Jadi Profesor Kehormatan, Apa Karya Akademis Prof. Megawati?

Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri resmi dikukuhkan bergelar profesor kehormatan dengan status tidak tetap oleh Universitas Pertahanan (Unhan) pada Jumat (11/6/2021). Gelar kehormatan itu untuk Ilmu Pertahanan bidang Kepemimpinan Strategik pada Fakultas Strategi Pertahanan.

blank
Prof. Megawati menyampaikan orasi ilmiah terkait penganugerahan dirinya sebagai Profesor Kehormatan bidang Kepemimpinan Strategik

Pemberian gelar untuk Megawati ditetapkan lewat Keputusan Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dengan nomor 332371/Mpk.A/KP.05.00/2021.

Seorang Profesor pada umumnya dilantik karena karya-karyanya di bidang akademik. Bagaimana dengan karya akademis Prof. Megawati?

Berdasarkan penelusuran Google Scholar, Prof. Megawati telah menerbitkan 2 artikel ilmiah per tanggal 11 Juni 2021. Dua-duanya di jurnal milik Universitas Pertahanan, Universitas yang menganugerahi Megawati sebagai Profesor kehormatan.

blank

Karya ilmiah yang pertama berbahasa Indonesia, dengan judul KEPEMIMPINAN PRESIDEN MEGAWATI PADA ERA KRISIS MULTIDIMENSI, 2001-2004.

blank
Corat-coret yang dilakukan oleh Profesor Sulfikar Amir dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura pada karya ilmiah Prof. Megawati

Sekilas jika membaca karyanya akan terlihat aneh, karena Megawati menulis tentang dirinya sendiri.

Namun hal tersebut ternyata disebut dengan istilah autoetnografi. Sebuah metode penelitian yang terbilang cukup baru digunakan dalam penelitian sosial di Indonesia (Shakka, 2019).

Dalam bukunya The Ethnographic I, Profesor dalam bidang komunikasi dan sosiologi serta pengajar di University of South Florida Carolyn Elis (2004) memberi definisi singkat mengenai autoetnografi yaitu sebagai suatu metode penulisan yang berangkat dari pengalaman pribadi penulis, dan mengamati sensasi fisik, perasaan, pikiran dan emosi.

Masih banyak perdebatan dan kritik yang ditujukan pada metode ini, antara lain adalah subjektifitasnya yang sangat tinggi, permasalahan mengenai kode etik dalam penelitian, kurang analitis, dan peneliti tidak perlu turun ke lapangan sebagaimana lazimnya suatu penelitian.

Namun beberapa ilmuwan yang pro menyatakan bahwa metode autoetnografi merupakan metode penelitian yang akademis, valid, dan analitis dalam penelitian sosial, terutama dalam kajian budaya. Hal ini dikarenakan adanya kesempatan dan ruang bagi penulis untuk mengekspresikan dirinya dan pengalaman dirinya tanpa terlalu berjarak dengan tulisannya (Shakka, 2019). Namun disayangkan, paper Prof. Megawati tersebut tidak menjelaskan mengenai autoetnografi sama sekali pada bagian metode penelitian.

Karya ilmiah yang kedua berbahasa Inggris, dengan judul THE ESTABLISHMENT OF PANCASILA AS THE GROUNDING PRINCIPLES OF INDONESIA.

Berbeda dengan karya yang pertama, karya ilmiah ini berusaha untuk menganalisis kekuatan pancasila dalam menghadapi tantangan-tantangan terbaru yang dihadapi Indonesia.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan dekonstruksi. Sama seperti metode autoetnografis, metode ini juga kontroversial.

Metode dekonstruksi merupakan suatu tindakan dari subjek untuk mempertanyakan, membongkar suatu objek yang tersusun dari berbagai unsur (Noris, 2003). Pada umunya objeknya berupa suatu teks. Melalui teori dekonstruksi, peneliti melihat bahwa teks tidak lagi sebagai tatanan yang utuh melainkan arena pergulatan
yang terbuka (Siregar, 2019).

Kepastian tunggal yang selalu dicari dan diagung-agungkan manusia modern pada suatu teks (peraturan, ideologi, dsb) merupakan suatu keniscayaan menurut teori dekonstruksi. Satu-satunya yang dapat dikatakan pasti hanyalah ketidakpastian. Oleh karena itu, kritik utama dari teori ini adalah tidak pernah puas akan kebenaran yang sudah ada dan selalu curiga akan kemapanan suatu teks.

blank
Prof. Megawati dalam acara pengukuhan dirinya sebagai Profesor Kehormatan

Nah itu dua pembahasan singkat mengenai dua paper yang dituliskan oleh Prof. Megawati. Kita tunggu kiprah akademis lainnya ya Prof!

Referensi:

  • Shakka, A. (2020). BERBICARA AUTOETNOGRAFI: METODE REFLEKTIF DALAM PENELITIAN ILMU SOSIAL. Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya14(1).
  • Ellis, C. 2004. The Ethnographic I A Methodological Novel About Autoethnography. United States of America: AltaMira Press.
  • Norris, Christopher, 2003. Membongkar Teori Dekonstruksi. Inyiak Ridwan Muzir (Pentj.) Yogyakarta: Penerbit Ar-ruzz
  • Siregar, M. (2019). Kritik terhadap Teori Dekonstruksi Derrida. Journal of Urban Sociology2(1), 65-75.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 2

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Nur Abdillah Siddiq
Sosial Media
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *