Sebuah studi yang melibatkan hampir 400.000 ilmuwan dari 38 negara mengungkapkan temuan mengejutkan: hampir 50% peneliti memutuskan untuk meninggalkan dunia sains dalam kurun waktu sepuluh tahun. Temuan ini menimbulkan pertanyaan penting—apa yang menjadi penyebab banyaknya ilmuwan yang berhenti? Dalam studi tersebut, para peneliti mencatat bahwa sekitar 0,3% ilmuwan sudah berhenti dalam waktu lima tahun setelah menerbitkan makalah pertama mereka. Angka ini kemudian meningkat tajam, dengan hampir separuh dari para peneliti memutuskan untuk keluar dari karier ilmiah mereka dalam satu dekade.
Fenomena ini menandakan adanya tantangan serius dalam ekosistem penelitian global. Faktor-faktor seperti tekanan untuk menerbitkan makalah ilmiah, kurangnya pendanaan, ketidakstabilan pekerjaan, dan beban kerja yang tinggi mungkin menjadi beberapa alasan yang mendorong para peneliti meninggalkan profesi mereka. Hasil ini menggambarkan betapa sulitnya mempertahankan karier di bidang sains dalam jangka panjang, yang mengancam keberlanjutan inovasi dan perkembangan ilmu pengetahuan di masa depan.
Analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Higher Education1 menggunakan data dari basis data kutipan Scopus untuk melacak perjalanan karier publikasi ilmiah para peneliti. Scopus adalah salah satu database terbesar yang merekam publikasi akademik dari berbagai disiplin ilmu di seluruh dunia. Penelitian ini mengungkapkan bahwa secara keseluruhan, perempuan cenderung lebih mungkin berhenti menerbitkan karya ilmiah dibandingkan dengan laki-laki. Namun, perbedaan ini tidak merata di semua bidang ilmu; tingkat perbedaannya bervariasi tergantung pada disiplin yang diteliti.
Marek Kwiek, salah satu penulis studi dan pakar karier akademis di Universitas Adam Mickiewicz, Poznań, Polandia, menjelaskan bahwa fenomena ilmuwan meninggalkan dunia sains bukanlah hal baru. “Kami selalu tahu bahwa beberapa peneliti memilih keluar dari dunia sains. Namun, seberapa besar skala dari fenomena ini sebelumnya tidak diketahui,” ungkapnya dalam wawancara dengan http://Nature.com pada Sabtu (5/10/2024).
Temuan ini memberikan wawasan penting tentang tantangan yang dihadapi peneliti, khususnya perempuan, di berbagai bidang ilmu. Faktor-faktor seperti beban keluarga, kurangnya dukungan karier, tekanan akademis, dan ketimpangan gender dalam ekosistem penelitian dapat berkontribusi pada keputusan ini. Studi ini menekankan perlunya kebijakan yang lebih inklusif dan dukungan lebih baik untuk memastikan keberlanjutan karier peneliti dari berbagai latar belakang.
Studi ini merupakan salah satu upaya terbesar dan paling komprehensif dalam mengukur jumlah ilmuwan yang meninggalkan dunia sains. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang cakupannya terbatas, terutama berfokus pada peneliti di Amerika Serikat, studi ini melibatkan data global. Dengan skala yang jauh lebih luas, temuan ini memberikan gambaran yang lebih akurat tentang tren dan tantangan dalam ekosistem akademik. Joya Misra, seorang sosiolog dari University of Massachusetts, Amherst, yang mempelajari ketidaksetaraan dan peran gender dalam dunia akademik, menekankan pentingnya studi ini. “Ketika Anda memiliki data besar seperti ini, Anda bisa lebih yakin bahwa ini adalah masalah nyata,” katanya. Dalam studi tersebut, Marek Kwiek dan timnya melacak perjalanan karier publikasi dua kelompok peneliti: kelompok pertama terdiri dari 142.776 peneliti, dengan 52.115 di antaranya perempuan, yang mulai menerbitkan riset pada tahun 2000. Kelompok kedua mencakup 232.843 peneliti, termasuk 97.145 perempuan, yang memulai karier publikasinya pada tahun 2010. Para peneliti dalam kedua kelompok ini berasal dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, serta negara-negara di Eropa, dan mereka mewakili 16 disiplin ilmu berbeda.
Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah lima tahun, sekitar 0,3% peneliti dari kelompok tahun 2000 berhenti menerbitkan karya ilmiah. Jumlah ini meningkat drastis dalam 10 tahun, dengan hampir separuh dari peneliti memilih meninggalkan karier akademik mereka. Temuan ini menunjukkan adanya pola konsisten tentang berkurangnya keterlibatan ilmuwan, menggambarkan betapa sulitnya mempertahankan karier di dunia akademis dalam jangka panjang, baik karena tantangan personal, institusional, maupun struktural.
Perempuan memiliki kemungkinan 12% lebih tinggi untuk meninggalkan karier di dunia sains setelah 5 hingga 10 tahun dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini menunjukkan adanya tantangan spesifik yang dihadapi perempuan dalam mempertahankan keberlangsungan karier ilmiah mereka. Data dari tahun 2019 mengungkapkan bahwa hanya 29% perempuan dalam kelompok peneliti yang masih aktif menerbitkan karya ilmiah, dibandingkan dengan 34% laki-laki yang tetap melanjutkan publikasi mereka. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk beban ganda yang harus dihadapi perempuan, seperti tanggung jawab rumah tangga dan pekerjaan, serta kurangnya dukungan institusional untuk karier perempuan dalam bidang akademis.
Selain itu, ketidaksetaraan gender, seperti diskriminasi atau akses yang terbatas terhadap jaringan profesional dan peluang pendanaan, juga bisa berperan. Fenomena ini menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan dalam sistem akademik yang membuat perempuan lebih rentan untuk keluar dari dunia penelitian. Tanpa upaya untuk memperbaiki kondisi ini, ada risiko bahwa ilmu pengetahuan akan kehilangan banyak talenta berbakat. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan untuk mendukung perempuan dalam dunia sains, seperti program mentoring, dukungan karier, dan lingkungan kerja yang lebih fleksibel.
Studi tentang kelompok peneliti tahun 2010 menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam publikasi ilmiah mulai menyempit. Setelah 9 tahun sejak publikasi pertama mereka, sekitar 41% perempuan dan 42% laki-laki masih aktif menerbitkan karya ilmiah. Ini merupakan perkembangan positif, menurut Damani White-Lewis, peneliti di bidang pendidikan tinggi dan karier akademis di University of Pennsylvania, Philadelphia. “Selalu menyenangkan melihat kemajuan, karena itu berarti kita bisa meniru langkah-langkah yang berhasil,” ujarnya. Namun, tidak semua bidang ilmu menunjukkan kemajuan serupa. Ilmu hayati, misalnya, masih mengalami kesenjangan signifikan. Di bidang biologi, sebanyak 58% perempuan meninggalkan karier sains setelah 10 tahun, dibandingkan dengan hampir 49% laki-laki. Sebaliknya, di fisika, proporsi peneliti yang berhenti setelah 10 tahun hampir sama, yakni 48% untuk perempuan dan 47% untuk laki-laki. Dalam bidang seperti matematika, teknik, dan ilmu komputer, di mana perempuan memang cenderung lebih sedikit, perbedaan gender juga tidak terlalu mencolok.
White-Lewis menekankan bahwa temuan ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana kita dapat memfasilitasi akses, keberhasilan, dan retensi peneliti di berbagai bidang sains. Dia menekankan pentingnya membangun lingkungan yang mendukung keberlanjutan karier ilmiah, terutama bagi perempuan dan kelompok yang kurang terwakili.
Mengapa Peneliti Berhenti?
Penelitian ini juga mengungkap bahwa kesenjangan gender sebenarnya bisa lebih besar daripada yang tercermin dalam data publikasi. Salah satu alasannya adalah bahwa perempuan sering kali tidak diakui sebagai kolaborator dalam karya yang dipublikasikan, meskipun mereka terlibat aktif dalam penelitian. Dengan demikian, kontribusi mereka bisa hilang dari rekam jejak ilmiah, yang mempengaruhi pengakuan dan perkembangan karier mereka.
Meskipun studi ini memberikan wawasan tentang waktu dan pola kapan peneliti memilih untuk meninggalkan karier sains, alasan spesifik di balik keputusan tersebut masih belum sepenuhnya jelas. Ini menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami tantangan personal, institusional, dan struktural yang dihadapi peneliti—terutama perempuan—agar langkah-langkah yang lebih efektif dapat diambil untuk meningkatkan retensi dalam dunia sains.
Ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi pada keputusan peneliti untuk meninggalkan dunia sains. Selain berhenti dari penelitian sepenuhnya, banyak ilmuwan memilih untuk berpindah ke lembaga yang tidak terlalu menekankan pada aktivitas penelitian, seperti perguruan tinggi yang lebih fokus pada pengajaran daripada riset. Beberapa peneliti juga beralih ke industri untuk mencari peluang karier dengan kondisi kerja yang lebih stabil dan gaji yang lebih kompetitif. Dunia industri sering kali menawarkan jalur karier yang lebih jelas dibandingkan dengan akademisi, terutama karena penelitian akademis sering menghadapi tantangan seperti ketidakpastian pendanaan dan tuntutan publikasi yang tinggi. Selain itu, sebagian peneliti memilih untuk beralih ke peran administratif di universitas atau lembaga riset.
Peran administratif ini mungkin melibatkan manajemen proyek, pengelolaan hibah, atau kebijakan ilmiah. Meskipun tidak terlibat langsung dalam penelitian, posisi ini tetap memungkinkan mereka berkontribusi pada perkembangan sains dari perspektif manajerial.Transisi ini sering kali didorong oleh berbagai faktor, seperti beban kerja akademis yang tinggi, tekanan untuk menerbitkan, ketidakstabilan kontrak kerja, atau kebutuhan akan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Akibatnya, meskipun mereka tidak lagi aktif sebagai peneliti, banyak ilmuwan tetap membawa keterampilan dan pengalaman mereka ke bidang lain, seperti industri atau administrasi, di mana pengetahuan ilmiah mereka tetap bermanfaat.
Pada tahun 2023, White-Lewis dan rekan-rekannya melakukan penelitian untuk memahami faktor-faktor yang mendorong peneliti keluar dari dunia akademik. Mereka menganalisis keputusan 773 anggota fakultas di berbagai lembaga akademik di Amerika Serikat antara tahun 2015 dan 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor utama yang memengaruhi keputusan ini, yaitu tanggung jawab keluarga, status jabatan, dan gaji.
Tanggung jawab keluarga sering kali menjadi tantangan besar, terutama bagi perempuan, karena mereka mungkin menghadapi tuntutan untuk menyeimbangkan pekerjaan akademik dengan tugas rumah tangga atau mengasuh anak. Status jabatan, seperti kesulitan mendapatkan posisi tetap atau naik pangkat, juga berperan penting. Banyak peneliti merasa frustrasi dengan ketidakpastian karier dalam lingkungan akademis yang kompetitif. Selain itu, gaji yang tidak kompetitif dibandingkan dengan industri juga mendorong mereka untuk mencari peluang di luar akademisi.
White-Lewis menekankan pentingnya melengkapi penelitian ini dengan data dari Scopus, yaitu basis data besar yang mencatat publikasi ilmiah di seluruh dunia. “Akan menarik jika kita bisa menggabungkan data publikasi dari Scopus dengan data institusional,” ujarnya. Dengan memadukan kedua jenis data tersebut, para peneliti dapat memperoleh wawasan lebih mendalam tentang hubungan antara produktivitas ilmiah dan faktor-faktor yang memengaruhi keputusan untuk meninggalkan akademisi. Ini juga bisa membantu memahami bagaimana pola-pola seperti penurunan produktivitas atau ketidaksetaraan gender terkait dengan retensi peneliti.
REFERENSI:
Preston, AE. 2024. Leaving Science. Google Book. https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=lQWGAwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR7&dq=Understanding+the+Exit+Strategies+of+Scientists+Leaving+Academia.&ots=bFfdeC-dtL&sig=0RTvipAKz0Edk1BtEi68rQYBoQE&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

