Guru dan peneliti terus mencari cara agar pelajaran sains terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari hari. Selama ini banyak siswa menganggap sains sebagai mata pelajaran yang penuh dengan rumus, istilah asing, dan konsep yang sulit dipahami. Akibatnya, minat belajar menurun dan kemampuan literasi sains maupun teknologi belum berkembang secara optimal. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan berbagai konsep ilmiah secara lebih menarik. Salah satu contohnya adalah wedhang uwuh, minuman tradisional khas Yogyakarta yang tersusun dari berbagai rempah seperti jahe, kayu secang, cengkih, kayu manis, daun pala, dan pala.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal E3S Web of Conferences mencoba menggabungkan budaya lokal dengan teknologi modern melalui pengembangan media pembelajaran berbasis Virtual Reality yang diberi nama Ethno VR Wedhang Uwuh. Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi digital dapat membantu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual, menarik, dan bermakna sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor empat tentang pendidikan yang berkualitas.
Penelitian ini bukan merupakan penelitian mengenai manfaat kesehatan wedhang uwuh ataupun penelitian yang menguji khasiat rempah terhadap penyakit tertentu. Penelitian ini juga bukan uji klinis maupun eksperimen laboratorium yang menghasilkan temuan baru mengenai kandungan kimia rempah. Fokus utama penelitian adalah mengembangkan media pembelajaran digital yang mengintegrasikan budaya lokal, pendekatan ilmiah, serta teknologi Virtual Reality untuk meningkatkan literasi sains dan teknologi. Para peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang bertujuan merancang, membuat, memvalidasi, kemudian mengevaluasi media pembelajaran sebelum digunakan oleh mahasiswa calon guru sains.
Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada
Gagasan utama penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa siswa akan lebih mudah memahami konsep ilmiah apabila materi dikaitkan dengan pengalaman yang mereka kenal dalam kehidupan sehari hari. Wedhang uwuh dipilih karena merupakan minuman tradisional yang memiliki nilai budaya tinggi sekaligus mengandung banyak aspek ilmiah yang dapat dipelajari. Setiap bahan penyusun wedhang uwuh memiliki karakteristik fisik, warna, aroma, struktur, serta kandungan senyawa kimia yang dapat dijelaskan menggunakan konsep sains. Dengan demikian, siswa tidak hanya mempelajari teori dari buku, tetapi juga melihat bagaimana ilmu pengetahuan hadir dalam budaya yang mereka temui setiap hari.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, para peneliti mengembangkan sebuah museum virtual yang dapat dijelajahi menggunakan teknologi Virtual Reality. Ketika memasuki lingkungan virtual tersebut, pengguna dapat berjalan dari satu ruang ke ruang lainnya seperti sedang mengunjungi museum sungguhan. Di dalam museum virtual tersedia berbagai informasi mengenai sejarah wedhang uwuh, asal usul setiap rempah, proses pembuatan, karakteristik bahan, hingga penjelasan ilmiah mengenai sifat fisik dan kimianya. Pengalaman belajar seperti ini membuat siswa tidak hanya membaca informasi, tetapi juga merasakan pengalaman eksplorasi yang lebih aktif.
Museum virtual tersebut tidak hanya menampilkan gambar atau tulisan. Para peneliti juga melengkapi media pembelajaran dengan video, ilustrasi tiga dimensi, materi multimedia, hasil pengamatan laboratorium, serta berbagai aktivitas pembelajaran interaktif. Pengguna dapat mengenal warna alami kayu secang, mengamati bentuk rempah, memahami profil aroma, mempelajari hasil analisis fitokimia, hingga melihat bagaimana setiap bahan memberikan kontribusi terhadap karakteristik wedhang uwuh. Pendekatan seperti ini membuat proses belajar menjadi lebih kaya karena melibatkan berbagai indera sekaligus.
Penelitian ini juga menggabungkan model pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan yang mengaitkan isu ilmiah dan kehidupan masyarakat. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya menerima penjelasan dari dosen, tetapi juga melakukan observasi, berdiskusi, melakukan wawancara, mencari informasi dari berbagai sumber, serta menyusun proyek yang berkaitan dengan wedhang uwuh. Melalui proses tersebut, mahasiswa belajar menghubungkan budaya lokal dengan ilmu kimia, biologi, kesehatan, teknologi, hingga aspek sosial ekonomi yang ada di masyarakat.
Salah satu bagian yang menarik dari museum virtual ini adalah adanya berbagai aktivitas ilmiah yang biasanya hanya ditemukan di laboratorium. Mahasiswa dapat mempelajari hasil uji organoleptik untuk memahami bagaimana manusia menilai rasa, aroma, warna, dan tekstur suatu produk pangan menggunakan pancaindra. Mereka juga dikenalkan pada analisis fitokimia yang bertujuan mengidentifikasi kelompok senyawa alami yang terdapat dalam rempah. Selain itu, media pembelajaran juga menyajikan hasil pengamatan struktur bahan dan analisis aroma sehingga mahasiswa memperoleh gambaran bahwa ilmu pengetahuan berkembang melalui proses pengamatan, pengukuran, dan analisis yang sistematis.
Setelah media pembelajaran selesai dikembangkan, para peneliti meminta sejumlah ahli untuk menilai kualitasnya. Penilaian dilakukan terhadap berbagai aspek seperti tampilan visual, kejelasan materi, kemudahan penggunaan, kualitas suara, kesesuaian isi dengan tujuan pembelajaran, serta ketepatan penyajian informasi ilmiah. Hasil validasi menunjukkan bahwa media yang dikembangkan memenuhi kriteria kelayakan sebagai sarana pembelajaran. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perpaduan budaya lokal dan teknologi digital dapat menghasilkan media pembelajaran yang memiliki kualitas baik.
Para mahasiswa yang menggunakan media ini juga memberikan tanggapan positif. Mereka menilai museum virtual tersebut menarik, mudah dipahami, inovatif, dan mampu meningkatkan ketertarikan terhadap materi sains. Pengalaman menjelajahi museum virtual membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan dibandingkan hanya membaca buku atau melihat gambar dua dimensi. Selain itu, mahasiswa merasa lebih mudah memahami hubungan antara budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini berpotensi meningkatkan literasi sains dan teknologi. Literasi sains bukan hanya kemampuan menghafal teori, tetapi juga kemampuan memahami fenomena alam, mengevaluasi informasi ilmiah, serta menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengambil keputusan dalam kehidupan sehari hari. Ketika siswa mempelajari konsep ilmiah melalui contoh yang berasal dari budaya sendiri, mereka cenderung lebih mudah memahami makna konsep tersebut karena memiliki pengalaman yang dekat dengan materi yang dipelajari.
Penelitian ini juga memberikan pesan penting mengenai pelestarian budaya. Selama ini sebagian generasi muda lebih akrab dengan teknologi digital dibandingkan museum konvensional atau sumber budaya tradisional. Kehadiran museum virtual membuka peluang baru untuk memperkenalkan budaya Indonesia dengan cara yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Teknologi tidak lagi menjadi ancaman bagi pelestarian budaya, tetapi justru menjadi sarana untuk memperluas akses pembelajaran sekaligus meningkatkan ketertarikan generasi muda terhadap warisan budaya bangsa.
Walaupun memberikan hasil yang menjanjikan, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Penelitian berfokus pada proses pengembangan media pembelajaran sehingga belum membandingkan efektivitasnya secara luas dengan berbagai metode pembelajaran lain pada berbagai jenjang pendidikan. Subjek penelitian juga merupakan mahasiswa calon guru sehingga hasilnya belum tentu sama apabila diterapkan pada siswa sekolah dasar, sekolah menengah, atau masyarakat umum. Selain itu, penggunaan Virtual Reality masih memerlukan perangkat pendukung yang belum tersedia secara merata di seluruh sekolah sehingga penerapannya masih menghadapi tantangan dari sisi fasilitas dan biaya.
Penelitian ini juga tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa penggunaan Virtual Reality selalu lebih baik daripada seluruh metode pembelajaran lainnya. Keberhasilan proses belajar tetap dipengaruhi oleh kualitas guru, kesiapan siswa, kurikulum, lingkungan belajar, serta cara memanfaatkan teknologi secara tepat. Virtual Reality merupakan alat bantu yang dapat memperkaya pengalaman belajar, bukan pengganti peran guru dalam membimbing siswa memahami konsep ilmiah.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa perpaduan budaya lokal dan teknologi digital mampu menghadirkan cara belajar sains yang lebih menarik, kontekstual, dan bermakna. Museum Virtual Wedhang Uwuh berhasil menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, kesehatan, dan kehidupan sehari hari ke dalam satu pengalaman belajar yang interaktif. Temuan ini memberikan inspirasi bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya layak dilestarikan sebagai warisan sejarah, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang relevan dengan perkembangan teknologi modern. Pendekatan seperti ini berpotensi membantu meningkatkan literasi sains dan teknologi sekaligus mendukung terciptanya pendidikan yang lebih inklusif, kreatif, dan berkualitas bagi generasi masa depan.
Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya
REFERENSI:
Sudarmin, Sudarmin dkk. 2026. Integrating ethno-VR wedhang uwuh into an inquiry project learning model to actualize science and technology literacy in accordance with sustainable development goal 4. E3S Web of Conferences 695, 05003.






