbon neutral dan sedikit meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer (meski timbul keraguan apakah keuntungan ini bisa dicapai di dalam praktiknya). Penggunaan biofuel mengurangi pula ketergantungan pada minyak bumi serta meningkatkan keamanan energi.

Ada dua jenis utama bahan baku biofuel: dapat dikonsumsi dan tidak dapat dikonsumsi. Produk makanan manusia seperti gula, pati, atau minyak sayur dijadikan biofuel melalui metode konvensional yakni transesterifikasi (seperti yang telah disebutkan di atas). Biofuel juga dapat dihasilkan dari tanaman non pangan, limbah pertanian dan residu yang tidak dapat dikonsumsi manusia dengan menggunakan teknologi maju seperti hydrocracking. Pada proses ini bahan baku dipecah dengan adanya hidrogen dalam menghasilkan biofuel. Yang menarik adalah bahan baku seperti minyak kelapa sawit dapat digunakan untuk menghasilkan biofuel melalui metode konvensional dan lanjutan tergantung dari keadaannya.

Biofuel sering menjadi alternatif untuk bahan bakar konvensional yang digunakan untuk menyalakan mesin kendaraan kita. Namun sebenarnya biofuel dapat dimanfaatkan untuk semua kebutuhan energi manusia. Penggunaan biofuel meliputi:

Transportasi : Mobil, bus, sepeda motor, kereta api, pesawat terbang dan kendaraan air

Pembangkit Listrik : Peralatan listrik

Pemanas : Kompor dan peralatan memasak lainnya

Dunia telah mengalami mencairnya permukaan es, meningkatnya suhu udara dan terjadinya bencana alam. Ilmuwan mengemukakan bahwa salah satu alasan utama perubahan iklim yang drastis ini adalah akibat konsumsi bahan bakar fosil yang berlebihan dan terlepasnya gas rumah kaca ke atmosfir yang menipis.

Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, biofuel seperti ethanol menghasilkan karbon dioksida hingga 48 persen lebih sedikit daripada bensin konvensional sementara penggunaan biodiesel hanya melepaskan seperempat jumlah karbon dioksida yang dikeluarkan diesel konvensional. Hal ini menjadi pilihan yang jauh lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

Tidak seperti bahan lain yang tak terbaharui, biofuel dapat diproduksi terus-menerus karena kita selalu dapat menanam lebih banyak tanaman untuk menjadi bahan bakar. Terlebih lagi komunitas ilmuwan telah menunjukkan tingkat produktivitas tanaman nabati yang lebih tinggi dapat menangani beberapa masalah deforestasi yang erat kaitannya dengan biofuel. Oleh karena itu minyak kelapa sawit yang memiliki hasil panen tertinggi di antara tanaman nabati lainnya diyakini menjadi bahan baku paling ekonomis untuk biodiesel. Siklus hidup pohon kelapa sawit 30 tahun juga berarti nilai penyerapan karbon yang dilepaskan ke atmosfer tinggi.Pada masa yang akan datang mungkin tak ada lagi bahan bakar fosil dan kita dapat menggunakan biofuel sebagai sumber energi alternatif yang aman dan terbarukan.

Referensi

[1] Indrawanto, C., Purwono, Siswanto, M. Syakir, dan W. Rumini. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Tebu. Jakarta: Eska Media.

[2] Paryanto, I., A. Fachruddin, dan W. Sumaryono. 1999. Diversifikasi Sukrosa Menjadi Produk Lain. P3GI. Pasuruan.

[3] Muchtadi TR, Sugiyono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bogor: PAU IPB.

[4] James, C.P. dan Chen. 1985. Cane sugar handbook. John Wiley and Sons. New York

 

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

“Chameleon Theory”, Bagaimana Kita Memaknai Gravitasi Dengan Sudut Pandang Lain

Bagikan Artikel ini di:

Sudah hampir satu abad Albert Einstein menjadi pencetus dari salah satu teori yang menggemparkan pengetahuan manusia. Ia cukup berhasil untuk memodelkan alam semesta dengan teori relativitasnya. Dengan teori ini ia berhasil mendeskripsikan orbit planet merkurius, pun berkat teori ini pula manusia mampu menciptakan teknologi GPS dengan sangat akurat.

Simulasi pembentukan galaksi dengan Chameleon Theory. (Christian Arnold/Baojiu Li/Durham University)

Tak Hanya Teori Einstein

Ditekankan disini bahwa penemuan ini bukan berarti kita menganggap bahwa teori relativitas umum Einstein itu salah. Bukan begitu. Seperti yang dikatakan sebelumnya, relativitas umum merupakan permodelan yang cukup baik sebagai pondasi memahami alam semesta. Pun sama halnya dengan teori yang akan kita bahas ini. Melalui simulasi komputer, permodelan dari teori yang ini juga mampu mendeskripsikan alam semesta dengan cukup baik, namun dengan pandangan yang sedikit berbeda.

Dark Matter

Pengamatan hingga saat ini menyatakan bahwa alam semesta kita mengalami ekspansi. Salah satu buktinya adalah pergeseran frekuensi cahaya dari benda-benda langit yang jauh. Efek doppler sangat membantu kita untuk memahami hal ini. Diyakini ada suatu hal yang tidak diketahui yang menjadi penyebab dari terjadinya ekspansi ini. Pasalnya hukum-hukum yang diketahui tidak mampu menjelaskan dengan sempurna mengapa alam semesta bisa berekspansi. Fenomena ini membuat ilmuwan memunculkan istilah dark matter untuk mendeskripsikan hal yang tidak diketahui tersebut.

Untuk membuat deskripsi yang lebih jelas mengenai alam semesta, ilmuwan salah satunya mengusulkan suatu teori yang menggeneralisasi teori relativitas einstein. Generalisasi ini disebut dengan f(R) gravity. Ide ini pertama kali diusulkan oleh Hans Adolph Buchdahl pada tahun 1970. Generalisasi ini memungkinkan ilmuwan untuk memodifikasi nilai R (Ricci Skalar) dari persamaan Hilbert-Einstein Action dengan suatu fungsi tertentu. Dengan ini ilmuwan menjadi lebih leluasa untuk mendeskripsikan faktor yang memengaruhi gravitasi tadi.

Chameleon theory

Chameleon dalam bahasa Indonesia berarti bunglon, hewan yang memiliki kemampuan unik untuk menyeragamkan warna tubuhnya dengan lingkungan sekitar (mimikri). Sifat bunglon inilah yang sedikit banyak dapat memberikan gambaran pada kita mengenai teori ini.

Teori ini mengindikasikan sebuah medan yang sifatnya bergantung dengan banyak materi disekitarnya. Di tempat yang memiliki banyak materi, maka kuat pengaruh dari medan ini akan semakin kecil. Sedangkan di tempat yang vakum, maka pengaruh dari medan ini semakin besar. Ini dapat menjelaskan 2 fakta yang menjadi sifat dari dark matter : Pertama, berkat pengaruh interaksinya yang lemah akibat banyaknya materi yang ada di bumi, partikel ini menjadi sangat sulit untuk dideteksi dan yang kedua partikel ini memiliki pengaruh yang besar di ruang vakum yang mana membuatnya memiliki cukup energi untuk membuat alam semesta berekspansi. Faktor inilah yang kemudian masuk dalam fungsi f(R) gravity.

Gaya ke 5

Interaksi seluruh benda di alam semesta saat ini disepakati hanya bersumber dari 4 gaya fundamental. Gaya tersebut adalah gaya gravitasi, gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah, dan gaya elektromagnet. Akan tetapi penemuan lebih lanjut menyebutkan bahwa gaya-gaya tersebut tidak cukup untuk mendeskripsikan anomali di alam semesta. Diantaranya adalah mengenai ekspansi dan juga perhitungan mengenai keseluruhan massa alam semesta yang tidak sesuai dengan fakta yang ada. Keempat gaya fundamental tersebut tidak mampu menjelaskan 2 anomali tersebut secara tepat. Ilmuwan kemudian memunculkan istilah dark matter dan dark energy, yang kemudian muncul pula spekulasi mengenai adanya gaya fundamental ke 5.

Chameleon field memiliki peluang untuk dianggap sebagai gaya fundamental ke-5. Jika penemuan lebih lanjut dapat terus membuktikan bahwa model ini benar, maka dark matter yang dispekulasikan dapat diasosiasikan dengan chameleon particle. Partikel ini memiliki keunikannya tersendiri. Ia memiliki sifat yang berbeda yang mana ia tidak memiliki massa tetap seperti halnya proton dan elektron. Selain itu ia memiliki interaksi yang berbanding terbalik dengan keberadaan massa. Hal inilah yang juga membuat partikel ini unik dan berbeda dengan partikel-partikel lain.

Sejauh apa keberhasilan dari model ini?

Dalam skala tata surya permodelan ini mampu menjelaskan mekanisme alam dengan baik sebagaimana yang dideskripsikan oleh teori relativitas umum. Pengujian lebih lanjut dengan simulasi komputer menyatakan bahwa dengan menggunakan permodelan chameleon ini spesifikasi pembentukan galaksi juga dapat terpenuhi. Ini artinya asumsi yang ada pada model chameleon ini tidak bertentangan dengan proses pembentukan alam semesta.

Percobaan lain juga dilakukan untuk membuktikan model ini. Para ilmuwan mencoba membuat suatu ruang vakum dari alumunium dengan diameter 2,5 cm. Kemudian ilmuwan mencoba mendeteksi perbedaan gaya dengan atom Caesium. Jika memang medan ini terbukti adanya maka seharusnya perilaku atom ini akan terpengaruh oleh medan gravitasi ditambah medan chameleon ini.

Hasil dari percobaan tersebut menyatakan bahwa perilaku atom Caesium hanya terpengaruh oleh medan gravitasi. Pengaruh dari medan chameleon sama sekali tidak terdeteksi. Akan tetapi menurut ilmuwan percobaan ini samasekali tidak menghasilkan kesimpulan apapun karena nyatanya medan yang ingin kita deteksi kekuatannya jutaan kali lebih kecil dari medan gravitasi.

Celah Perbedaan

Untuk melakukan tes dari model ini, para ilmuwan melakukan simulasi pembentukan dan evolusi galaksi. Dalam kondisi normal, ilmuwan menggunakan model dari relativitas umum sebagai acuan. Di bagian dalam galaksi (inner region of galaxy) gas yang ada disana tidak merasakan efek dari gravitasi model ini, sama seperti apa yang dideskripsikan dari model relativitas umum.

Akan tetapi pada bagain luar galaksi (outer region fo galaxy) terdapat sedikit perbedaan akibat dari adanya gaya chameleon ini. Menurut model chameleon seharusnya jumlah pembentukan bintang sedikit lebih banyak dibandingkan dengan model relativitas umum. Walaupun perbedaan ini kecil tapi ada satu celah yang akan dicoba dideteksi oleh manusia. Yaitu konsekuensi adanya keberadaan gas dengan densitas yang lebih tinggi, yang berimplikasi pada perbedaan efisiensi pendinginan gas tersebut. Harapannya perbedaan ini dapat dideteksi oleh teleskop radio SKA (Square Kilometer Array) pada tahun 2020 mendatang.

Pada Akhirnya

Pada akhirnya pengamatan tahun 2020 mendatang menjadi menarik untuk ditunggu-tunggu. Jika memang berhasil maka manusia memiliki sedikit kemajuan untuk mendeskripsikan benda benda yang masih dianggap hitam. Permodelan manusia mengenai alam semesta mungkin juga akan lebih simpel jika teori ini benar adanya. Akan tetapi jika memang teori ini telah dinyatakan gagal, maka benda-benda hitam tadi tentu masih menjadi topik yang menarik untuk dibahas.

Referensi :

  • Buchdahl, Hans Adolph. 1970. “Non-linear Lagrangians and cosmological theory.” Monthly Notices of the Royal Astronomical Society 1-8. (diambil dari wikipedia)
  • Durham University. 2019. Science Daily. 8 Juli. Diakses 19 Juli 2019. https://www.sciencedaily.com/releases/2019/07/190708131153.htm?utm_medium=cpc&utm_campaign=ScienceDaily_TMD_1&utm_source=TMD.
  • IFL science. 2019. IFL Science. April. Diakses 19 Juli 2019. https://www.iflscience.com/physics/chameleon-field-will-we-ever-find-fifth-force/.
  • Star, Michelle. 2019. Science Alert. 9 Juli. Diakses 19 Juli 2019. https://www.sciencealert.com/our-galaxy-could-have-formed-under-chameleon-theory-instead-of-general-relativity.
  • Timmer, John. 2019. Ars Technica. 14 July. Diakses 19 Juli 2019. https://arstechnica.com/science/2019/07/alternative-theory-of-gravity-makes-a-nearly-testable-prediction/.
  • Todd, Nate. 2019. The Burn In. 12 Juli. Diakses 19 Juli 2019. https://www.theburnin.com/science/chameleon-theory-dark-energy-galaxy-formation/.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Ketahui Cara Identifikasi Tingkat Depresi dan Kecemasan Seseorang lewat Akun Twitternya

Bagikan Artikel ini di:

Gambar 1. Ilustrasi Pengguna Twitter[7]

Sebagai suatu platform media sosial yang telah cukup lama diluncurkan yakni sejak 2006, Twitter nyatanya masih memiliki banyak pengguna setia hingga saat ini. Bahkan, kepopuleran Twitter merambah ke platformplatform media sosial lain. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya screenshoot cuitan dan thread dari Twitter yang tersebar di akun-akun Instagram, postingan Line, hingga laman Facebook. Menurut para pengguna setianya, fitur-fitur sederhana yang ditawarkan oleh Twitter justru menjadi daya tarik tersendiri, sebab mereka bisa dengan leluasa mengekspresikan diri, mengungkapkan opini, berbagi cerita dan pengalaman, hingga mencari teman baru tanpa berpotensi untuk terbebani secara mental karena kepo dengan story orang lain atau pusing mempercantik feed seperti di Instagram.

Karena Twitter adalah salah satu ruang digital yang memungkinkan penggunanya untuk mengekspresikan diri, maka tidak heran jika kita bisa menilai orang lain melalui cuitan, hal yang sering ia sukai dan bagikan, bahkan foto profilnya. Tim peneliti dari Sekolah Kedokteran Universitas Pennsylvania telah mencoba menyelidiki adanya korelasi antara kualitas foto yang diposting dan diatur sebagai foto profil di Twitter dengan tingkat depresi dan kecemasan pada diri seseorang melalui pendekatan data visual komputer dan kecerdasan buatan[1].

Gambar 2. Gejala Depresi dan Kecemasan[8]

Dalam ilmu psikologi, depresi didefinisikan sebagai suatu gangguan mood atau suatu kondisi emosional berkepanjangan yang mempengaruhi proses berfikir, berperasaan, dan berperilaku seseorang[2]. Penderita depresi memperlihatkan tanda-tanda kehilangan energi dan minat, merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, kehilangan nafsu makan, serta berfikir ingin bunuh diri[3]. Karena depresi merupakan gangguan mood yang berlangsung lama dan rentan kambuh, identifikasi dan penanganan dini pada kasus depresi memegang peran yang sangat penting dalam mencegah berkembangnya gejala-gejala episode depresi penuh yang lebih berbahaya[3].

Kecemasan (anxiety) merupakan keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi[4]. Gejala-gejala umum kecemasan meliputi merasa khawatir, merasa tidak berdaya, merasa sesuatu yang berbahaya akan datang, kesulitan bernafas, gemetar, serta merasa lemah atau lelah[5]. Meskipun tergolong normal, kecemasan yang telalu sering hingga menganggu aktivitas sehari-hari, memperburuk kesehatan fisik, dan menjurus pada perilaku ingin bunuh diri harus segera diatasi dengan pergi ke ahli kesehatan mental dan dukungan dari lingkungan sekitarnya[5].

Pada tahun 2018, tim peneliti dari Universitas Pennsylvania tersebut menemukan bahwa depresi dapat diprediksi tiga bulan sebelum dilakukan diagnosa menggunakan kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi kata kunci yang diisyaratkan oleh pengguna media sosial[1]. Karena saat ini media sosial termasuk Twitter, mayoritas mengandung konten gambar, sangat dimungkinkan untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan psikis seseorang melalui konten gambar tersebut untuk keperluan medis. Tim peneliti tersebut menggunakan algoritma untuk memilah fitur-fitur, seperti warna, ekpresi wajah, dan ukuran estetik yang berbeda (simetri, pencahayaan, dan ketajaman/fokus) dari foto yang diposting oleh lebih dari 4.000 sampel pengguna Twitter[6]. Kemudian, mereka menganalisis 3.200 cuitan terakhir dari masing-masing pengguna dan melakukan survei tradisional terhadap 887 pengguna untuk mengetahui skor tingkat depresi dan kecemasan mereka[6]. Selanjutnya, mereka menghubungkan antara skor tersebut dengan fitur-fitur foto yang telah dipilah tersebut.

