Sejak lama, para ilmuwan sangat tertarik mengungkap kehidupan masa lalu di Bumi, dan fosil menjadi salah satu sumber informasi paling berharga untuk tujuan tersebut. Fosil merupakan sisa-sisa makhluk hidup yang terawetkan di dalam batuan selama jutaan tahun. Baru-baru ini, tim peneliti dari Field Museum di Chicago berhasil mengungkap detail baru yang sebelumnya belum pernah teramati pada salah satu fosil paling terkenal, yaitu Archaeopteryx. Fosil ini telah lama dikenal sebagai bukti penting yang menunjukkan kaitan evolusi antara dinosaurus dan burung modern.
Artikel ilmiah terbaru mengenai fosil ini diterbitkan di jurnal Nature dan memaparkan secara rinci hasil penelitian tim yang selama bertahun-tahun meneliti fosil yang kini dikenal sebagai Chicago Archaeopteryx. Berkat kondisi fosil yang terawetkan dengan sangat baik serta proses persiapan yang dilakukan secara teliti, tim berhasil mengamati lebih banyak jaringan lunak dan detail struktur tulang yang sebelumnya belum pernah terungkap. Salah satu temuan paling menarik adalah adanya susunan bulu yang belum pernah diidentifikasi pada spesies ini, yang memberikan petunjuk penting tentang kemampuan Archaeopteryx untuk terbang—berbeda dengan banyak kerabat dinosaurusnya yang tidak memiliki kemampuan tersebut.
Asal Usul Archaeopteryx dan Sejarah Penemuannya
Fosil Archaeopteryx berasal dari endapan batu kapur di sekitar Solnhofen, Jerman—wilayah yang terkenal menghasilkan fosil-fosil dengan tingkat pelestarian luar biasa dari periode Jura, sekitar 150 juta tahun lalu. Fosil yang kini dikenal sebagai Chicago Archaeopteryx ini awalnya ditemukan oleh seorang kolektor individu dan disimpan sebagai koleksi pribadi sebelum tahun 1990. Selama lebih dari tiga dekade, fosil tersebut berada di tangan kolektor tersebut hingga akhirnya sekelompok ilmuwan, donor, dan penggemar paleontologi bekerja sama untuk membantu Field Museum mengakuisisinya. Fosil ini kemudian resmi menjadi bagian dari koleksi museum pada Agustus 2022, sehingga dapat diteliti lebih lanjut dan diakses oleh publik.
Archaeopteryx terkenal dalam sejarah ilmu pengetahuan karena fosil pertamanya pernah membantu menguatkan teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Fosil ini menunjukkan bahwa burung di masa kini berevolusi dari nenek moyang dinosaurus. Karena fosil tersebut memiliki fitur yang mirip dengan dinosaurus tetapi juga memiliki bulu seperti burung, penemuan ini telah menjadi bukti penting dari hubungan antara dinosaurus dan burung.
Ukuran Chicago Archaeopteryx ini relatif kecil, seukuran burung merpati, dan tulangnya sangat halus serta berlubang, seperti tulang burung modern. Karena begitu rapuh, fosil ini tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari batu yang membungkusnya—yang disebut rock matrix atau matriks batu—seperti yang dilakukan pada fosil yang lebih besar seperti T. rex. Jadi, persiapan fosil tersebut harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan perlahan-lahan.
Teknologi Canggih yang Membantu Para Ilmuwan
Untuk mempelajari fosil ini lebih jauh, tim peneliti menggunakan dua teknologi penting: pemindai CT dan cahaya ultraviolet (UV light). Kedua teknik ini memungkinkan tim melihat detail yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang.
Pemindai CT, atau Computed Tomography, adalah alat yang menggunakan serangkaian sinar-X untuk membuat gambar tiga dimensi dari objek. Dengan teknologi ini, para ilmuwan bisa melihat bagian dalam fosil tanpa harus memecah atau merusak batu yang mengelilinginya. CT scan membantu kita mengetahui seberapa dalam letak tulang di bawah permukaan batu sehingga mereka bisa menghilangkan matriks batu dengan sangat presisi.

Sementara itu, cahaya ultraviolent (UV) digunakan untuk melihat jaringan lunak dan detail kecil lainnya. Fosil dari Solnhofen memiliki komposisi kimia tertentu yang membuat jaringan lunaknya bersinar atau fluoresce saat dipaparkan cahaya ultraviolet. Efek ini membantu para preparator fosil—para ahli yang bertugas membersihkan dan menyiapkan fosil—untuk melihat bagian mana dari batu yang merupakan tulang atau jaringan asli, dan mana yang hanyalah batu biasa. Jika dilakukan tanpa panduan UV, mereka mungkin secara tidak sengaja mengikis bagian fosil penting.
Gabungan penerapan CT scan dan UV light membuat Chicago Archaeopteryx menjadi fosil yang paling rinci yang pernah dipelajari dalam kelompok Archaeopteryx. Para peneliti bahkan yakin bahwa beberapa fitur yang kini terlihat sebenarnya mungkin juga ada di fosil-fosil lain, tetapi hilang karena persiapan fosil yang lebih kasar di masa lalu.
Temuan Baru yang Mengubah Cara Kita Melihat Evolusi
Dengan teknologi yang canggih itu, tim fokus pada beberapa bagian tubuh Archaeopteryx yang sangat penting: kepala, sayap, bulu, tangan, dan kaki. Misalnya, dari struktur tulang di bagian atas kepala dan mulut fosil, ilmuwan bisa mempelajari sesuatu yang disebut cranial kinesis. Ini adalah kemampuan untuk menggerakkan paruh secara independen dari tengkorak, sebuah fitur yang sangat penting bagi burung modern untuk beradaptasi dengan berbagai cara makan dan lingkungan.
Jaringan lunak di tangan dan kaki menunjukkan bahwa Archaeopteryx kemungkinan besar banyak menghabiskan waktunya berjalan di tanah dan mungkin juga bisa memanjat pohon. Ini memberikan petunjuk bahwa makhluk ini bukan hanya makhluk yang bisa terbang, tetapi juga aktif bergerak di lingkungan darat.
Salah satu temuan paling menarik adalah serangkaian bulu panjang yang disebut tertial feathers yang ditemukan pada bagian atas lengan fosil. Bulu-bulu ini berperan penting dalam penerbangan karena membantu mengisi celah antara tubuh dan sayap, sehingga meningkatkan kemampuan terbang. Berbeda dengan kerabat dinosaurus yang belum bisa terbang, bulu-bulu ini menunjukkan bahwa Archaeopteryx benar-benar mampu terbang. Para peneliti bahkan berpikir bahwa kemampuan terbang mungkin berevolusi lebih dari sekali di antara kelompok dinosaurus yang berbeda.
Kenapa Penelitian Ini Penting?
Penelitian ini bukan hanya tentang menemukan hal-hal kecil yang tersembunyi di bawah batu. Temuan dari Chicago Archaeopteryx memberi kita wawasan baru tentang bagaimana burung pertama berkembang dan bagaimana evolusi penerbangan berlangsung. Evolusi adalah proses panjang yang menciptakan beragam kehidupan yang kita lihat saat ini, dan fosil seperti ini membantu kita memahami tahapan penting dari proses tersebut. Dengan mempelajari struktur tulang, jaringan lunak, cara burung awal bergerak dan terbang, para ilmuwan bisa memetakan asal-usul burung modern dari nenek moyang dinosaurusnya.
Kesimpulan
Penemuan dan penelitian Chicago Archaeopteryx adalah contoh luar biasa bagaimana teknologi modern seperti CT scan dan cahaya ultraviolet bisa membuka tabir masa lalu yang tersembunyi dalam jutaan tahun. Fosil ini tidak hanya memperkuat pemahaman kita tentang evolusi burung tetapi juga menunjukkan betapa kompleksnya proses ilmiah untuk memulihkan informasi dari masa lalu. Dengan fosil yang sangat terawetkan dan teknik persiapan yang sangat hati-hati, kita sekarang memiliki gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana burung awal hidup, bergerak, dan terbang. Penelitian ini pun masih menjadi awal dari banyak pertanyaan baru yang menunggu jawaban di masa depan.
Referensi:
[1] https://www.fieldmuseum.org/about/press/uv-light-and-ct-scans-helped-scientists-unlock-hidden-details, diakses pada 24 Januari 2026
[2] Jingmai O’Connor, Alexander Clark, Pei-Chen Kuo, Yosef Kiat, Matteo Fabbri, Akiko Shinya, Constance Van Beek, Jing Lu, Min Wang, Han Hu. Chicago Archaeopteryx informs on the early evolution of the avian bauplan. Nature, 2025; DOI: 10.1038/s41586-025-08912-4

