Budaya populer selalu memengaruhi cara orang melihat dunia nyata. Dalam komik superhero, tokoh ilmuwan memiliki posisi yang unik karena mereka bisa muncul sebagai penyelamat atau justru sebagai ancaman. Penelitian terbaru oleh Alessandro Muscio dan Matteo Farinella menunjukkan bahwa cara komik DC dan Marvel menggambarkan ilmuwan ternyata dapat membentuk opini publik tentang sains. Melihat bagaimana komik menghidupkan sosok ilmuwan membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar, yaitu bagaimana masyarakat sebenarnya memahami sains dan hubungan manusia dengan teknologi.
Superhero menjadi bagian penting dalam kultur modern karena menjangkau audiens yang sangat luas. Cerita superhero tidak hanya hadir dalam komik, tetapi juga dalam film, serial, mainan dan berbagai produk budaya lainnya. Hal ini membuat komik menjadi media yang sangat berpengaruh dalam membentuk persepsi tentang profesi tertentu termasuk profesi ilmuwan. Ketika banyak orang mengenal ilmuwan dari komik atau film, gambaran yang muncul bisa sangat menentukan bagaimana sains dipahami oleh generasi muda hingga orang dewasa.
Baca juga artikel tentang: Efek Psikologis dari Balasan Singkat: Ketika “Oke” Menjadi Sumber Stres Sosial Digital
Salah satu gambaran paling populer adalah stereotipe ilmuwan gila. Tokoh ini dikenal sebagai seseorang yang sangat jenius tetapi tidak stabil secara emosional. Ilmuwan gila biasanya digambarkan memiliki obsesi pada eksperimen rahasia dan memilih mengorbankan nilai moral demi mencapai tujuan. Gambaran seperti ini sering muncul dalam komik sebagai lawan dari superhero utama. Contoh paling mudah adalah karakter yang menciptakan teknologi berbahaya, melakukan mutasi biologis atau memicu kehancuran besar demi memperoleh kekuasaan.
Stereotipe ilmuwan gila sebenarnya sudah ada sejak lama. Cerita fiksi ilmiah dari abad kesembilan belas seperti Frankenstein ikut membentuk gambaran bahwa pengetahuan yang tidak terkendali bisa menjadi ancaman. Namun penelitian Muscio dan Farinella menekankan bahwa komik superhero modern membuat stereotipe ini semakin kuat. Hal ini terjadi karena komik sering memilih konflik yang jelas yaitu pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Ilmuwan sebagai penjahat memberikan cerita yang mudah dipahami dan sangat dramatis.

Namun tidak semua ilmuwan dalam komik digambarkan sebagai ancaman. Banyak juga ilmuwan yang tampil sebagai pahlawan. Tokoh seperti Tony Stark atau Bruce Banner menunjukkan bahwa kemampuan ilmiah dapat menjadi kekuatan luar biasa yang membantu menyelamatkan dunia. Ilmuwan tipe pahlawan biasanya digambarkan memiliki kecerdasan tinggi, pemahanan teknologi tingkat lanjut dan motivasi moral yang kuat. Mereka menggunakan sains sebagai alat untuk melindungi manusia, bukan untuk menguasainya.
Dua gambaran ini yaitu ilmuwan sebagai pahlawan atau sebagai penjahat menciptakan pemahaman yang sangat berpengaruh. Ketika ilmuwan tampil sebagai pahlawan, masyarakat melihat sains sebagai kekuatan positif. Teknologi dianggap mampu memberikan solusi bagi banyak masalah. Hal ini dapat memicu ketertarikan anak muda pada dunia riset dan teknologi. Namun ketika ilmuwan digambarkan sebagai ancaman, masyarakat bisa melihat sains sebagai sesuatu yang berbahaya. Gambaran tersebut memicu kecurigaan pada penelitian serta menciptakan ketakutan terhadap teknologi baru.