Penelitian yang dipresentasikan di International AAAI Conference on Web and Social Media pada 11-14 Juni 2019 di Munich, Jerman tersebut akhirnya mengungkapkan bahwa pengguna Twitter yang mengalami depresi dan kecemasan memiliki kecenderungan untuk memposting gambar dengan nilai estetik yang lebih rendah dan warna mencolok yang lebih sedikit[1]. Sebaliknya, mereka suka memposting gambar atau foto yang memiliki warna dengan rentang gradasi hitam dan putih (grayscale). Jika ditinjau dari foto profilnya, pengguna Twitter yang mengalami depresi dan kecemasan juga memperlihatkan adanya penekanan emosi positif dalam diri mereka, seperti cenderung memasang muka datar daripada menunjukkan lebih banyak emosi negatif, semisal dengan mengerutkan dahi[1]. Selain itu, pengguna Twitter yang depresi terlihat lebih sering memposting foto sendirian, tanpa keluarga, teman, dan orang-orang disekitarnya serta jarang memposting foto mengenai aktivitas yang berkenaan dengan rekreasi atau minat mereka, dimana hal tersebut sangat umum ditunjukkan oleh pengguna yang non-depresi[6]. Menurut Sharath Guntuku, PhD, seorang peneliti di bidang kesehatan digital Sekolah Kedokteran Universitas Pennsylvania, yang turut berkecimpung dalam penelitian ini, alasan dari kondisi tersebut adalah depresi umumnya disertai oleh “emosi datar” yang dicirikan oleh berkurangnya ekpresi dan daya tarik pada hobi atau aktivitas lain yang umumnya dinikmati oleh orang lain[6].

Guntuku, PhD mengungkapkan bahwa hasil penelitian timnya tersebut masih jauh dari sempurna untuk bisa diaplikasikan dalam mendiagnosa depresi dan kecemasan guna keperluan medis. Meskipun demikian, hasil penelitian ini sangat berpotensi untuk dikembangkan dengan versi yang lebih otomatis, sehingga dapat digunakan oleh petugas kesehatan dengan harga terjangkau untuk memonitor akun pengguna media sosial yang diduga mengalami depresi dan kecemasan dengan izin dari yang bersangkutan[1]. Apabila pengguna media sosial tersebut menunjukkan skor yang tinggi pada tingkat depresi dan kecemasan, petugas kesehatan wajib mengarahkannya untuk menjalani metode skrining yang lebih formal[6]. Hal ini dinilai merupakan terobosan baru yang menjanjikan bagi metode skrining depresi dan kecemasan di era digital seperti saat ini.

REFERENSI

[1] Anonim. 2019. Twitter Image Colors and content Could Help Identify Users With Depression, Anxiety. http://www.pennmedicine.org/news/news-releases/2019/may/twitter-image-colors-and-content-could-help-identify-users-with-depression-anxiety. Diakses pada 11 Juli 2019.

[2] Kaplan, H.I., Saddlock, B.J., dan Grebb, J.A. 1997. Sinopsis Psikiatri. Edisi Ketujuh Jilid I. Terjemahan Widjaja Kusuma. Jakarta: Bina Rupa Aksara.

[3] Saputri, A.R. 2017. Hubungan Tingkat Stres, Kecemasan, dan Depresi dengan Tingkat Prestasi Akademik pada Santri Aliyah di Pondok Pesantren Darul Ihsan TGK. H. Hasan Krueng Kalee, Darussalam, Aceh Besar, Aceh. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.

[4] Nevid, J.S., Spencer, A. R., dan Greene, B.2005. Psikologi Abnormal. Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga.

[5] Anonim. 2012. Anxiety (Kecemasan): Materi Kuliah Online Bagi Anggota Keluarga, Relawan Kesehatan Jiwa dan Perawat Pendamping. Purworejo: Tirto Jiwo.

[6] Anonim. 2019. Twitter Image Colors and Content Could Help Identify Users With Depression, Anxiety. https://www.sciencedialy.com/releases/2019/05/190515115827.htm. Diakses pada 11 Juli 2019.

[7] D’Onfro, J. 2013. Twitter Admits 5% of Its Users are Fake. https://www.businessinsider.com /5-of-twitter-monthly-active-users-are-fake-2013-10?IR=T. Diakses pada 11 Juli 2019.

[8] Turnbull, L. 2018. Mental Health 201: Anxiety and Depression by Lindsey Turnbull. https://www.missheardmedia.com/mental-health-201-anxiety-and-depression-by-lindsey-turnbull. Diakses pada 11 Juli 2019.

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: