Autisme telah lama menjadi salah satu misteri paling kompleks di dunia sains saraf.
Namun, di tengah kemajuan penelitian genetik dan neurobiologis, isu ini kerap terseret ke ranah politik dan opini publik. Awal 2025, dunia ilmiah kembali gempar setelah mantan Presiden AS, Donald Trump, mengaitkan autisme dengan penggunaan Tylenol (parasetamol) dan menyanjung leucovorin sebagai “obat pertama untuk gejala autisme” yang diakui oleh FDA (Food and Drug Administration).
Pernyataan tersebut, seperti dilaporkan oleh jurnal medis BMJ, langsung menimbulkan gelombang reaksi di komunitas ilmiah. Apakah benar autisme disebabkan oleh obat pereda nyeri yang umum digunakan? Dan apakah leucovorin benar-benar bisa disebut sebagai “terapi pertama” untuk kondisi tersebut?
Untuk menjawabnya, kita perlu kembali ke dasar-dasar biologi saraf dan memahami bagaimana sains bekerja, bukan politik.
Baca juga artikel tentang: Misteri DNA Terpecahkan: Kode Tak Terlihat yang Mengatur Hidup Kita
Autisme dalam Kacamata Ilmu: Gangguan Spektrum, Bukan Penyakit Tunggal
Secara ilmiah, Autism Spectrum Disorder (ASD) bukanlah penyakit yang dapat “disembuhkan” dengan satu obat, melainkan variasi dalam perkembangan otak dan perilaku sosial. Autisme mencakup berbagai kondisi yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, memproses informasi sensorik, dan merespons lingkungan.
Penelitian genom besar dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa ratusan gen dapat berperan dalam perkembangan autisme. Selain itu, faktor lingkungan, seperti usia orang tua, infeksi prenatal, dan paparan polutan juga berkontribusi dalam tingkat yang berbeda-beda. Artinya, tidak ada satu penyebab tunggal, apalagi obat tunggal.
Tylenol dan Autisme: Korelasi Bukan Kausalitas
Klaim bahwa Tylenol (acetaminophen) bisa menyebabkan autisme sebenarnya telah beredar sejak 2010-an. Beberapa studi observasional memang menemukan hubungan statistik lemah antara penggunaan parasetamol oleh ibu hamil dan meningkatnya risiko gangguan perkembangan saraf pada anak.
Namun, para ahli menjelaskan bahwa hubungan ini tidak bersifat sebab-akibat.
Penelitian observasional hanya menunjukkan korelasi, bukan bukti bahwa Tylenol menyebabkan autisme. Bisa saja ibu yang mengonsumsi Tylenol sedang mengalami demam tinggi, infeksi, atau stres dan kondisi-kondisi itulah yang menjadi faktor risiko sebenarnya.
Badan kesehatan dunia seperti CDC, WHO, dan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) tetap menyatakan bahwa Tylenol aman digunakan selama kehamilan, asalkan sesuai dosis medis. Belum ada bukti biologis yang menunjukkan bahwa parasetamol mengubah perkembangan otak janin dalam cara yang dapat memicu autisme.
Dengan kata lain:
Hingga saat ini, klaim bahwa Tylenol menyebabkan autisme tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Leucovorin: Harapan Baru atau Sekadar Hiperbola?
Bagian kedua dari klaim Trump menyoroti leucovorin, juga dikenal sebagai asam folinik, bentuk aktif dari asam folat (vitamin B9) yang berperan penting dalam fungsi otak. Secara medis, leucovorin sudah lama digunakan untuk mengatasi efek samping kemoterapi, mengobati anemia megaloblastik, serta membantu pasien dengan gangguan metabolisme folat.
Dalam konteks autisme, leucovorin menjadi perhatian setelah beberapa studi menunjukkan perbaikan komunikasi dan perilaku pada sebagian kecil anak dengan kondisi langka yang disebut Cerebral Folate Deficiency (CFD). Pada anak-anak ini, antibodi mengganggu penyerapan folat ke dalam otak, sehingga kadar folat menurun dan fungsi saraf terganggu. Leucovorin dapat “menembus” hambatan ini dan mengembalikan keseimbangan metabolik.
Namun, sangat penting dipahami:
- FDA hanya menyetujui leucovorin untuk pengobatan CFD,
- bukan sebagai “terapi untuk autisme secara umum.”
BMJ menegaskan bahwa klaim leucovorin sebagai “obat pertama untuk autisme” adalah penyederhanaan berlebihan dari konteks ilmiah yang jauh lebih kompleks.
Peran Folat dalam Otak: Biokimia di Balik Harapan
Folat adalah vitamin yang vital untuk otak.
Ia terlibat dalam sintesis DNA, metilasi gen, dan produksi neurotransmiter seperti dopamin dan serotonin, bahan kimia penting yang memengaruhi suasana hati dan interaksi sosial. Itulah sebabnya suplemen asam folat diberikan kepada ibu hamil untuk mencegah cacat tabung saraf pada janin.
Namun, dalam autisme, masalahnya sering bukan “kekurangan vitamin”, melainkan gangguan transport folat ke sistem saraf pusat. Pada sebagian kecil individu, sistem kekebalan menghasilkan antibodi yang menyerang reseptor folat di otak, menghambat penyerapan nutrisi ini. Leucovorin bekerja dengan cara memintas jalur tersebut, menembus penghalang darah-otak dan menormalkan fungsi folat.
Temuan-temuan ini menarik, tapi tidak berarti leucovorin bisa “menyembuhkan autisme.” Autisme adalah kondisi neurodevelopmental yang kompleks, dan perbaikan yang terlihat mungkin hanya terjadi pada subpopulasi spesifik dengan mekanisme biokimia tertentu.
Sains, Politik, dan Bahaya Simplifikasi
BMJ menyoroti bahaya ketika isu ilmiah dijadikan alat politik atau sensasionalisme publik. Ketika tokoh terkenal menyampaikan klaim medis tanpa konteks yang benar, efeknya bisa luas: masyarakat salah paham, keluarga mencari “obat ajaib”, dan kepercayaan pada sains bisa terkikis.
Pernyataan bahwa leucovorin adalah “terapi pertama untuk autisme” memang menarik secara retoris, tapi tidak akurat secara ilmiah. Penelitian leucovorin masih dalam tahap klinis kecil, belum melalui uji acak besar (randomized controlled trial) yang menjadi standar emas dalam dunia medis.
Dalam dunia sains, hati-hati lebih penting daripada sensasional. Satu klaim spektakuler tidak bisa menggantikan puluhan tahun penelitian sistematis.
Pelajaran untuk Publik: Menjadi Pembaca yang Kritis
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kita semua, orang tua, pendidik, pembuat kebijakan, maupun pengguna media sosial perlu lebih cermat memilah informasi medis.
Beberapa pedoman sederhana:
- Cek sumbernya. Apakah informasi berasal dari jurnal ilmiah, badan medis resmi, atau hanya dari tokoh publik?
- Perhatikan konteksnya. “Disetujui FDA” bisa berarti banyak hal, tidak selalu “obat untuk autisme.”
- Jangan percaya klaim tunggal. Sains bekerja melalui replikasi, bukan pernyataan tunggal yang viral.
- Konsultasikan ke profesional medis. Setiap individu autistik memiliki kebutuhan yang unik; tidak semua terapi cocok untuk semua orang.
Sains tentang autisme terus berkembang, dari pemahaman genetik hingga biokimia otak. Namun, kemajuan ini harus disampaikan dengan kehati-hatian dan integritas. Leucovorin bisa menjadi petunjuk berharga bagi sebagian kasus autisme terkait folat, tetapi menyebutnya “obat pertama untuk autisme” adalah langkah terlalu jauh.
Autisme bukanlah masalah yang menunggu solusi ajaib; ia menuntut pendekatan multidisipliner, dukungan sosial, dan pemahaman yang manusiawi. Sains, bukan slogan politik, yang seharusnya memandu langkah kita.
Baca juga artikel tentang: Pengembangan Bahasa dan Literasi di antara Anak-anak Penderita Autism Spectrum Disorder (ASD)
REFERENSI:
Looi, Mun-Keat & Bowie, Kate. 2025. Autism: Trump links condition to Tylenol and touts leucovorin as “first” US therapeutic. bmj 390.