Komik superhero menjadi media yang menarik untuk dikaji karena lebih dari sekadar hiburan. Cerita komik merupakan refleksi dari ketakutan dan harapan masyarakat. Ketika masyarakat merasa optimis terhadap kemajuan teknologi, ilmuwan dalam komik cenderung digambarkan sebagai pahlawan. Namun ketika muncul kecemasan terhadap perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau rekayasa genetika, komik sering memilih menampilkan ilmuwan sebagai sosok yang tidak terkendali.
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah kenyataan bahwa komik jarang menggambarkan ilmuwan secara realistis. Ilmuwan dalam kehidupan nyata bekerja dalam tim dan harus mengikuti prosedur ketat. Mereka jarang bekerja sendirian dan sangat jarang membuat penemuan besar secara tiba tiba. Namun komik membutuhkan dramatisasi sehingga memilih menggambarkan ilmuwan sebagai sosok jenius tunggal yang bisa menciptakan teknologi luar biasa hanya dalam waktu singkat. Gambaran seperti ini dapat menimbulkan salah persepsi tentang bagaimana sains bekerja.
Ketika masyarakat percaya bahwa ilmuwan bekerja secara individual, muncul harapan yang tidak realistis tentang inovasi. Banyak orang kemudian menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk para ilmuwan. Bahkan ketika mereka tidak mampu menyediakan solusi instan, kekecewaan publik dapat menjadi besar. Hal ini menegaskan perlunya edukasi yang lebih akurat tentang proses penelitian dan pentingnya kolaborasi dalam dunia sains.
Muscio dan Farinella juga mengungkap bahwa komik menjadi sumber daya yang sangat berharga bagi peneliti yang mempelajari komunikasi sains. Komik memiliki kemampuan menyampaikan konsep kompleks dengan cara yang mudah dipahami. Kombinasi gambar dan teks membuat pesan tentang sains lebih menarik dan mudah dicerna. Komik yang menampilkan ilmuwan sebagai pahlawan terbukti dapat meningkatkan minat anak anak terhadap sains. Banyak program pendidikan kini menggunakan komik sebagai alat untuk memperkenalkan konsep ilmiah.
Namun para peneliti juga memperingatkan bahwa komik dapat memperkuat bias negatif jika tidak hati hati. Misalnya, jika terlalu banyak komik menampilkan ilmuwan sebagai penjahat, anak muda bisa mengembangkan pandangan bahwa sains identik dengan bahaya. Maka diperlukan keseimbangan dalam representasi ilmuwan. Komik sebaiknya menunjukkan bahwa ilmuwan adalah manusia biasa dengan kekuatan dan kelemahan, bukan semata pahlawan atau penjahat.
Budaya populer akan terus memengaruhi cara masyarakat memahami sains. Peran ilmuwan dalam komik menjadi contoh menarik tentang bagaimana hiburan dapat membentuk persepsi kolektif. Penelitian mengenai hal ini membantu kita melihat bahwa representasi ilmuwan bukan sekadar pilihan artistik tetapi juga keputusan yang bisa membawa dampak panjang. Dengan memahami hal tersebut, kita dapat membangun komunikasi sains yang lebih bijak dan seimbang.
Komik superhero tidak akan kehilangan popularitasnya dalam waktu dekat. Oleh karena itu penting untuk memahami bagaimana narasi tentang ilmuwan dalam komik dapat membentuk masa depan persepsi masyarakat tentang sains. Apakah ilmuwan akan dilihat sebagai penyelamat atau sebagai ancaman akan bergantung pada bagaimana media terus menggambarkan mereka. Penelitian seperti ini memberikan peluang untuk menciptakan representasi ilmuwan yang lebih adil sekaligus lebih mendidik.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kita Suka Mendengarkan Lagu Sedih Saat Galau? Jawaban dari Psikologi, Biologi, dan Ilmu Otak
REFERENSI:
Muscio, Alessandro & Farinella, Matteo. 2025. Are scientists heroes or villains? The fascinating case of DC and Marvel superheroes comics. Technology in Society 82, 102895.

