Setiap kali bencana alam melanda sebuah negara, perhatian dunia biasanya tertuju pada bantuan pemerintah, lembaga internasional, dan organisasi kemanusiaan. Namun ada satu sumber pertolongan lain yang sering luput dari sorotan padahal dampaknya sangat besar. Sumber itu berasal dari para perantau yang mengirimkan uang kepada keluarga mereka di kampung halaman. Uang yang dikirim para migran atau yang dikenal sebagai remitansi sering menjadi penyelamat pertama dan tercepat ketika banjir, gempa bumi, atau badai menghancurkan suatu wilayah.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Development Economics memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana remitansi bergerak dan bereaksi setelah suatu negara mengalami bencana alam. Penelitian ini menggunakan data remitansi bulanan dari Italia ke delapan puluh satu negara berkembang selama periode sepuluh tahun. Dengan melihat data bulanan secara rinci, para peneliti dapat melacak apakah peningkatan pengiriman uang benar terjadi setelah suatu daerah dilanda bencana dan seberapa lama efek itu bertahan.
Baca juga artikel tentang: Bumi Terancam! Asteroid Bennu Bisa Sebabkan Bencana Global seperti Kiamat
Studi ini menegaskan bahwa remitansi memang meningkat ketika bencana terjadi di negara asal para migran. Kenaikan remitansi terjadi cepat, biasanya dalam waktu tiga hingga empat bulan setelah bencana. Lonjakan itu bukan sesuatu yang kecil karena dalam banyak kasus jumlah uang yang mengalir ke negara asal naik secara signifikan dibandingkan bulan bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa para migran memantau kondisi di rumah dan segera merespons dengan cara paling langsung yang bisa mereka lakukan yaitu mengirimkan uang tambahan untuk membantu keluarga dan komunitas mereka pulih dari bencana.
Para peneliti kemudian berusaha memahami apa yang mendorong perubahan dalam jumlah remitansi tersebut. Dalam banyak kasus keluarga yang terkena dampak membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar karena rumah rusak, mata pencaharian hilang, atau jaringan infrastruktur terhenti. Ketika keluarga menghadapi situasi seperti itu, mereka biasanya menghubungi kerabat yang bekerja di luar negeri untuk meminta dukungan keuangan. Migran yang mengetahui kondisi tersebut pun mengirimkan uang lebih banyak agar keluarga mereka bisa membeli makanan, air bersih, obat obatan, dan kebutuhan pokok lain.
Yang menarik dari penelitian ini adalah pola remitansi yang kembali turun setelah beberapa bulan. Para peneliti menemukan bahwa setelah periode tanggap darurat selesai tingkat remitansi kembali ke level normal. Artinya remitansi berfungsi sebagai mekanisme bantuan jangka pendek yang sangat responsif namun tidak menggantikan kebutuhan masyarakat akan dukungan jangka panjang dari pemerintah atau lembaga resmi. Remitansi membantu meredakan tekanan ekonomi pada masa awal krisis tetapi tidak menggantikan peran sistem asuransi formal atau program bantuan publik.
Penelitian ini juga menggali satu pertanyaan penting. Apakah para migran mengurangi remitansi pada bulan bulan berikutnya sebagai bentuk penggantian atau substitusi antarmasa. Dengan kata lain apakah mereka mengirimkan lebih banyak sekarang namun mengurangi pengiriman uang di masa mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi seperti itu tidak terjadi. Setelah lonjakan remitansi pascabencana usai jumlah remitansi kembali ke pola semula tanpa penurunan drastis. Temuan ini menegaskan bahwa remitansi tambahan benar benar berasal dari peningkatan dukungan sementara bukan sekadar pengalihan waktu pengiriman.
Selain peningkatan remitansi setelah bencana penelitian ini juga menemukan adanya fenomena lain yang disebut efek antisipasi. Pada beberapa kasus remitansi naik sebelum bencana terjadi. Kondisi ini muncul ketika suatu wilayah sering mengalami jenis bencana tertentu yang bisa diprediksi seperti musim badai atau banjir musiman. Ketika keluarga di kampung halaman mulai berbicara tentang tanda tanda bencana atau ketika media melaporkan potensi ancaman para migran mungkin sudah mulai mengirimkan uang lebih cepat agar keluarga dapat bersiap menghadapi kondisi darurat.
Menariknya respons remitansi tidak seragam untuk setiap negara atau setiap jenis bencana. Respons ini sangat bergantung pada berbagai faktor mulai dari tingkat keparahan bencana karakter ekonomi negara penerima hingga kondisi sosial ekonomi migran di negara tempat mereka bekerja. Misalnya migran dengan pekerjaan stabil dan pendapatan cukup mungkin lebih mampu mengirimkan tambahan remitansi dibandingkan migran yang bekerja di sektor tidak tetap. Selain itu negara dengan infrastruktur keuangan kuat akan lebih mudah menerima remitansi dalam jumlah besar dibandingkan negara dengan sistem perbankan terbatas.

Penelitian ini memberikan pemahaman penting tentang peran remitansi sebagai bentuk asuransi informal bagi keluarga di negara berkembang. Pada banyak negara remitansi sering kali lebih cepat sampai dibandingkan bantuan pemerintah. Migran bisa mengirimkan uang dalam hitungan jam atau hari sementara bantuan resmi biasanya membutuhkan waktu berhari hari atau berminggu minggu karena adanya prosedur administrasi. Dalam situasi darurat kecepatan seperti ini dapat menentukan apakah keluarga dapat segera membeli kebutuhan mendesak atau terpaksa menunggu ketika persediaan mereka sudah habis.
Namun penelitian ini juga mengingatkan bahwa meskipun remitansi membantu meringankan beban pascabencana mekanisme ini tidak cukup untuk menghadapi tantangan jangka panjang. Banyak negara berkembang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam dan mengandalkan remitansi sebagai solusi jangka panjang dapat memperkuat ketergantungan yang tidak sehat. Pemerintah tetap perlu membangun infrastruktur tangguh sistem peringatan dini dan program perlindungan sosial yang memadai. Remitansi hanya dapat berfungsi sebagai penopang awal tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan kebutuhan masyarakat terhadap dukungan struktural.
Di sisi lain hasil penelitian ini dapat membantu negara negara yang memiliki banyak warga bekerja di luar negeri. Pemerintah dapat memperkuat sistem transfer yang aman cepat dan berbiaya rendah sehingga remitansi dapat sampai lebih efisien ketika terjadi bencana. Kolaborasi antara bank lembaga pengiriman uang dan pemerintah dapat mempercepat proses transaksi serta menurunkan biaya pengiriman sehingga keluarga penerima memperoleh bantuan dengan jumlah lebih besar.
Temuan penelitian ini memberikan gambaran penting bahwa solidaritas para migran memainkan peran besar dalam membantu keluarga dan komunitas mereka bertahan dari bencana. Ketika badai menghantam atau gempa bumi menghancurkan rumah para pekerja migran di belahan dunia lain segera menjalankan peran mereka sebagai penyelamat keluarga. Peran ini memperlihatkan betapa kuatnya hubungan antaranggota keluarga meskipun mereka hidup terpisah ribuan kilometer.
Penelitian seperti ini membantu dunia memahami dinamika bantuan informal dan memberi peluang bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan yang memperkuat ketahanan masyarakat di masa depan. Remitansi telah terbukti menjadi bagian penting dari respons bencana dan memahami polanya dapat membantu negara berkembang merancang strategi yang lebih baik dalam menghadapi krisis yang semakin sering terjadi.
Baca juga artikel tentang: Farmasi dalam Bencana: Peran Apoteker saat Krisis Kesehatan Global
REFERENSI:
Bettin, Giulia dkk. 2025. Responding to natural disasters: What do monthly remittance data tell us?. Journal of Development Economics 174, 103413.

