Era digital, hampir semua kegiatan bisnis kini bergantung pada teknologi. Salah satunya adalah akuntansi digital, yaitu penggunaan sistem komputer untuk mencatat transaksi, mengelola laporan keuangan, dan menyimpan data penting perusahaan. Teknologi ini membuat pekerjaan lebih cepat, lebih praktis, dan lebih efisien. Namun di balik kemudahan tersebut, ada ancaman besar yang mengintai: kebocoran data.
Dalam beberapa tahun terakhir, serangan siber meningkat pesat di seluruh dunia. Bahkan negara-negara berkembang pun tidak luput dari risiko ini. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Yordania memberikan gambaran menarik tentang apa sebenarnya yang paling menentukan dalam menjaga keamanan data digital, khususnya dalam sistem akuntansi. Hasilnya cukup mengejutkan dan sekaligus membuka mata banyak organisasi tentang apa yang benar-benar penting dalam pertahanan digital.
Baca juga artikel tentang: Nyquist Sampling Rate: Fondasi Pengolahan Sinyal Digital
Penelitian yang Mengungkap Kunci Utama Keamanan Data
Penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan ini melibatkan 231 organisasi di Yordania yang telah menggunakan sistem akuntansi digital. Para peneliti menganalisis berbagai faktor keamanan yang biasa digunakan organisasi, seperti:
● Pelatihan karyawan
● Penggunaan firewall
● Autentikasi dua faktor
● Frekuensi pembaruan sistem
Data dari perusahaan-perusahaan tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode statistik bernama logistic regression, yang membantu melihat faktor mana yang paling berpengaruh terhadap kejadian kebocoran data.
Hasilnya cukup mengejutkan bagi banyak orang. Dari keempat faktor tersebut, hanya frekuensi pembaruan sistem yang terbukti secara signifikan mampu mencegah kebocoran data. Tiga faktor lainnya, meskipun dikenal sebagai komponen keamanan standar, ternyata tidak menunjukkan pengaruh kuat secara statistik dalam penelitian ini.
Ini tentu bukan berarti pelatihan karyawan atau firewall tidak penting. Namun penelitian ini menegaskan bahwa ada satu hal yang sering diremehkan padahal menjadi pemain utama dalam menjaga keamanan data, yaitu pembaruan sistem secara rutin.
Mengapa Pembaruan Sistem Begitu Penting?
Banyak orang menganggap pembaruan sistem hanya sebagai gangguan yang memakan waktu. Ketika laptop meminta update, tidak sedikit pengguna yang menundanya berkali-kali. Pada komputer perusahaan, update sistem sering kali dilakukan sekadarnya dan tidak menjadi prioritas utama.
Padahal, pembaruan sistem adalah salah satu cara paling efektif untuk menutup celah keamanan. Ketika sebuah sistem atau software dirilis, para peretas terus mencari kekurangan atau kelemahan di dalamnya. Begitu mereka menemukan celah tersebut, serangan siber dapat dilakukan dengan lebih mudah. Inilah yang disebut kerentanan zero-day, yaitu kelemahan yang belum diketahui oleh pembuat software namun sudah ditemukan oleh penyerang.
Perusahaan teknologi biasanya mengeluarkan pembaruan sistem untuk memperbaiki celah-celah tersebut. Jadi, ketika sebuah organisasi tidak melakukan pembaruan secara rutin, mereka pada dasarnya meninggalkan pintu terbuka bagi para peretas.
Penelitian ini menunjukkan bahwa organisasi yang melakukan pembaruan sistem secara rutin memiliki risiko kebocoran data yang jauh lebih rendah. Artinya, update bukan hanya penting, tetapi merupakan faktor terpenting di antara semua langkah keamanan lainnya dalam studi ini.
Bagaimana dengan Pelatihan, Firewall, dan Autentikasi Dua Faktor?
