Udang Krosok (Parapenaeopsis sculptilis) : Klasifikasi, Morfologi, Distribusi, Pertumbuhan, Pergerakan, Siklus Hidup, Reproduksi, dan Perkembangan Embrio

  • Klasifikasi Parapenaeopsis sculptilis

Klasifikasi Parapenaeopsis sculptilis adalah sebagai berikut (Holthuis, 1980):

Kingdom          Animalia  – Animal, animaux, animals
Subkingdom    Bilateria
Infrakingdom   Protostomia
Superphylum  Ecdysozoa
Phylum            Arthropoda  – Artrópode, arthropodes, arthropods
Subphylum      Crustacea Brünnich, 1772 – crustacés, crustáceo, crustaceans
Class               Malacostraca Latreille, 1802
Subclass         Eumalacostraca Grobben, 1892
Superorder      Eucarida Calman, 1904 – camarão, caranguejo, ermitão, lagosta, siri
Order       Decapoda Latreille, 1802 – crabs, crayfishes, lobsters, prawns, shrimp, crabes, crevettes, écrevisses, homards
Suborder         Dendrobranchiata Bate, 1888
Superfamily    Penaeoidea Rafinesque, 1815 – penaeoid shrimps, crevettes pénaéïdes
Family             Penaeidae Rafinesque, 1815 – penaeid shrimps, crevettes pénaéïdes
Genus             Parapenaeopsis Alcock, 1901
Species           Parapenaeopsis sculptilis (Heller, 1862) – rainbow shrimp, camarón arco iris, crevette arc-en-ciel, rainbow prawn, coral prawn

Nama Parapenaeopsis sculptilis adalah synonym name, nama yang valid yaitu Mierspenaeopsis sculptilis (Heller, 1862), berikut klasifikasi dari Mierspenaeopsis sculptilis (Heller, 1862)(Fransen, 2011):

Animalia (Kingdom)
Arthropoda (Phylum)
Crustacea (Subphylum)
Multicrustacea (Superclass)
Malacostraca (Class)
Eumalacostraca (Subclass)
Eucarida (Superorder)
Decapoda (Order)
Dendrobranchiata (Suborder)
Penaeoidea (Superfamily)
Penaeidae (Family)
Mierspenaeopsis (Genus)
Mierspenaeopsis sculptilis (Species)

  • Morfologi Parapenaeopsis sculptilis

Gambar 1. Parapenaeopsis sculptilis

Udang Krosok merupakan udang yang tergolong ke dalam famili penaidae, karena secara morfologis Udang Krosok kulitnya belang-belang seperti kulit harimau, oleh para nelayan udang ini sering disebut sebagai Udang Krosok, Udang Krosok memiliki badan berwarna coklat kemerah-merahan dengan garis-garis putih. Udang Krosok mempunyai 2 pasang kaki yaitu kaki renang dan kaki jalan, jumlah kaki jalan pada udang ini mencapai 3 pasang dan kaki renang berjumlah lima pasang. Udang Krosok mempunyai satu pasang antennule, panjang total Udang Krosok 12 cm, panjang abdomen 5 cm dan panjang karapas 4 cm (Azizah, 2013).

  • Daerah distribusi Parapenaeopsis sculptilis

Peta persebaran Parapenaeopsis sculptilis dapat dilihat pada Gambar 2.

blank

Gambar 2. Peta Persebaran Parapenaeopsis sculptilis

Habitat Udang Krosok perairan dangkal dari garis pantai hingga kedalaman sekitar 90 m, tetapi terutama kurang dari 40 m, di atas pasir, lumpur, atau dasar campuran, tertangkap terutama oleh pukat trawl dan pukat pantai (Azizah, 2013).

  • Hubungan Panjang dan Berat Parapenaeopsis sculptilis

Amani et. al. (2015) menemukan bahwa panjang total dan berat total P. sculptilis berkisar antara 7,75-16,65 cm dan 2,84-39,89 g untuk kedua jenis kelamin. LWR P. sculptilis ditemukan W = 0,00027TL2.80 atau Log W = 2.80 Log TL -4.63 untuk kedua jenis kelamin. Diketahui bahwa nilai b yang diperkirakan secara signifikan lebih rendah daripada nilai isometrik (3) pada taraf 5% untuk populasi P. sculptilis di perairan pesisir Terong, Perak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pola pertumbuhan P. sculptilis bersifat alometrik negatif di wilayah penelitian.

  • Pergerakan Udang

Udang berenang dengan ekor dan kaki kecilnya. Kecepatan berenang udang memang tidak terlalu cepat. Namun, saat merasa terancam, udang akan melesat mundur dengan cepat menggunakan ekornya biasa disebut dengan caridoid escape reaction.

  • Siklus hidup Parapenaeopsis sculptilis

Genus Parapenaeopsis cenderung menyukai salinitas tinggi dan bersifat stenohaline, sehingga tahapan dari siklus hidupnya sangat sedikit juvenil yang menjadikan nursery ground di daerah estuaria. Pada tahap postlarva dan juvenil berada di pantai, kemudian udang dewasa memijah di dasar perairan lepas pantai. Fase postlarva bermigrasi ke perairan pantai yang dangkal, seringkali di daerah lamun dan komunitas alga dengan kadar salinitas yang tinggi, migrasi ke lepas pantai. Beberapa spesies memiliki telur yang bersifat pelagis (Hedianto et. al., 2014).

  • Reproduksi Parapenaeopsis sculptilis
  • Rasio jenis kelamin

Pada penelitian Arshad et. al. (2016) didapatlan rasio jenis kelamin dari 3110 spesimen P. sculptilis diperiksa selama studi satu tahun, di mana 710 adalah jantan dan 2.400 adalah betina dengan rasio jenis kelamin 1: 3. Uji χ² menunjukkan bahwa rasio jenis kelamin antara jantan dan betina berbeda secara signifikan (p <0,05).

  • Tahap perkembangan ovarium

Empat tahap kematangan diidentifikasi pada P. sculptilis betina. Rata-rata Gonadosomatic index (GSI) dari tahap belum matang (0.46) hingga tahap matang (6.36) disertai dengan perubahan yang berbeda dalam bentuk warna, ukuran dan GSI. Dalam penelitian ini, perbedaan yang signifikan (p <0,05) di GSI diamati antara tahap perkembangan gonad P. sculptilis yang berbeda. Penjelasan dari berbagai tahapan tersebut adalah sebagai berikut (Arshad et. al., 2016):

Tahap I (immature): Ovarium sangat tipis, putih, tembus cahaya dan sulit dibedakan serta tidak jelas. Tidak sepenuhnya berkembang dan tampak berkurang ke bagian posterodorsal perut. Nilai GSI berada pada rentang 0,07-0,99 dengan nilai rata-rata 0,46 ± 0,25SD.

Tahap II (maturing): Ovarium bertambah besar ukurannya dari lobus yang berkembang. Ovarium menutupi bagian perut, yang dapat diamati melalui karapas dan warnanya berkisar dari hijau kekuningan hingga hijau muda. Nilai GSI berkisar antara 1 sampai 3,97, dengan nilai rata-rata 2,34 ± 0,85SD.

Stadium III (mature): Ovarium berwarna hijau tua dan terlihat jelas melalui eksoskeleton. Seluruh perut ditutupi dengan lobus yang berkembang sempurna. Nilai GSI berkisar antara 4,01 hingga 12,95, dengan nilai rata-rata 6,36 ± 1,88 SD.

Tahap IV (spent): Tahap ini biasanya mirip dengan tahap belum matang; ovarium sangat mengecil dan lembek. Warnanya kuning atau putih kotor. Nilai rata-rata GSI berkisar dari 0,01 hingga 0,07, dengan nilai rata-rata 0,03 ± 0,02SD.

  • Larval Development Parapenaeopsis sculptilis

Berikut tahapan perkembangan larva (Muthu et. al., 1979):

NAUPLIUS

1 a. Seta lateral dalam proksimal A1 lebih panjang dari 2 yang anterior dan berserabut di N IV sampai N VI

1 b. Seta lateral dalam proksimal A1 lebih pendek dari pada 2 yang anterior pada N IV sampai N VI

2 a. Seta lateral paling dalam anterior di A1 sangat panjang; seta lateral paling dalam posterior tidak ada atau rudimenter di N I sampai N III. Dalam N VI 3 aesthaetes pada margin distal luar A1 sama-sama berjarak i. e. yang tengah berjarak sama dari yang distal dan proksimal Penaeus

2 b. Ukuran 3 seta lateral dalam pada Al berkurang secara bertahap dari anterior ke posterior. Pada N VI 3 aesthaetes pada margin distal luar Al tidak memiliki jarak yang sama, 2 yang anterior lebih dekat satu sama lain dibandingkan dengan yang posterior Metapenaeus

PROTOZOEA I

1 a. Eksopoda A2 dengan 11 seta sepanjang fargin dalam dan distal, endopoda dengan setae lateral 1 + 1 + 2; Furcal paling luar seta dorsal dibuang Penaeus

1. b. Eksopoda A2 dengan 10 setae sepanjang margin dalam dan distal, endopoda bukan dengan 1 +1+ 2 seta lateral. Furcal paling luar seta di bagian perut atau lateral dihilangkan 2

2. a. Endopoda A2 dengan setae lateral 1 + 2 + 3. Tanduk depan biasanya ada di atas organ depan. Furca kaudal dipisahkan oleh ruang semikricular dangkal, furcal paling luar seta Metapenaeus agak ke perut

2. b. A2 endopod dengan 2 + 2 lateral ^ etae. Tidak ada tanduk frontal di atas organ frontal, furcae ekor dipisahkan oleh ruang berbentuk A yang dalam; furcal paling luar seta dibuang kesamping gersang terpisah jauh dari seta luar kedua dari belakang

PROTOZOEA II

1. a. Duri supraorbital tidak ada

1. b. Ada duri supraorbital

2.a. Duri supraorbital bifid Penaeus

2.b. Duri supraorbital sederhana

PROTOZOEA III

1. a. Telson dengan 7 + 7 furcal setae

1. b. Telson dengan 8 + 8 furcal setae

2. a. Al 4 tersegmentasi, tulang belakang supraorbital tidak ada

2. b. Al 3 tersegmentasi, tulang belakang supraorbital hadir

TAHAP MYSIS

1. a. Segmen perut ke-5 dengan sepasang duri posterolateral. Duri punggung ada pada segmen perut ke-4, ke-5 dan ke-6; terkadang di segmen ke-3 juga

1. b. Segmen perut ke-5 tanpa duri posterolateral. Duri punggung hanya ada pada segmen perut ke-5 dan ke-6

2. a. Telson dengan 7 + 7 duri. Tulang belakang hati hadir di substage mysis selanjutnya

2. b. Telson dengan 8 + 8 duri. Tulang belakang hati tidak ada di semua substage mysis

AWAL POSTLARVAE (hingga P2)

1. a. Segmen perut ke-5 dengan tulang belakang posterodorsal

1.b. Segmen perut ke-5 tanpa tulang belakang posterodorsal

2. a. Telson dengan 7 pasang duri

2. b. Telson dengan 8 pasang duri di kedua sisi median tulang belakang

DAFTAR PUSTAKA

  • Amani, A. A., Arshad, A., Yusoff, F. M., & Amin, S. M. N. (2015). Length-Weight Relationship and Relative Condition Factor of Parapenaeopsis sculptilis (Heller, 1862) from the Coastal Waters of Perak, Peninsular Malaysia. Pertanika Journal of Tropical Agricultural Science38(2).
  • Arshad, A., Amani, A. A., Amin, S. N., & Yusoff, F. M. (2016). Sex ratio, spawning season and the size at maturity of Parapenaeopsis sculptilis (Heller 1862) in the coastal waters of Perak, Peninsular Malaysia. Journal of environmental biology37(4 Spec No), 709-713.
  • Azizah, N. (2013). Identifikasi Krustasea Ekonomis Hasil Tangkapan Nelayan di Kabupaten Nagan Raya (Doctoral dissertation, Universitas Teuku Umar Meulaboh).
  • Fransen, Charles. 2011. Mierspenaeopsis sculptilis (Heller, 1862). http://www.marinespecies.org/aphia.php?p=taxdetails&id=585386 (di akses 27 Maret).
  • Hedianto, D. A., Purnamaningtyas, S. E., & Riswanto, R. (2014). Sebaran dan Habitat Juvenil Udang Penaeid Di Perairan Kubu Raya, Kalimantan Barat. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap6(2), 77-88.
  • Holthuis, L.B. 1980. Parapenaeopsis sculptilis  (Heller, 1862). https://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=95873&print_version=SCR&source=from_print#null (di akses 27 Maret). 
  • Muthu, M. S., Pillai, N. N., & George, K. V. (1979). Larval developmen t-Pattern of penaeid larval development and generic characters of the larvae of the genera Penaeus, Metapenaeus and Parapenaeopsis. CMFRI Bulletin28, 75-86.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *