Sains Alam

Kelor Bertemu Jahe, Peneliti Menemukan Formula yang Paling Seimbang

Membuat minuman herbal yang enak, bergizi, dan tahan disimpan membutuhkan lebih dari sekadar mencampurkan berbagai bahan alami. Setiap bahan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perubahan kecil pada komposisi maupun proses pengolahan dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang sangat berbeda. Hal…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email

Membuat minuman herbal yang enak, bergizi, dan tahan disimpan membutuhkan lebih dari sekadar mencampurkan berbagai bahan alami. Setiap bahan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perubahan kecil pada komposisi maupun proses pengolahan dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang sangat berbeda. Hal inilah yang terjadi pada minuman bubuk berbahan daun kelor dan jahe. Kelor dikenal sebagai tanaman yang kaya vitamin, mineral, protein, dan berbagai senyawa antioksidan, sedangkan jahe memberikan aroma khas serta sensasi hangat yang membuat minuman lebih nikmat. Kombinasi keduanya tampak sederhana, tetapi menentukan perbandingan yang tepat ternyata memerlukan penelitian yang cermat.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam AIP Conference Proceedings mencoba mencari formulasi terbaik dengan membandingkan berbagai proporsi daun kelor dan jahe serta lama proses pengeringan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keseimbangan komposisi bahan dan waktu pengeringan memberikan pengaruh terhadap kualitas fisik produk, meskipun tidak semua karakteristik berubah secara signifikan. Penelitian ini merupakan penelitian formulasi produk pangan sehingga hasilnya tidak membuktikan adanya manfaat kesehatan tertentu pada manusia.

Daun kelor selama beberapa tahun terakhir semakin populer sebagai bahan pangan fungsional. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa daun kelor mengandung vitamin A, vitamin C, vitamin E, zat besi, kalsium, protein, serta berbagai senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan. Kandungan gizi tersebut membuat kelor banyak dimanfaatkan sebagai bahan berbagai produk makanan dan minuman. Namun daun kelor memiliki aroma yang cukup khas sehingga tidak semua orang menyukainya. Untuk mengatasi hal tersebut, banyak produsen mulai menambahkan jahe sebagai bahan pendamping. Jahe tidak hanya memberikan rasa hangat dan aroma yang lebih menarik, tetapi juga mengandung minyak atsiri dan senyawa seperti gingerol yang menjadi ciri khas tanaman tersebut.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Walaupun kedua bahan tersebut sama sama memiliki potensi yang baik sebagai bahan pangan, menggabungkannya bukan perkara mudah. Penambahan jahe dalam jumlah yang terlalu sedikit mungkin tidak mampu memperbaiki cita rasa minuman. Sebaliknya, penambahan yang terlalu banyak dapat membuat rasa menjadi terlalu kuat dan mengubah karakteristik fisik produk. Selain itu, lama proses pengeringan juga berpengaruh terhadap kadar air, warna, serta kualitas akhir minuman bubuk. Pengeringan yang terlalu singkat dapat menyebabkan kadar air masih tinggi sehingga produk lebih cepat rusak. Sebaliknya, pengeringan yang terlalu lama dapat meningkatkan biaya produksi dan berpotensi memengaruhi kualitas bahan.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti merancang percobaan menggunakan tiga komposisi daun kelor dan jahe. Formulasi pertama menggunakan delapan puluh persen daun kelor dan dua puluh persen jahe. Formulasi kedua menggunakan delapan puluh lima persen daun kelor dan lima belas persen jahe. Formulasi ketiga menggunakan sembilan puluh persen daun kelor dan sepuluh persen jahe. Ketiga formulasi tersebut kemudian diproses menggunakan tiga lama pengeringan yang berbeda, yaitu tiga jam, empat jam, dan lima jam. Dengan cara tersebut, peneliti dapat mengetahui apakah perubahan komposisi bahan dan waktu pengeringan memberikan pengaruh terhadap kualitas produk yang dihasilkan.

Setelah seluruh sampel selesai diproses, peneliti melakukan berbagai pengujian laboratorium. Mereka mengukur kadar air, kadar abu, aktivitas antioksidan, total padatan terlarut, profil warna, serta melakukan uji sensoris yang melibatkan panelis. Pengujian sensoris bertujuan mengetahui bagaimana penilaian manusia terhadap warna, aroma, dan rasa produk. Langkah ini sangat penting karena produk pangan yang memiliki nilai laboratorium yang baik belum tentu disukai oleh konsumen.

Salah satu parameter yang mendapat perhatian utama adalah kadar air. Nilai ini sangat menentukan masa simpan suatu produk pangan. Produk dengan kadar air yang tinggi lebih mudah ditumbuhi jamur, bakteri, maupun mikroorganisme lain sehingga lebih cepat mengalami penurunan mutu. Sebaliknya, kadar air yang terlalu rendah juga tidak selalu menguntungkan karena membutuhkan proses pengeringan yang lebih lama sehingga biaya produksi meningkat. Penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi jahe dan lama pengeringan memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air. Artinya, kedua faktor tersebut harus dipertimbangkan secara bersamaan apabila produsen ingin menghasilkan minuman bubuk dengan daya simpan yang baik.

Peneliti juga mengevaluasi total padatan terlarut. Parameter ini menggambarkan jumlah komponen yang dapat larut ketika bubuk diseduh menggunakan air. Nilai tersebut memengaruhi karakteristik minuman, seperti kekentalan, cita rasa, dan sensasi ketika diminum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan proporsi jahe dan lama pengeringan juga memengaruhi total padatan terlarut. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan kecil pada formulasi dapat menghasilkan pengalaman minum yang berbeda meskipun bahan baku yang digunakan tetap sama.

Selain kadar air dan total padatan terlarut, penelitian juga menilai profil warna produk. Warna merupakan salah satu faktor pertama yang dilihat konsumen sebelum memutuskan membeli suatu produk. Peneliti menemukan bahwa kombinasi proporsi jahe dan lama pengeringan memengaruhi tingkat kecerahan serta kecenderungan warna merah pada bubuk minuman. Perubahan tersebut kemungkinan berkaitan dengan kandungan pigmen alami pada daun kelor dan jahe serta reaksi kimia yang terjadi selama proses pengeringan. Meskipun demikian, perubahan warna tidak selalu menunjukkan kualitas yang lebih baik karena selera setiap konsumen dapat berbeda.

Menariknya, tidak semua parameter mengalami perubahan yang berarti. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan tidak berbeda secara signifikan pada berbagai kombinasi perlakuan yang diuji. Aroma produk juga tidak mengalami perubahan yang bermakna. Temuan ini menunjukkan bahwa variasi komposisi jahe antara sepuluh hingga dua puluh persen serta lama pengeringan antara tiga hingga lima jam belum memberikan pengaruh besar terhadap kedua parameter tersebut. Informasi ini cukup penting bagi industri karena produsen memiliki keleluasaan mengatur formulasi tanpa harus khawatir kehilangan aktivitas antioksidan maupun aroma secara drastis dalam rentang kondisi yang diteliti.

Selain melakukan pengujian laboratorium, peneliti juga meminta panelis mengevaluasi warna, aroma, dan rasa setiap sampel. Penilaian sensoris membantu menentukan apakah produk yang memiliki karakteristik laboratorium yang baik juga dapat diterima oleh konsumen. Berdasarkan seluruh hasil pengujian, peneliti menyimpulkan bahwa kombinasi terbaik diperoleh pada formulasi delapan puluh lima persen daun kelor dan lima belas persen jahe dengan lama pengeringan empat jam. Formulasi tersebut menghasilkan kadar air sekitar sepuluh koma sembilan puluh satu persen, total padatan terlarut yang baik, warna yang menarik, serta tingkat penerimaan panelis yang paling seimbang dibandingkan formulasi lainnya.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa penelitian mengoptimalkan kualitas bubuk campuran daun kelor dan jahe dengan mengatur perbandingan bahan serta lama pengeringan untuk menghasilkan produk bernilai gizi dan mutu yang lebih baik.

Banyak produsen menentukan formulasi hanya berdasarkan pengalaman atau kebiasaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan ilmiah mampu membantu menemukan kombinasi bahan dan proses produksi yang lebih optimal. Dengan memilih komposisi yang tepat dan waktu pengeringan yang sesuai, produsen dapat menghasilkan produk yang lebih konsisten kualitasnya serta memiliki peluang lebih besar diterima oleh konsumen.

Walaupun demikian, masyarakat perlu memahami keterbatasan penelitian ini. Penelitian hanya mengevaluasi kualitas fisik, kimia, dan sensoris produk minuman bubuk. Penelitian tidak menguji apakah minuman tersebut mampu meningkatkan kesehatan atau memberikan manfaat tertentu setelah dikonsumsi manusia. Aktivitas antioksidan yang diukur di laboratorium juga tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai manfaat kesehatan di dalam tubuh. Selain itu, penelitian hanya menggunakan beberapa variasi komposisi dan lama pengeringan sehingga masih banyak kemungkinan formulasi lain yang dapat menghasilkan karakteristik berbeda. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengevaluasi masa simpan produk, keamanan pangan, kandungan gizi setelah penyeduhan, serta manfaat biologisnya melalui penelitian pada hewan maupun uji klinis pada manusia.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa menghasilkan minuman bubuk kelor dan jahe yang berkualitas memerlukan keseimbangan antara komposisi bahan dan proses pengeringan. Formulasi dengan delapan puluh lima persen daun kelor, lima belas persen jahe, dan waktu pengeringan selama empat jam memberikan hasil paling baik berdasarkan parameter yang dievaluasi. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan produk minuman herbal yang lebih berkualitas dan lebih konsisten. Namun hasil tersebut sebaiknya dipahami sebagai penelitian optimasi formulasi produk pangan, bukan sebagai bukti bahwa minuman kelor dan jahe memiliki manfaat kesehatan tertentu bagi manusia. Penelitian lanjutan tetap diperlukan agar potensi produk ini dapat dipahami secara lebih menyeluruh.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Karunia, Asti Risfa dkk. 2026. Optimizing Moringa-ginger powder: Proportions and drying time findings. AIP Conference Proceedings 3337 (1), 070003.

Maratus Sholikah
TENTANG PENULIS

Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Negara lain berlomba membelah atom. Kita berlomba membelah anggaran untuk kopdes dan dapur MBG. Ada typo, Sinkroton bukan sinklotron #sainstertinggal

Negara lain berlomba membelah atom. Kita berlomba membelah anggaran untuk kopdes dan dapur MBG. Ada typo, Sinkroton bukan sinklotron #sainstertinggal

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung…▧ Carousel

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung jawab antarwilayah.…