Anak dan remaja selalu menjadi kelompok yang paling rentan ketika bencana alam menghantam sebuah wilayah. Mereka kehilangan rasa aman, melihat kerusakan di sekitar mereka, mendengar cerita tentang bahaya, dan terkadang mengalami kehilangan orang terdekat. Bencana bukan hanya meruntuhkan bangunan dan jalan. Bencana juga mengguncang batin manusia yang mengalaminya. Inilah yang terjadi pada anak anak dan remaja di Joshimath, sebuah kota di negara bagian Uttarakhand, India.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Sudhanshu Negi dan rekan rekan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana bencana alam dapat meninggalkan luka psikologis mendalam pada generasi muda. Penelitian ini terbit dalam buku Managing the Health Risks of Climate Change dan fokus pada dampak bencana terhadap kesehatan mental anak usia dua belas hingga delapan belas tahun. Para peneliti memilih Joshimath sebagai lokasi penelitian karena daerah ini mengalami bencana besar yang memengaruhi banyak sekolah dan keluarga.
Baca juga artikel tentang: Bumi Terancam! Asteroid Bennu Bisa Sebabkan Bencana Global seperti Kiamat
Penelitian melibatkan dua ratus delapan puluh siswa dari beberapa sekolah yang terdampak bencana. Mereka berasal dari lingkungan yang berbeda, tetapi memiliki pengalaman sama yaitu hidup di tengah ancaman bencana. Para siswa terdiri dari seratus enam belas anak laki laki dan seratus enam puluh empat anak perempuan. Mereka diminta mengikuti berbagai asesmen psikologis yang membantu peneliti memahami bagaimana bencana mempengaruhi kondisi emosional dan perilaku mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bencana alam meningkatkan gangguan psikologis pada anak dan remaja. Salah satu dampak yang paling sering muncul yaitu kecemasan yang terkait dengan kematian. Anak anak mulai merasa bahwa kehidupan mereka rapuh. Mereka takut sesuatu yang buruk dapat terjadi kapan saja. Ketakutan semacam ini mengganggu kemampuan mereka untuk berkonsentrasi di sekolah, bersosialisasi, dan tidur dengan tenang.
Para peneliti juga menemukan prevalensi tinggi gangguan stres pascatrauma atau PTSD. Gangguan ini sering muncul setelah seseorang mengalami kejadian yang sangat menakutkan. Anak anak dengan PTSD mungkin mengalami mimpi buruk, kilas balik peristiwa traumatis, atau merasa cemas tanpa alasan yang jelas. Mereka bisa menjadi cepat marah, menarik diri dari lingkungan, atau tampak selalu tegang. Semua ini menandakan bahwa trauma bencana tidak berakhir ketika air surut atau ketika gempa berhenti.
Penelitian juga mencatat adanya peningkatan masalah psikologis lain seperti gangguan suasana hati, masalah perilaku, dan kecenderungan untuk merasa tertekan. Kehidupan sehari hari anak anak menjadi lebih sulit. Mereka tidak lagi merasa yakin dengan masa depan. Mereka mudah merasa khawatir terhadap hal hal kecil dan sulit membangun kembali rutinitas yang stabil.
Dampak ini tidak hanya mempengaruhi kehidupan pribadi. Dampak ini juga mengganggu proses belajar. Anak anak yang mengalami trauma sering mengalami penurunan motivasi, sulit mengikuti pelajaran, dan kehilangan minat terhadap kegiatan ekstrakurikuler. Pada tahap tumbuh kembang penting seperti masa remaja, gangguan ini dapat mempengaruhi perkembangan otak, pembentukan karakter, serta kemampuan mereka untuk membangun hubungan sosial yang sehat.
Para peneliti menekankan bahwa dampak psikologis ini tidak boleh diabaikan. Bencana alam bukan hanya urusan bangunan rusak atau logistik bantuan. Bencana juga menjadi masalah kesehatan mental yang memerlukan perhatian jangka panjang. Anak dan remaja yang mengalami trauma membutuhkan pendampingan yang berkesinambungan agar mereka bisa pulih dan menemukan kembali rasa aman.
Penelitian ini memberikan pesan penting kepada pembuat kebijakan. Mereka perlu mengembangkan program intervensi dan pencegahan yang fokus pada kesehatan mental anak dan remaja setelah bencana. Pemerintah, sekolah, dan organisasi kemanusiaan perlu bekerja sama menyediakan layanan konseling, ruang aman untuk bercerita, serta kegiatan psikososial yang membantu anak mengelola emosi mereka. Upaya ini tidak boleh dilakukan sesekali. Upaya ini perlu menjadi bagian dari sistem penanganan bencana yang lebih luas.
Peran sekolah juga sangat penting. Guru dan staf sekolah perlu mendapatkan pelatihan untuk mengenali tanda tanda trauma pada siswa. Mereka dapat membantu anak mengatasi kecemasan melalui pendekatan yang empatik dan responsif. Mereka juga bisa menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pemulihan psikologis. Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar akademis. Sekolah juga menjadi ruang pemulihan emosional bagi anak setelah bencana.
Keluarga memegang peran sama pentingnya. Orang tua dapat membantu anak pulih dengan memberikan dukungan emosional yang stabil. Mereka bisa mengajak anak berbicara tentang perasaan mereka, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan kepastian bahwa keluarga akan berusaha tetap aman bersama. Ketika anak merasakan kasih sayang dan keamanan dari keluarga, pemulihan mereka bisa berjalan lebih cepat.
Masyarakat luas juga perlu memahami bahwa kesehatan mental bukan sesuatu yang tabu. Bencana alam menciptakan tekanan luar biasa bagi semua orang. Masyarakat dapat memberikan dukungan sosial dengan saling membantu, menciptakan ruang berbagi pengalaman, serta mengurangi stigma terhadap masalah psikologis.
Penelitian di Joshimath memberikan gambaran nyata tentang dampak jangka panjang bencana terhadap generasi muda. Anak anak dan remaja membutuhkan perhatian yang lebih besar, bukan hanya pada saat bencana terjadi, tetapi juga dalam bulan bahkan tahun setelahnya. Trauma tidak hilang dengan cepat. Trauma membutuhkan waktu dan dukungan untuk pulih.
Pemahaman ini menjadi semakin penting ketika perubahan iklim membuat bencana alam semakin sering terjadi. Generasi muda hidup dalam dunia yang semakin rentan terhadap gempa, banjir, longsor, dan badai. Jika mereka terus menerus terpapar bencana tanpa dukungan psikologis yang memadai, dampaknya dapat mempengaruhi masa depan mereka dan masa depan masyarakat secara keseluruhan.
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya menuntut infrastruktur yang kuat. Pembangunan juga menuntut masyarakat yang sehat secara mental. Ketika anak anak memiliki ketahanan psikologis yang baik, mereka dapat tumbuh menjadi individu yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
Baca juga artikel tentang: Farmasi dalam Bencana: Peran Apoteker saat Krisis Kesehatan Global
REFERENSI:
Negi, Sudhanshu dkk. 2025. Natural disaster: prevalence of post-traumatic stress and psychological outcome of survivors in Joshimath, Uttarakhand, India. Managing the Health Risks of Climate Change, 107-134.

