Kulit manusia menghadapi tantangan besar setiap hari, mulai dari polusi hingga paparan sinar matahari. Di antara berbagai jenis radiasi matahari, sinar ultraviolet B atau UVB dikenal sebagai salah satu faktor utama yang mempercepat penuaan kulit dan memicu peradangan. Banyak orang mencari bahan alami yang mampu melindungi kulit dari dampak tersebut. Salah satu tanaman yang sering disebut memiliki potensi besar adalah bunga telang atau Clitoria ternatea, bunga berwarna biru yang populer sebagai pewarna alami dan bahan minuman herbal.
Penelitian terbaru yang dilakukan pada tahun 2025 mencoba menguji klaim ini secara ilmiah. Para peneliti ingin mengetahui apakah gel berbahan dasar ekstrak bunga telang benar benar mampu membantu proses pemulihan kulit yang terpapar sinar UVB. Penelitian ini tidak dilakukan pada manusia, melainkan menggunakan tikus Wistar jantan sebagai model percobaan. Meskipun demikian, hasilnya tetap memberikan gambaran awal yang penting tentang potensi dan keterbatasan bunga telang sebagai bahan perawatan kulit.
Baca juga artikel tentang: Menyelamatkan Phewa, Menyelamatkan Sumber Kehidupan di Nepal
Untuk memahami penelitian ini, kita perlu mengenal dua istilah kunci yang menjadi fokus utama, yaitu PDGF dan IL 6. PDGF atau Platelet Derived Growth Factor merupakan protein penting yang berperan dalam regenerasi jaringan dan penyembuhan luka. Ketika kulit mengalami kerusakan, PDGF membantu sel sel kulit untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, IL 6 atau Interleukin 6 merupakan penanda peradangan. Kadar IL 6 yang tinggi sering menunjukkan bahwa jaringan sedang mengalami stres atau peradangan. Paparan sinar UVB diketahui dapat menurunkan kadar PDGF sekaligus meningkatkan IL 6, sehingga memperlambat regenerasi kulit dan memperparah peradangan.
Penelitian ini melibatkan dua puluh ekor tikus Wistar yang dibagi ke dalam empat kelompok. Kelompok pertama berfungsi sebagai kelompok sehat tanpa perlakuan apa pun. Kelompok kedua menerima gel dasar tanpa ekstrak bunga telang lalu dipaparkan sinar UVB. Kelompok ketiga dan keempat menerima gel bunga telang dengan konsentrasi lima persen dan sepuluh persen, kemudian juga dipaparkan sinar UVB. Paparan UVB dilakukan selama tujuh hari berturut turut dengan durasi dan dosis yang terkontrol untuk meniru efek paparan sinar matahari berlebihan pada kulit.
Setelah periode perlakuan selesai, para peneliti mengambil sampel kulit tikus untuk mengukur ekspresi PDGF dan IL 6 menggunakan teknik laboratorium yang sangat sensitif. Teknik ini memungkinkan peneliti melihat seberapa aktif gen yang mengatur produksi kedua protein tersebut. Dengan kata lain, mereka ingin mengetahui apakah gel bunga telang mampu meningkatkan sinyal penyembuhan kulit atau menekan sinyal peradangan.

Hasil penelitian menunjukkan sesuatu yang cukup menarik sekaligus mengejutkan. Pemberian gel bunga telang, baik pada konsentrasi lima persen maupun sepuluh persen, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Ekspresi PDGF tetap relatif sama di semua kelompok. Hal yang sama juga terjadi pada IL 6, di mana kadar penanda peradangan ini tidak menunjukkan penurunan yang bermakna setelah penggunaan gel bunga telang.
Bagi pembaca awam, hasil ini mungkin terasa mengecewakan. Selama ini bunga telang sering dipromosikan sebagai tanaman kaya antioksidan dan antiinflamasi. Kandungan flavonoid dan antosianin di dalamnya memang terbukti mampu menangkal radikal bebas dalam berbagai penelitian lain. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa efek antioksidan secara kimia tidak selalu langsung berbanding lurus dengan efek biologis pada jaringan hidup, terutama ketika diaplikasikan sebagai gel topikal.
Ada beberapa alasan mengapa hasilnya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Salah satu kemungkinan utama terletak pada sistem penghantaran zat aktif. Kulit merupakan penghalang yang sangat efektif. Tidak semua senyawa aktif mampu menembus lapisan kulit hingga mencapai sel target. Meskipun bunga telang mengandung banyak senyawa bermanfaat, bisa jadi senyawa tersebut tidak terserap secara optimal dalam bentuk gel sederhana yang digunakan dalam penelitian ini.
Selain itu, durasi perlakuan yang relatif singkat juga bisa memengaruhi hasil. Tujuh hari mungkin belum cukup untuk melihat perubahan biologis yang jelas pada tingkat molekuler, terutama pada proses regenerasi jaringan yang kompleks. Jumlah hewan percobaan yang terbatas juga membuat variasi biologis antar individu menjadi lebih sulit untuk dikendalikan secara statistik.
Meski demikian, hasil penelitian ini tetap sangat berharga. Dalam dunia sains, hasil yang tidak menunjukkan perbedaan signifikan sama pentingnya dengan hasil yang menunjukkan efek positif. Penelitian ini membantu meluruskan ekspektasi berlebihan terhadap bahan alami tertentu. Bunga telang memang menjanjikan, tetapi penggunaannya sebagai gel pelindung kulit dari sinar UVB masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut.
Penelitian ini juga memberikan arahan yang jelas untuk riset selanjutnya. Para peneliti merekomendasikan penggunaan formulasi gel yang lebih canggih, misalnya dengan teknologi nano atau sistem penghantaran yang mampu meningkatkan penyerapan senyawa aktif ke dalam kulit. Selain itu, penelitian dengan jumlah sampel lebih besar dan waktu perlakuan yang lebih panjang diperlukan untuk benar benar menilai potensi terapeutik bunga telang.
Bagi masyarakat umum, pesan penting dari penelitian ini adalah pentingnya sikap kritis terhadap klaim kesehatan berbasis bahan alami. Tidak semua produk herbal yang populer di media sosial atau iklan memiliki bukti ilmiah yang kuat untuk setiap klaim penggunaannya. Sains bekerja secara bertahap dan hati hati, menguji satu per satu kemungkinan manfaat dengan metode yang terukur.
Bunga telang tetap merupakan tanaman yang menarik dan memiliki banyak kegunaan, mulai dari pewarna alami hingga bahan minuman herbal. Namun, ketika berbicara tentang perlindungan kulit dari kerusakan akibat sinar UV, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kita belum bisa sepenuhnya mengandalkannya sebagai solusi tunggal. Tabir surya yang telah teruji secara klinis, perlindungan fisik seperti pakaian, dan kebiasaan menghindari paparan matahari berlebihan tetap menjadi langkah utama dalam menjaga kesehatan kulit.
Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa alam menyimpan banyak potensi, tetapi potensi tersebut perlu dipahami melalui riset yang jujur dan mendalam. Bunga telang mungkin belum menunjukkan keajaibannya dalam bentuk gel pelindung kulit, tetapi dengan pendekatan ilmiah yang tepat, siapa tahu di masa depan si bunga biru ini dapat berperan lebih besar dalam dunia kesehatan dan dermatologi.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Pratiwi, Desy Elia dkk. 2025. Effect of Butterfly Pea Flower (Clitoria ternatea L.) Gel on PDGF and IL-6 Expression in UVB-Exposed Wistar Rats. Medical Laboratory Technology Journal 11 (2), 131-141.

