Ketika Hantu Ditinjau Secara Fisika

Video penampakan kuntilanak kembali menghebohkan jagat maya pada 19 September 2019, diunggah oleh akun instagram @lambe_turah dan ditonton oleh lebih dari 2 juta orang. Penampakan hantu paling populer di Indonesia itu diduga berasal dari Kecamatan Campang Raya, Bandar Lampung. Tapi kalian tau gak sih bagaimana fisika berusaha menjelaskan apa itu hantu?

Kuntilanak, salah satu hantu yang paling populer di Indonesia

Pertama-tama untuk membahas dari sisi sains fisika kita harus tahu dulu hantu itu terbuat dari apa. Ada banyak orang awam yang bilang kalau hantu itu adalah energi. Tapi, pemahaman awam tentang “energi” yang biasanya dikaitkan dengan keberadaan makhluk halus tentu beda dengan pengertian fisikanya.

Menurut paham awam, terutama yang mempercayai hal-hal ghaib, bagi mereka energi adalah sesuatu kekuatan yang dapat mempengaruhi situasi, perasaan, dan keadaan seseorang bersangkutan yang dikenai “energi” itu. Dalam konteks hantu, energi yang dimaksud adalah energi negatif, karena keberadaan makhluk halus yang satu ini disinyalir dapat menciptakan rasa takut, cemas, tidak enak, bagi yang “merasakannya” / melihatnya. Padahal, dalam dunia sains fisika, energi sendiri adalah suatu ukuran kemampuan dalam melakukan kerja, diukur dalam satuan Joule. Pemahaman ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan hantu. Bahkan dalam fisika, tidak ada yang disebut energi negatif.

Bayangan yang biasanya muncul dalam pikiran orang ketika mendengar kata energi

Meskipun begitu, tetap saja ada pemahaman yang mencoba menghubungkan hantu dengan energi yang didefinisikan dalam dunia fisika.

Jika ditanyakan apa alasannya, banyak dari antara mereka mengaitkan keberadaan hantu dengan hukum kekekalan energi, yaitu hukum yang mengatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, tapi dapat diubah bentuknya.

Mereka berpendapat jika ada seseorang yang meninggal, energi yang tersimpan dalam tubuhnya akan langsung terkonversikan menjadi “energi” yang mereka sebut sebagai hantu.

Padahal proses perubahan energi tidaklah seperti itu. Energi yang tersimpan di tubuh kita nyatanya akan diterima oleh hewan yang mengurai tubuh kita. Selain oleh hewan pengurai (dekomposer), sisa nutrisi dan mineral dalam tubuh kita pun akan diserap oleh tumbuhan yang hidup di sekitar jasad, menyediakan energi bagi tumbuhan untuk hidup.

Salah satu contoh hewan dekomposer, yaitu hewan yang mengurai tubuh manusia yang sudah meninggal

Selain dikatakan energi, banyak juga orang yang berkata bahwa hantu adalah suatu materi yang tidak kelihatan. Tapi, apakah ada bukti untuk pernyataan tersebut? Jawaban singkatnya, tidak.

Dalam sains fisika, materi adalah suatu hal yang menempati ruang dan memiliki massa. Hingga sekarang tidak dikenal satu pun partikel yang dapat menyusun hantu. Tak ada pula seorang pun yang dapat menimbang massa dari hantu.

Secara tidak langsung misteri keberadaan hantu dipatahkan melalui eksperimen fisika partikel terbesar di CERN dengan Large Hadron Collider. LHC sendiri adalah mesin akselerator partikel tercepat dan terbesar di dunia. Dengan menumbukkan partikel yang memiliki kecepatan tinggi, para peneliti dapat mengetahui bagaimana partikel saling berinteraksi. Selain itu, mereka juga dapat mengetahui apa saja penyusun suatu partikel.

Large Hadron Collider (LHC)

Profesor Brian Cox mengatakan jika hantu memang bisa dijelaskan secara fisika, seharusnya materi yang menyusun hantu itu dapat ditemukan setelah atom terpecah menjadi beberapa bagian subatomik.

Secara logika sederhananya, jika hantu adalah suatu materi, harusnya hantu ini dapat berinteraksi dengan materi sekitar yang jelas-jelas dapat kita lihat. Selain itu, harusnya semua orang dapat melihatnya. Tapi kenyataannya tidak semua orang dapat melihatnya, bahkan ketika beberapa orang itu berkumpul di tempat yang sama dan pada waktu yang sama. Hal ini karena hantu bukanlah suatu materi.

Seperi yang kita tahu, alam semesta tersusun atas materi dan energi. Jadi, jika hantu bukan keduanya, maka hantu dapat dikatakan tidak ada.

Lalu, kenapa ada beberapa orang yang dapat melihat atau sekadar merasakan keberadaan hantu?

Sebenarnya ada banyak faktor ilmiah yang dapat membuat seseorang melihat hantu, namun penyebab yang paling umum adalah sebagai berikut :

1. Efek psikologis

Efek psikologis yang dimaksud disini adalah efek yang akan dirasakan seseorang akibat pemikirannya sendiri atau akibat apa yang ia dengar dari orang lain. Contohnya, rumor yang beredar dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap sesuatu melalui alam bawah sadarnya. Jika seseorang diberi tahu bahwa tempat A adalah tempat berhantu, ia akan memikirkan hal tersebut secara terus menerus dan akhirnya otak akan menciptakan suatu ilusi yang kemudian ia sebut hantu.

2. Efek Neurologis

Seseorang yang mengidap suatu gangguan neurologis/kejiwaan tertentu seperti skizofrenia seringkali mengalami halusinasi. Halusinasi inilah yang menyebabkan penderitanya melihat atau mendengar hal-hal yang aneh. Penyakit yang disebabkan oleh perpaduan dari genetik, lingkungan, dan ketidakseimbangan senyawa kimia di otak ini membuat otak seseorang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya, penderita kesulitan membedakan mana yang realita dan khayalan. Hal ini membuat penderita seringkali salah mempersepsikan khayalannya sendiri sebagai suatu kenyataan.

Selain karena adanya penyakit skizofrenia, ternyata halusinasi juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor lainnya. Yang paling umum di antaranya adalah akibat kurang tidur. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidur cukup untuk menjaga kesehatan otak kita.

Berdasarkan apa yang sudah dijelaskan di artikel ini, bisa kita simpulkan bahwa fisika tidak dapat menjelaskan keberadaan hantu. Itulah kenapa untuk kajian hantu dll ada bidang sendiri bernama “Metafisika” atau bahasa kerennya adalah “Beyond Physics”.

Eeferensi
[1] Radford, Benjamin. 2011. Do Einstein’s Laws Prove Ghosts Exist?. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[2] Hamer, Ashley. 2019. Curiosity. According To Professor Brian Cox, Particle Physics Proves Ghosts Don’t Exist. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[3] Griffin, Andrew. 2017. Ghosts definitely don’t exist because otherwise the Large Hadron Collider would have found them, claims Brian Cox. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[4] Tremblay, Sylvie. 2018.This Is Probably Why You’ve Seen a Ghost, According to Science. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[5] Dagnall, Neil. 2016. The top three scientific explanations for ghost sightings. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[6] Sandy. 2014. Ilmuwan: Hantu Hanyalah Ilusi Pikiran Manusia. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[7] Swari, Risky Candra. 2018.Skizofrenia. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

[8] Mayo Clinic. 2018. Schizophrenia. Diakses pada tanggal 2 Agustus 2019

Hutomo Suryo Wasisto: Dari Tidak Bisa Membuat Abstrak Hingga Menjadi Ilmuwan Berprestasi di Jerman

Halo sahabat warstek.com, kali ini saya berkesempatan bertemu langsung dengan seorang Ilmuwan diaspora yang sedang pulang kampung sejenak ke Indonesia. Beliau datang ke Indonesia dalam rangka menghadiri SCKD (Simposium  Cendekia Kelas Dunia) 2019 di Jakarta yang diadakan oleh Kemenristekdikti RI. Setelah menghadiri simposium ilmuwan tersebut, beliau membagikan pengalamannya di luar negeri ke berbagai instansi kampus yang ada di Indonesia. Salah satu acara yang dikunjunginya yaitu Seminar yang diadakan di Universitas Diponegoro Semarang tepatnya di ruang pertemuan di Gedung UNDIP Inn pada tanggal 2 September 2019. Penasaran siapa Ilmuwan diaspora yang berhasil penulis temui? Yuk baca artikel hasil diskusi ini, selamat membaca!

Perjalanan sebagai Peneliti Nano

Tidak pernah menyangka seorang yang bernama lengkap Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng ini menjadi ilmuwan di bidang Nanoteknologi. “Saya tidak menyangka sekarang terjun di bidang nanoteknologi, sebab latar belakang keluarga saya adalah kedokteran” kata Pak Ito, sapaan akrabnya.

“Saya dahulu ketika studi S1 mendaftar jurusan Kedokteran dan Teknik Elekto di Universitas Gajah Mada. Saat melihat pengumuman penerimaan kuliah, saya kaget saat membaca ‘selamat Anda diterima’, kelanjutannya ada kalimat ‘di jurusan teknik elektro’. Hahaha, pada awalnya saya sempat bingung karena ada keinginan di kedokteran. Ya, saya tetap jalani.”

Ketika wisuda pada studi S1 Teknik Elektro, Pak Ito mendapat penghargaan tiga kategori sekaligus yakni Mahasiswa cum laude lulus Tercepat, Terbaik dan Termuda di UGM pada tahun 2008. Merasa membutuhkan pendidikan yang lebih tinggi, selanjutnya Pak Ito melanjutkan studi S2, Master of Engineering (M.Eng.) di Asia University, Taichung, Taiwan. Pada awalnya, beliau hanya mengira Taiwan hanya sebatas negara dengan film terkenal “Meteor Garden” saja. Namun, dari negara ini, Pak Ito mulai bersemangat mendalami teknologi khususnya yang bersinggungan dengan bidang elektronika.

“Yang ada di pikiran saya waktu ke Taiwan, di sana hanya negara penghasil fim ‘Dao Ming Si’ saja. Setelah saya pelajari teknologi orang-orang di sana dan akhirnya negara ini mampu menginspirasi saya dalam mengembangkan teknologi bidang elektronik (Hi-Tech)”

Sekali lagi, beliau kembali lulus berpredikat cum laude di Ilmu Komputer dan Teknik Informasi pada tahun 2010 di Asia University, Taichung, Taiwan. Kemudian, pendidikannya berlanjut ke Jerman untuk menempuh pendidikan S3.

Ada motivasi unik dari seorang Hutomo Suryo Wasisto saat ditanya mengapa memutuskan Jerman sebagai Negara tempatnya berkuliah. “Saya terinspirasi dari sosok Pak Habibie pada waktu itu. Saya awalnya hanya ingin memiliki gelar seperti yang Pak B.J Habibie miliki (Dr.-Ing) dan hal tersebut dapat terwujud jika saya kuliah di Jerman seperti Pak Habibie.” Ujar Pak Ito. Beliau berpendapat bahwa figur atau tokoh yang memotivasi itu sangat perlu untuk kita. Ketika studi di Jerman, beliau memilih berfokus pada bidang Nanoteknologi. Sahabat warstek, sekarang muncul istilah Nanoteknologi, Apa sih Nanoteknologi itu?

The Dream Come True. Pak Ito berfoto dengan Prof. B.J. Habibie (Sumber: Kompas)

Sekilas tentang Nanoteknologi

Nanoteknologi merupakan teknologi yang berkaitan dengan material berukuran nanometer, yang dapat bermanfaat untuk berbagai bidang baik sains, kedokteran, dll. Nanoteknologi dikenal masyarakat umum sebagai teknologi penyusun komponen yang ada di gawai (gadget) dan benda-benda elektronik lainnya seperti chip. Tidak hanya pada bidang elektronik, nanoteknologi sekarang telah banyak digunakan di segala aspek, misalkan pada kosmetik. Kini, kosmetik yang berukuran partikel nano lebih melindungi kulit dari sinar UV secara merata dibanding ukuran yang lebih besar daripada Nanometer. Ada juga pada bidang food packaging, misalkan untuk mengirim (ekspor) buah-buahan ke luar negeri digunakan material organik berukuran nanometer untuk melapisi (coating) ke permukaan kulit buah agar awet (tidak cepat busuk). Pada bidang kedokteran misalnya pada penambalan gigi yang menggunakan material nanometer hasilnya akan lebih padat dan baik. Intinya, nanoteknologi ini dapat dimanfaatkan pada bidang yang sangat luas.

“Sayangnya, banyak pihak yang menggunakan kata ‘Nano’ sebagai trend saja. Padahal, pada kenyataannya tidak terdapat teknologi nano di dalamnya. Istilah  Nano ini semakin ‘sexy’ menurut saya, sebab diminati oleh kebanyakan pebisnis,” Kata Pak Ito.

Pak Ito pada kesempatan diskusi seminar juga menjawab permasalahan-permasalahan dari peserta diskusi yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuwan. Pak Ito menjawab permasalahan Teknik Perkapalan yang saat ini juga sudah mulai bersentuhan dengan nanoteknologi misalkan pada material penyusun kapal. Selanjutnya, beliau juga menjawab permasalahan pada bidang Peternakan dan Pertanian, persoalan pangan dengan pembuatan nano-protein untuk meningkatkan produktivitas ternak. Pak Ito beranggapan bahwa untuk menciptakan hasil riset yang berkualitas dibutuhkan kolaborasi yang apik dari berbagai disiplin ilmu.

“Riset saya, pembuatan gas-sensor ini membutuhkan pengetahuan atau keahlian mengenai susunan material sensor tersebut. Gas Sensor memiliki musuh utama yaitu air atau akan tidak berjalan apabila berinteraksi dengan air. Di sini saya membutuhkan mixed-material antara hidrofobik dan hidrofilik. Tujuannya, agar material itu menyerap target molekul yang kita sensor. Nah, pengetahuan semacam ini saya dapatkan dari orang kimia. Ini sangat penting karena komposisi material mempengaruhi performance dari sebuah sensor”

Pak ito menambahkan penjelasan kerangka berpikirnya bahwa dalam pembuatan sensor misalkan dibuat hidrofobik (anti air) saja, maka gasnya tidak akan terdeteksi. Di satu sisi jika hanya menyusun sensor dengan material hidrofilik saja, maka sensor akan rusak karena berinteraksi dengan air. Kemudian dia berinisiatif mengkombonasikan kedua sifat material tersebut dengan diperhitungkan optimasinya bersama orang kimia.

Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng (sumber gambar: ristekdikti)

 Nanoteknologi di Indonesia

Pak Ito beranggapan bahwa teknologi nano di Indonesia sebenarnya sudah mulai berkembang. Namun, lebih cenderung ke arah materialnya dan jarang ada yang masuk ke ranah teknologi Hi-tech.

“Research tentang nano ada yang bersifat top-down dan buttom-up. Kini Indonesia masih berfokus pada arah pembuatan materialnya saja.”

Ada beberapa Ilmuwan Diaspora Indonesia apabila kembali ke Indonesia membutuhkan adaptasi dalam beraktivitas untuk waktu yang cukup lama, sebab kebutuhan bahan riset dengan ketersediaan fasilitas atau bahan yang ada di Indonesia belum seperti tempat negara asalnya berkuliah dahulu.

Selama di Jerman, Pak Ito sering dipandang sebelah mata oleh orang di sekelilingnya sampai akhirnya dia membuktikan lulus di usia muda (27 tahun) sebagai lulusan predikat summa cum laude di Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Jerman, dan akhirnya mendapatkan gelar Dr.-Ing yang sejak awal diimpikannya. Impiannya tidak selesai sampai di sana, Pak Ito tetap melakukan kerja-kerjanya dengan berkontribusi di bidang nanomaterial dan sensor, dengan menjadi kepala sebuah laboratorium Nano yaitu Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) di Technische Universität Braunschweig.

Berbagi Pengalaman dalam Berkontribusi

Kontribusi seorang Pak Ito dalam dunia riset tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga melibatkan orang lain. Dirinya mengajak peneliti-peneliti Indonesia dalam timnya, beliau juga mendirikan instansi bernama Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano), kini beliau sebagai CEO. Selain aktif dalam laboratorium risetnya, Pak Ito sehari-hari juga membagikan ilmunya dan membimbing mahasiswa S1, S2 dan S3 di Technische Universität Braunschweig. Kontribusinya terhadap dunia teknologi, selain mengajar dan riset di dalam Laboratorium, beliau aktif menulis jurnal internasional dan hampir seluruhnya Q1. Kemudian kini juga ikut me-review berbagai jurnal yang berindeks Q1 milik peneliti-peneliti lainnya. Atas kontribusinya dalam me-review jurnal, beliau mendapat penghargaan karena me-review lebih dari 20 jurnal internasional bereputasi.

Pencapaian Pak Ito, kini tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Pasalnya, pada usia yang relatif muda (30an tahun) sudah mencapai banyak pencapaian, penelitian yang berintegritas tinggi yang saat ini sudah mencapai 700 kutipan, memiliki H indeks 14, 2 hak paten telah didapatkan, dan belasan penghargaan skala internasional pun telah diperoleh.

Seminar General Lecture tentang Nanoteknologi bersama Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng

Dibalik Kesuksesan Pak Ito

Pria yang aktif dalam organisasi I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional) ini tidak disangka-sangka memiliki fakta menarik yang dia bagikan kepada peserta seminar. Siapa sangka, Pak Ito mengaku dahulu waktu kuliah S1, kesulitan dalam berbahasa Inggris dan menulis karya tulis ilmiah. Bahkan dalam menulis abstrak berbahasa inggris Pak Ito dahulu membutuhkan waktu satu pekan.

“Saya dahulu pada awal pertama kali menulis, membuat abstrak berbahasa inggris dalam waktu satu pekan. Kemudian, hasil abstrak tersebut saya berikan kepada teman saya yang sudah advanced berbahasa Inggris karena memang dia sudah dari lahir di luar negeri. Hasilnya abstrak saya bagaimana? Saya terkejut, dari satu paragraf yang saya buat, hanya satu kalimat yang dinilai benar. Akhirnya saya memutuskan mulai banyak belajar lagi” Ujarnya

Foto Penulis (kiri) bersama Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng (kanan)

Dahulu Pak Ito yang kesulitan menulis dalam berbahasa Inggris, kemudian belajar keras hingga saat ini dapat menulis artikel Jurnal Internasional dan pernah juga sebagai asisten pengajar di English Center, Foreign Language Department, di Asia University, Taiwan.

Nah, bagaimana sahabat warstek.com, seorang Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto sangat menginspirasi bukan? Semoga sahabat warstek semakin semangat belajar dan berkontribusi untuk menjayakan negeri.

Penulis: Budiman Prastyo

Editor: Nur Abdillah Siddiq

Hair Follicles Germ : Katakan Selamat Tinggal pada Rambut Rontok

Apa yang akan anda lakukan apabila rambut anda rontok? Jika anda laki-laki, mungkin hal ini sudah biasa. Tapi jika anda perempuan, anda pasti tahu reaksi-nya, hehehe. Rambut memang merupakan sebuah mahkota untuk para wanita. Keberadaan rambut merupakan salah satu hal yang dapat meningkatkan kecantikan seorang wanita. Bahkan para wanita siap mengeluarkan uang banyak untuk menata benda yang satu ini.

Kerontokan rambut biasanya terjadi karena berbagai penyebab seperti faktor genetik, penuaan, ketidakseimbangan hormon, reaksi autoimun, dan obat-obatan anti-kanker. Kerontokan ini biasanya terkait dengan hilangnya sel-sel induk yang bertanggung jawab untuk pembentukan rambut normal dan siklus rambut[5]. Rambut rontok saat ini dirawat dengan obat-obatan dan transplantasi rambut , dimana folikel rambut dikeluarkan dari satu bagian tubuh (mis. bagian belakang kepala) ke bagian rambut rontok. Namun, metode perawatan ini memiliki keterbatasan. Hal ini dikarenakan obat-obatan tersebut tidak efisien dalam merangsang pertumbuhan kembali rambut sejauh yang diperlukan untuk mencegah rambut rontok, dan transplantasi rambut tidak menunjukkan peningkatan jumlah rambut di kulit kepala[2].

Hair Follicle Germ dengan Media Kultur oxygen-permeable dimethylpolysiloxane , Sumber : Newatlas

Baru-baru ini, Ilmuwan Jepang telah mengembangkan metode yang efisien dan berhasil menghasilkan pertumbuhan rambut. Penemuan ini menunjukkan potensi besar untuk aplikasi klinis dalam terapi regeneratif rambut manusia. Bukan Hoax, temuan mereka dipublikasikan pada 9 Mei 2019, dalam Biomaterials. Temuan tersebut diberi nama Chip Hair Follicles Germ (Chip HFG). HFG merupakan sumber reproduksi folikel rambut (organ kecil yang menumbuhkan dan merawat rambut). Dalam hal ini, HFG merupakan kuman yang berperan penting dalam produksi rambut [1].

Metode bbHFG, Sumber : Kageyama,2019

Bagaimana metode ini bekerja? Pertama, peneliti membuat manik-manik rambut (HBs) ke dalam sumur berbentuk U dalam susunan lempeng menggunakan sel induk folikel rambut yang dikemas dalam kolagen (protein struktural dalam kulit). HBs diyakini dapat berperan penting dalam pembentukan folikel rambut selama perkembangan embrio dan pertumbuhan kembali rambut. Selanjutnya, campuran sel epitel tikus ditambahkan ke dalam sumur yang mengandung gel manik-manik rambut gel. Setelah 24 jam, sel-sel epitel menggumpal dalam sebuah bola dan melekat pada gel kolagen. Gel kolagen kemudian diproses lebih lanjut untuk membentuk “Bead-Based Hair Follicles Germ” (bbHFG)[4].

Apakah pendekatan ini memberikan hasil yang lebih baik dari sebelumnya? Untuk memastikannya, tim peneliti mencoba kembali metode sebelumnya dengan bbHFG. Uji coba tersebut dilakukan pada hewan kecil, berupa tikus botak. Hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa dibandingkan dengan metode sebelumnya, pendekatan dengan bbHFG menghasilkan tingkat generasi rambut yang tinggi setelah ditransplantasikan ke kulit tikus dalam empat minggu[4].

Hasil Uji Coba bbHFG pada Tikus Botak, Sumber : Newatlas

Para peneliti juga menyelidiki apakah metode ini bisa otomatis memproduksi secara massal HFG dalam skala yang diperlukan dan secara klinis layak untuk perawatan regeneratif rambut pasien yang menderita kerontokan rambut. Hasilnya, Prof. Fukuda, pemimpin penelitian bbHFG, mengungkapkan bahwa pendekatan bbHFG dapat dikembangkan untuk menyiapkan sejumlah besar HFG, yang penting untuk perawatan rambut manusia karena diperlukan ribuan HFG untuk satu pasien[4].

Akan tetapi, penelitian tentang HFG masih belum berakhir sampai disini. Menurut Prof. Fukuda, masih ada penelitian lebih lanjut agar penelitian ini dapat dikembangkan di skala medis kedepannya. Penelitian tersebut akan meninjau masalah produksi HFG dalam skala besar, dimana penelitian sekarang hanya meninjau pendekatan yang lebih efektif dan efisien dalam produksi HFG.

Sumber:

[1] K., Toyoshima, K. Asakawa, dkk. 2012. Fully functional hair follicle regeneration through the rearrangement of stem cells and their niches. Nature Communication Vol 3.

[2] K.S. Stenn, G. Cotsarelis. 2005. Bioengineering the hair follicle: fringe benefits of stem cell

technology. Current Opinion Biotechnology Vol. 16, hal 493–497.

[3] Kageyama, Tatsuto, Chisa Tosimura, dkk. 2018. Spontaneous hair follicle germ (HFG) formation in vitro, enabling the large-scale production of HFGs for regenerative medicine. Biomaterials.

[4] Kageyama, Tatsuto, Yan Lei, dkk. 2019. Preparation of hair beads and hair follicle germs for regenerative medicine. Biomaterials.

[5] S.C. Chueh, S.J. Lin, dkk. 2013. Therapeutic strategy for hair regeneration: hair cycle activation, niche environment modulation, wound-induced follicle neogenesis, and stem cell engineering, Expert Opinion Biological Therapy Vol. 13, hal 377–391.