Dampak Asap Kebakaran Hutan terhadap Kualitas Udara dan Lingkungan Perkotaan: Penelitian Terbaru Menyajikan Fakta Mengkhawatirkan

Musim kemarau yang panjang membuat kondisi makin parah. Sebuah penelitian dari McMaster University mengungkap bahwa asap dari kebakaran hutan bisa membawa zat berbahaya hingga ratusan kilometer jauhnya, meninggalkan polusi yang berisiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Kebakaran hutan kini makin sering terjadi baik di Indonesia maupun di negara lain akibat perubahan iklim. Dampaknya tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran, tapi juga menyebar ke daerah lain. Dalam beberapa waktu terakhir, kebakaran besar melanda wilayah Kalimantan dan Sumatera, menghanguskan puluhan ribu hektar lahan. Musim kemarau yang panjang membuat kondisi makin parah. Sebuah penelitian dari McMaster University mengungkap bahwa asap dari kebakaran hutan bisa membawa zat berbahaya hingga ratusan kilometer jauhnya, meninggalkan polusi yang berisiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Urban Grime dan Asap Kebakaran yang Mempengaruhi Kota

Asap dari kebakaran hutan mengandung berbagai jenis polutan yang berbahaya, termasuk senyawa poliaromatik hidrokarbon (PAH). PAH merupakan senyawa kimia yang terbentuk saat terjadi pembakaran tidak sempurna, seperti pada saat kayu terbakar. PAH dikenal sebagai zat yang bersigat karsinogen, yang berarti dapat menyebabkan kanker, serta dapat menyebabkan mutasi pada makhluk hidup.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa PAH dari asap kebakaran hutan dapat menjangkau kota-kota yang terletak ratusan kilometer dari lokasi kebakaran, bahkan bertahan lama dalam “urban grime” atau lapisan kotoran perkotaan yang menempel pada permukaan bangunan dan jalan.

Urban grime merupakan lapisan kotoran yang terbentuk di permukaan perkotaan akibat pengendapan partikel dan senyawa kimia. Lapisan ini menjadi reservoir dinamis yang dapat menyimpan dan melepaskan kembali polutan ke lingkungan sekitarnya. Akumulasi polutan ini, termasuk PAH, tidak hanya memburuk saat terjadi kebakaran besar, tetapi juga saat ada aktivitas pembakaran kecil di lingkungan sekitar, seperti api unggun atau penggunaan alat panggang (barbecue).

Penelitian McMaster: Dampak Kebakaran Hutan pada Grime Perkotaan

Untuk memahami lebih dalam dampak kebakaran hutan terhadap kualitas udara dan lingkungan perkotaan, para peneliti dari McMaster University mengumpulkan sampel grime di dua kota di Kanada yang sering terpapar asap kebakaran hutan: Calgary dan Kamloops. Penelitian ini dilaksanakan dari Agustus hingga November 2021. Para relawan di kedua kota mengumpulkan sampel dari halaman belakang rumah mereka, menggunakan alat yang dilengkapi dengan manik kaca untuk meniru permukaan perkotaan yang kedap air seperti jendela.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat PAH dalam grime di Calgary meningkat hampir dua kali lipat ketika asap dari kebakaran hutan di Saskatchewan sampai ke kota tersebut dari sekitar 500 kilometer jauhnya. Ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan di tempat yang jauh bisa menyebabkan polusi udara yang cukup parah. Di Kamloops, meskipun tidak ada kebakaran hutan besar di daerah tersebut, peneliti mendeteksi peningkatan PAH yang tajam, yang lebih mungkin disebabkan oleh pembakaran lokal, seperti api unggun di lingkungan sekitar.

Konsentrasi total hidrokarbon aromatik polisiklik (∑PAH) yang dinormalkan terhadap luas permukaan dalam sampel kotoran perkotaan (ng m–2; berlian hijau) dan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) per jam (μg m–3; garis abu-abu) di (a) Calgary dan (b) Kamloops.

Mengapa Masalah Ini Menjadi Semakin Penting?

Peningkatan kebakaran hutan yang disebabkan oleh perubahan iklim diperkirakan akan terus berlanjut, dengan dampak besar terhadap kualitas udara di daerah perkotaan yang sebelumnya tidak terpengaruh oleh kebakaran. Kota-kota besar yang dikelilingi oleh alam terbuka, atau yang berada dekat dengan area rawan kebakaran hutan, kini harus memikirkan cara untuk mengurangi dampak polusi asap kebakaran ini. Para peneliti memperingatkan bahwa kebakaran hutan dapat menjadi sumber polusi yang dominan di banyak daerah perkotaan, terutama di daerah perbatasan antara hutan dan kota.

Selain itu, partikel-partikel PAH yang menumpuk di permukaan perkotaan dapat tetap ada untuk waktu yang lama jika tidak ada hujan yang cukup untuk membersihkannya. Ketika hujan akhirnya datang, polutan ini bisa terbawa oleh aliran air hujan menuju sungai dan danau, yang dapat merusak ekosistem perairan dan kehidupan aquatik. Oleh karena itu, polutan yang ada di grime perkotaan juga dapat mempengaruhi kualitas air dan kehidupan di hulu dan hilir.

Dampak Kesehatan pada Manusia

Bagi manusia, PAH yang terkandung dalam grime perkotaan juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Paparan jangka panjang terhadap PAH dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker dan gangguan pernapasan. Selain itu, kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi oleh asap kebakaran hutan, seperti peralatan bermain di taman atau furnitur luar ruangan, juga dapat meningkatkan penyerapan PAH melalui kulit. Anak-anak yang sering bermain di luar dan mungkin memasukkan tangan mereka ke mulut juga lebih rentan terhadap paparan PAH yang lebih tinggi.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa meskipun kesadaran masyarakat terhadap dampak asap kebakaran hutan sering terfokus pada bahaya paparan langsung terhadap asap yang terhirup, paparan jangka panjang terhadap polutan yang tertinggal di permukaan perkotaan perlu mendapat perhatian lebih.

Baca juga: Bukan Bencana Biasa, Kebakaran Hutan Dapat Menyebabkan Berbagai Bahaya Ini

Langkah untuk Mengurangi Dampak Kebakaran Hutan

Ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi dampak kebakaran hutan terhadap kualitas udara dan lingkungan perkotaan. Pemerintah kota bisa memperkuat kebijakan pengelolaan kualitas udara dengan meningkatkan sistem pemantauan kualitas udara, yang tidak hanya mengukur partikel halus (PM2.5), tetapi juga komponen kimia spesifik seperti PAH. Peningkatan pemahaman tentang dinamika polusi dari kebakaran hutan di permukaan perkotaan juga bisa membantu merancang langkah-langkah mitigasi yang lebih efektif.

Selain itu, program penghijauan kota dan perbaikan infrastruktur untuk mencegah akumulasi grime juga penting. Dengan lebih banyak ruang hijau dan pemeliharaan permukaan kota yang lebih baik, kita bisa membantu mengurangi penumpukan polutan berbahaya ini.

Kesimpulan

Dampak kebakaran hutan tidak sesederhana yang sering kita bayangkan. Bukan hanya soal asap dan lahan yang terbakar, tetapi ada konsekuensi jangka panjang yang sering luput dari perhatian. Asap kebakaran tidak hanya mencemari udara sementara, melainkan juga meninggalkan residu yang menetap di permukaan kota. Senyawa berbahaya seperti PAH dapat terakumulasi dalam lapisan kotoran perkotaan dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia maupun lingkungan dalam jangka panjang. Karena itu, penting bagi kita untuk meningkatkan kesadaran dan mencari solusi menyeluruh untuk mengatasi dampak kebakaran hutan di masa depan.

Referensi:

[1] https://brighterworld.mcmaster.ca/articles/wildfire-smoke-deposits-toxins-on-cities-urban-grime-research/, diakses pada 20 Februari 2025

[2] Iris Chan, Stephanie R. Schneider, Annie Cheng, Sarah A. Styler. Wildfire Smoke Contributions to Polycyclic Aromatic Hydrocarbon Loadings in Western Canadian Urban Surface GrimeEnvironmental Science & Technology, 2025; DOI: 10.1021/acs.est.4c09630

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top