Para ilmuwan sedang dalam kondisi siaga tinggi setelah menemukan ancaman besar di Antartika yang berpotensi mengubah lanskap benua itu secara drastis dan menyebabkan kenaikan permukaan laut secara global. Ancaman ini diibaratkan sebagai “bom waktu” karena dampaknya yang bisa terjadi dalam skala besar dan sulit dihentikan.
Berdasarkan penelitian terbaru, terdapat lebih dari 100 gunung berapi yang tersembunyi di bawah Lapisan Es Antartika Barat. Kawasan ini sangat rentan mengalami keruntuhan karena posisi es yang berada di atas zona vulkanik aktif. Namun, hingga kini, peran aktivitas vulkanik dalam mempercepat mencairnya es masih jarang menjadi fokus utama penelitian.
Para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim, yang meningkatkan suhu global, menyebabkan lapisan es di Antartika mencair lebih cepat. Hal ini dapat memicu peningkatan aktivitas vulkanik di bawahnya, yang pada gilirannya akan semakin mempercepat pencairan es. Fenomena ini menciptakan siklus yang saling memperkuat, dikenal sebagai “lingkaran umpan balik positif,” di mana pencairan es dan aktivitas vulkanik saling mempengaruhi dan memperburuk kondisi secara terus-menerus. Jika dibiarkan, proses ini dapat memicu kenaikan permukaan laut yang lebih besar, membahayakan wilayah pesisir di seluruh dunia.
Baca juga artikel tentang: Perjalanan Panjang Riset Gunung Padang: 15 Tahun untuk Menemukan Bukti Peradaban Tertua
Ketika lapisan es mencair, tekanan yang selama ini diberikan es pada permukaan bumi berkurang. Hal ini memicu efek pengangkatan di bawah permukaan, di mana tanah yang sebelumnya tertekan mulai naik kembali. Fenomena ini tidak hanya mengubah lanskap geologi, tetapi juga mempengaruhi aktivitas gunung berapi di bawah lapisan es.
Ketika tekanan di permukaan berkurang, ruang magma yang berada jauh di dalam tanah memiliki lebih banyak ruang untuk mengembang. Hal ini meningkatkan tekanan pada dinding ruang magma dan menyebabkan gas-gas yang terperangkap di dalamnya, seperti uap air dan karbon dioksida, mulai keluar dalam bentuk gelembung. Pelepasan gas ini dapat memicu peningkatan tekanan yang pada akhirnya menyebabkan letusan gunung berapi.
Letusan ini kemudian mempercepat pencairan es di permukaan, yang pada gilirannya semakin mengurangi tekanan dan memperbesar kemungkinan letusan berikutnya. Dengan kata lain, terjadi siklus umpan balik di mana pencairan es memicu letusan vulkanik, dan letusan tersebut kembali mempercepat pencairan.
Para ilmuwan telah memodelkan fenomena ini dengan menjalankan lebih dari 4.000 simulasi komputer canggih. Hasilnya menunjukkan bahwa pencairan lapisan es dapat mempercepat proses yang memicu letusan gunung berapi dalam rentang waktu puluhan hingga ratusan tahun. Dalam salah satu skenario simulasi, mereka menghapus lapisan es setebal 900 meter selama 300 tahun—sebuah skenario yang masih dianggap sebagai pencairan “sedang” untuk Antartika Barat. Hasilnya, terjadi peningkatan signifikan dalam aktivitas vulkanik dan besarnya letusan.
Beberapa ruang magma di bawah permukaan melepaskan panas dalam jumlah besar, cukup untuk mencairkan lebih dari 900 meter kubik es setiap tahunnya. Meskipun letusan di Antartika tidak langsung membahayakan manusia karena wilayah ini hampir tidak berpenghuni, dampaknya dapat dirasakan secara global. Pencairan yang dipercepat oleh aktivitas vulkanik dapat meningkatkan permukaan laut, mengancam kota-kota pesisir di seluruh dunia.
