Ketika sebuah komet memasuki tata surya kita, para astronom biasanya langsung mencari tanda tanda yang menunjukkan aktivitasnya. Aktivitas ini biasanya terlihat dari kemunculan coma, yaitu selubung kabut yang terbentuk ketika es pada komet menguap akibat panas Matahari. Namun ketika objek tersebut bukan komet biasa, melainkan komet yang berasal dari sistem bintang lain, setiap detail pengamatan menjadi jauh lebih berharga. Hal inilah yang terjadi pada komet antarbintang 3I ATLAS yang ditemukan pada tahun 2025. Para ilmuwan dari berbagai institusi kemudian berusaha mempelajari perilakunya melalui data yang dikumpulkan oleh Transiting Exoplanet Survey Satellite atau TESS.
TESS adalah satelit yang awalnya dirancang untuk mencari planet di luar tata surya. Ia melakukannya dengan cara memantau perubahan kecerahan bintang secara terus menerus. Namun karena TESS mengamati area langit yang sangat luas dan dengan sensitivitas yang tinggi, ia juga dapat merekam benda bergerak seperti komet. Pada bulan Mei hingga Juni 2025, TESS kebetulan melintasi wilayah langit tempat 3I ATLAS berada. Para peneliti kemudian menyadari bahwa ribuan citra yang diambil TESS dapat digunakan untuk mempelajari komet antarbintang ini.
Baca juga artikel tentang: Tameng Karbon, Data Emas: Misi Parker Membidik Jantung Badai
Dalam penelitian tersebut, tim ilmuwan menggabungkan lebih dari sembilan ribu citra TESS. Proses penggabungan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas gambar. Dengan menggabungkan banyak citra, sinyal dari komet akan semakin jelas, sementara suara latar seperti gangguan cahaya dan bintang bintang lain dapat diredam. Teknik ini sangat penting untuk mendeteksi coma yang biasanya memiliki tampilan sangat halus dan redup.
Coma adalah tanda paling jelas bahwa komet sedang aktif. Ketika es di permukaan komet mulai menguap akibat panas Matahari, gas yang keluar akan menyeret butiran debu kecil. Debu inilah yang kemudian membentuk penampakan kabut di sekitar inti komet. Jika sebuah komet memiliki coma, berarti ia melepaskan material dan memberikan informasi penting tentang komposisi, suhu, dan sejarah termal objek tersebut. Untuk komet antarbintang seperti 3I ATLAS, keberadaan coma dapat memberi petunjuk tentang kondisi lingkungan tempat ia terbentuk di sistem bintang lain.
Ketika para ilmuwan memeriksa dua kelompok citra gabungan yang dihasilkan dari data TESS, mereka membandingkan profil cahaya radiala atau radial profile dari komet dengan objek lain yang tidak aktif. Profil radiala dapat menunjukkan apakah cahaya komet menyebar lebih luas daripada titik cahaya bintang biasa. Jika cahaya melebar, itu adalah tanda adanya coma. Namun ternyata kedua kelompok data menunjukkan bahwa profil cahaya 3I ATLAS sangat mirip dengan objek yang tidak aktif. Hal ini berarti tidak ditemukan bukti coma yang luas dalam pengamatan TESS.
Meskipun tidak menemukan coma yang besar, para peneliti tidak serta merta menyimpulkan bahwa komet ini sepenuhnya tidak aktif. Sebaliknya, mereka melihat sesuatu yang cukup menarik. Pengukuran kecerahan komet menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibanding yang diharapkan jika komet hanya berupa inti padat tanpa aktivitas. Ketika hasil ini dibandingkan dengan pengamatan dari Hubble Space Telescope, muncul dugaan kuat bahwa coma sebenarnya ada, tetapi sangat kecil dan terkonsentrasi di dekat inti komet. Coma seperti ini terlalu kecil untuk dideteksi secara langsung oleh TESS karena resolusi gambarnya tidak sebesar teleskop ruang angkasa Hubble.
Temuan ini memberikan wawasan penting tentang perilaku 3I ATLAS. Jika komet antarbintang ini memang mengembangkan coma yang sangat kecil, maka debu yang dikeluarkannya harus memiliki kecepatan yang sangat rendah, yaitu kurang dari sepuluh meter per detik. Kecepatan ini jauh lebih rendah dibandingkan kebanyakan komet dalam tata surya. Komet lokal biasanya mengeluarkan debu dengan kecepatan puluhan hingga ratusan meter per detik ketika es di permukaannya menguap. Perbedaan besar ini menunjukkan bahwa aktivitas komet 3I ATLAS bersifat sangat lembut dan mungkin mencerminkan kondisi fisik atau komposisi unik dari objek tersebut.

Komet antarbintang seperti 3I ATLAS telah mengembara di ruang antarbintang selama jutaan atau bahkan miliaran tahun. Dalam perjalanan panjang itu, permukaannya terpapar radiasi dan partikel berenergi tinggi yang dapat memperkuat kulit bagian luar komet. Kulit keras ini dapat menghambat keluarnya gas dan debu ketika komet mulai memanas saat memasuki tata surya. Jika kulit permukaan tersebut hanya retak sedikit, gas mungkin keluar dengan tekanan yang rendah sehingga menghasilkan coma yang sangat kecil, seperti yang mungkin terjadi pada 3I ATLAS. Fenomena ini menjadi kunci mengapa TESS tidak dapat melihat coma besar, tetapi Hubble mendeteksi adanya kontribusi cahaya tambahan dari dekat inti.
Penelitian ini juga menunjukkan kehebatan instrumen ilmiah yang awalnya tidak dirancang untuk mengamati komet. Meskipun TESS dibuat untuk mencari planet di luar tata surya, satelit ini juga menjadi alat penting dalam mempelajari benda bergerak yang lewat di bidang pandangnya. Dengan memanfaatkan data yang tersedia, ilmuwan dapat menguak aspek yang tidak terlihat oleh teleskop dasar di bumi. Ini merupakan contoh bagaimana dunia astronomi modern semakin berorientasi pada penggunaan data lintas fungsi.
Setiap komet antarbintang membawa informasi dari tempat kelahirannya yang jauh. Komposisinya adalah petunjuk tentang kondisi fisik dan kimia di sistem bintang lain. Dengan mempelajari aktivitas 3I ATLAS, para ilmuwan dapat membandingkannya dengan komet lokal yang telah diteliti selama ratusan tahun. Jika komet antarbintang memiliki sifat aktivitas yang sangat berbeda, itu dapat berarti bahwa proses pembentukan benda kecil di sistem bintang lain terjadi pada kondisi yang berbeda dari tata surya. Temuan mengenai kecepatan debu yang sangat rendah memberikan indikasi bahwa 3I ATLAS mungkin memiliki struktur permukaan yang lebih padat atau komposisi es yang berbeda.
Penelitian ini menyoroti bahwa dunia astronomi membutuhkan berbagai jenis instrumen dengan karakteristik unik untuk memahami sepenuhnya sebuah objek antarbintang. TESS memberikan keunggulan dalam jumlah data yang sangat besar dan cakupan wilayah langit yang luas. Hubble menyediakan ketajaman resolusi tinggi yang mampu melihat struktur kecil di sekitar inti komet. Kombinasi keduanya menghasilkan pemahaman yang jauh lebih komprehensif.
Melalui penelitian ini, para ilmuwan semakin yakin bahwa 3I ATLAS adalah komet aktif, tetapi aktivitasnya sangat lembut dan tidak terlihat secara jelas pada instrumen tertentu. Temuan ini menambah potongan penting dalam teka teki bagaimana komet antar bintang bereaksi ketika memasuki lingkungan Matahari. Dengan lebih banyak data dari teleskop di masa mendatang, kita mungkin dapat mengungkap lebih banyak rahasia tentang kehidupan kosmik yang tersembunyi jauh di luar batas tata surya.
Baca juga artikel tentang: Astronom Temukan Lubang Hitam Raksasa Di Cosmic Horseshoe
REFERENSI:
Farnham, Tony L dkk. 2025. A Search for Coma in TESS Observations of Interstellar Comet 3I/ATLAS. Research Notes of the AAS 9 (10), 266.

