Melacak Sejarah Keris

Keris koleksi Museum Volken Kunde, Leiden – Belanda
Sumber foto: Harry Sofian. 2015

Pengetahuan manusia dalam mengolah logam di kawasan Asia Tenggara telah di kenal sejak 1300 – 1100 SM (Sebelum Masehi) yaitu mengolah logam perunggu ((logam campuran tembaga dengan timah putih (CuSn), timah hitam(CuPb) maupun arsenik(CuAs)) dan mengolah logam besi (Fe) yang di kenal sejak 500 SM. Di kawasan nusantara pengetahuan logam perunggu dan besi telah dikenal setidaknya sejak 300 SM, hal ini sejalan dengan apa yang disebut sebagai “ledakan” pengetahuan teknologi logam di kawasan Asia Tenggara dalam waktu kurang dari 500 tahun, penyebaran dan penggunaan logam telah tersebar luas di kawasan Asia Tenggara (Higham et al. 2020; Calo et al. 2015; Naizatul Akma Mohd and Saidin 2018).

Keris sebagai salah satu artefak yang terbuat dari logam, pada saat ini dianggap sebagai senjata yang dipercaya memiliki kekuatan gaib dan di keramatkan. Keris sendiri berkembang dalam sistem budaya masyarakat Jawa, bagi masyarakat Jawa, keris adalah benda yang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Jawa (Sutrisno 2011). Namun demikian, sejarah keris masih dianggap kurang jelas dan abu-abu oleh ahli sejarah dan arkeologi, tidak banyak bukti-bukti arkeologi yang di hubungkan dengan keris sehingga pelacakan sejak kapan keris mulai dikenal perlu di ketahui.

Pada masa Jawa kuno berkembang kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, termasuk di Jawa dan Bali, antara lain Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat, Kerajaan Mataram kuna di Jawa Tengah serta Kerajaan Singasari, Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur serta Kerajaan Bali Kuna di Pulau Bali yang berkembang dari abad ke 7 – 16 Masehi (Soekmono 1990). Pada masa ini pula berkembang berbagai macam senjata antara lain tombak, linggis, pisau, kapak dan juga keris, alat-alat ini sering di jumpai dalam prasasti-prasasti Jawa kuno sebagai barang sesaji pada upacara keagamaan (Setiawan 1986). Walaupun data artefak awal keris belum di temukan, namun data tekstual membantu mengungkap kapan keris mulai digunakan. Kata keris muncul pada prasasti-prasasti bahasa Jawa kuno pada abad ke 9 dan 10 Masehi yang merinci penetapan status tanah sima, yaitu tanah yang di bebaskan dari membayar pajak kepada kerajaan karena merawat suatu bangunan suci. Prasasti Karang tengah berangka 824 M dan Prasasti Poh berangka 904 M menyebutkan dalam upacara sima disiapkan benda dari logam antara lain twek punukan (pemotong/penusuk yang berpunggung/arit?), nakka-cheda (pemotong kuku), wangkyul (cangkul?), kris, dan lain-lain. Adapun penyebutan benda logam tersebut dalam prasasti pada sisi praktis fungsional belum pada hal mistis dan pusaka. (Sedyawati 2011; Harsrinuksmo 2004).

blank
Keris koleksi Rijksmuseum, Amsterdam – Belanda
Sumber foto: Harry Sofian. 2015

Beberapa ahli memiliki pendapat tentang asal usul keris, G.B. Gardener pada tahun 1936 mengatakan keris adalah perkembangan dari bentuk senjata tikam masa prasejarah, yaitu tulang ekor atau sengat ikan pari yang dihilangkan pangkalnya, kemudian dibalut dengan kain pada tangkainya, dengan begitu lebih mudah dibawa. Sementara itu Griffith Wilkens pada tahun 1937 berpendapat bahwa keris baru muncul pada abad ke-14 dan ke-15, dimana keris merupakan perubahan dari tombak yang di pangkas agar lebih mudah dibawa. Pendapat A.J. Barnet Kempers pada tahun 1954, mengatakan jika keris  merupakan perkembangan bentuk senjata penusuk dari pada masa kebudayaan Dong son yang ditemukan di nusantara dimana di bagian hulu senjata terdapat figur manusia yang berkacak pinggang (Harsrinuksmo 2004). Agaknya pendapat dari Kempers yang menjadi rujukan awal tentang keris.

Perjalanan senjata keris dari senjata profan menjadi senjata sakral dan diagungkan adalah makna simbolis yang di bangun oleh masyarakat Jawa sampai saat ini yang menggabungkan teknik dan seni dalam menciptakan benda, yaitu keris yang kemudian di maknai oleh masyarakat sekarang dengan penghormatan.

Daftar Pustaka

  • Calo, Ambra, Bagyo Prasetyo, Peter Bellwood, James W Lankton, Bernard Gratuze, Oliver Pryce, Andreas Reinecke, et al. 2015. “Sembiran and Pacung on the North Coast of Bali : A Strategic Crossroads for Early Trans-Asiatic Exchange How to Cite This Article : Sembiran and Pacung on the North Coast of Bali : A Strategic Crossroads for Early Trans-Asiatic Exchange,” 378–96. doi:10.15184/aqy.2014.45.
  • Higham, Thomas F.G., Andrew D. Weiss, Charles F.W. Higham, Christopher Bronk Ramsey, Jade d’Alpoim Guedes, Sydney Hanson, Steven A. Weber, et al. 2020. “A Prehistoric Copper-Production Centre in Central Thailand: Its Dating and Wider Implications.” Antiquity 94 (376): 948–65. doi:10.15184/aqy.2020.120.
  • Naizatul Akma Mohd, and Mokhtar Saidin. 2018. “Budaya Material Industri Besi Di Kompleks Sungai Batu, Lembah Bujang, Kedah (Material Culture Of Iron Industry In Sungai Batu Complex, Bujang Valley, Kedah).” Jurnal Arkeologi Malaysia 31 (2). Ikatan Ahli Arkeologi Malaysia. http://spaj.ukm.my/jurnalarkeologi/index.php/jurnalarkeologi/article/view/186.
  • Setiawan, Agus. 1986. “Tipologi Keris Jawa Koleksi Museum Nasional Jakarta (Studi Awal Dalam Disiplin Arkeologi).” Universitas Indonesia.
  • Soekmono, R. 1990. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius. http://perpus.tasikmalayakab.go.id/opac/detail-opac?id=11004.
  • Sutrisno, Slamet. 2011. “Keris Dalam Perspektif Falsafah Jawa; Magis, Mistis, Sekaligus Simbolis.” In Keris Dalam Perspektif Keilmuan, edited by Waluyo Wijayatno and Unggul Sudrajat, 1–25. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Harry Sofian
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *