Mengembangkan pengobatan yang lebih aman, lebih efektif, dan lebih mudah digunakan menjadi tujuan utama banyak penelitian di bidang penyakit autoimun. Salah satu penyakit yang masih menjadi tantangan besar adalah rheumatoid arthritis atau radang sendi autoimun. Penyakit ini menyerang jutaan orang di seluruh dunia dan dapat menyebabkan nyeri berkepanjangan, pembengkakan sendi, kekakuan, hingga kerusakan tulang yang bersifat permanen. Meskipun berbagai obat telah tersedia, tidak semua pasien memberikan respons yang sama terhadap pengobatan dan sebagian terapi dapat menimbulkan efek samping apabila digunakan dalam jangka panjang. Kondisi tersebut mendorong para ilmuwan mencari pendekatan baru yang mampu mengendalikan peradangan dengan cara yang lebih alami.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2026 dalam jurnal Molecular Therapy Nucleic Acids memperlihatkan hasil yang menarik. Para peneliti menemukan bahwa vesikel ekstraseluler yang berasal dari jahe mampu mengurangi peradangan pada model rheumatoid arthritis melalui kerja sama antara mikroRNA 149 dan senyawa 6 gingerol. Walaupun hasil penelitian terlihat sangat menjanjikan, seluruh pengujian masih dilakukan pada kultur sel dan hewan percobaan sehingga manfaatnya pada manusia belum dapat dipastikan.
Rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan membedakan jaringan tubuh sendiri dengan benda asing. Akibatnya, sistem imun justru menyerang lapisan sinovium yang melapisi bagian dalam sendi. Serangan tersebut memicu peradangan kronis yang menyebabkan pembengkakan, rasa nyeri, dan kerusakan jaringan secara perlahan. Apabila kondisi ini berlangsung selama bertahun tahun, tulang rawan dapat mengalami kerusakan, tulang di sekitar sendi mengalami pengeroposan, dan bentuk sendi berubah secara permanen. Penyakit ini tidak hanya memengaruhi sendi tangan atau kaki, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan pada jantung, paru paru, pembuluh darah, dan berbagai organ lain karena proses peradangan terjadi di seluruh tubuh.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Selama beberapa dekade terakhir, para ilmuwan mengembangkan berbagai obat untuk mengendalikan penyakit ini. Sebagian obat bekerja dengan menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh, sedangkan obat lain menghambat molekul tertentu yang memicu peradangan. Pendekatan tersebut berhasil membantu banyak pasien menjalani kehidupan yang lebih baik. Namun, terapi yang tersedia belum mampu menyembuhkan penyakit secara total. Selain itu, penggunaan obat penekan sistem imun dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko infeksi dan efek samping lainnya. Oleh karena itu, para peneliti terus mencari strategi baru yang mampu mengurangi peradangan tanpa memberikan dampak yang terlalu besar terhadap sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan.
Dalam penelitian ini, perhatian para ilmuwan tertuju pada vesikel ekstraseluler yang berasal dari jahe. Vesikel ekstraseluler merupakan kantong mikroskopis yang secara alami dilepaskan oleh sel. Ukurannya hanya sekitar seratus hingga dua ratus nanometer sehingga tidak dapat dilihat menggunakan mata biasa. Meskipun ukurannya sangat kecil, vesikel membawa berbagai molekul penting seperti protein, lemak, RNA, dan berbagai senyawa bioaktif yang dapat mengirimkan informasi kepada sel lain. Para peneliti mengisolasi vesikel tersebut dari jahe dan menyebutnya sebagai ginger derived extracellular vesicles atau GDEV.
Berbeda dengan ekstrak jahe biasa, GDEV membawa komponen aktif dalam bentuk paket alami yang terlindungi oleh membran. Struktur tersebut membuat berbagai molekul di dalamnya lebih stabil selama perjalanan menuju sel sasaran. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa GDEV mampu bertahan terhadap kondisi asam di lambung dan dapat diserap oleh sel usus setelah diberikan melalui mulut. Temuan tersebut menarik perhatian para ilmuwan karena sebagian besar molekul biologis mudah rusak ketika melewati saluran pencernaan. Apabila kemampuan tersebut benar benar dapat dibuktikan pada manusia, pendekatan ini berpotensi menghasilkan terapi yang lebih praktis tanpa memerlukan suntikan.
Untuk menguji potensi GDEV, para peneliti melakukan dua jenis penelitian sekaligus. Pertama, mereka menggunakan sel sinovial yang berasal dari penderita rheumatoid arthritis dan dipelihara di laboratorium. Sel sinovial memiliki peran penting dalam perkembangan penyakit karena menghasilkan berbagai zat yang memicu dan mempertahankan proses peradangan. Kedua, para peneliti menggunakan tikus dengan model rheumatoid arthritis yang dibuat melalui metode collagen antibody induced arthritis. Model tersebut banyak digunakan dalam penelitian karena mampu meniru beberapa karakteristik utama penyakit pada manusia sehingga membantu memahami mekanisme biologis sebelum dilakukan penelitian klinis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa GDEV mampu menekan produksi berbagai molekul penyebab peradangan pada sel sinovial. Produksi TNF alfa dan interleukin satu beta mengalami penurunan yang nyata. Kedua molekul tersebut merupakan sitokin yang berperan penting dalam mempertahankan proses peradangan pada rheumatoid arthritis. Selain itu, kadar interleukin enam, enzim Cox dua, dan enzim MMP tiga juga menurun. MMP tiga merupakan enzim yang berperan dalam penghancuran jaringan tulang rawan apabila diproduksi secara berlebihan. Penurunan berbagai molekul tersebut menunjukkan bahwa GDEV mampu memengaruhi beberapa jalur peradangan sekaligus.
Para peneliti juga menemukan bahwa GDEV menghambat pertumbuhan dan perpindahan sel sinovial. Pada penderita rheumatoid arthritis, sel sinovial sering berkembang secara berlebihan dan menyerang jaringan sendi di sekitarnya sehingga mempercepat kerusakan tulang rawan. Kemampuan GDEV menghambat proses tersebut memberikan petunjuk bahwa vesikel dari jahe tidak hanya menekan peradangan, tetapi juga berpotensi memperlambat perkembangan kerusakan sendi.
Percobaan pada tikus menghasilkan temuan yang tidak kalah menarik. Tikus yang menerima GDEV melalui mulut mengalami pembengkakan sendi yang lebih ringan dibandingkan kelompok yang tidak memperoleh perlakuan. Pemeriksaan jaringan menunjukkan bahwa lapisan sinovium mengalami peradangan yang lebih rendah. Tulang rawan tetap terjaga dengan lebih baik, sedangkan aktivitas osteoklas yang bertanggung jawab terhadap pengeroposan tulang juga mengalami penurunan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa GDEV mampu memberikan efek biologis yang nyata pada model hewan rheumatoid arthritis.

Penelitian ini kemudian berusaha menjelaskan bagaimana vesikel tersebut menghasilkan efek antiperadangan. Analisis molekuler menunjukkan bahwa GDEV mengandung mikroRNA 149 dalam jumlah tinggi. MikroRNA merupakan molekul RNA berukuran sangat kecil yang tidak membentuk protein, tetapi berfungsi mengatur aktivitas berbagai gen di dalam sel. Dalam penelitian ini, mikroRNA 149 membantu menekan jalur sinyal yang berkaitan dengan proses peradangan, termasuk jalur Ras dan MAPK. Selain itu, GDEV juga membawa senyawa 6 gingerol yang merupakan salah satu komponen bioaktif utama pada jahe. Menariknya, kedua komponen tersebut bekerja secara sinergis sehingga menghasilkan efek antiperadangan yang lebih kuat dibandingkan apabila digunakan secara terpisah.
Walaupun hasil penelitian terlihat sangat menjanjikan, masyarakat perlu memahami beberapa keterbatasan penting. Penelitian ini menggunakan sel yang dipelihara di laboratorium dan tikus sebagai model penyakit. Hasil pada kultur sel maupun hewan tidak selalu memberikan hasil yang sama ketika diterapkan pada manusia. Selain itu, penelitian ini menggunakan vesikel ekstraseluler yang diisolasi secara khusus dari jahe dan bukan jahe segar, minuman jahe, ataupun suplemen jahe yang tersedia di pasaran. Oleh karena itu, penelitian ini tidak membuktikan bahwa mengonsumsi jahe dapat mengobati rheumatoid arthritis ataupun menggantikan obat yang diresepkan oleh dokter. Sebelum teknologi ini dapat diterapkan sebagai terapi, para ilmuwan masih harus melakukan penelitian keamanan, menentukan dosis yang tepat, memahami kemungkinan efek samping, serta melaksanakan uji klinis pada manusia dalam jumlah besar.
Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai potensi vesikel ekstraseluler dari jahe sebagai pembawa alami molekul antiperadangan. GDEV mampu menekan berbagai mediator peradangan, mengurangi kerusakan sendi, mempertahankan tulang rawan, dan menghambat pengeroposan tulang pada penelitian laboratorium dan hewan. Kehadiran mikroRNA 149 dan 6 gingerol di dalam vesikel menunjukkan bahwa tanaman tidak hanya menghasilkan senyawa bioaktif, tetapi juga memiliki sistem penghantaran alami yang sangat kompleks. Walaupun seluruh bukti saat ini masih terbatas pada penelitian laboratorium dan hewan, hasil penelitian ini membuka peluang baru dalam pengembangan terapi rheumatoid arthritis yang lebih praktis dan lebih ramah bagi pasien pada masa depan. Namun, penelitian klinis pada manusia tetap menjadi langkah yang sangat penting sebelum teknologi ini dapat digunakan dalam praktik kedokteran sehari hari.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Kaneta, Hiroki dkk. 2026. Oral ginger-derived extracellular vesicles ameliorate arthritis via anti-inflammatory actions of microRNA-149 and 6-gingerol. Molecular Therapy Nucleic Acids.






