Lompat ke konten

Literasi: Menangkal Hoax Kesehatan melalui Pandangan Islam

Print Friendly, PDF & Email

Bagi umat Islam, kesehatan yang meliputi kebersihan dan sanitasi, upaya pencegahan dan pengobatan penyakit, merupakan salah satu aspek yang sangat diperhatikan oleh agama, baik di level individu, masyarakat, dan negara. Ritual ibadah individu kerap didahului dengan upaya mensucikan diri dengan menggunakan air seperti berwudu, atau debu seperti tayammum. Demikian juga layanan pengobatan masyarakat dan juga kebijakan negara dalam pelayanan kesehatan tidak hanya merupakan kepentingan, kebutuhan dan kenyamanan duniawi, namun juga keselamatan dan penentuan nasib di akhirat kelak. Para pengampu dan penyelenggaranya akan dituntut pertanggungjawaban di yaumul qiyamah terkait kualitas dan cakupan layanan kesehatan tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana umat islam mendapatkan informasi (pengetahuan) terkait apa yang harus diketahui dan diamalkan sehingga mendapatkan kenyamanan dunia dan akhirat? Secara normatif, umat islam wajib menyelesaikan masalah dan kebutuhan hidupnya (termasuk kesehatan) sesuai tuntunan syariat Islam, aturan yang Allah dan Rasulullah saaw tetapkan melalui sumber utama yaitu Quran dan Sunnah. Maka para ulama melalui aktifitas intelektual yang ketat memiliki seperangkat aturan bagaimana menggali dan menetapkan hukum Islam, baik terhadap benda maupun perbuatan agar tetap dalam koridor ketaatan beragama. Pertanyaannya, apakah informasi yang didapat benar-benar bersumber dari wahyu Allah dan RasulNya? Bagaimana memaknai atau menafsirkannya? Dan apakah informasi tersebut memang relevan dalam menyelesaikan masalah?

blank

Menurut Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya, Kanjeng Nabi Muhammad Saw tidak diutus mengajari kita tentang teknis kedokteran dan sejenisnya, namun mengajari kita tentang syariat.
Artinya, pengembangan penemuan dan pengujian efektfitas obat baru itu ranah manusia untuk berkreasi. namun ketika obat ditemukan, syariat mengatur keamanannya, kehalalannya, dan aksesnya. Lingkup ini yang diatur oleh syariat, jangan sampai obat yang bagus, aman, halal, dan efektif hanya bisa diakses oleh rakyat yang kaya, sementara rakyat miskin tidak bisa mendapatkannya.
Lalu siapa yang terbebani syariat itu? Terkait keamanan publik, tentu adalah lingkup tupoksi penguasa, bukan rakyat jelata. Itu sebabnya Sultan di masa khilafah Uthmaniyya mengeluarkan dekrit standarisasi obat yang beredar diwilayahnya, memastikan apotekernya lulus ujian profisiensi untuk kualitas pengobatan terbaik bagi rakyatnya.

Bagaimana Dengan Keamanan Penelitian Herbal atau Obat Baru Yang Viral di Masa Pandemi?

Untuk bisa menggunakan sebuah obat baru dengan aman, obat tersebut harus melalui beberapa tahap uji klinis. Hal ini dilakukan untuk mengetahui cara kerja, keampuhan, batas aman dosis obat, dan efek samping yang bisa ditimbulkan obat. Terutama sangat tidak dianjurkan bila ada obat mengklaim tanpa efek samping, berarti kemanjurannya belum tuntas diteliti.
Bagaimana dengan Dexamethaxone dan Chloroquine ? Meskipun obat tersebut harga terjangkau untuk mengatasi masalah ekonomi, tetapi harus mengikuti saran dokter atau yang ahli dibidangnya.

Menangkal Hoax Pandangan Islam

Adanya internet wahana modern yang praktis dalam upaya mencari informasi. Kemudahan dan kecepatan akses internet juga menimbulkan kemudahan dan kecepatan akses informasi yang bermanfaat maupun yang justru menimbulkan mudharat, seperti viralnya berita hoaks sangat cepat menyebar di berbagai platform

blank
Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS Al-Anbiya’: 7)
blank
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS. Al-Baqarah : 111)
blank
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat : 6)

Referensi:

  1. Aksakal LJ. The Sick Man and his Medicine: Public Health Reform in the Ottoman Empire and Egypt. Harvardedu. Published online 2018. doi:http://nrs.harvard.edu/urn-3:HUL.InstRepos:10015270
  2. Warstek Media. Hoaks: Apa, Mengapa, dan Bagaimana? | Warung Sains Teknologi. Warung Sains Teknologi. Published May 21, 2018. Accessed February 23, 2021. https://warstek.com/hoaks/
  3. Nailul Izzah. Siringmakar 29: Seri 2 – Fact vs. Hoax, obat-obatan dan ramuan-ramuan untuk menghadapi COVID-19 | Warung Sains Teknologi. Warung Sains Teknologi. Published March 29, 2020. Accessed February 23, 2021. https://warstek.com/sir29-sesi2/
  4. Putera Rakhmat. Yuk Mengenal Dexamethaxone : Obat Viral yang Dapat Mengobati COVID-19 | Warung Sains Teknologi. Warung Sains Teknologi. Published June 23, 2020. Accessed February 23, 2021. https://warstek.com/yuk-mengenal-dexamethaxone-obat-viral-yang-dapat-mengobati-covid-19/

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Cari artikel lain: Baca artikel lain:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.