Mengungkap Rahasia “Greater Pleiades Complex”: Keluarga Bintang yang Terlupakan

Pleiades, atau yang sering dikenal sebagai “Tujuh Saudari” (Seven Sisters), adalah salah satu gugusan bintang paling terkenal di langit malam. […]

Pleiades, atau yang sering dikenal sebagai “Tujuh Saudari” (Seven Sisters), adalah salah satu gugusan bintang paling terkenal di langit malam. Dalam budaya Jepang, gugusan ini disebut “Subaru”, dan kisah tentangnya telah menjadi bagian dari warisan budaya manusia selama ribuan tahun. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa apa yang kita ketahui tentang Pleiades selama ini hanyalah sebagian kecil dari gambaran yang jauh lebih besar.

Para astronom dari University of North Carolina di Chapel Hill baru-baru ini menemukan bahwa Pleiades sebenarnya adalah inti terang dari keluarga bintang yang jauh lebih besar dan kompleks. Penemuan ini, yang dipublikasikan pada 15 November di The Astrophysical Journal, menunjukkan bahwa “Greater Pleiades Complex” mencakup 3.091 bintang dan membentang lebih dari 1.900 tahun cahaya—20 kali lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Sebuah Gugusan Bintang yang Melebur

Gugusan bintang seperti Pleiades terbentuk dari awan gas dan debu raksasa. Bintang-bintang dalam gugusan ini awalnya terikat secara gravitasi, tetapi seiring waktu, mereka mulai terpisah dan “melebur” ke dalam galaksi, membuat akar keluarga mereka sulit dilacak. Pleiades yang kita lihat hari ini hanyalah inti padat dari gugusan tersebut, yaitu bagian yang sebagian besar tetap bersatu.

Namun, bagaimana para astronom berhasil menemukan anggota keluarga Pleiades yang tersebar ini? Tim peneliti menggunakan pendekatan inovatif dengan menggabungkan data dari dua teleskop luar angkasa canggih: Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) milik NASA dan satelit Gaia milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Dengan data ini, mereka mampu melacak anggota gugusan Pleiades yang telah lama terpisah.

Metode untuk Menyatukan Kembali Keluarga Bintang

Untuk mengidentifikasi anggota tersembunyi dari gugusan Pleiades, para peneliti mengembangkan metode baru yang mengandalkan empat bukti utama:

  1. Usia Seragam
    Dengan menggunakan data dari TESS, para astronom dapat mengukur kecepatan rotasi bintang. Bintang muda, seperti anggota Pleiades yang berusia sekitar 100 juta tahun, berputar lebih cepat dibandingkan bintang tua. Dengan cara ini, mereka dapat menentukan bintang-bintang mana yang lahir pada waktu yang sama.
  2. Gerakan Sejalan
    Data dari satelit Gaia memungkinkan tim untuk melacak posisi dan gerakan tiga dimensi miliaran bintang. Mereka menemukan sekelompok besar bintang yang bergerak pada jalur yang sama di galaksi seperti inti Pleiades, menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari gugusan yang sama.
  3. Komposisi Kimia Serupa
    Bintang-bintang yang lahir dari awan gas yang sama akan memiliki “sidik jari kimia” serupa. Tim peneliti menggunakan data spektroskopi dari berbagai survei berbasis darat untuk memastikan bahwa bintang-bintang baru ini memiliki komposisi kimia yang sama dengan inti Pleiades.
  4. Asal Usul Bersama
    Dengan menganalisis data gerakan dari Gaia, para peneliti menjalankan simulasi komputer untuk “memutar balik” jalur orbit bintang-bintang tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa semua bintang dalam kelompok besar ini berasal dari lokasi yang sama sekitar 100 juta tahun lalu.

Menemukan Struktur Tersembunyi Galaksi Kita

Penemuan “Greater Pleiades Complex” tidak hanya memperluas pemahaman kita tentang gugusan bintang ini, tetapi juga mengubah cara kita memandang struktur galaksi secara keseluruhan. Studi ini menunjukkan bahwa banyak bintang di sekitar Matahari sebenarnya adalah bagian dari keluarga besar bintang yang telah terpisah selama jutaan tahun.

Andrew Boyle, penulis utama penelitian ini, menyatakan dalam siaran pers bahwa hasil penelitian mereka membuka jendela baru untuk memahami arsitektur tersembunyi galaksi kita. Teknik “jam kosmik” yang mereka gunakan dalam penelitian ini dapat diterapkan pada gugusan bintang lain untuk memetakan struktur galaksi dengan lebih rinci.

Co-author Andrew Mann menambahkan bahwa metode ini dapat membantu menemukan “saudara kandung” Matahari yang telah lama hilang—bintang-bintang yang lahir bersama Matahari sekitar 4,6 miliar tahun lalu tetapi kini tersebar di seluruh galaksi.

Koneksi Kosmis dan Budaya

Penemuan ini juga memberikan dimensi baru pada hubungan manusia dengan Pleiades. Dalam berbagai budaya di seluruh dunia, gugusan ini telah menjadi simbol penting. Dari mitologi Yunani kuno hingga cerita rakyat suku Aborigin Australia, legenda tentang “Tujuh Saudari” telah bertahan selama ribuan tahun. Bahkan logo perusahaan mobil Jepang Subaru terinspirasi oleh Pleiades.

Satu teori menarik menyebutkan bahwa mitos “Tujuh Saudari” mungkin berasal lebih dari 100.000 tahun lalu, sebelum manusia bermigrasi keluar dari Afrika. Pada masa itu, bintang Pleione mungkin tampak lebih jauh dari Atlas, sehingga tujuh bintang terlihat jelas dengan mata telanjang—berbeda dengan enam bintang utama yang biasanya terlihat saat ini.

Dengan penemuan bahwa keluarga Pleiades jauh lebih besar dari yang pernah kita bayangkan, kisah kosmik ini menjadi semakin kaya dan kompleks. Ini bukan lagi hanya tentang tujuh bintang terang di langit malam, melainkan tentang ribuan saudara bintang yang tersebar di seluruh galaksi.

Masa Depan Penelitian Gugusan Bintang

Penelitian ini hanyalah awal dari eksplorasi lebih lanjut tentang struktur galaksi kita. Tim peneliti berencana untuk menerapkan metode serupa pada gugusan bintang lainnya sebagai bagian dari TESS All-Sky Rotation Survey. Dengan teknologi canggih dan pendekatan inovatif seperti ini, para astronom berharap dapat mengungkap lebih banyak rahasia tentang asal-usul dan evolusi galaksi kita.

Penemuan “Greater Pleiades Complex” tidak hanya memperluas wawasan kita tentang Pleiades, tetapi juga membuka jalan bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana bintang-bintang—termasuk Matahari kita—terbentuk dan berkembang di alam semesta. Ini adalah pengingat bahwa langit malam masih menyimpan banyak misteri, menunggu untuk diungkap oleh generasi astronom masa depan.

Referensi

  1. Boyle, A. et al. (2024). The Greater Pleiades Complex. The Astrophysical Journal, Vol. 974.
  2. Mann, A. W. et al. (2023). Stellar Rotation as a Clock. Annual Review of Astronomy and Astrophysics, Vol. 61.
  3. Gaia Collaboration. (2022). Gaia Data Release 3. Astronomy & Astrophysics, Vol. 667.
  4. Portegies Zwart, S. F. & McMillan, S. L. W. (2010). Young Massive Star Clusters. Annual Review of Astronomy and Astrophysics, Vol. 48.
  5. NASATransiting Exoplanet Survey Satellite (TESS): mission overview and stellar rotation studies; diakses 31 Desember 2025.
  6. European Space Agency (ESA)Gaia space observatory and Milky Way stellar mapping; diakses 31 Desember 2025.
  7. University of North Carolina at Chapel HillAstronomy news release on the Greater Pleiades Complex discovery; diakses 31 Desember 2025.
  8. Space.comPleiades star cluster and extended stellar family discoveries; diakses 31 Desember 2025.
  9. Caltech Astronomy / Palomar ObservatoryZwicky Transient Facility (ZTF) and stellar age determination research; diakses 31 Desember 2025.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top