Pada pertengahan tahun 2025, para astronom kembali dikejutkan oleh kedatangan tamu kosmik langka yang melintas di langit. Objek itu adalah komet 3I ATLAS, atau secara resmi disebut C 2025 N1 ATLAS. Ia adalah objek antarbintang ketiga yang pernah ditemukan manusia. Dua pendahulunya adalah Oumuamua pada tahun 2017 dan 2I Borisov pada tahun 2019. Kehadiran 3I ATLAS membuka bab baru dalam studi benda asing yang berasal dari luar tata surya, serta memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk mengamati komet dari sistem bintang lain dengan instrumen paling kuat di dunia.
Penemuan awal komet ini terjadi pada 1 Juli 2025. Namun sebuah kejutan besar muncul ketika peneliti menyadari bahwa teleskop raksasa Vera C Rubin Observatory sebenarnya sudah menangkap citra komet ini sejak 21 Juni 2025. Artinya, komet tersebut telah terekam oleh kamera observatorium sepuluh hari sebelum resmi ditemukan. Pengamatan yang tidak disengaja ini terjadi ketika Rubin Observatory sedang melakukan rutinitas pengujian instrumen sebelum mulai beroperasi penuh. Kejadian seperti ini sangat jarang, tetapi justru sangat menguntungkan, karena para peneliti memperoleh data yang jauh lebih lengkap mengenai perilaku komet sebelum penemuannya.
Baca juga artikel tentang: Tameng Karbon, Data Emas: Misi Parker Membidik Jantung Badai
Vera Rubin Observatory adalah teleskop berdiameter delapan meter yang dirancang untuk menghasilkan survei langit paling rinci dalam sejarah. Instrumen utamanya yang bernama Legacy Survey of Space and Time atau LSST mampu menangkap bidang langit yang luas dengan sensitivitas sangat tinggi. Karena itulah pengamatan yang diperoleh dari observatorium ini sangat berharga. Data dari LSST mencatat posisi, kecerahan, dan perubahan struktur komet secara presisi. Bagi para ilmuwan, kesempatan mengamati objek antarbintang dengan teleskop sebesar ini merupakan momen ilmiah langka.
Dari rangkaian citra yang berhasil dikumpulkan, para peneliti dapat menelusuri pergerakan komet dengan akurasi tinggi. Pengukuran posisi yang sangat presisi, atau yang disebut astrometri, digunakan untuk memperbaiki perhitungan orbit komet. Hasilnya menunjukkan bahwa lintasan komet benar benar berasal dari luar tata surya dan bukan bagian dari populasi komet biasa yang terikat gravitasi Matahari. Data yang sangat rinci ini membantu memprediksi jalur komet secara lebih akurat, sehingga para astronom di berbagai belahan dunia dapat merencanakan pengamatan selanjutnya.
Selain posisi, para ilmuwan juga mempelajari kecerahan komet dari waktu ke waktu melalui teknik fotometri. Setiap gambar dari Rubin Observatory mencatat angka kecerahan yang dapat dibandingkan dari hari ke hari. Hasil analisis menunjukkan bahwa 3I ATLAS tidak menunjukkan perubahan kecerahan yang signifikan dalam skala jam. Dengan kata lain, tidak ditemukan variasi fotometrik yang cepat. Informasi ini memberi petunjuk mengenai perilaku rotasi inti komet atau tingkat aktivitas yang terjadi pada permukaannya. Banyak komet lokal menunjukkan perubahan berkala akibat rotasi inti yang tidak beraturan. Namun 3I ATLAS tampaknya lebih stabil dalam pengamatan awal ini.
Dari data fotometri, para ilmuwan juga menghitung magnitudo absolut komet pada pita V. Hasil pengukurannya adalah sekitar 13.7 dengan ketidakpastian kecil. Angka ini digunakan untuk memperkirakan ukuran inti komet. Dengan melakukan pemodelan berdasarkan tingkat reflektifitas dan kecerahan, para peneliti memperkirakan bahwa 3I ATLAS memiliki radius inti sekitar lima hingga enam kilometer. Ini berarti ia termasuk kategori komet berukuran menengah dan lebih besar daripada banyak komet antarbintang yang diprediksi sebelumnya.
Salah satu penemuan penting lainnya adalah bukti aktivitas komet yang muncul sangat awal. Rubin Observatory mendeteksi tanda tanda aktivitas permukaan sejak 21 Juni 2025, jauh sebelum komet mencapai jarak dekat dengan Matahari. Aktivitas pada komet terjadi ketika es pada permukaan berubah menjadi gas dan mendorong debu keluar, membentuk koma atau selubung kabut yang khas. Fakta bahwa 3I ATLAS sudah aktif dari jarak jauh menandakan bahwa komet tersebut mengandung es yang sangat mudah menguap, kemungkinan seperti karbon monoksida atau karbon dioksida. Jenis es ini dapat menguap pada suhu yang lebih rendah dibandingkan es air, sehingga komet dapat aktif lebih dini. Temuan ini memberikan wawasan mengenai kondisi lingkungan di tempat komet tersebut terbentuk. Mungkin ia lahir di wilayah yang sangat dingin dalam sistem bintang asalnya.
Pengamatan Rubin Observatory adalah yang paling awal dan paling rinci untuk 3I ATLAS sejauh ini. Teleskop berdiameter delapan meter memberikan resolusi jauh lebih baik dibandingkan banyak observatorium lain. Hal ini memungkinkan para ilmuwan menilai morfologi atau bentuk selubung komet, ukuran koma, dan perkembangan aktivitasnya dari hari ke hari. Data Rubin menjadi fondasi bagi seluruh komunitas astronomi untuk mengembangkan model komet antarbintang yang lebih akurat.

Selain itu, penelitian ini menunjukkan apa yang dapat dicapai LSST ketika mulai beroperasi penuh. LSST dirancang untuk memantau langit setiap malam dengan cakupan sangat luas dan sensitivitas tinggi. Jika 3I ATLAS saja dapat direkam secara tidak sengaja dalam fase uji coba, bayangkan kemampuan LSST ketika nanti bekerja penuh. Teleskop ini akan mampu menemukan lebih banyak objek asing, termasuk benda antarbintang lain yang selama ini sulit dideteksi. Hal tersebut dapat membuka era baru penemuan komet dan asteroid yang berasal dari sistem bintang jauh.
Penelitian mengenai 3I ATLAS tidak hanya penting sebagai kajian komet, tetapi juga sebagai jendela menuju pemahaman lebih dalam tentang sistem planet asing. Objek ini membawa bahan yang terbentuk di lingkungan yang mungkin sangat berbeda dari tata surya. Es, debu, dan mineral yang dikandungnya adalah bukti fisik yang dapat membantu para ilmuwan membandingkan proses pembentukan planet di berbagai bintang. Jika struktur dan perilaku komet antarbintang serupa dengan komet lokal, maka alam semesta mungkin membangun planet dengan cara yang cukup wajar dan teratur di berbagai tempat. Namun jika perbedaannya besar, maka keberagaman proses pembentukan planet di galaksi mungkin lebih luas dari yang dibayangkan.
Pengamatan awal 3I ATLAS oleh Vera Rubin Observatory adalah langkah pertama menuju pemahaman komprehensif tentang komet antarbintang ini. Data yang diperoleh memberikan gambaran mengenai ukuran, aktivitas, dan orbitnya, serta menegaskan bahwa teknologi pengamatan modern dapat menangkap bahkan objek asing yang melintas cepat di langit. Kehadiran 3I ATLAS mengingatkan kita bahwa tata surya bukanlah ruang tertutup, melainkan bagian dari arus benda kecil yang bergerak bebas di antara bintang bintang. Setiap komet antarbintang yang melintas membawa cerita dari tempat jauh dan membuka kesempatan bagi kita untuk mengenal lebih dalam bagaimana galaksi menghasilkan dunia baru.
Baca juga artikel tentang: Astronom Temukan Lubang Hitam Raksasa Di Cosmic Horseshoe
REFERENSI:
Chandler, Colin Orion dkk. 2025. Nsf-doe vera c. rubin observatory observations of interstellar comet 3i/atlas (c/2025 n1). arXiv preprint arXiv:2507.13409.

