Virus rabies adalah salah satu virus paling mematikan di mana pada tahun 2024, tercatat 185.359 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan sebanyak 122 kematian di Indonesia, serta 13.453 kasus dan sebanyak 25 kematian hingga Maret 2025. Rabies tetap menjadi ancaman serius, terutama di 26 dari 38 provinsi endemis seperti Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Tidak hanya Indonesia, negara lain seperti India yang merupakan negara dengan kasus rabies paling tinggi di dunia dengan total kasus 20.000 kematian per tahun juga masih saja berjuang untuk mengatasi infeksi virus rabies. Meskipun kasusnya berkurang karena adanya vaksinasi, virus ini sangat berbahaya karena kemampuannya menyerang sistem saraf dan menyusup ke otak manusia. Tapi bagaimana cara virus ini melakukannya? Salah satu kuncinya adalah reseptor asetilkolin. Sebelum kita masuk ke reseptor asetilkolin, yuk kita bahas apa sih virus rabies itu!
Apa Itu Virus Rabies?
Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae. Virus ini berbentuk seperti peluru dan menyerang sistem saraf pusat. Rabies hampir selalu berakibat fatal jika gejalanya sudah muncul dan tidak segera ditangani. Virus rabies biasanya ditularkan melalui gigitan hewan yang terinfeksi, seperti anjing, kucing, kelelawar, dan beberapa hewan liar lainnya. Setelah virus masuk ke dalam tubuh manusia, ia tidak langsung menyerang otak, namun ia memulai perjalanan panjang dari tempat gigitan menuju otak yang diperkirakan bergerak menyusuri jalur saraf seperti seorang penyusup yang cerdik sekitar 200-400 mm (20-40 cm) per hari dalam sistem saraf manusia. Kecepatan ini bisa bervariasi tergantung pada beberapa faktor, termasuk lokasi gigitan dan jarak antara lokasi gigitan dengan sistem saraf pusat.

Gambar : Virus Berbentuk Peluru
Ketika seseorang digigit hewan yang terinfeksi, virus rabies masuk melalui air liur hewan tersebut ke dalam luka terbuka.Virus kemudian mulai bergerak menuju sistem saraf tepi dan perlahan-lahan masuk ke sumsum tulang belakang dan akhirnya ke otak. Namun, virus rabies tidak berjalan bebas dalam tubuh seperti banyak virus lainnya. Ia “menumpangi” jalur saraf menyerupai kabel listrik yang menghubungkan seluruh tubuh ke otak. Inilah alasan mengapa gejala rabies bisa muncul beberapa minggu hingga berbulan-bulan setelah seseorang tergigit.
Lalu, apa Itu reseptor asetilkolin dan mengapa virus memilih jalur ini ?
Reseptor asetilkolin adalah suatu bagian di permukaan sel saraf yang berperan dalam menerima sinyal kimia bernama asetilkolin. Asetilkolin adalah salah satu zat yang penting dalam komunikasi antar sel saraf. Bisa dikatakan, asetilkolin seperti “pesan” yang dikirim antar sel, dan reseptor asetilkolin adalah “kotak surat” tempat pesan itu diterima. Virus rabies ternyata sangat cerdas di mana ia memanfaatkan reseptor asetilkolin untuk masuk ke dalam sel saraf. Reseptor ini ibarat pintu masuk khusus, dan virus rabies memiliki “kunci” yang pas untuk membuka pintu itu. Dengan menempel pada reseptor asetilkolin, virus dapat menyusup ke dalam sel saraf dan mulai bergerak menuju otak.
Virus rabies tidak bisa bertahan lama di luar sel oleh karena itu ia membutuhkan lingkungan sel saraf untuk berkembang biak. Dengan menempel pada reseptor asetilkolin, virus tidak hanya menemukan cara untuk masuk ke dalam sel, tapi juga mendapatkan akses langsung ke jalur saraf yang mengarah ke otak. Saat virus rabies berada di dalam otak, virus menyebabkan peradangan parah yang disebut ensefalitis. Gejalanya bisa sangat mengerikan seperti gelisah, halusinasi, kejang, agresi, hingga takut angin (aerofobia) dan takut air (hidrofobia), yang merupakan ciri khas rabies.
Hubungan rabies dengan gejala hidrofobia, aerofobia, dan kejang
Gejala seperti hidrofobia (takut air), aerofobia (takut udara atau angin), dan kejang disebabkan oleh kerusakan dan iritasi pada bagian otak dan sistem saraf yang mengatur refleks menelan, pernapasan, dan kontrol otot. Virus rabies menyerang batang otak, yaitu pusat kendali refleks penting seperti menelan. Saat penderita mencoba menelan air, otak akan memicu spasme otot yang menyakitkan. Oleh karena itu, penderita menjadi takut untuk menelan air, meskipun sedang haus. Inilah yang menyebabkan munculnya rasa takut terhadap air atau hidrofobia. Hembusan udara ke wajah juga bisa memicu spasme otot yang sama karena refleks ini juga dikendalikan oleh batang otak. Akibatnya, penderita bisa menjadi sangat sensitif terhadap angin atau udara yang menyentuh kulit sehingga menimbulkan reaksi ketakutan dan panik.
Selain itu, virus rabies menyebabkan peradangan di otak (ensefalitis) dan mengganggu aktivitas listrik normal dalam otak. Saat sinyal-sinyal ini terganggu, otot-otot bisa berkontraksi secara tidak terkendali, yang dikenal sebagai kejang. Kejang ini sering disertai dengan kesadaran yang menurun dan gerakan tubuh yang tidak terkendali. Secara molekuler, virus rabies memicu pelepasan senyawa kimia seperti sitokin dan mediator inflamasi lainnya yang menyebabkan gangguan komunikasi antar sel otak. Protein virus rabies juga dapat mengganggu fungsi normal neurotransmiter seperti GABA (yang biasanya menenangkan aktivitas otak), sehingga otak menjadi terlalu aktif dan mudah terpicu untuk menghasilkan gejala seperti kejang dan fobia ekstrem.
Gejala rabies biasanya tidak langsung muncul setelah gigitan. Waktu antara masuknya virus dan munculnya gejala berkisar beberapa hari hingga beberapa bulan, tergantung lokasi gigitan dan jumlah virus yang masuk. Gejala awal biasanya mirip flu meliputi demam, lelah, nyeri otot, dan sakit kepala. Setelah itu, gejala berkembang menjadi gangguan sistem saraf seperti kecemasan dan kebingungan, halusinasi, agresi atau perilaku aneh, sulit menelan, kejang, hidrofobia dan aerofobia. Sayangnya, ketika gejala-gejala ini sudah muncul, kemungkinan sembuh sangat kecil.
Bagaimana Penanganan dan Pencegahannya ?
Hingga saat ini, belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan rabies setelah gejalanya muncul. Oleh karena itu, pencegahan dan penanganan dini sangat penting meliputi :
- Vaksinasi Pra-Pajanan: Untuk orang yang berisiko tinggi (seperti dokter hewan, peneliti hewan, atau pelancong ke daerah endemik), vaksin rabies bisa diberikan sebelum terpapar.
- Vaksinasi Pasca-Gigitan: Jika seseorang digigit atau dicakar oleh hewan yang diduga terinfeksi rabies, maka penderita harus segera membersihkan luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit, diberikan suntikan vaksin rabies, dan diberikan suntikan immunoglobulin rabies untuk memberikan perlindungan segera sebelum vaksin mulai bekerja (untuk beberapa kasus).
Penelitian tentang virus rabies terus berkembang, terutama terkait perannya dalam mengeksploitasi sistem saraf manusia melalui reseptor asetilkolin. Dengan memahami jalur masuk ini, dapat membantu mengembangkan terapi untuk mencegah virus mencapai otak, yang sangat penting bagi mereka yang terlambat divaksinasi. Meskipun belum ada obat untuk rabies setelah gejala muncul, vaksinasi dan penanganan cepat dapat menyelamatkan nyawa penderita.
Referensi
- Kementerian Kesehatan RI, Surat Edaran Kewaspadaan Terhadap Kasus Rabies di Indonesia, 2025. [Online]. Tersedia: https://kemkes.go.id/id/surat-edaran-kewaspadaan-terhadap-kasus-rabies-di-indonesia
- Rabies Bulletin Europe, Rabies Structure: Virus Structure, 2024. [Online]. Tersedia: https://www.who-rabies-bulletin.org/site-page/virus-structure
- WHO, Rabies: Adanya rabies yang ditularkan anjing kepada manusia, 2023.
- WHO, Key Facts Rabies, 2024. [Online]. Tersedia: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/rabies
- F. A. Simarmata dan K. Ritarwan, “Rabies Encephalitis: Fatal Yet Neglected, A Case Report,” Journal of Society Medicine, vol. 3, no. 2, pp. 35–38, 2024. [Online]. Tersedia: https://doi.org/10.47353/jsocmed.v3i2.121
- H. Tsiang, “Pathophysiology of Rabies Virus Infection of the Nervous System,” Advances in Virus Research, vol. 42, pp. 375–412, 1993. [Online]. Tersedia: https://doi.org/10.1016/S0065-3527(08)60090-1
- CDC, Rabies Symptoms and Specimen Collection, 2024. [Online]. Tersedia: https://www.cdc.gov/rabies/hcp/suspected-human-rabies/index.html
- T. L. Lentz, R. J. J. Benson, D. Klimowicz, P. T. Wilson, and E. Hawrot, “Binding of rabies virus to purified Torpedo acetylcholine receptor,” Mol. Brain Res., vol. 1, no. 3, pp. 211–219, 1986, doi: 10.1016/0169-328X(86)90027-6.

