Mengapa Investor Milenial Jitu dalam Berinvestasi?

Investasi Han Ji Pyeong

Berdasarkan publikasi dari Bursa Efek Indonesia, tercatat per Mei 2020 terdapat total 2,81 juta investor pasar modal, dan 1,19 juta di antaranya merupakan investor saham. Pertambahan jumlah investor tetap terjadi di tengah pandemi COVID-19. Bahkan dari diskusi dengan rekan-rekan pelaku di perusahaan sekuritas, pembukaan rekening baru pada saat puncak COVID-19 justru lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

blank

Sementara untuk demografi investor individu masih dipegang kalangan milenial. Data dari KSEI menyebutkan per 30 Juni 2020 untuk investor individu dengan usia 30 tahun ke bawah mencapai 45,74% dengan total aset Rp 11,67 triliun. Lalu, usia 31-40 tahun mencapai 24,57% dengan aset Rp 32,58 triliun, usia 41-60 tahun mencapai 9,24% dengan aset 87,24 triliun, dan 60 tahun keatas mencapai 4,63% dengan aset Rp 216,26 triliun. Adapun menurut jenis kelamin, pria masih mendominasi demografi investor individu dengan 60,20% dan perempuan mencapai 39,80%. Yang menarik lagi soal status pendidikan, rupanya status pendidikan pelajar menguasai 39,79% dengan aset Rp 80,10 triliun, lalu S1 mencapai 47,21% dengan aset Rp 163,43 triliun, lulusan D3 sebesar 7,15% dengan aset Rp 16,48 triliun dan S2 hanya 5,85% dengan aset 51,01 triliun.

Investor Milenial Lebih Terlibat Aktif

Para milenial ini akan menuntut lebih banyak keterlibatan aktif dalam investasi mereka sendiri karena mereka ingin lebih aktif terlibat dalam mengendalikan nasib mereka sendiri. Seiring dengan pendekatan yang lebih aktif ini akan muncul lebih banyak kecenderungan aktivis. Selain itu, menurut sebuah studi Morgan Stanley, jika dibandingkan dengan investor non-milenial, generasi milenial memasukkan keberlanjutan tidak hanya ke dalam keputusan investasi, tetapi juga perilaku konsumen secara keseluruhan:

  • Investor milenial hampir dua kali lebih mungkin berinvestasi di perusahaan atau mendanai sesuatu yang menargetkan hasil sosial atau lingkungan tertentu.
  • 29% investor berusia 20-an dan 30-an mencari penasihat keuangan yang menyediakan investasi berbasis value. Milenial menempatkan prioritas ini di urutan ketiga dalam daftar sembilan prioritas yang teridentifikasi.
  • 17% generasi milenial mengindikasikan bahwa mereka berupaya berinvestasi di perusahaan yang menggunakan praktik LST berkualitas tinggi, dibandingkan dengan 9% investor non-milenial. 
  • 15% milenial mengindikasikan mereka akan keluar dari posisi investasi karena aktivitas perusahaan yang tidak baik, investor non-milenial. 
  • 15% generasi milenial menyatakan mereka lebih suka membeli produk dari merek yang berkelanjutan, dibandingkan dengan 7% investor non-milenial.
  • Milenial mendapat integrasi yang lebih besar dari uang dan value mereka dengan mencari pemenuhan kebutuhan pribadi dalam karier mereka, menerapkan kesadaran global untuk pembelian produk, dan berinvestasi dalam model bisnis yang berkelanjutan dan berdampak.

Sebagai ilustrasi, mungkinkah pemenang Nobel Ekonomi gagal dalam investasi? Tahun 1994, suatu pengelola dana para investor kelas kakap (hedge fund) bernama Long Term Capital Management (LCTM) didirikan dengan merekrut dua pemenang Nobel Ekonomi : Myron Scholes dan Robert Merton.

Pada awalnya LCTM berhasil memberikan keuntungan fantastis bagi nasabahnya melalui serangkaian strategi investasi berisiko tinggi namun cerdas. Strateginya adalah membeli saham dan obligasi yang salah harga (harga lebih rendah daripada nilainya).

Namun pada 1998, LCTM kena batunya. Ketika itu saham dan obligasi yang diperkirakan salah harga, bukannya terkoreksi naik tetapi malah semakin turun karena kepanikan di pasar modal. LCTM akhirnya bangkrut dan meninggalkan kerugian lebih dari 4 miliar dolar AS pada tahun 2000.

Investor yang punya pengetahuan dan mau melakukan riset sebelum membeli sebuah saham memiliki kemungkinan berhasil yang lebih tinggi. Bandingkan nasib LCTM dengan prestasi para siswa SMA St. Agnes High School di Massachusetts dalam bermain saham. Mereka dikumpulkan oleh Peter Lynch dan diberi modal untuk membeli berbagai jenis saham (membentuk portofolio). Siswa SMA yang tidak punya latar belakang pendidikan keuangan ini berhasil membentuk portofolio yang hasilnya fantastis. Portofolio mereka berhasil mengalahakan 95% portofolio Reksa Dana yang dikelola oleh paara manajer dan (fund manager) professional. Apa rahasaia siswa SMA tadi? Ternyata mereka melakukan riset sebelum memutuskan untuk membeli saham. Mereka mengenali dengan baik perusahaan yang sahamnya mereka beli.

Sebelum memulai berinvestasi saham, mari mengenali diri sendiri

Kenali apa motivasi dalam berinvestasi saham? Mengapa membeli saham? Ada tiga alternatif jawaban. Pertama, bursa saham adalah seperti kasino. Saya bisa mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat dengan membeli saham. Kedua, bermain saham, itu trendi, membuat saya tampak intelek dan hebat. Ketiga, membeli saham adalah salah satu alternatif berinvestasi demi masa depan cerah. Jawaban terakhir adalah yang paling bijaksana.

blank

Kemudian, mengenali diri kita termasuk tipe investor seperti apa. Ada friends investor, yaitu investor yang bergantung pada nasihat teman untuk membeli atau menjual saham. Technical Investor yang membeli atau menjual saham berdasarkan analisis pergerakan harga saham alias technical analysis. Investor ini percaya bahwa perilaku harga saham di masa lalu akan berulang di masa mendatang. Ada economist investor, yang membeli atau menjual saham berdasarkan ramalan kondisi ekonomi. Scuttlebutt investor yang membeli atau menjual saham berdasarkan rumor sebuah perusahaan. Sedangkan value investor berusaha memperkirakan nilai wajar sebuah saham. Terakhir, growth investor berusaha membeli saham yang memiliki prospek pertumbuhan laba baik.

Mengenali diri sendiri baru separuh jalan menjadi pemenang. Kita juga harus mengenali dengan baik ‘musuh’ alias aset yang akan dibeli. Prinsip yang mesti diinget: buy what you know, know what you buy. Jenderal perang Tiongkok kuno yang kesohor, Sun Tzu, berteori: jika mengetahui kekuatan sendiri dan juga kekuatan musuh, kita akan selalu menang perang; jika tahu kekuatan kita dan tidak tahu kekuatan musuh, maka kemungkinan kita menang hanya 50%; tetapi jika tidak tahu kekuatan sendiri dan kekuatan musuh, kita bakal kalah.

Referensi :

ELSA NURRI ASZUZI
Latest posts by ELSA NURRI ASZUZI (see all)
Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar