Matahari Buatan Korsel, Apa Bedanya dengan Matahari Buatan Cina?

Korea Selatan berhasil menyalakan matahari buatannya, Korean Artificial Sun, pada 28 Desember 2020. Apakah matahari buatan ini menyaingi kuasa tuhan? […]

Matahari Buatan

Korea Selatan berhasil menyalakan matahari buatannya, Korean Artificial Sun, pada 28 Desember 2020. Apakah matahari buatan ini menyaingi kuasa tuhan?

Matahari Buatan tersebut merupakan reaktor fusi nuklir. Korean Superconducting Tokamak Advanced Research (KSTAR) melaporkan bahwa matahari buatan mereka dapat beroperasi pada suhu 100 juta derajat Celcius selama 20 detik [1]. Durasi ini mengalahkan matahari buatan Cina yang hanya menyala selama sekitar 10 detik. KSTAR menjelaskan bahwa penelitian ini adalah penelitian gabungan dengan Seoul National University (SNU) dan Columbia University – Amerika Serikat. Ambisi mereka terhadap reaktor fusi tersebut yaitu dapat beroperasi selama 300 detik dengan suhu lebih dari 100 juta derajat Celcius pada 2025. Harapannya matahari butan ini dapat berperan sebagai energi bersih terbarukan untuk menggantikan bahan bakar fosil.

Bagaimana dengan matahari buatan Cina?

Matahari buatan Cina (artificial sun) sama dengan matahari buatan Korea, yaitu suatu reaktor nuklir fusi. Reaktor ini digunakan sebagai sumber energi Cina. HL-2M Tokamak merupakan nama dari reaktor ini yang berada di kota Chengdu, Cina. Matahari ini dapat beroperasi pada suhu 150 juta derajat Celcius sekitar 10 detik pada 4 Desember 2020 [2]. Dikutip dari People’s daily, Matahari buatan ini merupakan jawaban dari kebutuhan sumber energi bersih di masa depan serta sebagai penunjang ekonomi nasional. Mereka menyebutkan bahwa matahari ini dapat diperjual-belikan pada 2050.

Apa itu matahari?

Matahari, jantung dari tata surya kita, merupakan bola panas yang terdiri dari gas-gas bercahaya [3]. Gravitasi yang sangat besar dari matahari menyebabkan planet-planet hingga partikel terkecilnya tertarik ke matahari pada orbit tertentu. Interaksi antara matahari dan bumi sebagai planet mempengaruhi kondisi bumi, seperti perubahan cuaca, pasang surut air laut, hingga terbentuknya aurora.

Selain sebagai pusat tata surya, matahari berfungsi sebagai sumber energi. Panel surya merupakan alat untuk mengubah energi matahari menjadi energi listrik tanpa terjadi pencemaran. Cahaya ataupun panas yang diberikan matahari merupakan hasil dari reaksi fusi pada inti matahari [4]. Reaksi fusi matahari adalah reaksi proton – proton fusi, yaitu hidrogen akan bergabung dengan hidrogen lain membentuk helium. Proses ini akan melepaskan energi yang sampai ke bumi.

Maka, apakah “matahari buatan” Korsel dan Cina menyaingi kuasa Tuhan?

Tidak. Baik matahari buatan Korsel ataupun Cina tidak akan pernah bisa menyaingi matahari buatan Tuhan. Ilmuwan Korsel dan Cina mempelajari bagaimana cara matahari bekerja sebagai penghasil energi, sehingga mereka dapat menirukan kerja matahari tersebut untuk matahari buatan mereka dengan tujuan sebagai sumber energi bersih masa depan. Matahari buatan Cina dan Korea merupakan reaktor fusi nuklir dengan memanfaatkan penggabungan hidrogen menjadi helium seperti matahari pada tata surya. Karena sistem kerjanya sama, maka reaktor nuklir tersebut dinamakan “matahari buatan”.

Namun, matahari buatan ini masih perlu penelitian lebih lanjut untuk hasil energi yang lebih optimum, panas optimum, dan durasi operasional reaktor yang lebih lama, sehingga reaktor ini lebih stabil. Selain itu, ilmuwan juga perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk dampak dari adanya reaktor ini.

Baca juga : Tiga Syarat Utama Membuat Matahari Buatan di Bumi

Manfaat dan tantangan “matahari buatan”

Manfaat paling utama dari matahari buatan yaitu sebagai sumber energi bersih masa depan. Reaksi fusi radioaktif berantai dari hidrogem menjadi helium akan menghasilkan 1028 kali energi. Besarnya energi yang dihasilkan dengan polusi yang minimal membuat para ilmuan berusaha mengembangkan “matahari buatan” mereka.

Namun, panas yang dihasilkan dari reaksi fusi harus diimbangi oleh plasma dari reaktor. Proses ini membutuhkan penelitian yang lebih lanjut. Selain itu, waktu operasional reaktor baik milik Korsel ataupun Cina tidak dapat lebih lama dibandingkan matahari. KSTAR berupaya matahari buatan mereka dapat beroperasi lebih dari 300 detik pada suhu diatas 100 juta derajat Celcius pada 2025 [1].

Semoga matahari buatan ini menjadi jawaban atas keperluan sumber energi bersih pada masa depan dengan risiko minimal.

Referensi

[1] National Research Council of Science & Technology, “Korean artificial sun sets the new world record of 20-sec-long operation at 100 million degrees,” 24 12 2020. [Online]. Available: https://phys.org/news/2020-12-korean-artificial-sun-world-sec-long.html. [Accessed 01 01 2020].
[2]Xinhua, “China commissions new-generation “artificial sun”,” People’s Daily, 05 12 2020. [Online]. Available: http://en.people.cn/n3/2020/1205/c90000-9796131.html. [Accessed 01 01 2021].
[3]NASA Science, “Sun,” [Online]. Available: https://solarsystem.nasa.gov/solar-system/sun/overview/.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *