Ingatan Palsu – Pengertian, Penyebab, dan Dampak yang Ditimbulkan

False Memories

Dalam otak kita tersimpan banyak sekali memori atau ingatan tentang berbagai hal serta peristiwa yang pernah kita lalui, mulai dari ingatan tentang hal yang baru saja terjadi hingga ingatan sewaktu kita masih kecil. Apa sih ingatan itu? Irwanto (1999) mengungkapkan ingatan sebagai kemampuan untuk menyimpan informasi sehingga dapat digunakan lagi di masa yang akan datang sedangkan menurut Tulving (dalam Sternberg 2008) ingatan merupakan cara-cara yang dengannya kita mempertahankan dan menarik pengalaman-pengalaman dari masa lalu untuk digunakan saat ini. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa ingatan merupakan kemampuan kita untuk menyimpan suatu informasi atau pengalaman yang pernah kita alami.

Ketika kita sedang meyakinkan sesuatu atau seseorang, seringkali kita menggunakan ingatan kita sebagai sumber dari dasar keyakinan tersebut namun apakah ingatan yang tersimpan di dalam otak kita itu selalu benar? Ingatan tidaklah selalu sama, ingatan dapat berubah seiring waktu berlalu juga melalui sugesti yang pada akhirnya dapat membentuk memori (ingatan) palsu.

Pengertian Memori Palsu

Memori (ingatan) palsu adalah peristiwa ketika kita mengingat kejadian secara berbeda dari kejadian yang sebenarnya. Memori (ingatan) palsu bukanlah tentang kita melupakan suatu kejadian, melainkan tentang kita mengingat suatu jalan kejadian yang berbeda dari kejadian yang sebenarnya, bahkan dalam kasus yang ekstrim kita mengingat suatu kejadian yang belum pernah kita alami sebelumnya.

Penelitian Tentang Memori Palsu

Dalam sebuah artikel berjudul The Study of False Memories: Historical Reflection terdapat berbagai penelitian diantaranya, penelitian yang dilakukan oleh Kirkpatrick (1894). Pada tahun 1894 Kirkpatrick melakukan studi laboratorium pertama tentang false memories (ingatan palsu). Dalam studinya, Kirkpatrick (1894) membuat demonstrasi eksperimental pertama tentang ingatan palsu yang berdasarkan pada kata-kata yang disampaikan. Dalam studinya Ia mengungkapkan terjadinya ingatan palsu yang tidak disengaja. Dimana seminggu sebelumnya Kirkpatrick menyampaikan sepuluh kata-kata kepada muridnya, ketika mereka diminta untuk mengingat ulang, banyak dari mereka yang merubah kata-kata seperti “gulungan”, “bidal”, dan “pisau” menjadi “benang”, “jarum” dan “garpu” yang mana hal-hal tersebut sering berkaitan.

Dalam artikel tersebut juga terdapat penelitian yang dilakukan oleh Stern (1910). Pada tahun 1910 Stern melakukan percobaan dengan tujuan untuk memahami bagaimana sugesti dari orang dewasa dapat membuat distorsi memori pada anak-anak.  Ketika Stern sedang menggelar acara di kelasnya, acara tersebut disela oleh seorang pria yang berbicara dengan Stern. Ketika pria tersebut sedang berbicara dengan professor pria tersebut akan mengambil sebuah buku kemudian meninggalkan ruangan. Seminggu kemudian, para mahasiswa diajak untuk mengingat kembali acara tersebut. Hasilnya penelitian menunjukkan bahwa dengan metode naratif terjadi 25% kasus kesalahan mengingat informasi. Sedangkan pada metode interogatif terjadi 50% kasus kesalahan mengingat informasi.