Ketiga faktor ini tetap dianggap penting dalam dunia siber, namun penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruhnya dalam konteks akuntansi digital di Yordania masih terbatas.
Mengapa bisa begitu?
Ada beberapa kemungkinan:
- Penggunaan yang tidak konsisten
Mungkin saja organisasi memiliki firewall, tetapi pengaturan atau pemantauannya tidak optimal. - Pelatihan yang tidak cukup mendalam
Pelatihan karyawan mungkin dilakukan, tetapi tidak berkelanjutan. - Autentikasi dua faktor yang tidak diterapkan secara menyeluruh
Bisa jadi hanya sebagian aplikasi yang menggunakan autentikasi tambahan.
Artinya, alat-alat ini hanya efektif jika digunakan dengan tepat dan konsisten. Namun tanpa pembaruan sistem, semua perlindungan ini tetap bisa ditembus karena sistem itu sendiri mengandung celah.
Kelemahan dalam Model Prediksi: Pembelajaran Baru
Studi ini juga menggunakan analisis ROC curve untuk mengukur seberapa baik model prediksi bekerja. Nilai AUC yang dihasilkan adalah 0.44, yang menunjukkan bahwa model tersebut masih belum cukup akurat. Ini berarti ada faktor-faktor penting lain yang belum dimasukkan dalam penelitian ini, seperti kualitas kebijakan keamanan, kepadatan staf IT, jenis software akuntansi yang digunakan, atau budaya keamanan organisasi.
Meski begitu, temuan ini tetap sangat penting karena menyoroti satu hal yang selama ini mungkin dianggap remeh tetapi justru paling efektif: pembaruan sistem.
Pendekatan Holistik Masih Diperlukan
Penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa hanya pembaruan sistem yang dibutuhkan organisasi. Sebaliknya, para peneliti menekankan pentingnya pendekatan keamanan berlapis, yang mencakup:
● Pelatihan karyawan yang berkelanjutan
● Penggunaan firewall yang diperbarui
● Autentikasi dua faktor
● Kebijakan keamanan yang kuat
● Backup data berkala
Namun di antara semua strategi itu, pembaruan sistem harus menjadi prioritas yang tidak boleh ditunda.
Implikasi bagi Organisasi di Seluruh Dunia
Pelajaran dari Yordania ini sangat relevan bagi organisasi di negara mana pun, termasuk Indonesia. Banyak perusahaan kecil hingga menengah masih menganggap keamanan siber sebagai kebutuhan sekunder. Ada pula yang merasa bahwa mereka tidak cukup besar atau tidak cukup penting untuk menjadi target serangan siber.
Padahal, serangan digital tidak mengenal ukuran organisasi. Peretas sering menargetkan perusahaan yang keamanannya lemah karena lebih mudah ditembus.
Studi ini memberikan pesan yang jelas:
Jika ingin mencegah kebocoran data, pastikan pembaruan sistem dilakukan secara rutin dan terjadwal.
Tidak perlu teknologi mahal atau sistem keamanan yang rumit. Sesuatu yang sederhana seperti update software ternyata dapat membuat perbedaan besar.
Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana cara paling efektif dan efisien untuk menjaga keamanan data dalam sistem akuntansi digital. Di antara berbagai alat dan strategi yang tersedia, pembaruan sistem muncul sebagai benteng utama yang harus selalu dijaga.
Dengan melakukan pembaruan secara konsisten, organisasi dapat mempersempit peluang serangan siber, meningkatkan perlindungan, dan menjaga kepercayaan klien maupun mitra bisnis. Pada akhirnya, keamanan digital bukan hanya tentang teknologi canggih, tetapi tentang kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan disiplin.
Baca juga artikel tentang: Luaran Sensor: Apakah Arus atau Tegangan yang Lebih Baik?
REFERENSI:
Mohammad, AAS dkk. 2025. Data security in digital accounting: A logistic regression analysis of risk factors. International Journal of Innovative Research and Scientific Studies 8 (1), 2699-2709.

