Mengganti Energi Nuklir Dengan Energi Terbarukan Bukanlah Ide Bagus—Setidaknya di Inggris dan Swedia

Bagikan Artikel ini di:

Perubahan iklim menjadi salah satu isu lingkungan yang paling disorot di abad 21. Pembakaran energi fosil secara besar-besaran sejak dimulainya Revolusi Industri telah menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer semakin bertambah. Alih-alih berkurang, pembakaran energi fosil semakin lama semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, yang meniscayakan peningkatan kebutuhan energi. Tercatat, pada tahun 2017, lebih dari 33 milyar ton CO2 dilepaskan ke atmosfer sebagai imbas konsumsi energi fosil [1]. Untuk menambah kabar buruk, tren selama sembilan tahun terakhir cenderung terus meningkat!

Gambar 1. Emisi Karbon Dunia 2009-2017 (sumber: BP Statistical Review of World Energy 2018)

Untuk mencegah dampak katastropik yang dapat disebabkan perubahan iklim, seruan revolusi energi menuju energi bersih pun banyak didengungkan. Namun, ada hal yang menggelikan dalam seruan revolusi ini: energi nuklir, sebagai energi yang tidak melepaskan emisi GRK, dikriminalisasi nyaris sama buruknya dengan energi fosil. Bahkan, laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) terbaru secara mengerikan melemparkan penyesatan-penyesatan terhadap energi nuklir [2]!

Baca juga Seberapa Besar Radiasi PLTN Yang Dilepaskan Ke Lingkungan?

Bias anti-nuklir ini sebenarnya mengherankan, karena justru berdasarkan analisis IPCC sendiri [3], energi nuklir adalah energi paling bersih, hanya melepaskan 12 g CO2 ekivalen/kWh listrik, setara dengan energi bayu. Lalu, kontras dengan pemahaman publik, energi nuklir adalah energi paling selamat sejauh ini. Hal ini disebabkan angka kematian per TWh energi nuklir paling rendah, yakni 0,04 kematian per TWh [4].

Kecenderungan irasional anti-nuklir telah menyebabkan sebagian negara memilih untuk phase-out energi nuklir dan berniat menggantinya dengan so-called “energi terbarukan”, yakni energi bayu dan energi surya. Mengganti PLTN dengan turbin angin dan panel surya. Walau sekilas ide ini terkesan menarik dan populer, tapi tidak meyakinkan berdasarkan matematika. Setidaknya, sebagaimana studi yang dilakukan di Inggris dan Swedia.

Tim Yeo, Ketua New Nuclear Watch Institute (NNWI), lembaga think-tank nuklir yang berbasis di Inggris, menyoroti ide untuk mempensiunkan PLTN-PLTN yang ada di Inggris Raya dan menggantinya dengan turbin angin plus gas alam [5]. Kenapa harus ada gas alam? Karena sifat alami turbin angin yang intermiten—angin tidak berembus 24 jam dalam sehari, sehingga waktu kosong itu harus diisi dengan pembangkit lain. Pembangkit apa? Ya gas alam itu, karena kemampuannya untuk ramp-up dan ramp-down yang cepat.

Tapi apakah itu pilihan yang tepat? NNWI menganalisis skenario emisi CO­2 di Inggris pada tahun 2030 dalam dua skenario. Pertama, ketika energi nuklir dipensiunkan total dari jaringan listrik pada tahun 2030. Hal ini memungkinkan terjadi, karena setengah dari kapasitas PLTN di Inggris akan memasuki masa pension pada tahun 2025. Jadi, listrik di Inggris hanya berasal dari energi bayu dan gas alam saja. Pada skenario ini, energi bayu diasumsikan memiliki daya terpasang 30 GWe [5].

Baca juga Benarkah Nuklir Mahal? Tanggapan Untuk Arcandra Tahar

Skenario kedua, energi nuklir tidak dipensiunkan melainkan diganti dengan yang baru, baik itu Hinkley Point C, Wylfa Newydd dan lainnya. Sehingga, nuklir akan menjadi bauran listrik bersama-sama energi bayu dan gas alam. Namun, pada skenario ini, energi bayu hanya akan berkontribusi sebesar 25 GWe [5].

Dalam studi ini, NNWI menganalisis skenario mana yang paling murah harga listriknya dan emisi CO2 yang dihasilkan paling rendah. Hasil studi terkait emisi CO2 adalah sebagai berikut.

Gambar 2. Emisi CO2 antara skenario nuklir (kiri) dan pensiun nuklir (kanan)

Jelas sekali bahwa emisi CO2 jauh lebih banyak dihasilkan jika nuklir dipensiunkan. Apa pasal? Energi bayu tidak bisa berdiri sendiri, butuh backup pembangkit lain. Semakin tinggi bauran energi bayu, semakin tinggi pula bauran gas alam. Artinya, semakin besar polusi yang dihasilkan. Studi yang dilakukan Yeo menunjukkan bahwa emisi CO2 akan naik dai 51 g CO2/kWh pada skenario bauran nuklir menjadi 186 g CO2/kWh pada skenario nuklir pensiun. Emisinya naik 265% dari kondisi awal! [5]

Tidak hanya membuat emisi naik, tapi opsi pensiun nuklir juga menyebabkan harga listrik naik. Jika masih menggunakan nuklir, nilai levelised cost of electricity (LCOE) hanya sebesar GBP 82/MWh atau GBP 8,2 pence/kWh. Dirupiahkan, sekitar Rp 1.660/kWh, termasuk murah untuk Eropa Barat. Sementara, menggunakan opsi pensiun nuklir, LCOE naik menjadi GBP 95/MWh atau GBP 9,5 pence/kWh. Dirupiahkan, sekitar Rp 1.921/kWh [5].

Gambar 3. LCOE pada skenario pensiun nuklir (atas) dan nuklir (bawah)

Kenaikan tarif listrik ini mudah dipahami. Pertama, energi nuklir masih lebih murah daripada energi bayu, terlepas dari propaganda kalangan pro-“energi terbarukan”. Pasalnya, energi bayu tidak beroperasi setiap saat, sementara nuklir bisa beroperasi 24×7. Sehingga, load factor nuklir lebih tinggi.

Kedua, pada skenario pensiun nuklir, gas mengambil alih setengah dari kapasitas pembangkitan di Inggris. Harga gas alam yang mahal ketika dikonversi menjadi biaya bahan bakar akhirnya menjadi beban utama bagi jaringan listrik Inggris, seandainya skenario seperti ini terjadi.

Jadi jelas, mempensiunkan nuklir demi “energi terbarukan” bukan ide bagus di Inggris. Karena realitanya, energi bayu tetap membutuhkan energi fosil berupa gas alam sebagai backup.

Bagaimana di Swedia?

Pada tahun 2015 lalu, muncul wacana untuk menutup empat PLTN tertua di Swedia pada tahun 2020, termasuk pelarangan untuk membangun PLTN baru. Walau akhirnya wacana ini berubah pada tahun 2016, dengan diizinkannya dibangun hingga 10 PLTN baru untuk menggantikan PLTN yang ditutup, sebuah studi yang dilakukan F. Wagner dan E. Rachlew telah dipublikasikan pada tahun yang sama, untuk menilai skenario apabila energi nuklir di Swedia diganti dengan energi bayu [6].

Studi ini mengasumsikan energi nuklir diganti sebagian dan sepenuhnya oleh energi bayu, sembari menganalisis apakah energi hidro bisa menyesuaikan pembangkitan listrik dari energi bayu yang bersifat intermiten. Basisnya adalah data beban kelistrikan pada tahun 2013, yang didominasi oleh energi nuklir dan hidro. Pembangkitan energi hidro diasumsikan tetap, sehingga yang dinaikkan adalah bauran energi bayu terhadap nuklir [6].

Gambar 4. Beban listrik Swedia standar

Hasilnya, ketika energi nuklir dipangkas setengahnya, kapasitas energi bayu harus dinaikkan lebih dari dua kali lipat, dari 4,47 GWe pada saat itu menjadi 11,2 GWe [6]. Pada kondisi ini, dibutuhkan sedikit backup energi karena keterbatasan pembangkitan hidro. Backup ini kemungkinan besar adalah gas alam, yang seperti dinyatakan sebelumnya, dapat ramp up dan ramp down dengan cepat menyesuaikan kebutuhan jaringan listrik.

Gambar 5. Beban listrik Swedia dengan nuklir dipangkas setengahnya. Backup daya mulai digunakan.

Ketika nuklir dipangkas habis, kapasitas energi bayu harus ditingkatkan menjadi 22,3 GWe. Kondisi ini membutuhkan backup daya sebesar 8,6 GWe yang memiliki faktor kapasitas dan keekonomisan rendah [6]. Lagi-lagi yang digunakan pasti gas alam. Backup daya juga harus ada demi ‘menghaluskan’ gradien daya yang tajam, akibat sifat intermiten energi bayu.

Gambar 6. Beban listrik Swedia dengan nuklir dihilangkan. Penggunaan backup daya lebih tinggi lagi untuk mengompensasi sifat intermiten energi bayu.

Backup daya menggunakan gas alam bersifat kontraproduktif dengan usaha memitigasi perubahan iklim. Pasalnya, emisi spesifik listrik Swedia naik dari 23 g CO2/kWh menjadi 34 g CO2/kWh, naik 50% [6]. Tidak sebesar kenaikan di Inggris, tapi cukup signifikan dibandingkan emisi pada awalnya.

Baca juga Mengenal Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Untuk mengganti energi nuklir berkapasitas 9 GWe di Swedia, dibutuhkan 22,3 GWe energi bayu dan 8,6 GWe pembangkit gas alam. Ditambah lagi, instalasi energi bayu sebesar itu lebih besar dua kali lipat daripada kapasitas terpasang energi bayu dan surya per kapita di Jerman pada tahun 2016. Mengingat Jerman mengalami kenaikan tarif listrik karena penggunaan energi bayu dan surya, bisa dibayangkan kenaikan tarif listrik di Swedia dengan kapasitas spesifik dua kali lipatnya.

Jadi, di Swedia pun bukan ide bagus untuk mengganti energi nuklir dengan energi bayu.

Kedua studi ini menyoroti hal yang sama, bahwa so-called “energi terbarukan” tidak bisa berdiri sendiri untuk menggantikan energi fosil. Pasti harus dibarengi dengan penggunaan energi fosil. Padahal, penggunaan energi fosil justru bertentangan dengan usaha untuk mitigasi perubahan iklim. Alih-alih mereduksi emisi karbon, yang ada justru membuatnya meningkat!

Mengganti energi nuklir dengan so-called “energi terbarukan” tidak pernah berimbas baik dan bertentangan dengan fundamental mitigasi perubahan iklim, yakni memangkas emisi karbon. Justru, energi nuklir telah terbukti secara historis berdampak positif pada mitigasi perubahan iklim dan mencegah kematian jutaan manusia akibat polusi energi fosil [7]. Bias anti-nuklir yang melandasi tindakan irasional ini harus segera dihentikan. Kebijakan energi harus dibuat berdasarkan sains, bukan bias irasional.

 

Referensi

  1. British Petroleum. BP Statistical Review of World Energy June 2018. London: BP.
  2. Michael Shellenberger. Anti-Nuclear Bias of UN and IPCC Is Rooted In Cold War Fears of Atomic and Population Bombs. (https://www.forbes.com/sites/michaelshellenberger/2018/10/09/anti-nuclear-bias-of-u-n-ipcc-is-rooted-in-cold-war-fears-of-atomic-and-population-bombs/#60efd4f65dd6). Diakses 10 Oktober 2018.
  3. Intergovernmental Panel on Climate Change Working Group III. 2014. Mitigation of Climate Change, Annex III: Technology – specific cost and performance parameter. Cambridge: Cambridge University Press.
  4. Brian Wang. Update of Death per Terawatt hour by Energy Source. (https://www.nextbigfuture.com/2016/06/update-of-death-per-terawatt-hour-by.html). Diakses 10 Oktober 2018.
  5. The New Nuclear Watch Institute. 2018. The False Economy of Abandoning Nuclear Power: Techno-Zealotry and the Transition Fuel Narrative. London: NNWI.
  6. F. Wagner dan E. Rachlew. 2016. Study on a hypothetical replacement of nuclear electricity by wind power in Sweden. European Physical Journal Plus 131: 173.
  7. R Andika Putra Dwijayanto. Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir. (https://warstek.com/2018/06/11/nukliriklim). Diakses 11 Oktober 2018.
Bagikan Artikel ini di:

Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Bagikan Artikel ini di:

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) memiliki reputasi yang tidak terlalu baik di mata masyarakat. Khususnya terkait aspek keselamatannya. Nyatanya, reputasi tersebut terbentuk akibat persepsi yang keliru, tidak berlandaskan data ilmiah. Termasuk terkait keselamatan radiasi.

Ketika beroperasi, PLTN melepaskan sejumlah radiasi ke lingkungan, akibat lolosnya sebagian produk fisi radioaktif dari sistem utama reaktor. Radiasi ini dapat tersebar ke lingkungan melalui udara maupun air. Produk fisi bersifat volatil dapat mengontaminasi tanah dan terserap oleh tumbuhan termasuk rerumputan. Jika rerumputan ini dimakan oleh ternak, misalnya sapi atau kambing, maka daging dan susunya dapat ikut terkontaminasi juga.

Namun, walau terdengar menakutkan bagi kalangan awam, nyatanya pelepasan radiasi ini belum tentu berbahaya. Karena apakah radiasi nuklir dapat berbahaya bagi manusia atau tidak itu tergantung dari beberapa faktor, salah satunya adalah dosis radiasi.

Baca juga Benarkah Radiasi Dapat Menyebabkan Kemandulan?

Jadi, seberapa besar radiasi yang dilepaskan PLTN ke lingkungan ketika beroperasi?

Berikut tabel yang dikutip oleh Robert Hargraves dalam bukunya, Thorium Energy Cheaper Than Coal [1].

Tabel 1. Dosis radiasi tipikal dari berbagai sumber     

Jadi, seandainya seseorang tinggal di dekat pagar pembatas PLTN selama setahun, dosis radiasi yang diterimanya hanya 0,05 mSv. Angka itu jauh lebih rendah daripada dosis radiasi latar rerata yang diterima manusia tiap tahunnya, yakni 2,4 mSv [2].

Apakah jika PLTN dibangun di Indonesia, maka dampak pelepasan radiasinya juga akan sama?

Ya, tentu saja serupa. Setidaknya, itu yang ditemukan dari riset yang dilakukan para peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Mereka melakukan simulasi penyebaran radioaktivitas ke lingkungan pada saat kondisi PLTN beroperasi. Secara khusus, penelitian ini dilakukan menggunakan data lokasi tapak yang berpotensi digunakan sebagai lokasi pembangunan PLTN.

Sri Kuntjoro dalam jurnalnya berjudul Analisis Sebaran Radionuklida Pada Kondisi Normal Untuk Reaktor AEC 1000 MW menganalisis distribusi pelepasan radioaktivitas dari PLTN jika dibangun di tapak Jepara [3]. Berdasarkan hasil penelitiannya, dua unsur radioaktif siap lepas yang paling besar aktivitasnya adalah kripton-85 dan xenon-133, masing-masing sebesar 1500 Ci dan 2700 Ci. Namun, keduanya adalah gas mulia, sehingga potensi paparannya hanya melalui paparan eksternal dan inhalasi [3]. Karena itu, pelepasan kedua gas ini tidak memberikan bahaya besar bagi manusia.

Yang menjadi perhatian adalah iodin-131. Isotop ini bersifat volatil dan bisa mengontaminasi tanah, air serta tumbuhan. Beruntung, iodin-131 yang siap lepas ke udara hanya 0,8 Ci [3]. Jauh lebih rendah daripada krypton-85 dan xenon-133.

Baca juga Molten Salt Reactor – Reaktor Nuklir Dengan Keselamatan Tinggi

Bagaimana distribusi paparan radiasinya? Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, paparan radiasi dari kripton-85 dan xenon-133 merupakan paparan eksternal dan inhalasi. Sementara, iodin-131 bisa masuk melalui jalur makanan dan minuman.

Seberapa besar paparan iodin-131 ini? Kuntjoro menghitung paparan internal hingga jarak 20 km dari tapak PLTN, dengan kondisi satu dan dua PLTN yang beroperasi di tapak. Hasilnya ditunjukkan pada grafik berikut [3].

Gambar 1. Dosis yang diterima dari 1 PLTN melalui makanan

Gambar 2. Dosis yang diterima dari 2 PLTN melalui makanan

Dosis paling tinggi yang mungkin diterima penduduk sekitar PLTN melalui kontaminasi makanan adalah sebesar 10 µSv/tahun untuk bayi. Untuk anak-anak dan orang dewasa, dosis yang terserap lebih sedikit lagi, karena sel-sel tubuhnya lebih matang dibanding sel tubuh bayi. Namun, 10 µSv/tahun pun masih sangat rendah sekali. Sementara, semakin jauh dari PLTN, semakin rendah pula dosis radiasi yang diterima.

Sementara, melalui jalur inhalasi, dosis yang diterima dalam kondisi adanya satu dan dua PLTN ditunjukkan dalam grafik berikut.

Gambar 3. Dosis yang diterima dari 1 PLTN melalui inhalasi

Gambar 4. Dosis yang diterima dari 2 PLTN melalui inhalasi

Tampak bahwa dosis radiasi yang diterima bayi, anak-anak dan orang dewasa relatif sama, yakni 0,1 µSv/tahun untuk kondisi satu PLTN dan 0,26 µSv/tahun. Lagi-lagi, dosis ini terlampau kecil untuk menjadi masalah bagi manusia.

Dosis total terbesar yang dapat diterima oleh penduduk sekitar PLTN adalah untuk bayi pada jarak 1 km dari PLTN, yakni sebesar 4,1 µSv/tahun untuk kondisi satu PLTN dan 10,26 µSv/tahun untuk dua PLTN. Angka ini sangat rendah dibandingkan dengan batas dosis yang ditetapkan oleh Bapeten, yakni sebesar 1 mSv/tahun (1 msV = 1000 µSv).

Baca juga Mengenal Lebih Dekat Reaktor Daya Eksperimental

Dalam penelitian lain, Pande Made Udiyani dan Ihda Husnayani menghitung dosis radiasi yang diterima penduduk sekitar tapak Sebagin, Bangka Belitung [4]. Pada jurnalnya yang berjudul Analysis of Radiation Safety in The Nuclear Power Plant (NPP) in Normal Operating Condition, Sebagin Site Study, Udiyani dan Husnayani menggunakan asumsi tiga unit PLTN.

Berdasarkan penelitian tersebut, didapatkan bahwa dosis radiasi terbesar diterima pada jarak 0,8 km dari PLTN, yakni berkisar 100 µSv/tahun pada masing-masing reaktor. Jika ditotal, maka dosis yang diterima pada titik maksimum tersebut sebesar 332 µSv/tahun atau 0,332 mSv/tahun [4]. Sama seperti penelitian sebelumnya, angka ini juga masih lebih rendah dari nilai batas dosis Bapeten yaitu sebesar 1 mSv/tahun.

Semakin jauh jaraknya dari reaktor, semakin rendah dosis radiasi yang diterima oleh individu. Pada jarak 20 km, dosis yang diterima sebesar 0,15 mSv/tahun untuk tiga unit PLTN dan pada jarak 50 km kurang dari 0,05 mSv/tahun [4]. Nyaris tidak berarti untuk diperhatikan.

Gambar 5. Dosis individual yang diterima dari tiap reaktor

Mengingat tidak ada dampak yang bisa dideteksi pada tubuh manusia pada dosis radiasi kurang dari 100 mSv/tahun [2, 5], maka bisa dikatakan bahwa pelepasan radiasi pada kondisi normal PLTN sama sekali tidak berbahaya. Lagipula, di berbagai belahan bumi, banyak yang tinggal di sekitar PLTN dan mereka baik-baik saja. Bahkan seseorang lebih banyak terpapar radiasi ketika melakukan CT-scan daripada tinggal di dekat PLTN!

Keselamatan radiasi PLTN sudah sejak lama diatur dan telah berjalan dengan baik hingga saat ini. Tinggal persepsi publik yang mesti diperbaiki.

Referensi

  1. Robert Hargraves. 2012. Thorium Energy Cheaper Than Coal. Hanover: CreateSpace Independent Publishing Platform.
  2. World Nuclear Association. Radiation and Health Effects. (http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/radiation-and-health/nuclear-radiation-and-health-effects.aspx). Diakses pada 10 Agustus 2018.
  3. Sri Kuntjoro. 2010. Analisis Sebaran Radionuklida Pada Kondisi Normal Untuk Reaktor AEC 1000 MW. Jurnal Teknologi Reaktor Nuklir Vol. 12 No. 1: 40-54.
  4. Pande Made Udiyani dan Ihda Husnayani. 2017. Analysis of Radiation Safety in The Nuclear Power Plant (NPP) Site in Normal Operation Condition, Sebagin Case Study. Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol. 18 No. 2: 73-84.
  5. Wade Allison. 2009. Radiation and Reason. York: Wade Allison Publishing.

 

Bagikan Artikel ini di:

Siringmakar 18: “Prospek Berkarir Bidang Nuklir di Indonesia”

Bagikan Artikel ini di:

Pemateri : Muhammad Rizki Oktavian

Moderator : Sofiana Afifah Jamil

 

Perkenalkan teman-teman, saya Rizki, alumni Teknik Nuklir UGM. Sekarang, saya juga Mahasiswa Master tahun kedua di program Master of Science in Engineering (MSE), Nuclear Engineering, University of Michigan, Ann Arbor, USA.

Pengalaman kerja saya, beberapa kali menjadi asisten kuliah, asisten lab. dan asisten peneliti di UGM. Kegiatan lain ketika kuliah S1 dulu saya aktif di Komunitas Muda Nuklir Nasional (Kommun) sebagai kepala departmen kajian ilmiah. Juga pernah menjalani magang di PT. Radiant Utama sebagai radiografer dan juga pernah berpengalaman magang sebagai analis reaktor nuklir di PT. Ensterna.

Di Michigan, saya juga aktif sebagai asisten riset di laboratorium Nuclear Reactor Analysis and Methods (NURAM) di bawah supervisor Professor Downar.

Mungkin belum banyak pengalaman saya di dunia kerja, tapi hari ini saya akan berusaha untuk berbagi kepada teman-teman sekalian tentang prospek kerja di bidang teknologi nuklir di Indonesia.

Kalau pengen tahu lebih jauh lagi, silahkan dibaca CV, hehe

Nah, setelah ini, kita masuk materi ya.

Berbicara tentang prospek berkarir di bidang nuklir tidak terlepas dari seberapa jauh teknologi nuklir yang diaplikasikan di Indonesia. Meskipun Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sudah puluhan tahun berdiri di Indonesia, belum ada PLTN yang berhasil dibangun di Indonesia. Aplikasi teknologi nuklir sementara ini hanya sebatas pada pemanfaatan non-energi (iradiasi), diantaranya pemuliaan tanaman, pengawetan makanan, radioterapi, kedokteran nuklir, dan penerapan iradiasi lain.

Nah, terus apa aja dong yang bisa kita lakuin untuk berkarir di bidang nuklir? Simak ulasan berikut.

Sudah saya siapkan list, ada 6 macam karir (bisa ditambah lagi) di bidang nuklir yang tersedia di Indonesia.

  1. Peneliti (di BATAN atau lembaga riset lain)

batan.go.id/ 2018

BATAN merupakan Lembaga penelitian di Indonesia yang mempunyai wewenang untuk melaksanakan riset nuklir demi kesejahteraan Indonesia. Selain riset, BATAN juga melakukan pengelolaan limbah nuklir di Indonesia serta memberikan pelatihan dan sertifikasi untuk pekerja yang berkaitan dengan teknologi nuklir.

BATAN mempunyai tiga buah reaktor riset yang ada di Tangerang, Bandung dan Yogyakarta. Karena namanya reaktor riset, reaktor-reaktor tersebut tidak akan digunakan untuk pembangkitan daya listrik. Reaktor-reaktor milik BATAN digunakan untuk tujuan penelitian, pelatihan dan produksi radioisotop. Ditambah lagi, BATAN sekarang sedang membangun Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang akan digunakan untuk menunjukkan teknologi terbaru yang dikuasai negeri ini sekaligus mendemonstrasikan kepada masyakarat bahwa PLTN itu aman.

Oh iya, BATAN juga secara periodik menerima mahasiswa/ alumni untuk magang disana, lho. Kesempatan yang bagus jika ingin tahu lebih dalam dunia riset nuklir. Berikut website BATAN jika ingin tau lebih mendalam tentang BATAN https://www.batan.go.id/index.php/id/

 

  1. Pengkaji kebijakan nuklir di BAPETEN

bapeten.go.id/ 2018

Selain BATAN, badan pemerintah yang juga bergerak di bidang nuklir adalah BAPETEN atau Badan Pengawas Teknologi Nuklir Nasional. Namun, berbeda dengan BATAN, BAPETEN tidak bergerak di bidang teknologi, namun bergerak di bidang hukum, khususnya dalam pengawasan penggunaan tenaga nuklir di Indonesia. Berikut website BAPETEN jika berminat ingin tahu lebih jauh https://www.bapeten.go.id/

Nah, BAPETEN ini sesuai untuk teman-teman yang berasal dari klaster Soshum ketika kuliah. Sama seperti BATAN dan lembaga pemerintah lain, perekrutan tenaga kerja di BAPETEN dilakukan melalui rekruitmen CPNS.

 

  1. Akademisi

Karir berikutnya yang bisa dijalani di bidang nuklir tentunya adalah Akademisi. Maksudnya, pekerjaan yang berhubungan dengan dunia akademik, utamanya adalah Dosen. Dosen, berbeda dengan guru, tidak hanya mempunya tugas mendidik, namun juga mempunyai kewajiban meneliti dan mengabdi pada negara.

Di Indonesia sendiri, ada beberapa kampus yang membuka jurusan perkuliahan di bidang nuklir, baik yang spesifik maupun secara umum. Diantaranya adalah S1 dan S2 Teknik Nuklir UGM, S1 Fisika UI Peminatan Fisika Medis, S1 Fisika ITB Peminatan Fisika Nuklir dan D4 Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN). Mohon koreksinya, jika ada yang belum tersebut. Namun, secara garis besar, itulah kampus-kampus yang menyediakan perkuliahan di bidang nuklir.

 

  1. Rumah Sakit (Kedokteran Nuklir)

Ahli radiologi, fisikawan medis dan dokter spesialis kedokteran nuklir masih banyak dibutuhkan di seluruh rumah sakit di Indonesia. Terutama rumah sakit tingkat kota atau provinsi, kebutuhan akan radiodiagnostik dan radioterapi sangat banyak. Bahkan seorang pasien umumnya menganteri berbulan-bulan demi mendapat perawatan radioterapi untuk penyakit kanker.

 

  1. Radiografer untuk Non-Destructive Testing

Non-Destructive Testing adalah pengujian alat-alat pabrik (pipa, sambungan, dll.) tanpa perlu merusak alat tersebut. Sinar gamma dari radiasi bahan  nuklir biasa digunakan di sini untuk pengujian apakah alat-alat pabrik mengalami kecacatan atau tidak.

 

  1. Bergabung di Perusahan Teknologi Nuklir

ensterna.com/ 2018

Perusahaan yang memang fokus di bidang nuklir memang belum terlalu populer di Indonesia. Untuk BUMN, dulu ada PT. Batantek yang kemudian berubah nama menjadi PT. INUKI. Perusahaan ini bergerak di produksi dan penyediaan radioisotop yang digunakan di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia. Namun, karena suatu hal, perusahaan ini sedang melambat perkembangannya (mohon koreksi jika salah).

Di sektor swasta, hadir beberapa tahun yang lalu, PT. Energi Sterila Higiena (PT. Ensterna) yang baru terjun dan menjadi pelopor perusahaan swasta pertama di Indonesia yang bergerak di bidang nuklir. Perusahaan ini didirikan oleh salah seorang putra bangsa, Bapak Ir. Yudiutomo Imardjoko, Ph.D.

Sekarang, PT. Ensterna fokus untuk bergerak di produksi radioisotop sembari mulai masuk ke sektor energi dengan desain reaktor thorium, thorium generator dan baterai nuklir. Untuk yang ingin lebih jauh mengenal tentang perusahaan ini, silahkan kunjungi websitenya di http://www.ensterna.com

Demikian uraian yang dapat saya sampaikan. Silahkan jika ada pertanyaan, saya kembalikan ke moderator. Terima kasih 🙂

 

Sesi Tanya-Jawab (Q&A)

  1. Q. Teddy : Kan negara kita besahabat sudah lama sekali ya dengan Russia. Dan Russia itu negara pembuat nuklir terbesar kan. Indonesia dari dulu sudah sering kali ditawari kerjasamanya dalam bidang PLTN. Jadi pertanyaannya kenapa Indonesia tidak menyetujuinya saja dalam kerjasama PLTN itu…? | A. Nah, memang betul sudah banyak yang mencoba “meminang” negara kita untuk dibangun PLTN, termasuk Rusia. Bahkan setahu saya, Rusia mau membiayai semua biaya pembangunan PLTN, Indonesia tinggal pakai saja. Tapi kembali lagi, bukan ranah teknologi lagi. Namun, ke politik hubungan luar negeri. Jadi, memang permasalahan pembangunan PLTN cukup pelik juga. Untuk ini, saya tidak bisa menjawab detail, hanya gambaran ringkas bahwa permasalahannya adalah non-teknis. Apakah menjawab?.
  2. Q. Khafidhotur Rifliyah: Tadi kan dijelaskan bahwa aplikasi teknologi nuklir sementara ini hanya sebatas pada pemanfaatan non-energi (iradiasi), diantaranya pemuliaan tanaman, pengawetan makanan, radioterapi, kedokteran nuklir, dan penerapan iradiasi lain?. Yang saya tanyakan yang dimaksud pemanfaatan non-energi itu bagaimana?. Bukannya untuk membuat suatu perlakuan seumpama pemuliaan tanaman itu juga ada energi nuklir yang dipindahkan pada tanaman,  atau bagaimana?.  Mohon penjelasannya. | A. Pertanyaan yang bagus, sangat kritis. Memang benar, semua aplikasi nuklir itu melibatkan energi. Namun, yang saya maksudkan di uraian sebelumnya adalah yang menggunakan iradiasi. Sedangkan untuk pemanfaatan energi nuklir adalah penggunaan energi secara besar, yaitu dalam bentuk PLTN (hingga 1 Gigawatt energi lebih). Dibandingkan dengan iradiasi yang energinya hanya kisaran miliwatt.
  3. Q. Intan : Kak saya mau tanya, saya kan masih SMA kelas 12, kalau kuliah jurusan teknik nuklir itu belajar apa saja sih?. Kalau sudah lulus kerjanya gimana? | A. Wah, mantap nih, sudah mau masuk kuliah. Nah, belajarnya ya banyak hal di teknik nuklir, namun memang fokus di matematika, fisika dan kimia (dengan judul kuliah yang berbeda-beda). Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang kurikulum teknik nuklir bisa dilihat di sini https://tf.ugm.ac.id/images/akademik/Kurikulum_TN_2016.pdf . Kalau pekerjaannya, sudah diterangkan di materi tadi, hehe.
  4. Q. Made agus andi gunawan:  Jika ada badan pengawas nuklir, apakah penggunaan nuklir di masyarakat sudah terindikasi atau adakah yang sudah memakai nuklir secara ilegal sehingga dibentuk badan pengawas itu? | A. Dibentuknya badan pengawas nuklir adalah peraturan dari International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai lembaga nuklir internasional bahwa harus adanya lembaga pengawasan yang terpisah dari badan nuklir nasional. Pemakaian nuklir secara ilegal memang ada, namun bukan untuk bom, lebih ke penggunaan bahan-bahan nuklir yang tidak sesuai prosedur keselamatan. Itu yang perlu diawasi di Indonesia.
  5. Q. Fadlul : Pertanyaan saya, bagaimana mengubah paradigma orang tentang nuklir yang cuma beranggapan kalau kaitannya pasti sama bom? Kan akhir-akhir ini sering kasusnya di Indonesia. Terima kasih | A. Paradigma itu yang juga jadi PR besar untuk kita semua. Mindset orang-orang yang perlu kita ubah pelan-pelan dari diri kita sendiri. Harapannya, misalnya, orang yang sudah tahu dan paham tentang pemanfaatan nuklir (seperti teman-teman di grup ini) dapat membagikan pengetahuannya tentang nuklir ke kerabat atau teman-teman lain. Sehingga, tidak ada lagi kesalahpahaman tentang nuklir.
  6. Q. Tsaqif : Tadi sempat dijelaskan kalau perekrutan BAPETEN berasal dari klaster soshum, apakah tetap ada kewajiban untuk memiliki pengalaman belajar di bidang nuklir juga? | A. Untuk belajar nuklir tentu ada keharusan tentang itu. Namun, pastinya beda dengan yang murni belajar teknologinya. Setidaknya, pengetahuan nuklir itu cukup untuk menyusun kebijakan dan peraturan tentang teknologi nuklir.
  7. Q. Saepullah : Untuk nuklir yang penerapannya dengan radiasi seperti cek alat-alat, bagaimana dan darimana sumber radiasinya itu?, Apakah dari reaktor nuklir juga? | A. Radiasi nuklir yang digunakan untuk radiografi berasal dari bahan-bahan radioaktif. Bahan radioaktif bisa didapat di alam, bisa juga yang sengaja dibuat di dalam reaktor. Yang selanjutnya dimanfaatkan adalah sinar radiasi yang didapat dari proses peluruhan bahan radioaktif tersebut.
  8. Q. Intan : Kak, boleh tanya lagi gak?. Kan kalau soal pekerjaan sudah ada jawabannya. Mau tanya kenapa sih kak Rizki bisa kuliah ambil jurusan teknik nuklir?, Motivasinya apa?, Motivasi ambil teknik nuklir? | A. Hehe, mau jadi iron man, wkwkwk, bercanda deh. Yang pasti jurusan itu langka di Indonesia, jadi pasti peluang kerjanya eksklusif untuk kita. Terus, prospek ke depan untuk teknologi nuklir itu wah banget. Dalam beberapa puluh tahun ke depan, penggunaan sumber energi fossil mau ngga mau  harus dikurangi, sedangkan sumber energi terbarukan tidak mencukupi, sehingga energi nuklir jadi solusi terbaik untuk energi di masa depan.
  9. Q. Alan : Saya mau bertanya, saya mahasiswa dari ITS Surabaya, mas. Berhubung di ITS sendiri tidak ada yang berkaitan dengan nuklir, apakah bisa kami berkecimpung di dunia nuklir semisal di PLTN dll ? | A. Tenang saja, Alan. PLTN ngga cuma butuh teknik nuklir saja kok, butuh jurusan-jurusan lain. Nah, misal S1 nya bukan teknik nuklir, bisa juga S2 atau S3 teknik nuklir jika mau lebih lanjut berkecimpung di bidang nuklir. S2 Teknik Fisika UGM peminatan Teknik Nuklir sudah dibuka juga, bisa double degree ke Perancis juga. Belum lagi opsi-opsi kuliah ke luar negeri. Tetap semangat.
  10. Q. Teti: Kak, apa ada resiko khusus untuk perempuan yang ingin bekerja seputar bidang nuklir?(kecuali akademisi). | A. 10 dan 11 saya bahas sekaligus, ya, karena berhubungan,Pekerjaan di bidang teknologi nuklir adalah salah satu pekerjaan yang teraman di dunia, karena memang standar safety yang diterapkan sangat tinggi. Bandingkan saja, untuk batu bara, angka kematian berada pada kisaran 100.000 orang per PWh, sedangkan nuklir hanya 90 orang per PWh.Nah, dengan tingkat keamanan seperti itu, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan di pekerjaan ini.
  11. Q. Ameldo_ Ilmuwan nuklir indonesia apa saja kerjaan nya, Soalnya pernah ada bahasa indonesia terbatas pada penelitian.  Jadi penelitian mengenai uranium dll jarang ada atau dilanjutkan, Apakah ada penelitian rahasia? | A. Kalau penelitian rahasia, berarti rahasia, saya juga ngga tahu berarti, hehe. Penelitian masih terus dilanjutkan kok, di Indonesia banyak penelitian tentang nuklir, dapat dibaca di jurnal-jurnal ilmiah, baik yang gratis atau berbayar. Hanya aplikasinya yang belum bisa dilakukan karena alasan politis dan macam hal. Jika Pemerintah sudah bilang go nuclear, akan bisa diterapkan penelitian2 itu.

Penutup

Terima kasih atas perhatiannya, teman-teman sekalian. Mohon maaf jika ada salah kata atau kurangnnya data karena berbagai keterbatasan. Tetap aktif dan belajar nuklir demi kedaulatan bangsa kita.

Semangat selalu!

Bagikan Artikel ini di: