Ketika celana mulai terasa sempit, biasanya yang terlintas adalah penampilan atau keinginan menurunkan berat badan. Jarang kita bertanya, “apakah riwayat berat badan juga berkaitan dengan kemampuan mengingat pada masa tua?” Suatu penelitian mengajak kita melihat timbangan dari sudut berbeda. Riwayat angka yang tercatat di timbangan ternyata memiliki hubungan dengan perubahan kemampuan berpikir.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam Journal of Neurology pada 27 Februari 2026. Qianhui Xu dan rekan-rekannya menganalisis data 8.252 partisipan di Amerika Serikat melalui Health and Retirement Study, sebuah studi yang meneliti kesehatan masyarakat berusia 50 tahun ke atas. Data yang digunakan mencakup periode 1996–2020, dengan rata-rata pemantauan setiap peserta selama 17,5 tahun.
Pada awal penelitian, peserta memiliki kondisi kognitif yang tergolong sehat dan rata-rata berusia 59 tahun. Istilah kognitif merujuk pada kemampuan otak untuk mengingat, memahami informasi, dan menjalankan berbagai tugas mental. Para peneliti ingin mengetahui bagaimana perubahan kemampuan tersebut berkaitan dengan riwayat berat badan, bukan sekadar angka yang muncul saat seseorang sekali menimbang.
Untuk itu, mereka menggunakan indeks massa tubuh atau IMT. Nilainya diperoleh dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter. Misalnya, orang dengan berat 70 kilogram dan tinggi 1,70 meter memiliki IMT sekitar 24,2. Angka ini memberikan gambaran sederhana mengenai berat badan relatif terhadap tinggi badan.
Namun, satu pengukuran hanya menyerupai satu foto dan tidak menceritakan perjalanan seseorang. Dua orang dapat memiliki IMT yang sama hari ini, padahal yang satu sudah bertahun-tahun berada pada nilai tersebut, sedangkan yang lain baru mengalaminya. Peneliti kemudian menggabungkan pengukuran berulang untuk merangkum paparan IMT sepanjang waktu, menggunakan ukuran yang disebut IMT rata-rata kumulatif. Pendekatan ini membantu peneliti melihat pola yang sulit ditemukan jika berat badan dan kemampuan mengingat hanya diperiksa sekali pada satu kesempatan yang sama.
Bagaimana kemampuan otaknya diukur? Peserta menjalani tes mengingat kata, baik segera setelah mendengarnya maupun setelah jeda. Mereka juga diminta menjalani tes berhitung sederhana, misalnya menghitung mundur dari 100 dengan mengurangi tujuh pada setiap langkah: 93, 86, 79, dan seterusnya. Tugas-tugas ini membantu menilai daya ingat serta kemampuan mengelola proses berpikir, yang dalam penelitian disebut fungsi eksekutif.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten: IMT rata-rata kumulatif yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif yang lebih cepat. Hubungan tersebut terlihat pada skor keseluruhan, daya ingat, dan fungsi eksekutif. Polanya tetap muncul setelah peneliti memperhitungkan sejumlah faktor lain, termasuk usia, pendidikan, kebiasaan merokok, depresi, dan penyakit kronis.
Meski demikian, besarnya hubungan yang ditemukan tergolong kecil pada skala perubahan tahunan. Temuan ini tidak berarti setiap orang dengan berat badan tinggi akan mengalami gangguan ingatan. Penelitian juga menilai perubahan skor tes kognitif, sehingga hasilnya tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi persentase risiko seseorang terkena demensia.
Ada satu angka yang menarik perhatian: delapan tahun. Ketika peneliti membandingkan berbagai jeda antara riwayat IMT dan penilaian kognitif berikutnya, hubungan paling kuat ditemukan pada jeda delapan tahun. Jeda yang diperiksa berkisar antara dua hingga enam belas tahun.
Angka itu bukan hitung mundur menuju kepikunan. Penelitian tidak menyatakan bahwa seseorang akan mulai kehilangan ingatan tepat delapan tahun setelah berat badannya naik. Delapan tahun merupakan pola statistik dalam kelompok yang diteliti, bukan tenggat biologis yang berlaku untuk semua orang. Pada peserta berusia 65 tahun ke atas, hubungan yang diamati juga lebih kuat.
Mengapa berat badan bisa berkaitan dengan otak? Peneliti di artikel ilmiah tersebut membahas beberapa kemungkinan berdasarkan penelitian sebelumnya. Di antaranya adalah peradangan berkepanjangan dan gangguan pengaturan aliran darah di otak. Bayangkan otak sebagai kota yang membutuhkan pasokan terus-menerus. Ketika sistem pengirimannya terganggu, aktivitas kota dapat ikut terpengaruh. Namun, mekanisme tersebut tidak diuji langsung dalam studi ini.
Batas lainnya juga perlu dipahami. Berat dan tinggi badan dilaporkan sendiri oleh peserta, sehingga mungkin kurang akurat. IMT pun tidak membedakan lemak dari otot atau menunjukkan letak penumpukan lemak. Selain itu, aktivitas fisik dan beberapa faktor lain belum diperhitungkan dalam analisis. Karena datanya berasal dari Amerika Serikat, penerapannya pada masyarakat Indonesia masih perlu diteliti.
Yang paling penting, penelitian ini menemukan hubungan, bukan membuktikan sebab-akibat. Para peserta tidak diacak untuk menjalani program penurunan berat badan. Karena itu, hasilnya belum membuktikan bahwa menurunkan berat badan akan memperlambat penurunan daya ingat.
Pelajaran menariknya justru terletak pada cara melihat kesehatan sebagai perjalanan panjang. Satu angka di timbangan belum menceritakan semuanya. Riwayat bertahun-tahun dapat memberikan informasi yang luput dari satu pemeriksaan. Bagi penelitian tentang penuaan otak, pertanyaannya kini semakin menarik: bagaimana perjalanan kesehatan tubuh sepanjang hidup berkaitan dengan kemampuan kita menyimpan kenangan pada masa tua?
Referensi: Xu, Q., dkk. (2026). Association between cumulative average BMI and cognitive decline: a 24-year cohort study. Journal of Neurology, 273, 166. DOI.






