Banyak orang mungkin berpikir bahwa penggunaan rempah dan herba dalam masakan hanyalah urusan rasa saja. Namun, penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari Australia menunjukkan bahwa alasan seseorang menambahkan basil, oregano, lada, atau bawang putih ke dalam masakan jauh lebih kompleks dari sekadar mengikuti resep. Rempah dan herba bukan hanya sentuhan kecil pada hidangan. Keduanya memengaruhi kebiasaan makan, preferensi rasa, hingga pola hidup sehat yang diterapkan seseorang sehari hari.
Penelitian ini dilakukan untuk memahami jenis rempah dan herba apa yang paling banyak digunakan di rumah tangga Australia, seberapa sering bahan tersebut dikonsumsi, serta apakah kebiasaan memasak dengan rempah berhubungan dengan penerapan pola makan yang lebih sehat. Informasi ini penting karena rempah serta herba sering dianggap sebagai salah satu pintu masuk menuju gaya hidup yang lebih baik, terutama saat dunia kesehatan menekankan pentingnya pola makan yang bervariasi dan kaya nutrisi.
Baca juga artikel tentang: Makanan Sehat dari Negeri Sakura: Rahasia Panjang Umur yang Bisa Kita Tirukan
Peneliti memulai studi ini dengan mengajak orang dewasa Australia berusia minimal delapan belas tahun untuk mengisi survei secara daring. Peserta direkrut melalui media sosial dan mendaftarkan diri secara sukarela. Survei tersebut menanyakan jenis rempah dan herba yang sering digunakan, frekuensi pemakaiannya, serta bagaimana peserta menerapkan pola makan Mediterania yang dikenal sebagai salah satu pola makan paling sehat di dunia.
Sebanyak empat ratus orang berpartisipasi dan hampir delapan puluh tiga persen di antaranya berusia antara dua puluh lima hingga enam puluh empat tahun. Mayoritas tergolong ke dalam kelompok yang mengalami kelebihan berat badan berdasarkan penghitungan indeks massa tubuh. Informasi ini memberi gambaran bahwa penggunaan rempah dan herba tidak hanya terbatas pada kelompok tertentu saja. Penggunaannya melintasi latar belakang usia maupun kondisi tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Australia memiliki ketertarikan yang besar terhadap rempah dan herba. Lada menjadi pilihan favorit yang digunakan oleh lebih dari sembilan puluh tujuh persen peserta. Bawang putih menyusul di posisi kedua dengan hampir sembilan puluh tujuh persen penggunaan. Ketika peneliti melihat berapa sering bahan ini digunakan, ditemukan bahwa sekitar tujuh puluh enam persen peserta mengonsumsi rempah dan herba sedikitnya satu hingga dua kali sehari. Kebiasaan ini menandakan bahwa rempah dan herba bukan lagi tambahan kecil, tetapi sudah menjadi bagian dari rutinitas memasak sehari hari.
Alasan utama tingginya penggunaan ini tidak hanya berhubungan dengan tradisi atau kebiasaan keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa preferensi sensori memegang peran yang besar. Orang cenderung menggunakan rempah dan herba karena bahan tersebut memberi rasa dan aroma yang lebih menggugah selera. Lidah manusia mengenal banyak jenis sensasi rasa, dan rempah mampu memberikan lapisan rasa tambahan yang membuat makanan terasa lebih hidup. Misalnya, daun basil yang memberikan aroma segar, lada hitam yang memberi sentuhan pedas halus, atau bawang putih yang menghadirkan rasa gurih kompleks.
Ketika seseorang menyukai rasa dari makanan yang ia konsumsi, ia cenderung lebih menikmati proses memasak. Rasa yang menyenangkan juga mendorong seseorang untuk mencoba resep baru, menambah variasi masakan, dan secara tidak langsung meningkatkan konsumsi makanan rumahan yang umumnya lebih sehat dibandingkan makanan cepat saji atau makanan olahan. Dengan kata lain, rempah dan herba dapat memotivasi seseorang untuk memasak lebih sering dan dengan bahan yang lebih baik.
Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan rempah dan herba berhubungan dengan penerapan pola makan Mediterania. Pola makan ini menekankan konsumsi sayur, buah, kacang kacangan, gandum utuh, minyak zaitun, serta penggunaan rempah dan herba sebagai pengganti garam. Para peserta yang memiliki tingkat penggunaan rempah lebih tinggi menunjukkan kecenderungan untuk lebih patuh terhadap prinsip prinsip pola makan Mediterania. Hal ini masuk akal karena rempah memiliki peran penting dalam meningkatkan rasa makanan tanpa menambah kadar natrium yang dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
Di samping itu, penggunaan rempah dan herba juga berkaitan dengan manfaat kesehatan lain. Banyak penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bahan tersebut mengandung antioksidan tinggi, senyawa antiradang, serta komponen bioaktif lain yang dapat membantu menurunkan risiko penyakit kronis. Walaupun studi ini tidak secara langsung mengukur manfaat kesehatan jangka panjang, hasilnya menguatkan dugaan bahwa penggunaan rempah dalam jumlah wajar berpotensi membantu seseorang menuju gaya hidup yang lebih sehat.
Walaupun penelitian ini memberikan banyak temuan menarik, masih ada ruang untuk eksplorasi lebih dalam. Para peneliti menyatakan bahwa jumlah rempah yang digunakan oleh peserta belum dihitung secara rinci. Penelitian lanjutan perlu mengetahui seberapa banyak rempah yang harus digunakan agar manfaat kesehatan tertentu dapat benar benar terasa. Selain itu, penelitian masa depan juga harus mempertimbangkan berbagai kelompok masyarakat yang lebih beragam agar gambaran penggunaannya menjadi lebih lengkap.
Namun, secara keseluruhan, penelitian ini memberikan pesan penting bahwa rempah dan herba bukan hanya elemen kecil dalam masakan. Keduanya memainkan peran besar dalam membentuk pengalaman sensori, pola makan, dan bahkan potensi kesehatan seseorang. Dengan memahami motivasi orang dalam menggunakan rempah, ahli gizi maupun pelaku industri makanan dapat merancang strategi untuk mendorong pola konsumsi yang lebih sehat.
Penggunaan rempah dan herba menciptakan jembatan antara kenikmatan kuliner dan kesehatan. Saat seseorang menikmati rasa gurih bawang putih atau pedas lembut lada hitam, ia tidak hanya menikmati makanan yang lezat, tetapi juga sedang berjalan menuju kebiasaan makan yang lebih baik. Rempah mampu membuat seseorang memilih makanan rumah, memasak lebih sering, dan mengurangi penggunaan garam berlebih. Semua ini menjadikan rempah sebagai komponen kecil yang memiliki dampak besar.
Penelitian Australia ini akhirnya menegaskan bahwa rasa menjadi motivator kuat dalam keputusan pangan. Ketika rasa yang diberikan rempah membuat seseorang bahagia saat makan, maka bahan ini bukan lagi sekadar penambah aroma, melainkan bagian dari perjalanan menuju hidup yang lebih sehat.
Baca juga artikel tentang: Wangi yang Menyelamatkan: Bagaimana Minyak Rempah Bisa Menggantikan Pengawet Kimia
REFERENSI:
Wilson, Nina A dkk. 2025. Sensory preferences are important motivators for using herbs and spices: A cross‐sectional analysis of Australian adults. Journal of Human Nutrition and Dietetics 38 (1), e13406.

