Ketika kita membayangkan panas ekstrem di kota besar, kita sering membayangkan gedung pencakar langit yang memantulkan cahaya matahari, jalanan yang padat, serta udara yang terasa seperti dipanggang. Namun, di balik gambaran umum tersebut terdapat kenyataan yang jauh lebih rumit. Tidak semua wilayah kota merasakan panas dengan intensitas yang sama. Bahkan, siapa yang lebih mungkin terkena dampaknya pun sering kali mengikuti pola ketidakadilan sosial yang sudah berlangsung lama.
Fenomena ini dikenal sebagai pulau panas perkotaan atau Urban Heat Island. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika area perkotaan memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah pedesaan di sekitarnya. Penyebabnya adalah dominasi permukaan keras seperti beton dan aspal yang menyerap panas di siang hari lalu melepaskannya kembali di malam hari. Vegetasi yang minim, banyaknya kendaraan, serta padatnya bangunan turut memperparah situasi. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya soal fisik perkotaan. Ada dimensi sosial yang sangat kuat, yaitu keadilan iklim.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Sebuah studi yang ditampilkan dalam buku tentang pembelajaran sains berorientasi keadilan mengungkapkan bahwa ketimpangan suhu di dalam kota menciptakan ketidakadilan yang nyata. Kota Phoenix di Amerika Serikat menjadi contoh utama. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota terpanas di negara tersebut. Gelombang panas yang terjadi setiap tahun telah merenggut korban jiwa, terutama dari kelompok yang rentan. Pemerintah setempat menyadari bahwa dampak panas tidak dirasakan secara merata. Ada warga yang aman karena tinggal di lingkungan hijau, memiliki pendingin ruangan, dan fasilitas lainnya. Namun ada pula warga yang tinggal di kawasan minim pepohonan, banyak beton, dan sering kali tidak mampu membayar biaya listrik untuk menyalakan pendingin ruangan sepanjang hari.
Penelitian itu menunjukkan bahwa kawasan berpendapatan rendah dan kawasan dengan mayoritas penduduk Latino di wilayah barat daya Amerika Serikat cenderung memiliki suhu lebih tinggi. Temuan ini menyoroti ketidaksetaraan termal, yaitu situasi ketika kelompok tertentu mengalami paparan panas yang lebih parah dibanding kelompok lainnya. Dengan kata lain, panas ekstrem bukan hanya persoalan iklim tetapi juga persoalan keadilan sosial.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebabnya beragam. Banyak lingkungan berpendapatan rendah awalnya dibangun tanpa mempertimbangkan kenyamanan termal. Pepohonan minim, ruang terbuka hijau terbatas, dan bangunan padat tanpa ruang untuk sirkulasi udara. Selain itu, sejarah kebijakan perumahan dan perencanaan kota turut membentuk pola pemukiman saat ini. Beberapa komunitas yang dulunya tidak mendapatkan akses properti di kawasan yang lebih hijau kini terjebak di daerah yang secara struktural lebih panas. Ketika gelombang panas datang, mereka lebih mungkin menderita akibat beban panas yang berat.

Studi tersebut juga menyoroti perbedaan yang semakin terasa antara suhu di wilayah pedesaan dan perkotaan. Hal ini tidak selalu merupakan hal baru, tetapi intensitasnya meningkat seiring dengan perubahan iklim global. Kota seperti Phoenix, Las Vegas, Los Angeles, dan Chicago menunjukkan pola serupa. Ketika permukaan kota didominasi beton, suhu permukaan meningkat drastis. Fenomena tersebut disebut sebagai efek pulau panas permukaan perkotaan atau Surface Urban Heat Island. Ini bukan hanya membuat udara terasa lebih panas, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi orang yang bekerja di luar ruangan, lansia, dan mereka yang tidak mampu mengakses pendingin ruangan.
Perbedaan suhu di dalam satu kota dapat mencapai beberapa derajat. Bagi sebagian orang, selisih ini mungkin terdengar kecil. Namun bagi seseorang yang sudah hidup di batas kemampuan fisik, selisih tersebut dapat menentukan apakah ia selamat atau tidak. Panas ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan, gangguan pernapasan, hingga kematian karena serangan panas. Ketika suhu malam hari juga tidak turun akibat pulau panas perkotaan, tubuh tidak diberi kesempatan untuk kembali pulih, sehingga risiko semakin besar.
Peneliti menekankan bahwa komunitas yang secara historis termarjinalkan menerima beban paling berat akibat fenomena ini. Mereka menderita suhu yang lebih tinggi dan memiliki kemampuan lebih rendah untuk melindungi diri. Sementara itu, kawasan yang lebih kaya sering kali memiliki lebih banyak pepohonan, taman, kolam renang, serta bangunan dengan pendingin udara yang efisien. Hasilnya adalah pusat kota yang panas dan lingkungan kaya yang relatif sejuk. Ketimpangan suhu ini menjadi simbol ketidakadilan dalam menghadapi perubahan iklim.
Namun penelitian tersebut juga membuka peluang solusi. Dengan memahami bahwa panas ekstrem adalah masalah yang tidak merata, pemerintah kota dapat mengarahkan kebijakan yang lebih adil. Misalnya, penanaman pohon di kawasan miskin perkotaan dapat memberikan manfaat jangka panjang dalam menurunkan suhu lokal. Renovasi bangunan untuk meningkatkan ventilasi alami, pembangunan taman kota, serta penggunaan material bangunan yang memantulkan panas juga dapat membantu. Selain itu, kebijakan yang memastikan bahwa warga rentan dapat mengakses pendingin ruangan tanpa biaya yang mencekik menjadi strategi penting untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Keadilan iklim tidak hanya berbicara tentang mengurangi dampak perubahan iklim secara umum, tetapi juga memastikan bahwa pengurangan dampak tersebut dirasakan secara merata. Penelitian tentang pulau panas perkotaan menunjukkan bahwa ketidakadilan iklim sudah hadir di sekitar kita, bahkan dalam jarak beberapa kilometer. Dua lingkungan dalam kota yang sama dapat memiliki kecepatan pemanasan yang berbeda dan dampaknya dapat menentukan kualitas hidup atau bahkan keselamatan penghuninya.
Studi ini mengajak kita untuk melihat kota bukan hanya sebagai ruang fisik tetapi sebagai ruang sosial. Setiap keputusan perencanaan kota, mulai dari jalur hijau hingga bentuk permukaan jalan, memiliki implikasi kesehatan dan keadilan. Ketika kota tumbuh, penting untuk tidak hanya memikirkan pembangunan tetapi juga bagaimana memastikan bahwa seluruh warga merasakan manfaat yang sama, termasuk hak untuk tinggal di lingkungan yang lebih sejuk dan aman.
Pada akhirnya, pulau panas perkotaan bukan hanya cerita tentang panas, tetapi tentang siapa yang merasakannya. Dengan memahami hubungan antara lingkungan dan keadilan, kita dapat menciptakan kota yang lebih adil serta lebih tahan terhadap perubahan iklim di masa depan.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
McLean, Leena Bakshi. 2025. Climate Justice in the Concrete Jungle: Exploring Urban Heat Islands and Equity. Justice-Oriented Science Teaching and Learning: Anchoring Phenomena in Secondary Classrooms, 241-261.