Jika lapisan es Antartika Barat runtuh sepenuhnya, permukaan laut bisa naik hingga 57 meter, menenggelamkan kota-kota besar seperti New York, Tokyo, dan Shanghai. Namun, para ilmuwan memperkirakan bahwa skenario ekstrem ini masih jauh di masa depan. Berdasarkan prediksi saat ini, lapisan es ini mungkin baru akan mengalami kehancuran besar pada tahun 2300, memberikan manusia sekitar 275 tahun untuk mencari cara memperlambat proses tersebut.
Namun, ada satu faktor yang belum sepenuhnya diperhitungkan dalam model prediksi ini—yaitu siklus umpan balik antara pencairan es dan aktivitas vulkanik. Jika faktor ini ternyata lebih besar dari yang diperkirakan, maka kehancuran lapisan es dapat terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami seberapa besar peran aktivitas vulkanik dalam percepatan pencairan es.
Simulasi Letusan Gunung Berapi dan Dampaknya
Para ilmuwan menggunakan model simulasi untuk memahami bagaimana perubahan tekanan di ruang magma akibat pencairan es dapat memicu letusan gunung berapi. Mereka menemukan bahwa ada dua mekanisme utama yang dapat meningkatkan kemungkinan letusan:
- Ekspansi Ruang Magma
Saat lapisan es mencair dan tekanan berkurang, ruang magma mengembang. Ekspansi ini menekan dinding ruang magma, meningkatkan kemungkinan magma meletus ke permukaan. - Pelepasan Gas Vulkanik
Banyak ruang magma mengandung gas-gas seperti uap air dan karbon dioksida, yang tetap terlarut dalam magma saat tekanan tinggi. Ketika tekanan berkurang akibat pencairan es, gas-gas ini keluar dalam bentuk gelembung, menyebabkan tekanan di dalam ruang magma meningkat secara tiba-tiba dan meningkatkan risiko letusan.
Bahkan jika letusan ini tidak sampai menembus permukaan bumi, panas yang dilepaskannya cukup untuk mencairkan es di sekitarnya. Ini menciptakan siklus berkelanjutan di mana letusan kecil mempercepat pencairan es, yang kemudian semakin mempercepat letusan berikutnya.
Fenomena ini bukan hanya sekadar teori. Bukti nyata telah ditemukan dalam penelitian terhadap pegunungan Andes di Amerika Selatan. Di sana, para ilmuwan menemukan bahwa lapisan es Patagonia yang terbentuk 18.000 hingga 35.000 tahun lalu berada di atas zona vulkanik aktif. Dengan menggunakan data geokronologi dari dua siklus glasial terakhir, mereka mengidentifikasi hubungan langsung antara pencairan es dan peningkatan letusan tiga gunung berapi yang berada di bawahnya.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Geochemistry, Geophysics, Geosystems ini menyoroti bahwa proses ini berlangsung dalam skala waktu yang sangat panjang, yaitu ratusan tahun. Artinya, bahkan jika manusia berhasil memperlambat perubahan iklim, efek pencairan yang sudah terjadi saat ini dapat terus memicu letusan gunung berapi di masa depan. Ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim bukan hanya mencairkan es, tetapi juga dapat mengaktifkan kembali kekuatan geologi yang selama ini tertidur.
Baca juga artikel tentang: Gunung Es Tertua di Dunia Berpindah Tempat, Apa Risiko yang Mengintai?
REFERENSI:
Akker, Tim van den dkk. 2025. Present-day mass loss rates are a precursor for West Antarctic Ice Sheet collapse. The Cryosphere 19 (1), 283-301.
Small, David. 2025. A pre-Pliocene origin of the glacial trimline in the Ellsworth Mountains and the prevalence of old landscapes at high elevations in West Antarctica. Geomorphology, 109634.
Zou, Huiling. 2025. Plausible last interglacial Antarctic ice sheet changes do not fully explain Antarctic ice core water isotope records. Geophysical Research Letters 52 (1), e2024GL110657.

