Perkembangan Sistem Penangkapan dan Penyimpanan Gas CO2 di Indonesia

Perkembangan Sistem Penangkapan dan Penyimpanan Gas CO2 di Indonesia Sebagai negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, Indonesia […]

blank

Perkembangan Sistem Penangkapan dan Penyimpanan Gas CO2 di Indonesia

Sebagai negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan teknologi terkini dalam menangani masalah lingkungan global. Langkah-langkah inovatif dalam penangkapan dan penyimpanan CO2 haruslah menjadi prioritas, melibatkan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga penelitian. Proyek-proyek seperti penerapan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) dan upaya peningkatan efisiensi pada sektor energi adalah langkah-langkah strategis yang diambil untuk mencapai target mitigasi emisi gas rumah kaca. Topik carbon capture menjadi semakin tren dibahas karena muncul dalam debat Cawapres 2024.

Emisi CO2

Meningkatnya kekhawatiran terhadap pemanasan global, pengendalian emisi gas rumah kaca antropogenik khususnya CO2 ­menjadi perhatian khusus dalam beberapa tahun terakhir. Emisi CO2 telah meningkat secara dramatis sejak revolusi industri dan mencapai lebih dari 400 ppm di atmosfer saat ini. Fenomena ini juga mendapat perhatian dari organsisasi pemerintah Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang melaporkan aktivitas manusia akan menyebabkan kenaikan suhu sebesar 1,5 oC pada tahun 2030-2050. Sebagian besar aktivitas manusia penyebab tingginya emisi CO2 berasal dari berbagai sumber seperti industri dan transportasi serta mengakibatkan pemanasan global.

Umumnya dalam penggunaan industri, pemisahan gas CO2 dari produk setelah proses produksi menggunakan pelarut kimia berupa senyawa amine di dalam absorber, dan pelarutnya akan diregenerasi lagi menggunakan stripper. Hasil pengolahan berupa gas CO2­, kemudian dialirkan menuju tangki penampung limbah untuk diproses lebih lanjut atau dibakar menggunakan flare, tetapi tidak jarang beberapa pabrik membuang begitu saja gas buang di atmosfer. Potensi dan bahaya yang terbuang begitu saja dari gas CO2 masih bisa digunakan kembali dengan salah satu metode yang sekarang banyak disorot yaitu, Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). CCUS merupakan salah satu sistem pengurangan emisi CO2 melalui penangkapan gas CO­2 hasil industri dengan kelebihan utamanya untuk terus menggunakan bahan bakar fosil atau memproduksi gas buang CO2 tanpa menyebabkan peningkatan emisi CO2 secara signifikan.

CCUS di Indonesia

Di Indonesia, penerapan CCUS digunakan sebagai enhanced gas recovery (EGR) dan enhanced oil recovery (EOR), keduanya merupakan metode peningkatan cadangan minyak atau gas pada suatu sumur dengan cara mengangkat volume yang sebelumnya tidak dapat diproduksi. Sebagai langkah awal, pada tahun 2022 pemerintah melakukan uji coba injeksi CO2  ke sumur JTB-161 di Lapangan Pertamina EP Jatibarang di Indramayu, Jawa Barat. Prosesnya dimulai dengan penginjeksian sumur dengan CO2 kemudian ditutup selama sepekan dan dibuka dengan harapan minyak atau gasnya naik, prinsip ini mengadaptasi minum berkarbonasi yang dikocok dan minumannya akan keluar sendiri. Target dari metode ini adalah peningkatan produksi sekitar 30-40%.

Sumur gas jatibarang

Pada tahun 2023, melalui Kementrian ESDM juga telah mencanangkan program CCUS di 16 kawasan di Indonesia. Saat ini, terdapat 10 kawasan sudah pada tahap studi dan persiapan yang ditargetkan akan onstream sebelum tahun 2030, beberapa di antaranya adalah

  1. Proyek Lapangan Gundih CCUS/CO2-EGR yang dilaksanakan PT Pertamina, Center of Excellence (CoE) ITB, JGC, J-Power, JANUS & didukung Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang. Saat ini dalam fase 2 studi untuk memitigasi risiko. Proyek ini ditargetkan on-stream pada 2026, dengan potensi penyimpanan emisi CO2 ­sebesar 3 juta ton selama 10 tahun.
  2. Proyek Sukowati CO2-EOR yang dilaksanakan oleh Pertamina, Lemigas, Japex dan METI Japan. Memiliki potensi penyimpanan emisi CO2 sebesar 14 juta ton selama 15 tahun. Ditargetkan akan beroperasi penuh di tahun 2031.
  3. Proyek CSS Join Study for Clean Fuel Ammonia Production in Central Sulawesi yang dikerjakan oleh PT Panca Amara Utama, JOGMEG, Mitsubishi, dan ITB. Proyek ini akan onstream pada 2025 dengan potensi penyimpanan emisi CO2 sebesar 10 juta ton selama 20 tahun.
  4. Proyek East Kalimantan CSS yang dikerjakan oleh PT Kaltim Parna Industri dan ITB dengan otensi penyimpanan emisi CO2 sebesar 10 juta ton selama 10 tahun ini akan onstream pada 2027.
  5. Kemudian, proyek EGR/CCUS Tangguh yang dikelola BP Berau Ltd, merupakan proyek yang paling maju dibandingkan proyek yang lain dan ditargetkan onstream 2026 dengan potensi CO2 sebanyak 25-32 juta ton selama 10 tahun. Proyek yang dilakukan di lapangan Vorwata dan Ubadari ini  berada pada tahap persiapan front-end engineering and design (FEED) yang sebelumnya proyek ini telah mendapat persetujuan Plan of Development (POD) dari SKK Migas.
Proyek EGR/CCUS Tangguh di Lapangan Vorwata sebagai penangkap dan penyimpanan co2

Referensi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *