Jejak Laetoli: Sejarah Bipedalisme Manusia

Model Situs Laetoli A menggunakan fotogrametri menunjukkan lima jejak kaki hominin (a); dan peta kontur situs di Laetoli, Tanzania, yang dihasilkan dari pemindaian permukaan 3D (b); peta yang menunjukkan Laetoli, yang terletak di dalam Kawasan Konservasi Ngorongoro di Tanzania utara, selatan Ngarai Olduvai (c); peta topografi tapak A2 (d) dan tapak A3 (e). Gambar (a) dan (b) oleh Austin C. Hill dan Catherine Miller. Gambar (c): Ilustrasi menggunakan GoogleMaps oleh Ellison McNutt. Gambar (d) dan (e) oleh Stephen Gaughan dan James Adams.
Print Friendly, PDF & Email

Pada tahun 1976, anggota tim penelitian dari ahli Paleoantropologi Mary Leakey menemukan sebuah jejak kaki binatang yang tersemen abu vulkanik yang basah di daerah Laetoli, Tanzania. Kemudian pada tahun 1978, Paul Abell bergabung dengan tim Mary Leakey dan menemukan jejak kaki sepanjang 88 kaki (27 m) yang mencakup sekitar 70 kaki manusia purba, jejak kaki ini kemudian dikenal sebagai “Jejak kaki Laetoli (Laetoli Footprint)”.[1-3] Penemuan jejak kaki ini sangatlah penting, karena ini merupakan petunjuk mengenai bagaimana manusia mulai berjalan secara bipedal—berjalan dengan 2 kaki.

Namun penemuan jejak Laetoli ini juga merupakan hal yang kontroversial dalam perdebatan evolusi-kreasi saat itu. Pasalnya bentuk jejak kaki Laetoli ini dianggap mirip dengan jejak kaki manusia modern (Homo sapiens), padahal diperkirakan usia jejak kaki itu adalah 3,6 juta tahun,[4] yang mana seperti diketahui bahwa Homo sapiens tidak muncul dalam waktu selama itu. Awalnya Homo sapiens dianggap pertama muncul sekitar 200.000 tahun lalu, namun penelitian tahun 2017 mengungkap bahwa Homo sapiens telah ada sekitar 300.000 tahun yang lalu.[5] Hal ini menimbulkan masalah karena para pengkritik evolusi menganggap hal tersebut kacau karena tidak sesuai data yang ada.[6] Sejauh ini siapa yang membuat jejak Laetoli juga kerap diperdebatkan. Russell Tuttle, seorang Paleoantropolog pada tahun 1990 menganggap berpikir bahwa mereka terlalu mirip manusia daripada Australopithecus afarensis dan mungkin milik spesies lain dari Australopithecine atau spesies Homo awal.[7] Namun banyak ilmuwan lebih memilih menerima bahwa jejak kaki Laetoli adalah milik Australophitecus afarensis.[3,8]

“Spesies manusia lahir ketika satu kelompok kera bipedal yang terisolasi terjebak dan kemudian berspesialisasi untuk mendapatkan nilai kelangsungan hidup yang lebih baik dari makan daging.”

RICHARD E. LEAKEY dalam Pamela Weintraub, 
The Omni Interviews (1984), p. 66.

Penemuan jejak kaki Laetoli di situs G dan S secara umum diterima bahwa itu dibuat oleh Australopithecus afarensis.[3] Penelitian tahun 2016 mengungkapkan penemuan Jejak kaki Laetoli baru pada situs S (S1 dan S2) memiliki ukuran yang berbeda dengan di situs G, uniknya perkiraan tinggi badan untuk situs S1 sangat melebihi yang sebelumnya direkonstruksi untuk Au. afarensis baik dari bahan kerangka dan data jejak kaki. Hal ini mengidentifikasikan bahwa ukuran jejak kaki di daerah Laetoli bisa beragam.[9] Namun pada 1 Desember 2021 kemarin, Ellison J. McNutt peneliti dari Ohio University dan rekan-rekannya mempublikasikan hasil studi terbaru tentang jejak kaki Laetoli situs A.[10] Jejak kaki di situs A sudah ditemukan sejak dulu, namun para peneliti saat itu mengira itu hanya jejak kaki beruang yang berjalan dengan dua kaki, sehingga penelitian lebih lanjut dihentikan.

Para peneliti ini melakukan uji coba dengan jejak kaki beruang hitam Amerika untuk mengetahui apakah jejak kaki di situs A benar milik beruang atau bukan.

blank
Gambar 1. Dr. Ellison McNutt mengumpulkan data dari beruang hitam betina remaja (Ursus americanus), yang berjalan dengan dua kaki, tanpa bantuan melalui jalur lumpur di Kilham Bear Center di Lyme, New Hampshire. Gambar oleh Jeremy DeSilva/Dartmouth College.
blank
Gambar 2. Jejak kaki kiri dari salah satu beruang hitam jantan remaja. Gambar oleh Ellison McNutt/Universitas Ohio.

Setelah lebih dari 50 jam video tentang beruang hitam liar juga diperoleh. Beruang berjalan dengan dua kaki kurang dari 1% dari total waktu pengamatan sehingga tidak mungkin beruang membuat jejak kaki di Laetoli, terutama mengingat tidak ada jejak kaki yang ditemukan dari individu ini yang berjalan dengan empat kaki.

“Saat berjalan beruang, mereka mengambil langkah yang sangat lebar, bergoyang-goyang,” kata penulis senior Jeremy DeSilva, seorang profesor antropologi di Dartmouth. “Mereka tidak dapat berjalan dengan gaya berjalan yang mirip dengan jejak kaki Situs A, otot pinggul dan bentuk lutut mereka tidak mendukung gerakan dan keseimbangan itu.” Tumit beruang lancip dan jari kaki serta kaki mereka seperti kipas, sementara kaki manusia purba berbentuk persegi dan jempol kaki yang menonjol, menurut para peneliti. Anehnya, jejak kaki Situs A merekam hominin menyilangkan satu kaki di atas kaki lainnya saat berjalan — gaya berjalan yang disebut “cross-stepping.”

“Meskipun manusia biasanya tidak melangkah, gerakan ini dapat terjadi ketika seseorang mencoba untuk membangun kembali keseimbangan mereka,” kata McNutt. “Jejak kaki Situs A mungkin merupakan hasil dari hominin yang berjalan melintasi area yang permukaannya tidak rata.”

blank
Gambar 3. Gambar jejak kaki Laetoli A3 (di kiri) dan gambar cetakan jejak kaki Laetoli G1 (di kanan). Analisis menunjukkan kesamaan dalam panjang tapak Laetoli A3 dan G tetapi perbedaan lebar kaki depan dengan yang pertama lebih lebar. Gambar di kiri oleh Jeremy DeSilva dan di kanan oleh Eli Burakian/Dartmouth

“Melalui penelitian ini, kami sekarang memiliki bukti konklusif dari jejak kaki Situs A bahwa ada spesies hominin yang berbeda berjalan secara bipedal di lanskap ini tetapi dengan cara yang berbeda pada kaki yang berbeda,” kata DeSilva, yang berfokus pada asal usul dan evolusi manusia berjalan. [11]

image of Australopithecus afarensis walking and leaving footprints
Gambar 4. Ilustrasi Australopithecus afarensis berjalan dan meninggalkan jejak. Gambar dari Smithsonian Institution.

Hasil penelitian ini mengidentifikasi bahwa kita butuh penelitian dan uji coba lebih lanjut mengenai sejarah evolusi manusia, termasuk bagaimana manusia mulai berjalan secara bipedal. Jejak kaki Laetoli ini hanyalah salah satu petunjuk kapan manusia mulai berjalan secara bipedal. Mungkin di luar sana masih banyak jejak kaki bipedal yang lebih tua, menunggu untuk ditemukan.

REFERENSI:

  1. Leakey, MD, Hay, RL, Curtis, GH, Drake, RE, Jackes, MK, and White, TD (1976). Fossil hominids from the Laetolil Beds. Nature. 262: 460-466.
  2. Hay, Richard L & Leakey, Mary D (1982). The Fossil Footprints of Laetoli. Scientific American 246 (2): 50-57.
  3. White, Tim D & Suwa, Gen. (1987). Hominid Footprints at Laetoli: Facts and Interpretations. American Journal of Physical Anthropology. 72:485-514
  4. Agnew, Nevilla; Demas, Martha; Leakey, Mary D. (1996). The Laetoli Footprints. Science. 271 (5256): 1651-1652.
  5. David, Richter et al. (2017). “The age of the hominin fossils from Jebel Irhoud, Morocco, and the origins of the Middle Stone Age”. Nature546 (7657): 293–296.
  6. Gish, Duane T. (1985). Evolution: The challenge of the fossil record. (El Cajon, CA: Creation-Life Publishers).
  7. Tuttle, Russell H. (1990). The pitted pattern of Laetoli feet. Natural History. 99 (3): 61-64.
  8. Foley, Jim. (2004). Creationist arguments: Anomalous fossils. Talk Origins Archive: http://www.talkorigins.org/faqs/homs/a_anomaly.html
  9. Masao, Fidelis T. et al. (2016). New footprints from Laetoli (Tanzania) provide evidence for marked body size variation in early hominins. eLife. 5: e19568.
  10. McNutt, Ellison J. et al. (2021). Footprint evidence of early hominin locomotor diversity at Laetoli, Tanzania. Nature Article: https://doi.org/10.1038/s41586-021-04187-7
  11. Staff. (2021). Ohio University researcher: Footprints from Site A at Laetoli, Tanzania, are from early humans, not bears. Ohio University: https://www.ohio.edu/news/2021/12/ohio-university-researcher-footprints-site-laetoli-tanzania-are-early-humans-not-bears

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 2.5 / 5. Banyaknya vote: 2

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Muhammad Arief
Follow me
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *