Penjelasan Ilmiah di Balik Penampakan Makhluk Tak Kasat Mata

Hantu adalah roh dari orang atau hewan yang telah mati yang menampakkan wujudnya dalam kehidupan. Definisi dari hantu pada umumnya […]

blank

Hantu adalah roh dari orang atau hewan yang telah mati yang menampakkan wujudnya dalam kehidupan. Definisi dari hantu pada umumnya berbeda untuk setiap agama, peradaban, maupun adat istiadat. Dalam banyak kebudayaan, hantu tidak didefinisikan sebagai zat yang baik maupun jahat. Sebutan setan, iblis, genderuwo, dan sebagainya, lebih umum digunakan untuk merujuk kepada hantu yang jahat. Sedangkan hantu yang baik yang dianggap mempunyai kemampuan untuk menolong manusia, disebut dengan bermacam nama yang berbeda, seperti sebutan untuk Datuk, Te Cu Kong (penguasa tanah, dalam agama Kong Hu Cu), dan lainnya.

Kepercayaan akan keberadaan dunia akhir dan roh-roh orang mati sudah ada semenjak manusia menganut kepercayaan animisme atau pemujaan roh nenek moyang pada masa sebelum manusia mengenal tulisan. Berbagai ritual keagamaan, penguburan, pengusiran roh jahat dan ritual spiritual lainnya dirancang khusus untuk menenangkan roh orang mati. Hantu sendiri umumnya dideskripsikan sebagai suatu zat yang seperti manusia, walaupun terdapat pula kisah mengenai hantu hewan. Mereka diyakini menghuni tempat, objek atau orang tertentu yang terkait dengan mereka pada saat mereka masih hidup.

Berdasarkan konsensus ilmu pengetahuan, hantu itu bukan konsep yang sah secara ilmiah. Keberadaan mereka tidak dapat difalsifikasi dan kegiatan berburu hantu telah digolongkan sebagai ilmu semu atau pseudosains. Walaupun sudah diselidiki selama berabad-abad, tidak ada satu pun bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa suatu tempat dihuni oleh roh orang mati.

Jutaan orang di dunia percaya dengan keberadaan hantu atau makhluk halus lainnya. Di Indonesia sendiri kita mengenal berbagai hantu seperti Kuntilanak, Pocong, dan sebagainya. Sebagian orang meyakini bahwa kita hidup berdampingan dengan makhluk tak kasat mata. Karena itu, beberapa orang yang lebih ‘peka’ mengaku bisa melihat keberadaan mereka.

Di Amerika Serikat, menurut survei Chapman University di 2017, sebanyak 52% masyarakatnya percaya bahwa suatu tempat bisa dihantui arwah. Angkanya meningkat 11% dari data tahun 2015. Terlepas dari apakah kamu mempercayai keberadaan hantu atau tidak, ada sejumlah penjelasan ilmiah dari penampakan hantu yang dilihat seseorang, enam ini di antaranya:

1. Medan elektromagnetik

Selama berpuluh-puluh tahun, ahli saraf asal Kanada bernama Michael Persinger mempelajari efek medan elektromagnetik pada persepsi manusia terhadap hantu. Dia pun berhipotesis bahwa medan magnet, yang tidak terlihat pada tingkat kesadaran, dapat membuat orang merasa seolah-olah ada ‘kehadiran’ di dalam ruangan bersama mereka. Ini akan menyebabkan pola aktivitas yang tidak biasa di lobus temporal otak.

2. Infrasonik

Infrasonik adalah suara pada tingkat yang sangat rendah sehingga manusia tidak dapat mendengarnya. Getaran frekuensi rendah dapat menyebabkan ketidaknyamanan fisiologis. Para ilmuwan yang mempelajari dampak turbin angin dan kebisingan lalu lintas di dekat tempat tinggal telah menemukan bahwa kebisingan berfrekuensi rendah dapat menyebabkan disorientasi, perasaan panik, perubahan detak jantung dan tekanan darah, serta efek lain yang dapat dengan mudah dikaitkan dengan ‘merasakan kehadiran makhluk lain’.

3. Jamur

Shane Rogers seorang profesor teknik di Clarkson University menghabiskan waktu berbulan-bulan berkeliling ke lokasi-lokasi yang dilaporkan berhantu. Dia pun menemui sejumlah kesamaan yakni pertumbuhan jamur di area tersebut.

“Saya telah menonton banyak pertunjukan hantu,” katanya kepada Mental Floss pada tahun 2015.” Sulit untuk mengatakan apakah hal tersebut merupakan faktor yang berkontribusi atau tidak, namun secara anekdot kita melihat (jamur beracun) ini ada di tempat-tempat berhantu,” ungkap Rogers.

4. Karbon monoksida

Pada tahun 1921, seorang dokter bernama W.H. Wilmer menerbitkan cerita aneh tentang rumah berhantu di American Journal of Ophthalmology. Keluarga yang tinggal di kediaman angker ini, yang dalam literatur medis disebut keluarga H, mulai mengalami fenomena aneh ketika mereka pindah ke sebuah rumah tua. Keluarga ini mengaku mendengar perabotan bergerak dan suara-suara aneh di malam hari. Mereka turut merasakan kehadiran hantu yang tak terlihat dan sering merasa lelah.

Setelah diusut, ternyata, tungku yang rusak memenuhi rumah mereka dengan karbon monoksida, menyebabkan halusinasi aural dan visual. Tungku akhirnya diperbaiki dan keluarga H kembali ke kehidupan mereka — tanpa hantu.

5. Kata orang

“Cerita seseorang dapat memengaruhi ingatan orang lain,” tutur rekan penulis studi 2014 yang diterbitkan di Frontiers, Christopher French, kepada Mental Floss pada tahun 2015. Jika orang lain dengan yakin menyatakan bahwa mereka melihat hantu, hal itu mungkin memengaruhi saksi mata untuk percaya bahwa mereka juga melihatnya.

6. Diri sendiri

“Ada sisi motivasi dari kepercayaan pada hantu,” French menjelaskan.” Kita semua ingin percaya pada kehidupan setelah kematian. Gagasan tentang kematian adalah sesuatu yang secara umum tidak kita sukai. Bagaimanapun, kita merasa lebih mudah untuk memercayai bukti atas sesuatu yang ingin kita percayai,” jabarnya.

REFERENSI:

Bunge, Mario. Philosophy of Science: From Problem to Theory Diarsipkan 2023-08-14 di Wayback Machine.. Transaction Publishers; 1998. ISBN 978-1-4128-2423-1. hlm. 178–.

Regal, Brian (15 October 2009). Pseudoscience: A Critical Encyclopedia. ABC-CLIO. hlm. 75–77. ISBN 978-0-313-35508-0. Diakses tanggal 20 Januari 2024.

Raford, Benjamin. “Ghost-Hunting Mistakes: Science and Pseudoscience in Ghost Investigations“. Committee for Skeptical Inquiry. Diakses tanggal 20 Januari 2024.

Levy, Rob; Levy, Stephanie. “Hearing ghost voices relies on pseudoscience and fallibility of human perception“. The Conversation.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *