Fenomena Parricide yang Semakin Mengkhawatirkan dan Kaitannya dengan Gangguan Mental

Parricide adalah tindakan pembunuhan terhadap orang tua oleh anaknya, dan termasuk ke dalam kategori fenomena langka. Meski demikian, parricide sering kali berkaitan dengan gangguan mental, terutama pada pelaku dewasa.

parricide dan gangguan mental

Parricide adalah tindakan pembunuhan terhadap orang tua oleh anaknya, dan termasuk ke dalam kategori fenomena langka. Meski demikian, parricide sering kali berkaitan dengan gangguan mental, terutama pada pelaku dewasa. Kata parricide berasal dari bahasa Latin parricida, yang terdiri dari dua akar kata:

  1. “Parri-“ atau “parens”, yang berarti orang tua, mencakup ayah dan ibu.
  2. “-cide”, yang berasal dari kata Latin caedere, yang berarti membunuh atau menghabisi.

Gabungan ini secara harfiah merujuk pada tindakan membunuh orang tua (ayah atau ibu). Dalam konteks historis, istilah parricide juga kadang digunakan secara lebih luas untuk menggambarkan pembunuhan terhadap anggota keluarga atau figur yang memiliki otoritas paternal.

Secara linguistik, istilah parricide telah digunakan sejak zaman Romawi untuk menggambarkan kejahatan berat yang sering kali disertai dengan hukuman ekstrem karena dianggap sebagai pelanggaran moral yang sangat serius. Dalam hukum modern, istilah ini tetap digunakan untuk mendeskripsikan pembunuhan orang tua oleh anaknya, namun sering kali dianalisis bersamaan dengan faktor-faktor psikologis dan sosial yang memengaruhi pelaku, seperti trauma atau gangguan mental.

Profil Pelaku Parricide

Menurut penelitian, pelaku parricide cenderung memiliki karakteristik tertentu. Sebagian besar adalah pria, tidak menikah, dan tinggal bersama orang tua mereka. Pelaku sering kali berusia antara 23 hingga 32 tahun, dan lebih jarang memiliki riwayat kejahatan panjang daripada pelaku pembunuhan lainnya. Salah satu faktor penting yang muncul adalah prevalensi tinggi gangguan mental, khususnya skizofrenia. Sebanyak 33% pelaku parricide memiliki diagnosis skizofrenia, dan sekitar 28% dari mereka telah berhubungan dengan layanan kesehatan mental sebelum melakukan kejahatan.

Tipologi Pelaku Berdasarkan Gangguan Mental

Penelitian yang menggunakan analisis data terhadap pelaku parricide di Inggris dan Wales menunjukkan tiga kelompok utama berdasarkan tipologi yang dikembangkan dari analisis data:

  1. Severely Mentally Ill (Gangguan Mental Berat)
    Kategori ini melibatkan pelaku yang hampir seluruhnya didiagnosis dengan skizofrenia atau gangguan delusi. Sebagian besar pelaku dalam kategori ini menganggur dan sangat tergantung pada dukungan keluarga, baik secara emosional maupun finansial. Konflik hubungan dengan anggota keluarga sering menjadi pemicu utama tindakan parricide.
  2. Previously Abused (Pernah Menjadi Korban Kekerasan)
    Pelaku dalam kelompok ini seringkali memiliki riwayat kekerasan fisik atau emosional oleh orang tua. Mereka cenderung lebih muda (di bawah usia 25 tahun) dan sering membunuh ayah kandung atau ayah tiri. Selain itu, banyak dari mereka memiliki masalah penyalahgunaan alkohol atau narkoba, yang kemungkinan digunakan untuk “melumpuhkan” trauma yang dialami.
  3. Middle-aged with Affective Disorder (Usia Paruh Baya dengan Gangguan Afektif)
    Pelaku dalam kategori ini cenderung berusia 45–64 tahun, dengan diagnosis gangguan afektif seperti depresi berat. Banyak dari mereka mengalami tekanan besar akibat tanggung jawab sebagai pengasuh bagi orang tua yang menua. Tanggung jawab ini seringkali memperburuk kondisi mental mereka, memicu tindakan parricide.

Peran Gangguan Mental

Sebagai fenomena yang terkait erat dengan kesehatan mental, parricide sering kali terjadi karena krisis mental yang parah. Dalam banyak kasus, pelaku menunjukkan tanda-tanda gangguan mental sebelum kejadian, tetapi kesempatan intervensi sering kali terlewatkan. Hampir setengah dari pelaku dengan skizofrenia sudah pernah berhubungan dengan layanan kesehatan mental dalam satu tahun sebelum pembunuhan.

Pencegahan dan Dukungan

Pencegahan parricide memerlukan pendekatan holistik yang mencakup kesehatan mental dan dukungan sosial. Edukasi kepada keluarga tentang tanda-tanda awal gangguan mental yang memburuk sangat penting. Selain itu, pendekatan yang terstruktur seperti pelibatan aktif layanan kesehatan mental, pengolahan trauma, dan dukungan psikoterapi bagi pengasuh dapat membantu mengurangi risiko.

Secara keseluruhan, memahami hubungan antara fenomena ini dengan gangguan mental memberikan wawasan penting untuk intervensi dan pencegahan. Melalui identifikasi awal masalah kesehatan mental dan pengelolaan stres dalam hubungan keluarga, risiko terjadinya parricide dapat diminimalkan.

Analisis Kasus Parricide Berdasarkan Data Empiris 24 Tahun

Parricide merupakan fenomena yang jarang terjadi namun sangat serius. Penelitian oleh Kathleen M. Heide dan Thomas A. Petee, berdasarkan analisis 24 tahun data Amerika Serikat (1976–1999), memberikan wawasan mendalam tentang karakteristik pelaku, korban, dan konteks insiden parricide​.

Profil Pelaku dan Korban Parricide

Sebagian besar pelaku parricide adalah laki-laki (87% dalam kasus pembunuhan ayah dan 84% dalam kasus pembunuhan ibu). Usia rata-rata pelaku yang membunuh ayah adalah 25 tahun, sementara untuk pelaku yang membunuh ibu rata-rata usia adalah 30 tahun. Dalam hal ras, mayoritas pelaku dan korban adalah kulit putih (sekitar 68% dalam kasus pembunuhan ayah dan 75% dalam kasus pembunuhan ibu)​.

Korban parricide umumnya adalah orang tua yang lebih tua, dengan rata-rata usia ayah yang dibunuh adalah 55 tahun, dan ibu adalah 58 tahun. Pembunuhan terhadap ibu lebih sering dilakukan oleh pelaku berusia lebih tua daripada pembunuhan terhadap ayah, yang sebagian besar dilakukan oleh pelaku berusia di bawah 30 tahun​.

Faktor Pemicu dan Konteks

Analisis data menunjukkan bahwa lebih dari 80% insiden parricide dipicu oleh argumen atau konflik keluarga, yang sering kali tidak terkait dengan kejahatan berat seperti perampokan. Misalnya, kasus sering melibatkan argumen umum atau perselisihan tentang uang dan properti. Selain itu, insiden yang dipicu oleh alkohol juga tercatat meskipun dalam persentase yang lebih kecil​.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa keterlibatan remaja dalam parricide cukup signifikan, meskipun mayoritas pelaku adalah orang dewasa. Remaja di bawah 18 tahun terlibat dalam 25% kasus pembunuhan ayah dan 17% kasus pembunuhan ibu. Jika kelompok usia diperluas hingga 19 tahun, angka tersebut meningkat menjadi lebih dari sepertiga kasus pembunuhan ayah dan seperempat kasus pembunuhan ibu.

Perbandingan dengan Studi Sebelumnya

Penelitian ini membandingkan temuan dari data 24 tahun dengan studi sebelumnya yang hanya mencakup 10 tahun data. Hasilnya menunjukkan konsistensi yang luar biasa dalam pola pelaku dan korban, serta dalam konteks insiden parricide. Fakta ini menegaskan bahwa karakteristik utama parricide tetap stabil dari waktu ke waktu, meskipun ada perubahan sosial yang lebih luas​.

Namun, terdapat perbedaan dalam tren keterlibatan remaja. Dalam studi sebelumnya, tidak ditemukan peningkatan signifikan dalam keterlibatan remaja, sedangkan dalam analisis 24 tahun, keterlibatan remaja lebih tinggi pada periode awal (1976–1981) daripada periode-periode berikutnya​.

Implikasi dan Pencegahan

Data ini menunjukkan bahwa setidaknya separuh insiden parricide berasal dari konflik yang dapat dikelola. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus berfokus pada pembelajaran keterampilan manajemen emosi, komunikasi yang efektif, dan penguatan hubungan keluarga. Selain itu, perhatian khusus harus diberikan pada pelaku muda, mengingat keterlibatan remaja yang cukup signifikan dalam kasus-kasus ini​.

Referensi

Bojanić, et al. 2020. The typology of parricide and the role of mental illness: Data-driven approach. Diakses pada 17 Desember 2024 dari https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/ab.21906 

Heide, K. M. and Petee, T. A. 2007. Parricide: An Empirical Analysis of 24 Years of U.S. Data. Diakses pada 17 Desember 2024 dari https://www.researchgate.net/publication/5920326_Parricide_An_Empirical_Analysis_of_24_Years_of_US_Data 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top