Suka Anime? Kenali Penyakit Mental Para Tokoh di Anime

Karakter dalam beberapa anime seringkali terlihat memiliki penyakit mental dan bahkan. Pada anime dan manga penyakit mental biasanya menjadi sebuah perkembangan karakter tersebut. Banyak penggambaran penyakit mental di anime yang terkadang kurang realistis dengan dunia medis. Beberapa karakter yang memiliki kelainan mental gejalanya sangat sedikit dan jarang. Namun demikian, memberikan karakternya kepribadian yang menarik dan cerita latar yang kompleks.

Jenis penyakit mental di Anime dan Manga

Penyakit mental datang dalam berbagai bentuk. Namun, di anime dan manga, mereka umumnya termasuk dalam salah satu dari empat kategori yakni:

  1. Gangguan perasaan melibatkan suasana hati yang tidak normal atau tidak sesuai yang tidak dapat dikendalikan oleh seseorang, dan termasuk gangguan depresif berat dan gangguan bipolar.
  2. Gangguan yang berhubungan dengan stres adalah penyebab, atau disebabkan oleh, stres dan kecemasan; sering keduanya. Contoh gangguan ini termasuk gangguan stres pasca trauma, dan gangguan disosiatif. 
  3. Gangguan psikotik ditandai dengan perilaku abnormal, halusinasi, dan delusi, yang tidak dikenali oleh penderitanya apa adanya. Yang paling terkenal dan paling melemahkan adalah skizofrenia. 
  4. Gangguan kepribadian lebih sulit untuk didefinisikan, tetapi umumnya melibatkan beberapa masalah dalam kepribadian seseorang yang memengaruhi kemampuan mereka untuk menjalani kehidupan sehari-hari. 

Stereotip tentang penyakit mental

Banyak orang memiliki stereotip tentang orang yang sakit jiwa dalam anime dan manga. Secara umum, stereotip ini bermuara pada dua hal yaitu:

  1. Ketakutan dan pengucilan, orang dengan penyakit mental dan mereka menjauhkan diri dari komunitas
  2. Otoritarianisme, orang dengan gangguan jiwa berat tidak bertanggung jawab dalam hidup mereka sendiri dan egois.

Beberapa contohnya dari karakter Mao (Code Geass), Death The Kid (Soul Eater) dan Osaka (Azumanga Daioh).

  • Mao (Code Geass)
blank
Mao dalam Code Geass

Dia menunjukkan banyak keburukan dalam perilaku seperti, mementingkan diri sendiri yang menyebabkan dia. Tetapi memang dia memiliki alasan mengapa dia bertindak seperti itu. Kekuatan membaca pikirannya membuat dia menjadi tidak normal dan sulit berbuat tidak egois.

  • Death the Kid (Soul Eater)
blank
Death the Kid dalam Soul Eater

Tokoh ini memiliki obsesi dengan simetri sebagai kekhasan kepribadian yang konyol dan canggung dalam kehidupannya. Namun terjadi hal yang unik ketika dia melihat suati hal tidak simetris. Dia merasa sangat tidak nyaman dan kesulitan fokus. Hal ini ternyata berkaitan dengan gangguan obsesif-kompulsif.

Permasalahan Mental dalam Karakter Antagonis

Ketika kebanyakan orang memikirkan antagonis yang sakit mental, mereka menganggap bahwa penyakit mental adalah penyebab masalah mereka. Namun, hal ini tidak selalu terjadi. Anime menghadirkan sejumlah antagonis yang memiliki penyakit mental. Contohnya Hansel dan Gretel, sepasang tentara anak kembar dari anime Black Lagoon dan Furuichi Teraoka, dari Xam’d: Lost Memories.

  • Hansel dan Gretel (Black Lagoon)
blank
Hansel dan Gretel dalam Black Lagoon

Karakter-karakter ini memiliki gangguan identitas disosiatif yang menyebabkan mereka terkadang berganti identitas. Apakah penggambaran disosiasi ini benar untuk kehidupan tidak jelas, tetapi mengingat sejarah pribadi karakter, bahwa mereka menderita disosiasi tidak terlalu mengejutkan.

Gangguan disosiatif adalah gangguan perkembangan anak usia bahwa hasilnya ketika anak-anak yang sangat muda mengalami berat, berkepanjangan kekerasan dan penelantaran, sesuatu yang kita tahu benar tentang Hansel dan Gretel. Yang lebih menarik adalah, tidak seperti banyak penjahat yang sakit mental, serial ini menyatakan bahwa mungkin ada harapan untuk setidaknya satu dari si kembar, Gretel. 

  • Furuichi Teraoka (Xam’d: Lost Memories)
blank
Furuichi Teraoka dalam Xam’d: Lost Memories

Antagonis anime lain yang menunjukkan gejala penyakit mental adalah Furuichi Teraoka, dari produksi Studio Bones Xam’d: Lost Memories . Di awal cerita Furuichi tampak seperti pemuda biasa, pandai menyesuaikan diri, dan perhatian. Namun, ketika perang pecah di tanah airnya dan hidupnya dan teman-temannya menjadi semakin rumit dan putus asa, dia tenggelam dalam depresi yang dalam dan mulai menyerang orang-orang yang peduli padanya.

Fokus penting dalam serial ini smenyiratkan bahwa kejahatan dan depresinya terkait secara langsung dalam perkembangan karakter. Sebaliknya, keadaan malang yang dia alami menyebabkan dia, secara bersamaan, menjadi depresi dan mulai melakukan hal-hal jahat. Xam’d tampaknya menunjukkan kompeksitas cerita yang sangat baik dalam membuat seseorang rentan terhadap penyakit mental dalam kehidupan nyata.  Para ilmuwan sekarang tahu bahwa mengalami stres dan kehilangan pada usia dini membuat seseorang lebih rentan untuk mengembangkan masalah kesehatan mental di kemudian hari.

Kompleksitas Penyakit Mental dan Cerita

Terlepas dari masalah ini, anime dan manga penuh dengan karakter menarik dan menggugah pikiran yang kebetulan sakit mental. Karakter sakit jiwa di anime bisa jadi pahlawan atau penjahat, dan sangat bervariasi dalam seberapa akurat masalah kesehatan mental mereka digambarkan. Beberapa karakter ini akhirnya menjadi salah satu yang paling menarik dan kompleks dalam karya masing-masing.

*Diterjemahkan dari Mental Illness in Anime and Manga oleh Debs dalam The Artifice

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Fakhri Benindo
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *