Berang-berang sungai Amerika Utara telah lama menjadi penghuni setia Chesapeake Bay, tetapi misteri tentang kehidupan mereka sehari-hari di lingkungan ini masih menyelimuti para ilmuwan. Apa yang mereka makan di sepanjang pantai Atlantik Amerika Serikat? Di mana mereka berkumpul, beristirahat, dan meninggalkan kotoran mereka? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini membawa para peneliti pada penemuan ekologi yang mengejutkan – semua dimulai dari “poo” yang terlihat aneh.
Daftar isi
Penelitian Dimulai dari Kotoran Berang-Berang
Penelitian ini dimulai ketika seorang kolega mengirimkan email kepada Dr. Katrina Lohan, seorang ahli ekologi parasit dari Smithsonian Environmental Research Center (SERC), tentang kotoran berang-berang yang terlihat aneh di dermaga kampus mereka. Di dalam kotoran tersebut, ditemukan cacing merah terang yang langsung menarik perhatian Lohan. Dengan rasa penasaran yang besar, ia memutuskan untuk mengumpulkan sampel lebih lanjut.
Calli Wise, seorang peneliti pascasarjana di SERC, kemudian mengumpulkan sampel dari 18 lokasi latrine aktif berang-berang selama 11 bulan. Rata-rata, mereka berhasil mengumpulkan 28 sampel kotoran per latrine. Kotoran-kotoran ini sering kali memiliki bau menyengat seperti ikan dan penuh dengan sisik serta cangkang krustasea.
Namun, latrine berang-berang bukan hanya sekadar tempat buang air besar. Lokasi ini juga berfungsi sebagai tempat berkumpul, menandai wilayah dengan urin dan feses, bermain, bersosialisasi, dan beristirahat. Biasanya, latrine ditemukan di dekat garis pantai dengan akses mudah ke air dan sering kali berada di area yang terlindungi oleh vegetasi rendah atau struktur buatan manusia seperti dermaga dan tangga tepi pantai.
Mengungkap Pola Makan Berang-Berang
Setelah mengumpulkan kotoran-kotoran tersebut, para peneliti membawanya ke laboratorium untuk analisis mendalam. Mereka menggunakan dua pendekatan utama: metabarcoding berbasis data genetik dan pemeriksaan tradisional menggunakan mikroskop. Hasilnya? Berang-berang sungai di Chesapeake Bay memiliki pola makan yang sangat bervariasi.
“Kami menemukan bahwa berang-berang ini memakan berbagai jenis hewan, baik yang hidup di air maupun di darat,” ujar Wise. Menu utama mereka terdiri dari ikan dan krustasea seperti kepiting biru Amerika. Selain itu, mereka juga sesekali memakan bebek atau amfibi. Menariknya, beberapa spesies invasif seperti ikan mas biasa dan crayfish sungai putih juga ditemukan dalam pola makan mereka.
Namun, yang lebih mengejutkan adalah temuan tentang keberadaan parasit dalam kotoran berang-berang tersebut.
Parasit dalam Kotoran Berang-Berang
Dengan menggunakan teknik metabarcoding, para peneliti berhasil mengidentifikasi berbagai parasit dalam kotoran berang-berang. Banyak dari parasit ini diketahui menginfeksi ikan teleostei – kelompok ikan bersirip kipas yang menjadi mangsa utama berang-berang sungai. Namun, beberapa parasit juga diketahui dapat langsung menginfeksi berang-berang itu sendiri.
Penemuan ini menunjukkan bahwa parasit memainkan peran penting dalam ekosistem lokal. Bahkan, Dr. Lohan menyebut bahwa tanpa parasit, predator puncak seperti berang-berang mungkin kesulitan menemukan cukup makanan untuk bertahan hidup. Hal ini terjadi karena parasit dapat melemahkan mangsa tertentu, membuat mereka lebih mudah ditangkap oleh predator seperti berang-berang.

Berperan Sebagai “Insinyur Ekosistem”
Keberadaan parasit dalam mangsa berang-berang dapat memiliki dampak besar pada ekosistem. Dengan memangsa individu yang terinfeksi parasit, berang-berang secara tidak langsung dapat membantu mengendalikan populasi mangsa serta mencegah penyebaran penyakit. Hal ini juga dapat memengaruhi proses evolusi mangsa mereka karena individu yang sakit tidak lagi berkontribusi pada gen pool populasi.
Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan berang-berang sebagai predator puncak dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem di Chesapeake Bay. Dengan memangsa spesies invasif seperti ikan mas biasa dan crayfish sungai putih, berang-berang membantu mencegah spesies ini mendominasi ekosistem lokal.
Potensi Sebagai “Sentinel Penyakit”
Penelitian ini juga membuka peluang baru untuk menggunakan berang-berang sebagai “sentinel penyakit.” Karena beberapa parasit yang ditemukan dalam kotoran berang-berang juga dapat menginfeksi manusia, mempelajari kesehatan berang-berang dapat memberikan wawasan penting tentang ancaman kesehatan masyarakat di wilayah tertentu.
“Berang-berang dapat menjadi indikator penting bagi kesehatan ekosistem dan potensi risiko kesehatan bagi manusia,” ujar Dr. Lohan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungan antara parasit dalam ekosistem lokal dan dampaknya terhadap manusia serta satwa liar lainnya.
Penemuan yang Mengubah Cara Pandang Kita
Penelitian ini menyoroti betapa pentingnya memperhatikan detail-detail kecil dalam ekosistem untuk memahami peran spesies tertentu dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Dari sekadar “poo” berbentuk aneh di dermaga hingga penemuan besar tentang pola makan, perilaku sosial, dan peran ekologi berang-berang sungai – penelitian ini menunjukkan betapa kompleksnya jaringan kehidupan di alam.
Dengan memahami bagaimana berang-berang sungai memengaruhi ekosistem Chesapeake Bay melalui interaksi dengan mangsa dan parasit mereka, kita dapat lebih menghargai peran penting mereka sebagai insinyur ekosistem dan sentinel kesehatan lingkungan. Penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa bahkan detail terkecil pun dapat membawa kita pada wawasan besar tentang dunia alami di sekitar kita.
Jadi, lain kali Anda melihat seekor berang-berang atau bahkan jejak kotorannya, ingatlah bahwa makhluk kecil ini memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem kita!
REFERENSI
- Wise, C., Lohan, K.M., et al. (2025). Diet composition and parasite diversity of North American river otters in Chesapeake Bay revealed through metabarcoding. Frontiers in Ecology and Evolution, Vol. 13. DOI: https://doi.org/10.3389/fevo.2025.xxxxxx |
- Smithsonian Environmental Research Center. (2026). What river otter scat reveals about Chesapeake Bay ecosystems. https://serc.si.edu (Diakses 21 Februari 2026) |
- Lontra canadensis – Animal Diversity Web, University of Michigan. (2024). Species account. https://animaldiversity.org (Diakses 21 Februari 2026) |
- Callinectes sapidus – NOAA Fisheries. (2024). Blue crab species profile. https://www.fisheries.noaa.gov (Diakses 21 Februari 2026) |
- Johnson, P.T.J., et al. (2010). When parasites become prey: ecological and evolutionary consequences of parasite–predator interactions. Trends in Ecology & Evolution, 25(6), 362–371. DOI: https://doi.org/10.1016/j.tree.2010.01.005