Penyebab Memori Palsu

Berdasarkan penelitian diatas bahwa distorsi informasi (ingatan palsu) dapat muncul diakibatkan oleh adanya sugesti, serta pengalaman yang pernah kita alami dapat mempengaruhi pembentukkan atau bahkan membentuk ingatan yang baru yang belum pernah kita alami sebelumnya. Hal ini diperkuat oleh berbagai penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti dan professor psikologi kognitif dan memori manusia Elizabeth F. Loftus tentang penciptaan dan sifat dari ingatan palsu.

Dikutip dari sebuah blog berjudul What Experts Wish You Knew about False Memories, Elizabeth Loftus berkata bahwa “Pesan yang dibawa pulang yang telah saya coba sampaikan dalam tulisan saya, dan di kelas, dan dalam TED Talks saya adalah: Hanya karena seseorang memberi tahu Anda sesuatu dengan penuh percaya diri, detail, dan emosi, bukan berarti itu benar-benar terjadi. Anda perlu pembuktian secara mandiri untuk mengetahui apakah Anda berurusan dengan memori otentik atau sesuatu yang merupakan produk dari beberapa proses lain.”

Dampak Memori Palsu

Memori (ingatan) palsu dapat memberikan dampak baik itu terhadap diri sendiri maupun terhadap orang atau lingkungan disekitar kita. Dalam sebuah eksperimen tentang bagaimana ingatan palsu mempengaruhi perilaku, para peneliti Psikolog Elke Geraerts dari Universitas St.Andrews dan Universitas Maastricht, Daniel Bernstein dari Universitas Politeknik Kwantlen dan Universitas Washington, Harald Merckelbach, Christel Linders, dan Linsey Raymaekers dari Universitas Maastricht, dan Elizabeth F. Loftus dari Universitas California, Irvine , menemukan bahwa dimungkinkan untuk mengubah perilaku jangka panjang menggunakan teknik sugestif sederhana.

Dalam serangkaian percobaan para peneliti membuat ingatan palsu terhadap partisipan dengan memberitahukan bahwa sewaktu partisipan masih kecil mereka akan jatuh sakit apabila mereka memakan salad telur. Empat bulan kemudian partisipan diminta untuk mengikuti studi terpisah. Mereka kemudian diberi jenis sandwich yang sama seperti sebelumnya, hasilnya partisipan yang diberikan ingatan palsu menunjukkan perubahan sikap dan perilaku terhadap salad telur bukan hanya memberikan evaluasi yang rendah namun juga partisipan menghindari sandwich salad telur. Sehingga didapat bahwa ingatan palsu dapat mempengaruhi kebiasaan kita.

False Memories

Dalam kasus lain, ingatan palsu dapat memberikan dampak yang merugikan bagi orang lain, hal ini yang menjadi alasan utama ditulisnya buku Eyewitness Testimony oleh Elizabeth F. Loftus dimana banyak terjadi kasus orang yang tidak bersalah mengalami salah identifikasi, sehingga mereka dihukum, dan bahkan dipenjara.

Sekian penjelasan mengenai false memories. Berikut ini dicantumkan sumber artikel, blog, buku serta jurnal yang membahas tentang false memories.

  1. The Study of False Memories: Historical Reflection diakses pada tanggal 13 November 2020 pukul 10:27
  2. What Experts Wish You Knew about False Memories – Scientific American Blog Network diakses pada tanggal 13 November 2020 pukul 11:17
  3. New Study Shows False Memories Affect Behavior – Association for Psychological Science – APS diakses pada tanggal 13 November 2020 pukul 16:40
  4. The Consequences of False Memories diakses pada tanggal 13 November 2020 pukul 16:06
  5. Loftus, Elizabeth. 1980. Eyewitness Testimony. USA: Harvard University Press.
  6. False memory – Scholarpedia diakses pada tanggal 13 November 2020 pukul 13:32
  7. Apa yang dimaksud dengan ingatan? – Sosial / Psikologi – Dictio Community diakses pada tanggal 13 November 2020 pukul 12:43

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 1

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Yayuk Gunawan
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *