BERPRESTASI DENGAN KARYA ILMIAH, INI KUNCINYA!

Oleh: Nur Abdillah Siddiq Terkait sistematika penulisan karya ilmiah dalam kompetisi, tentunya masing-masing penyelenggara mempunyai format tersendiri. Artinya kompetisi karya […]

Oleh: Nur Abdillah Siddiq

Terkait sistematika penulisan karya ilmiah dalam kompetisi, tentunya masing-masing penyelenggara mempunyai format tersendiri. Artinya kompetisi karya tulis yang satu, akan berbeda sistematika penulisannya dengan kompetisi karya tulis yang lain.

Oleh karena itu penting bagi pembaca jika ingin lolos final dan juara karya tulis, maka laporanyya harus sesuai banget dengan format yang telah dijelaskan di panduan.

Sebagus apapun kontennya, jika format penulisan tidak sesuai dengan yang ada dalam panduan maka penilaiannya tidak akan maksimal. Jadi pastikan sesuai dengan yang ada dipedoman untuk kompetisi atau lomba karya tulis ilmiah. Saya misalnya bentuk umum dari sistematika penulisan karya ilmiah sebagai berikut:

 

  1. Halaman Judul
  2. Abstrak
  3. Kata Pengantar
  4. Daftar Isi (termasuk daftar gambar, daftar tabel dan sebagainya)
  5. Bab 1 Pendahuluan (Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Sistematika Penulisan)
  6. Bab 2 Tinjauan Pustaka
  7. Bab 3 Metode Penelitian atau Metode Penulisan
  8. Bab 4 Pembahasan
  9. Bab 5 Penutup (Kesimpulan, Saran )
  10. Daftar Pustaka
  11. Lampiran

Sedangkan beberapa sistematika penulisan yang tida umum dan pernah ssaya tulis adalah:

  • Halaman Pengesahan setelah halaman judul atau setelah daftar pustaka
  • Daftar gambarnya dijadikan 1 di lampiran setelah daftar pustaka
  • Tinjauan Pustakanya langsung masuk ke metode
  • Di bab 1 terdapat subbab “hipotesis”

Biasanya jika tidak sesuai panduan akan mengurangi penilaian. Saya sering sekali menjumpai karya tulis teman saya , topik dan solusi pemecahan masalah yang ditawarkan sudah bagus sekali, tapi beliau tidak bisa lolos ke tahap final. Setelah dianalisa ternyata penyebabnya adalah sistematika penulisan yang tidak mengikuti panduan.

Hal ini sering sekali terjadi bagi kelompok yang SKS (Sistem Kebut Semalam) dalam menggarap karya tulisnya. Yang penting selesai, lupa untuk melihat panduan sistematika penulisan dibuku panduan.

Sekarang mari kita bahas lebih dalam dari sistematika penulisan. Sebenarnya pintu gerbang pintu gerbang juri membaca karya tulis kita itu terdapat di latar belakang. Di bab 1 itulah yang akan pertama kali juri lihat. Bayangkan ada ratusan karya tulis, diminta memilih 10 terbaik.

Akankah dibaca sampai habis? Tidak efektif. Juri akan membaca latar belakang, jika latar belakangnya bagus maka akan dilanjut langsung ke solusi (yaitu di bab 4).

Alhamdulillah saya pernah menjadi juri karya tulis diberbagai kesempatan seperti lomba karya tulis ilmiah jurusan, lomba karya tulis Al-Qur’an Universitas dan lain-lain. Jadi urutan juri membaca karya tulis ilmiah kita dimulai dari latar belakang, kemudian bab 4 dan dilanjut dengan bab 3.

Jadi setelah bab 4 juri akan melihat bagaimana metode penelitian mendapatkan solusinya. Jika hasilnya bagus dan metodenya benar, selamat maka karya tulis tersebut bisa lolos ke tahap semifinal atau final. Lalu bagaimana dengan bab 2? Bab 2 akan dimulai saat karya tulis sudah ditahap final, dinilai untuk penilaian juara 1, 2, dan 3.

Biasanya presentase nilainya adalah 40% karya tulis, 60% presentasi pada saat final kompetisi karya tulis. Karena latar belakang adalah gerbang pertama juri melihat, bagaimana menjadikan latar belakang tersebut menjadi keren? Caranya adalah dengan menggunakan banyak kutipan/sitasi pada latar belakang. Sitasi yang mengacu ke paper/artikel ilmiah dari jurnal-jurnal ilmiah terindeks, bukan dari website abal-abal apalagi dari wikipedia, blogspot atau wordpress.

Di latar belakang juga disampaikan mengapa permasalahan yang kita ingin selesaikan melalui karya tulis kita itu penting sekali.

SHARING SESSION

  1. Pertanyaan Pertama

(Putra): Saya pernah mengikuti lomba tertentu, saya lihat dipanduan yang diberikan itu salah terkait sistematika penulisan yang seharusnya. Lalu apa yang harus saya lakukan? Mengikuti sesuai panduan atau bua menurut sistem yang benar? Terimakasih.

Jawab: jika konteksnya seperti itu maka kesalahan terdapat pada panitia. Tim penulis panduannya biasanya mengcopy paste dari panduan lain dan lupa tidak diubah sedikitpun, padahal berbeda dengan kolom penilaian. Kasus itu sangat jarang terjadi, karena pada lomba karya ilmiah yang bergengsi hal itu tidak akan terjadi. Jika memang terjadi, beruntunglah teman-teman tidak lolos ke kompetisi yang tidak dimanajemen dengan baik.

 

  1. Pertanyaan Kedua

Gusti: Apakah peran landasan teori terhadap metodologi penelitian yang diusung itu berbeda? Saya pernah baca begini, “terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir`pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yangg ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.

Jawab: iya jelas berbeda antara karya tulis yang berbasis kuantitatif dan kualitatif. Saya tidak pernah membuat karya tulis yang kualitatif jadi kurang tahu banyak tentang tipe karya tulis kualitatif. Karena penelitian saya selalu kuantitatif. Jikapun pene;itian sosial, waktu itu pernah membuat karya tulis tentang pemanfaatan limbah saya menggunakan kuisioner dan membagikannya ke 100 masyarakat sekitar ditempat pembuangan akhir.

Jadi selalu berangkat dari teori menjadi data. Hampir semua penelitian psikologi juga kuantitatif, mereka menggunakan metode-metode statistik seperti mencari rata-rata, meidan, modus, simpangan dan lain-lain.

 

  1. Pertanyaan Ketiga

Ade: Diperlombaan karya tulis saya sering melihat panduannya ada maksimal kata atau halaman. Apakah kita mesti ikut aturan itu? Mengingat misalnya karya kita itu memang tidak cukup jika sesuai dengan aturan perlmbaan tersebut. bagaimana pandangan menurut saudara?

Jawab: iya sering memang ada maksimal halaman, kalau kata biasanya pada kompetisi essay. Sebisa mungkin diikuti pedoman tersebut, seperti PKM yang menggunakan maksimal 10 halaman dari Bab 1 sampai Daftar Pustaka. Tapi jika kesulitan, maka yang paling bisa dibuang adalah bab 2 atau tinjauan pustaka.

Seperti yang telah saya jelaskan, bab 2 akan dinilai pada saat final saja (terakhir), untuk menentukan juara 1,2 dan seterusnya. Bagi juri yang memang sudah ahli dibidangnya, ia sudah paham teorinya jadi untuk apalagi dijelaskan kembali. Batasan halaman memang penting, karena kalau kita melanggar maka itu bisa jadi alasan untuk mengurangi poin pada karya tulis kita. Kan sangat disayangkan apabila sudah bagus latar belakangnya, moteode dan hasilnya tetapi dikurangi nilainya gara-gara kelebihan halaman.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *