Jika mendengar nama Pythagoras, hampir semua orang akan langsung teringat pada pelajaran geometri di sekolah:
“Kuadrat sisi miring segitiga sama dengan jumlah kuadrat dua sisi lainnya.”
Itulah Teorema Pythagoras, rumus yang terkenal untuk segitiga siku-siku. Namun, apakah benar Pythagoras yang pertama kali menemukan rumus ini? Fakta mengejutkan datang dari penemuan arkeologi: ternyata teorema ini sudah dikenal ribuan tahun sebelum Pythagoras lahir!
Baca juga artikel tentang: Perbedaan Keterampilan Matematika Anak di Pasar dan Sekolah: Menyelaraskan Pembelajaran dengan Dunia Nyata
Siapakah Pythagoras?
Pythagoras adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani kuno yang hidup sekitar tahun 570–495 SM. Ia mendirikan sekolah filsafat dan matematika di Italia Selatan, dan pengikutnya dikenal sebagai kaum Pythagorean.
Selain soal matematika, Pythagoras juga dikenal memiliki pandangan unik tentang dunia. Misalnya, ia percaya bahwa segala sesuatu di alam semesta bisa dijelaskan dengan angka. Tidak heran, pengikutnya sering mengaitkan musik, astronomi, hingga etika dengan perhitungan matematika.
Namun, reputasi terbesarnya tentu datang dari teorema segitiga itu. Pertanyaannya: benarkah dialah penemunya?
Penemuan di Tanah Mesopotamia
Pada awal abad ke-20, para arkeolog menemukan sebuah artefak dari tanah liat di Irak kuno, wilayah yang dahulu dikenal sebagai Mesopotamia. Artefak ini disebut tablet Plimpton 322, berusia sekitar 1800 SM. Itu berarti tablet ini dibuat lebih dari 1.000 tahun sebelum Pythagoras lahir.

Tablet tersebut berisi daftar angka yang ternyata sesuai dengan hubungan matematika segitiga siku-siku. Dengan kata lain, masyarakat Babilonia kuno sudah memahami konsep Teorema Pythagoras jauh sebelum orang Yunani menuliskannya.
Apa yang Tertulis di Tablet Plimpton 322?
Tablet ini tidak menampilkan teorema dalam bentuk kalimat seperti di buku sekolah. Sebaliknya, ia berisi deretan angka yang menggunakan sistem perhitungan berbasis 60 (seperti cara kita menghitung menit dan detik).
Angka-angka itu menunjukkan perbandingan panjang sisi-sisi segitiga siku-siku. Jika diterjemahkan dengan sistem matematika modern, jelas terlihat bahwa orang Babilonia mengetahui hubungan antara sisi miring dengan sisi-sisi lainnya.
Mereka mungkin tidak menuliskannya sebagai “c² = a² + b²”, tetapi esensinya sama.
Kenapa Ini Penting?
Penemuan ini mengubah cara kita melihat sejarah ilmu pengetahuan. Selama ini, banyak orang berpikir bahwa Yunani kuno adalah pusat lahirnya sains dan matematika. Ternyata, peradaban sebelumnya seperti Babilonia sudah lebih dulu mengembangkan dasar-dasar ilmu itu.
Dengan kata lain, ilmu pengetahuan adalah warisan kolektif umat manusia. Pythagoras mungkin membantu mempopulerkan teorema itu di dunia Yunani, tetapi akar pengetahuan sudah lebih tua dan lebih luas dari yang kita kira.
Ilmu Matematika Sebagai Bahasa Universal
Hal menarik lain dari kisah ini adalah sifat matematika itu sendiri. Walaupun manusia berbeda bahasa, budaya, bahkan zaman, hubungan matematika tetap sama. Segitiga siku-siku di Babilonia ribuan tahun lalu sama saja dengan segitiga siku-siku yang kita gambar di papan tulis hari ini.
Itu sebabnya matematika sering disebut sebagai bahasa universal. Ia melampaui waktu, tempat, dan budaya.
Bagaimana Teorema Ini Dipakai di Dunia Nyata?
Mungkin kamu bertanya-tanya: apa gunanya teorema ini selain di soal ujian sekolah? Faktanya, teorema Pythagoras sangat praktis dan digunakan di banyak bidang, misalnya:
- Arsitektur dan konstruksi: untuk mengukur panjang atap atau jarak diagonal ruangan.
- Astronomi: menghitung jarak antar bintang dengan menggunakan segitiga imajiner.
- Navigasi: kapal laut dan pesawat menggunakan prinsip segitiga untuk menghitung jalur terpendek.
- Teknologi modern: dari grafis komputer hingga GPS, semuanya memanfaatkan dasar geometri ini.
Jadi, meski terlihat sederhana, teorema ini adalah salah satu pilar peradaban manusia.
Siapa Sebenarnya yang “Berhak” atas Teorema Ini?
Sulit untuk mengatakan siapa penemu sebenarnya, karena pengetahuan ini berkembang di berbagai peradaban. Mesir kuno, misalnya, menggunakan tali yang diikat dengan simpul untuk membuat sudut siku-siku saat membangun piramida.
Namun, bukti tertulis paling jelas memang datang dari tablet Babilonia. Maka, bisa dibilang masyarakat Mesopotamia adalah “penemu awal” teorema ini, sementara Pythagoras berperan sebagai tokoh yang memperkenalkan dan menyebarkannya ke dunia Yunani dan Eropa.
Sains Adalah Kisah Bersama
Kisah Teorema Pythagoras menunjukkan bahwa sains tidak lahir dari satu orang jenius saja. Ia adalah hasil dari ribuan tahun pengamatan, catatan, dan percobaan dari berbagai peradaban.
Pythagoras, Babilonia, Mesir, India, hingga Tiongkok, semuanya punya kontribusi dalam membangun fondasi ilmu matematika yang kita nikmati sekarang.
Pythagoras memang tokoh penting, tetapi bukan satu-satunya dalam sejarah teorema segitiga. Bukti di tanah liat Mesopotamia menunjukkan bahwa ilmu itu lebih tua dari yang kita kira.
Pelajaran yang bisa kita ambil?
- Sains tidak pernah statis. Penemuan baru selalu bisa mengubah cerita lama.
- Ilmu adalah warisan kolektif. Kita berdiri di atas bahu banyak peradaban.
- Belajar sejarah sains membuat kita lebih rendah hati. Karena siapa tahu, pengetahuan yang kita anggap baru hari ini sebenarnya sudah dipikirkan ribuan tahun lalu.
Jadi, lain kali ketika kamu menggunakan teorema Pythagoras, bayangkanlah bukan hanya seorang filsuf Yunani, tetapi juga para penulis tanah liat di Babilonia yang sudah lebih dulu menemukan keindahan segitiga.
Baca juga artikel tentang: Matematika dibalik Pengambilan Keputusan: Bagaimana Bias Awal dan Informasi Tambahan Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
REFERENSI:
Briggs, Thomas K. 2025. The Mathematicians’ Library: The Books That Unlocked the Power of Numbers. Ivy Press.
Felton, James. 2025. The Pythagorean Theorem Predates Pythagoras By 1,000 Years: “The Proof Is Carved Into Clay”. IFLScience: https://www.iflscience.com/the-pythagorean-theorem-predates-pythagoras-by-1000-years-the-proof-is-carved-into-clay-80528 diakses pada tanggal 9 September 2025.
Lawrence, Snezana. 2025. A little history of mathematics. Yale University Press.

