Bahaya Makanan Manis dan Risiko Obesitas

Di era modern ini, makanan manis menjadi sangat populer dan mudah diakses. Namun, konsumsi makanan manis yang berlebihan dapat berdampak […]

blank

Di era modern ini, makanan manis menjadi sangat populer dan mudah diakses. Namun, konsumsi makanan manis yang berlebihan dapat berdampak negatif pada berat badan dan beresiko obesitas serta masalah Kesehatan lainnya. Meski memang tidak bisa dipungkiri bahwa makanan manis dan tinggi gula telah menjadi bagian integral dari pola makan modern. Kementerian Kesehatan memprediksi pada tahun 2030 bahwa setengah dari penduduk Indonesia akan mengalami obesitas jika tidak ada tindak lanjut serius atas pola konsumsi masyarakat saat ini. Tercatat lebih dari 340 juta anak dan remaja di usia 5 hingga 19 tahun yang mengalami kelebihan berat badan atau obsitas di tahun 2016. Dengan catatan bahwa prevalensi obesitas berdasarkan hasil riset ini menunjukkan angka yang lebih tinggi di daerah perkotaan daripada pedesaan.

Makanan Berisiko

Perilaku konsumsi makanan manis, seperti permen, minuman berkarbonasi, kue, dan cokelat menjadi salah satu faktor pemicu obesitas sebagai fase prediabetes. Makanan tersebut adalah jenis makanan yang cenderung tinggi kalori dan rendah nutrisi sehingga konsumsi berlebihan makanan manis menyebabkan peningkatan asupan gula, yang dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah dan peningkatan lemak tubuh. Gula tambahan dalam makanan manis juga dapat memicu mekanisme kecanduan, yang membuat seseorang cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan manis secara berulang.

Beberapa penelitian juga menunjukkan hubungan tingginya asupan makanan manis dengan peluang penyakit metabolik. Konsumsi makanan manis berlebihan dapat berkontribusi pada peningkatan nafsu makan dan mengurangi rasa kenyang, yang dapat menyebabkan konsumsi kalori yang berlebihan. Dampaknya adalah gangguan metabolisme, seperti resistensi insulin, yang dapat meningkatkan risiko obesitas serta penyakit terkait lainnya, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.

Perilaku Masyarakat

Kecenderungan perilaku masyarakat yang sering mengikuti trend dalam hal konsumsi makanan cepat saji juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Terlebih dengan kecanggihan teknologi yang memudahkan setiap orang untuk mengetahui informasi dan mendapatkan sesuatu tanpa memerlukan upaya lebih untuk berpindah. Tentunya akan meningkatkan risiko gaya hidup yang kurang sehat karena aktivitas fisik yang berkurang dan konsumsi fast food yang meningkat.

Pendekatan Solutif Berbagai Pihak

Oleh karena itu, upaya pencegahan obesitas perlu diperhatikan dengan beberapa upaya. Diantaranya berupa pengurangan konsumsi makanan manis, edukasi tentang bahaya makanan manis, dan pentingnya pola makan seimbang perlu dilakukan di berbagai tingkatan, termasuk di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Memang dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak seperti masyarakat untuk mengerti dan sadar bahayanya, pelaku usaha yang menawarkan produk makanan sehat, serta pemerintah yang perlu menerapkan regulasi dan kebijakan untuk edukasi dan pengurangan akses pemasaran terhadap makanan manis yang berpotensi meningkatkan obesitas.

Alternatif konsumsi makanan lain pun juga perlu digencarkan seperti rutin makan buah, sayur, dan real-food lain yang minim pemrosesan. Hal ini dapat mengurangi asupan gula berlebih yang tidak alami dan meningkatkan berbagai dampak buruk Kesehatan. Akhirnya, konsumsi makanan ini menjadi suatu isu penting yang perlu kita sadari bersama dampaknya. Kesadaran dan upaya berbagai pihak perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih komprehensif dalam hal edukasi, perubahan kebijakan, dan promosi pola makan seimbang.

Referensi

Asriati, dkk. 2023. Analisis Perilaku Konsumsi Makanan Dan Minuman Manis Terhadap  Prediabetes Remaja Di Kota Jayapura. Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *