Papuan Red Fruit, Si Merah Jangkung Kaya Manfaat dari Bumi Cendrawasih

Buah merah, atau yang kita sering dengar dengan nama Papuan Red Fruit adalah buah merah yang tumbuh secara endemik terdapat […]

blank

Buah merah, atau yang kita sering dengar dengan nama Papuan Red Fruit adalah buah merah yang tumbuh secara endemik terdapat pada bumi papua. Memiliki nama latin Pandanus Conoideus, buah ini memiliki nama yang berbeda-beda oleh masyarakat sekitar sesuai daerahnya. Ada yang menyebutnya buah pandan seran (Maluku), buah sihu (Halmahera), buah saun (seram), atau buah marita (Papua Nugini). Masyarakat biasanya mengonsumsi buah ini dengan memakannya langsung atau dengan sambal sagu dan ubi jalar. Buah ini juga terkenal pada masyarakat untuk pengobatan secara tradisional baik itu penyakit cacingan, mata, kulit, atau penambah stamina. Selain itu, buah ini juga digunakan dalam upacara adat mereka.

Karakteristik Fisik

Keragaman Papuan Red Fruit tersebut tersebar pada dataran tinggi dan dataran rendah. Murtiningrum pada tahun 2012 mengeksplorasi buah merah pada 5 titik tempat (Manokwari, Sorong Selatan, Teluk Bintuni, Nabire, Jayawijaya) dan mendapatkan sekitar 85 kultivar dengan karakteristik fisik dan kimia yang bervariasi. Tanaman ini memiliki bentuk pohon menyerupai pandan dengan tinggi mencapai 5 meter keatas. Buahnya berbentuk lonjong dengan panjang sekitar 55 cm, memiliki berat 2 kg dan berwarna merah marun ketika telah masak. Chepalium buah merah terdiri dari tubular berbentuk segitiga, kuning cerah sampai merah tua dengan panjang 42-70 cm (100-110 cm), dan 9,6- 11 cm indiameter (lingkar 30-34.5 cm) yang merupakan bagian tengah dari pedicel chepalium putih. Drupa atau buah tunggal memiliki segitiga-bentuknya dengan pericarp (lapisan buah tunggal) dan mengandung lemak (daging buah) kuning atau merah yang mengelilingi biji.

Kandungan Kimia

Komposisi bahan kimia buah merah pilihan bervariasi antara lain : 

  • Nilai rata-rata abu: 2,03-3,50%
  • Protein: 3,12-6,48%
  • Lemak: 11,21-30,72%,
  • Karbohidrat: 43,86-79,66%,
  • Vitamin C: 3.78- 21.88 mg / 100g,
  • Vitamin B1: 0.97-3.14mg / 100g
  • Kalsium (Ca): 0,53-1,11%
  • Besi (Fe): 8,32-123,03%
  • Fosfor (P): 0,01-0,33%
  • Total karotenoid: 333-3309 ppm
  • Total tokoferol: 964-11918 ppm

Berbagai kondisi lingkungan baik suhu, kelembapan, tingkat kematangan, genetika, waktu panen, serta metode ekstraksi juga turut mempengaruhi kondisi dan kualitas buah merah. Tanaman yang berada pada dataran rendah memiliki kandungan lemak tertinggi (30,72%) serta kondisi ideal untuk bercocok tanam buah merah berada pada suhu 23-33 derajat celsius serta dalam kondisi kelembapan sedang. Hal itu juga berlaku pada kadar vitamin C, zat besi, fosfor, total karotenoid, dan total tokoferol.

Sedangkan pada kadar lipid profil dan komponen aktif RFO, terdapat berbagai variasi. Pada 9 sampel buah merah, terdapat rerata kadar oleat sebanyak 49,36–64,47 g per 100 g, kadar linoleat sebanyak 4,13-16,06 g per 100g dan kadar palmitat sebanyak 14,11-19,21 g per 100 g. Selain itu masih banyak kandungan metabolit sekunder lain diantaranya fenol sebagai antioksidan alami.

Namun pada kenyataannya terdapat fakta bahwa banyaknya keragaman pada buah merah ini. Faktor-faktornya adalah terjadinya hibridisasi antar aksesi, mutasi genetik, migrasi, introduksi, dan perbedaan ekogeografi.

Khasiat/kegunaan

Secara keseluruhan, buah merah memiliki banyak potensi. Tingginya angka tokoferol sebagai antioksidan alami dapat digunakan sebagai penangkal radikal bebas dan dapat berpotensi menyembuhkan beberapa penyakit. Selain itu, kandungan minyak yang cukup tinggi berpotensi besar sebagai minyak nabati dan bahan untuk industri makanan dan obat-obatan. Selain itu, masih ada beberapa vitamin dan mineral yang berguna untuk metabolisme tubuh. Sehingga buah merah layak dikembangkan dan dikaji lebih jauh agar pemanfaatannya lebih luas.

Referensi:

  • MURTININGRUM, M., SARUNGALLO, Z. L. and MAWIKERE, N. L. (2011) ‘The exploration and diversity of red fruit (Pandanus conoideus L.) from Papua based on its physical characteristics and chemical composition’, Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(3), pp. 124–129. doi: 10.13057/biodiv/d130304.
  • Sarungallo, Z. L. et al. (2015) ‘Characterization of chemical properties, lipid profile, total phenol and tocopherol content of oils extracted from nine clones of red fruit (Pandanus conoideus)’, Kasetsart Journal – Natural Science, 49(2), pp. 237–250.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *